"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarikan Napas Pertama di Atas Es
Di dalam kegelapan gubuk kayu yang membisu, Lin Ling memulai pertaruhannya dengan maut.
Dia duduk bersila dengan punggung tegak lurus, meniru posisi meditasi para tetua klan yang pernah dia lihat di Istana Giok Emas.
Kesadarannya sepenuhnya terpusat pada teknik terlarang yang tersimpan di kepalanya: Teknik Pernapasan Inti Es.
Lin Ling membuka sedikit rongga mulutnya, lalu menarik napas dalam-dalam untuk pertama kali.
Slruuup..
Suara tarikan napas yang lambat dan panjang itu bergema tipis di dalam keheningan, mengalirkan udara malam yang teramat dingin masuk menembus tenggorokannya yang kering.
Rasa sakit yang instan langsung meledak. Udara dingin itu tidak terasa seperti gas, melainkan menyerupai ribuan jarum kristal es tajam yang menusuk dan merobek dinding bagian dalam paru-parunya.
Lin Ling tersedak, dadanya yang ringkih berguncang hebat hingga setetes darah segar merembes keluar dari sudut bibirnya yang pecah-pecah, menetes ke atas jubah merah tuanya yang lusuh. Tubuh fananya secara instan menolak keras zat ekstrem tersebut.
Namun, sepasang manik mata hitam Lin Ling yang terbuka di dalam kegelapan sama sekali tidak memancarkan kepanikan. Hanya ada kilatan tekad dingin yang kokoh bagai karang di tengah lautan.
‘Tahan... jangan dikeluarkan...’ batin Lin Ling menjerit, memaksa akal sehatnya untuk mengendalikan pemberontakan fisik tubuhnya.
Melalui visualisasi batin yang ketat, dia memaksa hawa dingin yang terperangkap di paru-parunya untuk bergerak turun secara perlahan, menyusuri jalur meridiannya yang telah lumpuh dan mengeras.
Begitu hawa es itu merayap ke dalam jalur energinya, Lin Ling bisa merasakan seluruh pembuluh darah di sepanjang dadanya hingga ke perut bagian bawah seketika membeku, menciptakan sensasi kebas yang luar biasa menyakitkan seolah-olah organ dalamnya sedang diremas oleh tangan besi yang sedingin es.
Keringat dingin bercampur darah tipis mulai merembes dari pori-pori kulitnya, namun langsung membeku menjadi butiran kristal putih kecil di atas permukaan dahinya.
Dia tidak berhenti. Lin Ling menarik napas untuk kedua kalinya, lalu yang ketiga kali. Setiap tarikan napas membawa lebih banyak hawa es abnormal yang bersumber dari gunung utara masuk ke dalam tubuhnya.
Secara taktis, Lin Ling tahu tubuh "sampah" berakar spiritual kelas rendah miliknya tidak akan pernah bisa menyaring Qi murni alam yang lembut. Satu-satunya cara baginya untuk bangkit adalah memanfaatkan keganasan hawa dingin ekstrem ini untuk menghancurkan sumbatan di meridiannya secara paksa, lalu membangun fondasi baru yang sepenuhnya terbuat dari atribut es.
Setelah dua jam penyiksaan yang menguras seluruh ketahanan mentalnya, hawa dingin yang terkumpul di perut bagian bawahnya—di area dantian—perlahan-lahan mulai memadat.
Sebuah pusaran kabut es kecil sewarna perak mulai berputar dengan ritme yang sangat lambat di dalam tubuhnya. Meskipun ukurannya tidak lebih besar dari sebutir beras fana, kehadiran pusaran itu menandakan satu hal pasti: Metode terlarang ini berhasil. Jalur kultivasinya yang semula mati total kini telah dipaksa terbuka kembali oleh tangannya sendiri.
Namun, harga yang harus dibayar oleh fisik seorang anak berusia delapan tahun terlalu besar.
Ketika Lin Ling perlahan membuka kelopak matanya, seluruh pandangannya langsung berputar hebat. Tubuhnya terasa luar biasa kosong dan remuk, seolah-olah seluruh sisa energi kehidupannya telah diperas habis untuk mempertahankan pusaran es tersebut.
Dia mencoba menoleh ke arah dipan Nenek untuk memastikan kondisi wanita tua itu. Namun, sebelum kepalanya sempat bergerak penuh, kegelapan yang pekat mendadak menyapu seluruh kesadarannya. Tubuh mungil berbaju merah tua itu langsung ambruk ke samping, jatuh terkapar di atas lantai tanah gubuk yang membeku tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun.
BOOOOM!
Di tengah malam yang larut itu, sebuah suara dentuman masif yang jauh lebih keras dari sore hari tiba-tiba meledak dari arah puncak gunung utara.
Getaran hebat merambat cepat, menghantam seluruh pemukiman fana hingga menyebabkan beberapa dinding kayu gubuk di sudut timur retak dan runtuh. Angin badai yang semula reda mendadak kembali melolong dengan intensitas sepuluh kali lipat lebih ganas, membawa gelombang hawa es murni yang langsung membekukan seluruh tanaman di batas luar desa dalam hitungan detik.
Pintu gubuk kayu kecil Lin Ling seketika terhempas terbuka akibat tekanan angin luar yang dahsyat, membiarkan badai salju masuk dan menimbun tubuh kecil Lin Ling yang terkapar pingsan di atas lantai tanah.
Krisis besar yang ditakuti akhirnya meledak lebih cepat dari perkiraan siapa pun. Dan di tengah pusaran badai maut yang mulai menelan desa tersebut, takdir Lin Ling kini sepenuhnya bergantung pada seutas benang tipis yang rapuh.