NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Terpaut Jauh, Ya?

...****************...

Tak lama setelah keluar dari kamar, Rika berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Sementara di belakangnya, Rhea ikut menyusul sambil memasang ekspresi pasrah.

Begitu memasuki ruang tamu, pandangan Rika langsung jatuh kepada sosok Arga yang sedang duduk di sofa. Pria itu segera berdiri begitu melihat pemilik rumah datang menghampiri.

"Selamat sore, Bu..."

"Selamat sore, Pak."

Rika membalas sapaan itu dengan ramah sambil menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Arga.

"Saya Arga..."

"Saya Rika, mamahnya Rhea."

Senyum tipis terukir di wajah wanita itu. Namun senyum tersebut perlahan memudar ketika ia kembali memperhatikan Arga lebih saksama. Dahinya sedikit berkerut, seolah sedang memastikan sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

"Eh... Tapi sebentar..."

Tatapannya bergerak naik turun tanpa sungkan. "Anda ini benar dosennya Rhea?"

"Mah..."

Rhea yang berdiri tidak jauh di belakang langsung memejamkan mata sebentar. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan keluar cepat atau lambat.

"Benar, Bu. Saya dosennya Rhea."

"Ya ampun..."

Rika benar-benar terlihat terkejut.

Selama ini setiap kali mendengar putrinya bercerita tentang dosennya atau kegiatan kampus lainnya, ia selalu membayangkan sosok pria yang jauh lebih tua.

"Saya pikir dosennya Rhea itu bapak-bapak."

Pandangan itu kembali tertuju kepada Arga.

"Ternyata masih muda sekali ya..."

"Sstt... Mamah ih..." tegur pelan Rhea langsung menarik pelan lengan ibunya dengan wajah yang mulai memerah karena malu. Reaksi itu justru membuat Rika terkekeh kecil.

Suasana yang sempat terasa formal perlahan mencair.

"Mari Pak Arga, silakan duduk."

"Terima kasih, Bu Rika."

Mereka kembali duduk. Sinar matahari yang masuk dari jendela membuat ruang tamu terlihat hangat. Aroma teh yang baru diseduh samar-samar terci um dari arah dapur, bercampur dengan wangi bunga segar yang diletakkan di atas meja.

Sementara itu Rhea memilih duduk di sofa yang berbeda. Ia menyandarkan tubuhnya pelan sambil memeluk bantal sofa di pangkuannya. Entah kenapa, menjadi penonton terasa jauh lebih aman daripada ikut terlibat dalam percakapan itu.

Setelah beberapa saat diisi obrolan ringan, Rika akhirnya kembali menatap Arga dengan rasa penasaran yang masih tersisa.

"Kalau boleh saya tahu, Pak Arga datang kemari ada perlu apa ya? Karena..." wanita itu tersenyum kecil. "Saya cukup terkejut, baru kali ini ada gurunya Rhea datang ke rumah."

Pandangannya sempat beralih kepada putrinya.

"Apa Rhea melakukan kesalahan, Pak Arga?"

"Tidak sama sekali, Bu."Jawab Arga keluar tanpa keraguan. "Tujuan saya datang kemari, saya ingin meminta izin."

"Izin untuk apa ya, Pak?"

"Lusa, saya akan menghadiri seminar akademik di salah satu universitas di Jogja. Sekaligus ada beberapa kegiatan yang harus saya ikuti di sana."

Suasana ruang tamu kembali tenang. Rika mendengarkan dengan saksama sementara Rhea yang sejak tadi diam mulai memperhatikan percakapan mereka.

"Jika Anda mengizinkan, tentu saja saya juga ingin mengajak Rhea untuk ikut karena ini juga salah satu tugas terakhirnya sebagai asisten dosen saya."

Rika mengangguk pelan.

"Kira-kira berapa lama di Jogja?"

"Jika berangkat sore ini, kemungkinan hari Minggu kami sudah kembali."

"Hmm, begitu..."

Rika menyandarkan punggungnya ke sofa sambil memikirkan penjelasan tersebut.

"Saya akan bertanggung jawab penuh atas Rhea selama berada di Jogja."

Nada suara Arga tidak berubah. Tetap tenang, tetap datar, tetapi cukup tegas untuk menunjukkan bahwa ia serius dengan ucapannya.

"Saya juga sudah meminta izin kepada pihak kampus dan dosen pembimbing kegiatan. Karena itu saya merasa perlu datang langsung untuk meminta izin pada Anda, Bu Rika."

Beberapa detik berikutnya terasa hening.

Rika memperhatikan pria yang duduk di hadapannya cukup lama. Bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang menilai kesungguhan yang terlihat dari cara Arga berbicara.

Pada akhirnya ia menganggukkan kepala pelan.

"Baiklah." Tatapannya beralih kepada putrinya.

"Kalau memang tujuannya untuk tugas dan nilai Rhea, saya mengizinkan, Pak Arga."

Rhea yang sejak tadi diam langsung mengangkat kepala.

"Baik, Bu Rika." jawab Arga pelan sambil mengangguk hormat. "Saya sangat berterima kasih sekali."

"Mah..."

Rhea akhirnya ikut bersuara.

"Kamu jaga diri baik-baik."

Rika langsung menunjuk putrinya dengan ekspresi seorang ibu yang sedang memberi nasihat.

"Jangan merepotkan Pak Arga di sana."

"Iya, Mah..."

"Ya sudah, kalau memang berangkat sore ini, kamu siap-siap saja dulu."

Rhea perlahan menoleh ke arah Arga yang duduk dengan tenang dan kini tengah menatap ke arahnya.

"Kita berangkat sore ini, Pak?"

Pertanyaan itu keluar spontan. Ia menoleh kepada Arga dengan ekspresi terkejut yang belum sempat disembunyikan.

"Kalau kamu tidak keberatan, kita berangkat sore ini." jaaab Arga tenang. "Karena besok siang ada kegiatan di sana. Jadi masih ada waktu untuk istirahat."

"Oh..."Rhea mengangguk pelan. Meski masih sedikit terkejut, ia tahu keputusan itu sudah dibuat."Kalau begitu saya siap-siap dulu."

"Iya."

Sementara itu, Rhea sudah menghilang ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Suasana ruang tamu yang semula sedikit canggung kini terasa jauh lebih santai.

Bi Imas baru saja meletakkan dua cangkir teh hangat di hadapan Arga dan Rika.

"Silakan diminum tehnya, Pak Arga."

"Terima kasih, Bu."

Arga menganggukkan kepala dengan sopan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya ketika pria itu mengangkat cangkir tersebut dan menyesapnya perlahan.

Rika yang duduk di seberangnya memperhatikan pria itu beberapa saat. Entah karena pembawaannya yang tenang atau cara bicaranya yang sopan, kesan pertama yang dimilikinya terhadap dosen putrinya itu cukup baik.

"Sebelumnya saya juga berterima kasih, Pak Arga. Karena Anda mau menyempatkan waktu untuk menemui dan meminta izin ke saya secara langsung."

"Itu sudah kewajiban saya, Bu."

Jawaban itu membuat Rika tersenyum kecil.

Tidak banyak orang yang masih mau datang langsung ke rumah hanya untuk meminta izin seperti ini. Apalagi untuk urusan yang sebenarnya bisa saja disampaikan melalui telepon.

"Ngomong-ngomong..."

Rika sedikit memiringkan kepalanya sambil menatap Arga penuh rasa ingin tahu.

"Berapa usia Anda, Pak Arga?"

Pertanyaan itu membuat Arga mengangkat pandangannya dari cangkir teh yang ada di tangannya.

"Saya, dua puluh sembilan tahun."

"Oh..."

Rika tampak kembali terkejut. Reaksi itu muncul begitu saja sebelum sempat ia sembunyikan.

"Masih muda sekali ya."

Pandangannya tanpa sadar beralih ke arah lorong dan tangga yang tadi dilewati Rhea. Beberapa detik kemudian, wanita itu kembali menoleh kepada Arga.

"Tidak terpaut jauh dengan Rhea..."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Rika, lebih terdengar seperti gumaman dibanding pertanyaan.

Arga yang sejak tadi terlihat tenang sempat terdiam beberapa saat. Jemarinya yang memegang gagang cangkir berhenti bergerak sejenak sebelum akhirnya ia kembali meletakkan cangkir tersebut di atas meja dengan pelan.

Tatapannya sempat mengikuti arah pandang Rika menuju lorong tempat Rhea menghilang beberapa menit yang lalu.

Tentu saja ia tahu usia mereka memang tidak terpaut terlalu jauh. Namun entah kenapa, mendengarnya diucapkan langsung oleh ibu Rhea membuat kalimat itu terasa berbeda.

Meski begitu, ekspresi di wajahnya tidak banyak berubah. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya tipis sebelum kembali mengalihkan perhatian kepada wanita di hadapannya.

"Kurang lebih begitu, Bu," jawabnya tenang.

Tidak ada nada gugup ataupun terburu-buru dalam suaranya. Namun untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Arga memilih tidak menambahkan apa pun lagi setelah jawabannya.

1
Wawan
Salam kenal untuk Rhea ✍️
Nia Nara
Lanjut thor
Nia Nara
Si dosen panas itu 🤣
Nia Nara
Pak dosen kayaknya uda ada rasa nih.. Gak pernah deh dulu waktu jadi asdos aku diajak makan pak dosen 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!