Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Cermin yang Retak
Suasana di war room pribadi Elena terasa begitu tegang hingga suara detak jam dinding pun terdengar seperti dentuman palu.
Eve telah menghilang, membawa salinan data asuransi nyawa Elena, dan meninggalkan luka identitas yang lebih dalam dari sekadar memar di bahu.
Elena menatap layar monitor yang menampilkan struktur organisasi The Obsidian yang kini mulai berubah secara dinamis—seperti organisme hidup yang sedang beregenerasi.
"Mereka nggak cuma mau harta kita, Nona," Paman Han berkata sambil mengusap keningnya yang berkeringat.
"Mereka mau menghapus keberadaan Anda. Kalau ada 'Elena' lain yang punya akses biometrik, tanda tangan digital, dan wajah yang sama, maka Elena yang asli cuma bakal dianggap sebagai gangguan sistem."
Elena mengepalkan tangannya. "Jadi mereka mau main ganti peran? Oke. Mari kita lihat siapa yang lebih jago akting di panggung ini."
Elena tahu dia nggak bisa cuma duduk diam nunggu asetnya dibekukan.
Dia harus memancing Eve—dan penciptanya—keluar dari lubang mereka.
"Reza," panggil Elena. Pria itu sedang asyik memeriksa senjatanya.
"Kau bilang kau punya koneksi di pasar gelap teknologi medis, kan?"
Reza mendongak.
"Aku tahu tempatnya. Di bawah tanah Distrik Glodok, ada laboratorium ilegal yang dulu sering dipakai Haryo buat riset rahasia. Kalau Eve diciptakan di Swiss, kemungkinan besar data sinkronisasinya ada di server lokal untuk menjaga kestabilan identitasnya di Jakarta."
"Kita berangkat sekarang," tegas Elena.
"Nona, ini bisa jadi jebakan," Paman Han memperingatkan.
"Paman, hidupku sudah jadi jebakan sejak aku jatuh ke jurang itu. Kali ini, aku yang akan pasang umpannya."
Glodok di tengah malam adalah labirin beton dan neon yang redup. Mereka masuk melalui gudang elektronik tua yang terlihat biasa saja dari luar.
Namun, di balik pintu lift barang yang tersembunyi, terdapat fasilitas modern yang sangat kontras dengan kumuhnya lingkungan sekitar.
Lampu neon putih pucat menyinari deretan tabung kaca kosong.
Elena merasa mual. Tempat ini beraroma antiseptik dan kematian.
"Selamat datang di tempat kelahiran 'masa depan'," suara dingin Eve menggema dari speaker di langit-langit.
"Kau telat, Elena. Proses integrasiku dengan sistem perbankanmu sudah mencapai 90%. Sebentar lagi, sidik jarimu nggak akan berlaku lagi di dunia ini."
Elena mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—perangkat peretas yang diberikan Julian sebelum dia pergi ke New York.
"Kau pikir aku ke sini buat minta izin? Aku ke sini buat menghapus source code-mu."
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang, muncul empat pria dengan seragam taktis.
Tapi yang bikin Elena merinding bukan senjatanya, melainkan wajah mereka.
Mereka semua punya wajah yang sama. Wajah pria yang pernah menjadi algojo Haryo Adiguna.
"Pasukan klon rendahan," maki Reza sambil melepaskan tembakan pertama.
Baku tembak pecah di ruang sempit itu.
Elena bergerak lincah di antara tabung-tabung kaca, menggunakan keahlian beladirinya untuk melumpuhkan musuh.
Setiap kali dia memukul salah satu dari mereka, rasanya aneh—seperti memukul boneka hidup yang nggak punya jiwa.
Elena berhasil mencapai ruang server utama di ujung lorong.
Di sana, Eve sudah menunggu, berdiri di depan layar raksasa yang menampilkan progres transfer aset Sarah Foundation.
"Kenapa kau berjuang begitu keras, Alana?" Eve bertanya dengan nada penasaran yang tulus.
"Kau lelah, kan? Kau pengen istirahat. Biar aku yang ambil beban ini. Aku nggak punya perasaan, aku nggak punya trauma. Aku akan jadi Elena yang jauh lebih baik darimu."
"Kau nggak punya sesuatu yang aku punya, Eve," Elena berjalan mendekat, membiarkan pistolnya tergantung di samping tubuhnya.
"Apa? Hati nurani? Itu cuma kelemahan."
"Bukan," Elena tersenyum miring.
"Rasa sakit. Rasa sakit yang bikin aku tetap manusia. Dan rasa sakit itu yang bikin aku nggak akan pernah berhenti sampai kau hancur."
Elena menerjang Eve dengan belati keramiknya.
Perkelahian kali ini jauh lebih brutal.
Eve lebih kuat dan lebih cepat secara fisik, tapi Elena punya insting bertahan hidup yang sudah terasah di neraka.
Elena membiarkan Eve menusuk bahu kirinya, sebuah pengorbanan kecil agar dia bisa mendekat dan menempelkan perangkat peretas Julian langsung ke port utama di belakang leher Eve—tempat chip sinkronisasinya berada.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Eve saat tubuhnya mulai kejang karena lonjakan arus pendek digital.
"Menghapus sejarah," bisik Elena.
Layar di ruangan itu mendadak jadi merah.
Tulisan CRITICAL ERROR - DELETING CORE DATA berkedip-kedip.
Tubuh Eve ambruk ke lantai, matanya yang tadinya cerdas kini menjadi kosong dan redup.
Sistem Obsidian yang mencoba meretas aset Elena juga ikut tumbang karena virus tersebut balik menyerang server pusat mereka lewat koneksi Eve.
Reza masuk dengan napas tersengal, pakaiannya compang-camping kena peluru.
"Semua klon di luar sudah berhenti bergerak. Mereka cuma bot yang dikendalikan pusat."
Elena berdiri, memegangi bahunya yang berdarah.
Dia menatap Eve yang kini tak lebih dari seonggok daging tanpa identitas.
"Kita harus bakar tempat ini, Reza. Sampai ke akar-akarnya," perintah Elena.
Saat mereka melangkah keluar dari lab bawah tanah yang mulai terbakar itu, ponsel Elena bergetar.
Sebuah panggilan video dari nomor yang sangat rahasia.
Elena mengangkatnya. Di layar, muncul wajah seorang pria tua yang duduk di sebuah kantor mewah di suatu tempat di Eropa.
"Luar biasa, Nona Adiguna," ujar pria itu sambil bertepuk tangan pelan.
"Kau baru saja menghancurkan investasi senilai tiga miliar dolar kami. Tapi jangan senang dulu. Eve hanyalah satu dari seribu rencana."
Elena menatap kamera dengan mata yang menyala.
"Kalau begitu, siapkan seribu makam lagi. Karena aku nggak akan berhenti sampai aku melihat kalian semua terbakar seperti tempat ini."
Elena mematikan ponselnya dan menghancurkannya dengan tumit sepatunya.
Di luar, matahari mulai terbit di ufuk timur Jakarta.
Asap hitam membubung dari gudang elektronik tua di Glodok, tapi orang-orang sekitar cuma menganggapnya kebakaran biasa.
Paman Han sudah menunggu di dalam mobil dengan kotak P3K. "Sudah selesai, Nona?"
Elena menyandarkan kepalanya, melihat tangannya yang berlumuran darah—darahnya sendiri, yang membuktikan bahwa dia masih hidup dan nyata.
"Babak ini selesai, Paman. Tapi perang yang sebenarnya baru saja meluas ke tingkat global," ucap Elena.
Dia menoleh ke arah Reza yang duduk di sampingnya. "Kau masih berani ikut?"
Reza tersenyum, menyeka darah di bibirnya.
"Aku sudah bilang, Elena. Aku suka tantangan yang mustahil. Lagipula, siapa lagi yang bakal jagain Ratu Jakarta yang hobi cari masalah ini?"
Elena tertawa kecil, tawa pertama yang terasa lepas setelah sekian lama.
Dia menyadari satu hal penting: identitasnya bukan lagi soal wajah yang diberikan dokter di Swiss, atau nama yang diberikan ayahnya yang jahat.
Identitasnya adalah setiap pilihan yang dia buat untuk melawan.
"Paman Han," panggil Elena saat mobil mulai melaju.
"Ya, Nona?"
"Hubungi Julian di New York. Bilang padanya... perjamuan sudah dimulai. Dan kita adalah hidangan utamanya yang beracun."
Mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta yang mulai sibuk.
Sang Nyonya yang Terbuang kini telah benar-benar berevolusi.
Dia bukan lagi korban, bukan lagi sekadar pembalas dendam. Dia adalah ancaman nyata bagi mereka yang merasa memiliki dunia.
Dan hari ini, dunia akhirnya tahu: Jangan pernah bermain-main dengan wanita yang sudah pernah mati.
Bersambung...
Ayo buruan baca...