" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 ( TEH INTAN )
EPISODE 2: SYAIR RAKSASA & DEWI BULAN
Kabut malam mulai turun laksana tirai hitam yang menyelimuti bumi, menyebar perlahan menyusupi setiap sudut kampung tanpa belas kasihan. Udara dingin mulai menusuk tulang, sementara angin malam bertiup pelan seolah ingin mengusir sisa-sisa cahaya yang masih tertinggal.
Sang Raja Malam mulai menurunkan titahnya—keheningan yang dalam, hanya dipecahkan oleh suara katak bernyanyi dan rengek serangga yang bersahutan di balik semak belukar.
"Di ujung sana cahaya itu menunggu... menunggu waktu yang tepat untuk membuka tirai malam..."
Lantunan syair terdengar lembut namun jelas memecah kesunyian. Seorang pemuda berdiri tegak di atas tebing kecil yang menghadap hamparan sawah luas. Tubuhnya terpancang kokoh bagaikan sebuah patung kuno, seolah sedang menyampaikan pesan rahasia langsung kepada langit dan bumi.
"Sungguh indah ya Ngit... syair yang kau ucapkan malam ini begitu memukau. Seolah-olah Dewi Bulan sendiri pun turun dari singgasana-Nya hanya untuk mendengarkan suaramu."
Suara lembut yang begitu familiar membuat pemuda itu terkejut. Ia cepat membalikkan badan, dan seketika wajahnya yang serius berubah menyunggingkan senyum hangat saat melihat sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah anggun.
"Teh Intan... Kenapa Teh datang sampai ke sini?" tanya Langit lembut. Wanita yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya ini selalu muncul di saat-saat yang tak terduga, membawa aroma wangi yang membuat udara malam terasa berbeda.
"Tadinya aku ke rumah Nek Wati mau cari kamu, tapi kamu tidak ada. Bosan di rumah, anak-anak sudah asyik bermain dengan dunia mereka sendiri, jadi aku menyusul ke sini. Penasaran kamu ngapain sendirian... eh ternyata sedang melantunkan syair-syair indah yang bikin hati siapa saja mendengarnya jadi tenang." ucap Intan sambil tersenyum menggoda, matanya tak lepas menatap wajah tampan pemuda di depannya.
"Ngit, tolong... lanjutkan lagi syair tentang Sang Raja Malam dan Dewi Bulan itu..." pintanya dengan tatapan memohon yang dalam, ia benar-benar sudah terpikat oleh keindahan kata-kata yang keluar dari bibir pemuda itu.
"Lagi-lagi panggil 'Ngit'..." Langit mengerutkan keningnya dengan wajah sedikit kesal namun tetap terlihat manja dan lembut. "Nama saya Langit, Teh... Bukan Ngit kan? Sudah berapa kali saya bilang, nama itu kan luas, tinggi, dan gagah... masa dipanggil Ngit sih?"
"Hehehehe..." Teh Intan tertawa renyah, suaranya terdengar seperti musik di tengah malam. Secara tak sengaja, tangannya yang hangat menyentuh lengan Langit yang sedang menggigil kedinginan. "Teteh tahu kok nama kamu Langit... Tapi 'Ngit' itu terdengar lebih akrab, lebih mudah diucapkan, dan ada rasa hangatnya sendiri di hati lho. Ayo dong lanjutkan... Teteh benar-benar penasaran bagaimana kelanjutannya."
Tanpa banyak bicara, Langit kembali memalingkan wajahnya menatap cakrawala. Bulan sabit kini bersinar lebih terang, memancarkan cahaya keperakan yang menembus kabut tipis yang menyelimuti sawah di bawah mereka. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam, lalu suaranya kembali bergema:
"Dewi Bulan mulai bersabda dengan lembut...
Sang Raja Malam tak mau kalah, Ia mengembangkan sayap hitamnya luas-luas...
Seluruh bumi menjadi gelap gulita...
Bahkan bintang-bintang pun enggan bersinar, memilih pergi menjauh memberi jalan...
Dewi Bulan tersenyum penuh arti, diam menyimak...
Rambut keemasannya tergerai lemah diterpa angin malam..."
Saat kata-kata puitis itu keluar, tangan Langit seolah memiliki kehendak sendiri. Ia perlahan terangkat, menyisir lembut helai rambut Teh Intan yang berantakan tertiup angin, seolah ingin merapikannya agar tetap terlihat cantik.
Gerakan itu begitu natural, begitu polos... Namun bagi Intan, sentuhan itu bagaikan aliran listrik yang menyambar tubuhnya!
"DUG! DUG! DUG!"
Jantung Intan berpacu kencang tak beraturan. Darah seolah mendidih dan mengalir deras naik ke kepala. Ada rasa hangat yang aneh namun nikmat mulai menyebar dari ujung kaki hingga ke seluruh penjuru tubuhnya, sebuah getaran yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Tanpa sadar, tubuhnya mulai bergoyang pelan mengikuti irama syair yang diucapkan Langit. Dari bibirnya yang merah segar, keluar suara desah halus:
"Hmmmm... Ahhhh... Ngit..."
Suara itu terdengar sangat lembut, sangat mendayu... Namun bagi siapa saja yang mengerti, suara itu adalah suara yang biasanya hanya ia keluarkan saat sedang bermesraan dengan suaminya di atas ranjang.
Namun Langit... Ia sama sekali tidak mengerti makna di balik desahan itu. Pikirannya masih jernih, masih polos seperti anak kecil yang sedang belajar membaca puisi. Ia hanya fokus pada dunianya, pada syairnya.
"Ahhhh... Ngit... lanjutkan lagi... jangan berhenti..." ucap Intan dengan napas yang mulai memburu, matanya mulai sayu dan berkabut. Tubuhnya perlahan mendekat, semakin dekat, hingga dada mereka hampir bersentuhan. Tangannya kini berani menyentuh lengan kokoh dan dada bidang pemuda itu.
Langit sedikit terkejut merasakan sentuhan yang semakin intens itu, namun ia tetap melanjutkan syairnya dengan suara yang tenang dan dalam:
"Ia menghela napas panjang...
Sinarnya memancar terang menyilaukan mata...
Tiada terang bulan jika tiada gelap malam...
Mereka saling melengkapi, saling membutuhkan...
Dewi Bulan kembali bersabda lembut...
Manusia tidak akan mengenal keindahan malam...
Jika mereka tidak mengenal sinar rembulan yang setia...
Sang Raja Malam pun tersenyum, lalu mengangkat sayapnya lebih tinggi..."
Namun, rasa tidak nyaman mulai muncul di dada Langit. Tangannya mulai terasa risih dan aneh saat Teh Intan semakin aktif meraba tubuhnya. Tangan wanita itu bergerak licin dari leher, turun ke dada, hingga merayap pelan ke bagian perutnya yang rata dan kencang.
Di tengah rasa aneh itu, tiba-tiba ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan untuk pertama kalinya. Sebuah getaran aneh muncul dari bagian tubuh bawahnya, sesuatu yang bangkit dengan sendirinya tanpa ia perintahkan.
"Kenapa ya Teh..." bisik Langit dengan wajah polos namun penuh tanda tanya, tangannya perlahan menarik diri sedikit. "Tongkat pusaka yang ada di dalam celanaku ini... tiba-tiba bangun sendiri... Biasanya kan dia cuma bangun kalau aku baru bangun tidur pagi hari. Kenapa sekarang dia ikut bangun juga ya?"
Mendengar itu, senyum penuh makna langsung terukir di bibir Intan. Ia sangat mengerti apa yang terjadi pada bocah polos di depannya ini. Hatinya bergemuruh, perang batin hebat terjadi di sana—antara nafsu yang membara dan kesadaran bahwa ia adalah istri orang lain.
"Ngit..." panggilnya dengan suara yang terdengar serak dan berat, penuh dengan emosi yang tertahan. "Kau tahu tidak... apa artinya 'tongkat pusaka' itu bangun?"
Langit hanya menggeleng cepat, wajahnya masih penuh kebingungan total. Ia hanya merasa ada kekuatan asing yang bergerak di dalam celananya, seolah ingin keluar namun tak tahu arah.
Di kejauhan, tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak, sebuah bayangan gelap memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Mata tajam itu menyala di dalam kegelapan, dan bibirnya mengukir senyum licik.
"Target mulai aktif... hormon dan instingnya mulai bangkit dalam ketidakwarasannya. Ini akan menjadi kemenangan besar buatku... Permainan ini baru saja mulai menarik."
CATATAN.
SEHABIS BACA JANGAN LUPA LIKE NYA, SYUKUR SYUKUR DAPAT VOTE DAN HADIAH JIKA SUKA DENGAN NOVEL RECEH INI SILAHKAN UNTUK DI PAVORITKAN.
Salam dari anak kampung ARIS TEA.
Bersambung.