Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Audio MangaToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XIX. Jealous [1]
[FLASHBACK]
Apa yang terjadi diantara Valerie dan Adnan adalah sebuah kesalah pahaman. Rupanya Maheera memang menaruh hati pada Adnan, gadis itu di adopsi oleh salah satu keluarga Adnan. Bisa dikatakan bahwa Maheera adalah sepupu Adnan, mereka sudah bersama semenjak kecil. Tapi Adnan tidak pernah menganggap Maheera lebih dari adiknya sendiri.
Cerita yang berbeda dari sudut pandang Maheera, gadis itu tergila-gila pada sosok Adnan. Ia berkeliling kesemua temannya dan menyebarkan berita bahwa dia dan Adnan akan segera menikah. Masalah ini telah diketahui oleh keluarga besar Adnan, orang tua Maheera pun meminta maaf kepada Adnan dan keluarganya. Tidak menyangka gadis yang mereka adopsi menjadi begitu lancang.
Setelah kesalahpahaman ini berakhir, Valerie dan Adnan kembali bersama. Sekali lihat saja semua orang akan langsung tahu bahwa Adnan telah menyerahkan hati bahkan jiwanya hanya untuk Valerie seorang. Dalam jangkauan pandangan Adnan hanya ada Valerie, tidak ada ruang untuk gadis lain.
"Aku senang melihat kalian kembali bersama," ujar Elli sembari menyantap makan siangnya. Sementara Adnan sibuk menyuapi gadis pujaannya itu.
"Ngomong-ngomong Elli, hari itu kau kena tampar kan?" Tanya Valerie dengan mulut penuh.
"Habiskan dulu sayang," ujar Adnan dengan lembut, ia kemudian menatap Elli yang menyentuh wajahnya. "Elli, aku sungguh minta maaf atas apa yang sudah dilakukan oleh Maheera padamu." Ujar Adnan dengan bersungguh-sungguh.
"Tidak masalah, memang rasanya sakit sekali. Itu adalah pertama kalinya orang menamparku!" Kata Elli dengan tawa kecil.
"Maafkan aku Elli, jika aku tidak tersulut emosi pertengkaran itu tidak akan terjadi." Sahut Valerie yang baru saja menelan makanannya.
Elli mengibaskan tangannya, "sebenarnya itu kan ideku, untuk menemui Adnan di rumahnya. Jadi bukan seluruhnya salahmu," balas Elli,
"Ini salah kita semua!" Ucap Adnan dengan menghela nafasnya. Ia sudah jengah karena semua orang merasa bersalah. Nyatanya memang apa yang terjadi tidak bisa hanya dilimpahkan pada salah satu pihak saja.
"Terserah padamu saja," timpal Elli.
"Ohya, Elli aku hampir lupa memberitahumu sesuatu." Kata Valerie setelah ia teringat akan sesuatu.
Elli seraya menatap sahabatnya itu, "ada apa?"
"Kenapa hari ini kau tidak bersemangat sekali, apa terjadi sesuatu padamu?" Tanya Adnan yanh sedari tadi memerhatikan Elli, gadis itu cukup lesu seolah tidak memiliki tenaga sama sekali.
"Tidak ada, aku hanya merasa tidak enak badan." Jawab Elli jujur. Sejak ia bangun di pagi hari, ia merasa sedikit kelelahan. Entah karena apa, ia merasa pening seharian dan tidak nafsu makan.
"Apa kau sakit?" Tanya Valerie yang mulai khawatir, "padahal kami ingin mengajakmu bersenang-senang hari ini." Ujar Valerie sedih, Adnan menyenggol bahu Valerie pelan lalu memelototinya.
"Jika Elli sakit kau tidak perlu memaksanya, sayang." Kata Adnan menjelaskan tindakannya barusan.
"Memangnya apa rencana kalian?"
"Double date? Shiva mendapatkan promosi di tempat kerjanya. Dia mengajak kami untuk merayakannya. Jadi aku dan Adnan berencana mengajakmu, tapi jika kau sakit sebaiknya kau beristirahat saja." Ujar Valerie panjang lebar, jelas sekali ia tampak sedih.
"Tidak masalah, aku bisa ikut."
••
Di salah satu café ternama, mereka bertiga menunggu datangnya Shiva. Mereka memiliki janji untuk pergi sekitar pukul enam sore, dan saat ini masih ada lima belas menit lagi sebelum pukul enam.
"Kemana kita akan pergi sebenarnya?" Tanya Elli, ia menutup buku yang dia baca.
Valerie dan Adnan saling memandang. Mereka tidak memiliki rencana apapun, hanya mengikuti kemauan Shiva untuk mengajak Elli bersama mereka.
"Apa kau ada rencana lain setelah ini?" Tanya Adnan. Jawaban Elli hanya berupa gelengan kecil.
Tak lama kemudian orang yang telah mereka tunggu akhirnya muncul juga. Shiva berjalan kearah mereka, ia terlihat gagah dengan penampilan barunya. Mengenakan suite dengan warna maroon, dan jambang yang dibiarkan tumbuh tipid menghiasi rahang dan dagunya, ia benar-benar seperti artis Bollywood.
Tapi tingkahnya tetap menunjukkan bahwa dia hanyalah Shiva Singh, yang baru saja mendapatkan promosi dari kantornya. Shiva yang baru datang itu langsing mencomot sepotong kue yang hendak dimasukkan oleh Adnan ke mulutnya.
"Hey! Itu kan punya Adnan!" Valerie protes, tapi Shiva hanya terkekeh lalu kemudian ia duduk di samping Elli.
"Hai Elli, apa kabar?" Tanyanya pada Elli.
"Kurasa aku cukup baik, kau terlihat luar biasa sekali hari ini." Puji Elli sungguh-sungguh, karena terakhir kali ia melihat Shiva, pemuda itu tampaknya biasa saja. Penampilannya juga seadanya, hanya sweater dan jeans.
"Aku tidak tahu kau bisa memuji seseorang, kau juga tampak sangat luar biasa." Balas Shiva.
"Kita pergi sekarang?" Tanya Valerie yang tidak sabar.
"Lihatlah, langit masih begitu terang. Bagaimana kalau melakukan hal lain dulu?" Tanya Shiva sambil menatap kearah luar café.
Keempat orang itu lalu pergi ke bioskop untuk menonton Kingsman. Sepanjang film itu, Elli malah tertidur didalam bioskop. Ketika keluar dan yang lain membicarakan film itu, Elli hanya tersenyum atau bahkan tidak bicara sama sekali.
"Elli, apa kau baik-baik saja?" Tanya Shiva ketika mereka berjalan menuju tempatnya memarkir mobil.
"Ya, aku baik-baik saja. Maaf tadi aku tertidur." Kata Elli sembari meringis, ia merasa malu karena tertidur didalam bioskop.
Shiva mengusap kepala Elli dengan lembut, senyumnya juga lebar sembari menatap Elli, "tidak masalah. Kita bisa nonton lain kali," katanya, Shiva mendekatkan tubuhnya lalu ia berbisik, "berdua saja." Imbuhnya tepat ditelinga Elli.
"Wooooooo, Mr. Singh! Rupanya kau agresif sekali!" Decak Valerie.
Sementara Elli merasa tubuhnya meremang. Sentuhan Shiva terasa aneh ditubuhnya, ia tidak merasakan kenyamanan dalam sentuhan itu. Berbeda dengan yang dia rasakan jika Henry yang melakukannya. Saat bersama Henry ia merasa seperti bersama dengan kakaknya, tidak melibatkan perasaan dalam hatinya. Namun dengan Shiva, sepertinya pria yang ada dihadapannya ini ingin menjalin sebuah hubungan dengannya. Tapi mengapa ia justru merasa seperti ini? Dia bukanlah gadis yang memiliki kekasih.
"Elli, ayo!" Seru Valerie yang membuyarkan lamunan Elli. Tak sadar rupanya dia berhenti berjalan.
Dari bioskop itu mereka berempat pergi ke sebuah klub malam, Emporium Night Club. Banyak sekali antrean yang sedang menunggu untuk masuk kedalan club itu, sehingga mereka juga harus ikut mengantre.
"Ramai sekali disini," gumam Valerie.
"Tentu saja, klub ini sangat terkenal!" balas Adnan yang seketika mendapatkan lirikan tajam dari Valerie.
"Jangan bilang kau sering kemari?" Tanya Valerie. Seketika Adnan langsung menggelengkan kepalanya.
"Kekasihmu ini adalah seorang pendeta, Nona Valerie. Tenang saja!" Sahut Shiva. Mendengar komentar tentang dirinya, Adnan hanya tersenyum kaku. Dalam hatinya ia berterima kasih pada Shiva yang membelanya.
"Eh, kenapa orang-orang itu bisa lewat tanpa antri?" Elli menunjuk pada serombongan orang yang melewati penjaga tanpa mengantre. Shiva merangkul tubuh pendek Elli, lalu melihat kearah rombongan itu.
Jelas terlihat bahwa rombongan itu adalah kalangan elit. Mereka pasti anggota VIP dari klub ini. Tentu saja mereka akan lewat tanpa mengantre.
"Mereka adalah anggota VIP, tenang saja kita akan segera masuk," Ujar Shiva, "tapi Elli, aku tidak yakin kau bisa masuk." Ujar Shiva dengan nada yang sangat serius.
"Kenapa? Apa mereka punya kriteria khusus?" Tanya Elli dengan polosnya. Shiva menggelengkan kepalanya. Ia menepuk puncak kepala Elli.
"Mereka tidak akan percaya kalau kau sudah legal memasuki tempat ini."
"Apa maksudmu Shiva?!"
"Oh man! Jangan goda sahabatku!" Timpal Adnan.
"Anak dibawah umur tidak boleh memasuki klub malam!" Seru Shiva kemudian ia tertawa, dan disambut oleh yang lainnya. Hanya Elli yang wajahnya cemberut. Diantara mereka memang Elli yang memiliki postur yang cukup pendek.
°°°°°°
"Sebentar aku harus pergi ke toilet," Kata Julius ditengah meetingnya dengan beberapa koleganya. Ia segera keluar dari ruangan yang engap itu dan mencari kamar kecil.
Lampu-lampu yang berpendar begitu gemerlapan menyambut Julius. Sudah lama ia tidak pergi ke klub, terakhir kali saat ia berkelahi dengan Max tunangan Caitlyn. Setelah itu ia terus menyibukkan diri dengam bekerja.
Setelah selesai, Julius akan kembali saat tidak sengaja pandangannya menangkap sosok yang sangat dia kenali diantara kerumunan yang sedang berlantai di lantai dansa. Julius berhenti, ia terus menatap sosok itu untuk memastikan bahwa pandangannya benar.
Tak jauh darinya berdiri Julius melihat seorang gadis yang mengenakan t-shirt ketat dengan warna merah sedang mengalungkan tangannya dileher seorang pria yang bertubuh tinggi dan menari mengikuti alunan musik yang sedang pelan.
"Itu tidak mungkin dia kan?" gumamnya.
Julius mengenyahkan pikirannya, kemudian ia kembali ke ruangan tempatnya mengadakan meeting. Selagi beberapa koleganya bercengkrama Julius memainkan ponselnya, ia mengirimi Elli pesan.
Ketika pesan pertama terkirim, Julius tetap menatap layar ponselnya untuk menunggu balasan dari gadis itu, tapi penantiannya terasa sia-sia. Elli tidak membalasnya. Julius tidak menyerah secepat itu, ia mengirim pesan berulang kali, hasilnya tetap sama saja.
"Tuan Windsor, kemarin aku baru berkunjung ke Beijing dan membawa sesuatu yang mungkin anda suka." Ujar salah satu kolega Julius, ia kemudian membuka tas yang ia bawa dan mengeluarkan satu botol wine. Tertera di label wine tersebut Henri Jayer Cros Parantoux, salah satu merek wine mahal di daerah asia.
"Ahh Jayer," Julius tidak terkejut, karena ia memiliki koleksi wine di rumahnya yang bak kastil itu.
"Silahkan, anda bisa mencobanya." Kolega Julius menuangkan wine itu kedalam gelas kosong.
Julius mengendus aroma wine tersebut, kemudian menyesapnya perlahan. Wine yang terbilang cukup mahal itu terasa nikmat ditenggorokannya. Hanya saja, pikirannya tidak berada pada tempatnya saat ini.
"Ini wine yang lezat, terimakasih Tuan Gao." Kata Julius dan tersenyum sopan.
Pertemuan itu berlanjut menjadi hiburan semata. Kolega Julius memanggil beberapa wanita penghibur untuk melayani mereka. Melihat bahwa pertemuan itu sudah tidak lagi berarti, setelah berpamitan Julius segera keluar dari ruangan yang mulai kedap udara.
Ia menuju ke tempat dimana ia melihat sosok yang tidak begitu asing baginya. Matanya nyalang ke seluruh ruangan, meneliti satu persatu orang yang sedang menari dengan irama keras dari disc jokey.
"Kemana dia, atau itu bukan dia?" gumamnya, lalu ia mengambil ponselnya barangkali ada pesan dari gadis itu.
"Tapi mengapa aku harus peduli padanya?" Julius beranjak untuk pergi dan menyerah. Dia merasa tidak seharusnya mencemaskan sesuatu yang tidak seharusnya.
Ganjalan di hati Julius memaksa kakinya berhenti melangkah tepat didepan pintu keluar klub. Bayangan Elli sedang merangkul pria lain berkelebat di benaknya dan membuat keningnya berkerut.
"Sial!" Dengusnya, ia kemudian berbalik lagi dan mencari sosok Elli diantara lautan manusia yang sedang menggerakkan seluruh badan mereka mengikuti irama musik.
Setelah lama mencari dan tidak menemukan sosok itu, Julius berusaha keluar dari kerumunan. Ia berjalan kearah bar, dan tepat saat itu ia melihat Elli sedang duduk bersama seorang pria, ia bercengkrama dan kadang tertawa.
Emosi yang telah berada di puncak kepala Julius membuatnya menghentakkan kaki melangkah ke tempat Elli berada. Dia tidak memedulikan sekitarnya, toh mereka juga tidak akan mengenalinya di tempat yang seramai ini.
Tanpa mengatakan apapun, Julius menarik Elli dari tempat duduknya. Ia kemudian berjalan dan setengah menyeret Elli keluar dari klub itu.
"Siapa kau?!" Tanya Elli sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Julius.
"Tuan! Berhenti!" Sebuah tangan menahan tangan Julius dengan, memaksa Julius untuk berhenti. Ia menoleh dan mendapati pria yang tadi berada di rangkulan Elli yang menahan tangannya.
Pandangan mata Julius begitu tajam kearah pria itu. Setelah menyadari bahwa yang menyeretnya adalah Julius dan mereka sedang berada dikeramaian, Elli benar-benar terkejut. Selain itu ia takut bahwa Julius akan menarik perhatian semua orang.
"Siapa kau menarik dia begitu saja?"
Julius tertawa hambar, "kau bertanya siapa aku, memangnya kau siapa membawa gadis orang lain di klub seperti ini?"
Mendengarnya Elli semakin terkejut, ia menatap Julius tidak percaya. Rasanya ingin sekali ia menyumpal mulut Julius itu agar tidak bicara sembarangan. Tapi Elli lebih takut saat menyadari Valerie dan Adnan berjalan kearah mereka.
"Shiva, maafkan aku, dia adalah kakakku!! Aku akan pulang bersamanya, tolong sampaikan pada Valerie dan Adnan ya?"
"Kakak?"
Elli tak bisa menjelaskan lebih lanjut, ia segera menarik Julius pergi dari sana sebelum sahabat-sahabatnya itu melihat Julius dan meninggalkan Shiva yang tertegun dengan benaknya yang dipenuhi oleh banyak sekali pertanyaan.
"Julius! Apa kau gila?!" Hardik Elli ketika mereka telah berada di lahan parkir.
"Aku gila? Kau yang gila! Kenapa kau menari dengan sembarang orang?" Jika terlihat mungkin sudah jelas tampak asap mengepul diatas kepala Julius.
Elli mengambil nafasnya, kepalanya berdenyut karena ia merasa pening. Matanya terpejam sejenak, lalu terbuka untuk menatap Julius.
"Apa hakmu melarangku begitu? Ini adalah kehidupan pribadiku Julius!"
Begitu kesalnya, Julius merengkuh kedua bahu Elli. Ia mendekatkan wajahnya pada Elli, rasanya ia ingin sekali meremukkan tubuh Elli yang kecil itu karena terus saja membantahnya.
"Kau!" Geram Julius, "Mengapa-" Ucapan Julius menggantung diudara begitu Elli tiba-tiba pingsan dan ambruk dalam dekapannya. "Elizabeth?"
Julius mengguncang tubuh Elli dan memanggilnya beberapa kali akan tetapi gadis itu tidak menyahut. Kecemasan mulai mengalir melalui nadi Julius dan berakhir pada jantungnya.
"Apa dia mabuk?" tanyanya, ia mengendus bagian atas tubuh Elli, akan tetapi tidak tercium aroma alkohol.
"Badannya panas sekali, astaga!" Dengan sigap Julius segera memasukkan Elli kedalam mobilnya. Ia mulai diserang kepanikan dan rasa khawatir melihat wajah Elli yang begitu pucat dan badannya yang demam.
Dalam perjalanannya Julius sesekali memerhatikan Elli. Rasanya begitu aneh ketika ia melihat gadis itu terkulai lemas dengan mata terpejam disampingnya seperti ini, karena membuat jantungnya berdentum dengan keras karena rasa takut.
'Kenapa aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?' batinnya bergejolak.
Sesampainya di rumah sakit, Julius langsung dikenali sebagai pemilik rumah sakit itu. Ia langsung diarahkan ke bangsal VIP. Sementara dokter memeriksa keadaan Elli, ia menunggu diluar dengan sangat cemas.
Tak lama kemudian dokter yang memeriksa Elli pun keluar, dokter itu menghampiri Julius yang penampilannya sudah sangat kacau.
"Brian, bagaimana keadaanya?"
"Diagnosa sementara ini, dia mengalami anemia Julius, dan sepertinya dia dehidrasi. Aku sudah menyuntikkan vitamin dan memasang infus padanya, sebentar lagi dia akan siuman. Sementara itu kami akan melakukan tes lanjutan padanya."
Nafas lega lolos dari relung pernafasan Julius. Tapi bagaimana bisa gadis itu mengalami anemia? Selama ini dia tampak sehat-sehat saja.
"Terimakasih, Brian."
"Sama-sama kawan, kau bisa menunggunya didalam, aku akan kembali berjaga." Kata dokter Brian, lalu ia pergi.
Disamping ranjang Elli, berdiri sosok Julius yang menatap Elli dengan tatapan lembut tapi penuh dengan kekhawatiran itu. Tanpa sadar ia menyentuh dada tempat jantungnya berdetak.
'Kenapa dia sangat memengaruhiku?' batin Julius tak mampu memberikan jawabannya. Ia hanya bisa bertanya dan terus bertanya, tapi tak menemukan jawabannya.
_______
[PRESENT]
Pemandangan indah itu terpampang jelas begitu mata hijaunya yang teduh namun menyejukkan itu terbuka. Tepat dihadapannya, ia sedang melihat seorang malaikat tengah terlelap dengan nafas teratur yang pelan.
Ah, sejak kapan Julius menganggap Elizabeth sebagai malaikatnya? Entahlah, itu terjadi begitu saja.
Saat ini, sosok yang ada dihadapannya itu adalah sosok yang tercantik baginya. Keindahan yang tiada tara bagi dirinya, dan yang terpenting bahwa Julius telah terpenjara dalam keindahan ciptaan Tuhan ini.
Perlahan Julius mengarahkan jemarinya pada wajah Elli, jari telunjuknya ia gunakan untuk menyingkirkan anak-anak rambut yang menutup wajah cantik Elli, kemudian ia tersenyum sendiri menatap wajah isterinya yang begitu damai dalam lelapnya itu. Merasa tidak puas, Julius lalu menyentuh alis tebal dan panjang milik Elli, kemudian turun ke hidungnya yang kecil, jarinya tak berhenti sampai disitu, ia menyentuh dengan lembut bibir merona milik Elli.
'Dengan semua ini kau bisa menahanku seumur hidup' Batin Julius berbisik.
Sampai detik ini, Julius tidak mengerti mengapa ia bisa jatuh cinta pada gadis yang ada di depannya ini. Jika di lihat lagi, Elli bukan gadis yang istimewa, keluarganya bangkrut, secara fisik jika dibandingkan dengan gadis lain, Elli akan tampak biasa. Padahal, ada kebencian yang disimpan oleh Julius rapat-rapat dihatinya ketika pertama kali ia mengenal Elli. Lantas mengapa semua itu malah berbalik?
'Mungkin karena dia selalu berusaha tegar, aku benci melihatnya seperti itu!' lagi, batin Julius berkicau.
"Kau sudah bangun?" Suara serak khas orang yang baru saja bangun dari tidurnya begitu lembut mengalun di telinga Julius. Ia tersenyum menyambut isterinya yang baru kembali dari dunia mimpinya.
"Selamat pagi." Gumam Julius lalu ia mencium kening Elli.
"Selamat pagi." Balas Elli yang wajahnya bersemu merah karena kecupan singkat dikeningnya.
"Selamat pagi." Julius mengatakannya lagi sembari mengecup kedua kelopak mata Elli.
"Julius." Wajah Elli terasa semakin panas, sementara Julius hanya tersenyum jahil kearahnya, lalu menarik Elli untuk masuk kedalam dekapan hangat Julius.
"Selamat pagi, Elizabeth." Katanya lagi, kali ini ia mengecup puncak hidung Elli dan membuat mata gadis itu membulat dengan wajahnya yang semakin memerah seperti tomat matang.
"Selamat pagi, Isteriku!" Ucap Julius, kali ini ia beralih untuk mencium bibir ranum Elli, mengecapnya berkali-kali.
Pelan Elli mendorong tubuh Julius, wajahnya masih sangat merah. Keduanya saling menatap untuk beberapa saat, tampak jelas kabut gairah menyelubungi teduhnya mata hijau Julius. Namun berbeda dengan Elli, ia merasa malu karena belum membersihkan dirinya.
"Aku belum membersihkan diri, pasti ada bekas liur diwajahku."
Tawa Julius meledak seketika tapi tak melepaskan dekapannya pada tubuh mungil Elli. Karena tawa Julius, wajah Elli menjadi merah padam, ia menutup matanya sembari menggigit bibirnya lalu berdecih pelan. Pasti benar jika wajahnya sekarang sangat kotor.
Tawa hangat Julius terhenti, lalu ia menatap wajah Elli yang tersipu malu itu. Ia kemudian mengarahkan satu tangannya untuk membelai wajah kecil Elli dengan lembut.
"Meski ada lumpur yang menutupi wajahmu, aku tidak peduli. Kau tetap Elizabethku, milikku." Katanya, Mata Elli melebar mendengarnya. Hatinya membuncah karena dipenuhi oleh kebahagiaan.
Julius memajukan kepalanya kemudian kembali mencium kening Ellizabeth, kini sedikit lebih lama dengan matanya terpejam. Perasaan hangat melingkupi seluruh tubuhnya ketika bibirnya bertemu dengan kening Elli.
Tangannya yang mendekap Elli ia usapkan naik turun di balik punggung itu dengan perlahan, ciumannya pun turun ke hidung mungil Elli, lali ia beralih pada pipi merona Elli, mencecapnya berkali-kali, sebelum bibirnya berakhir tepat di ujung bibir Julius.
Nafas Julius terasa menyesakkan ketika ia menahan dirinya untuk tidak beranjak dari ujung bibir Elli, sedikit membuka matanya ia melihat Elli juga memejamkan matanya seolah menunggunya untuk melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
"Sekarang kau bukan lagi gadisku yang polos, Elizabeth." Gumam Julius tanpa melepaskan ciumannya.
Mata Elli terbelalak seketika, dan spontan ia mendorong pelan Julius. Ia lalu bangkit untuk duduk sementara Julius tetap berbaring dengan tangan sebagai bantalnya.
"Apa maksudnya itu?"
"Kau cukup menyukai sentuhanku." Ujar Julius dengan blak-blakan. Elli tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya, antara malu dan kesal bercampur menjadi satu.
"Kau bahkan menyerangku semalam!" Ujar Julius lagi.
"Siapa yang menyerangmu!" Protes Elli dengan mata cokelatnya membulat dengan lebar.
"Tentu saja kau isteriku, kau mengatakan untuk tidak terlalu banyak bicara dan memperbanyak sentuh-" Belun selesai Julius bicara, tangan kecil Elli telah membekap mulutnya dan matanya melotot.
"Kau sangat mesum sekali!" Dengus Elli yang kesal.
Julius tak kehilangan ide jahilnya, ia menjilat telapak tangan Elli, sehingga dengan spontan Elli menarik tangannya dan mengernyitkan hidungnya.
"Ergh, menjijikkan!!" Kata Elli lagi.
"Tapi semalam kau menyukainya,"
Bayangan Elli kembali pada malam panas yang dia lalui bersama Julius. Saat gambaran itu muncul, Elli langsung saja menggelengkan kepalanya dengan sangat kuat untuk mengenyahkan bayangan kenikmatan semalam.
"Lihat, siapa yang mesum sekarang!" Ejek Julius sembari ia turun dari ranjang.
"Juliusss!!!"
Tawa menggema ke seluruh kamar, tubuh Julius bergetar hebat dan membuat Elli semakin kesal dibuatnya.
"Awas saja! Aku pasti akan membalasnya!"
_____
Hari ini Elli terlihat lebih santai dengan t-shirt longgarnya yang berwarna hijau seperti lumut dan celana pendek berwarna putihnya. Tidak lupa ia menggunakan topi berwarna putih juga, sementara Julius terlihat lebih tampan hanya dengan kemeja bercorak bunga dengan celana pendeknya yang senada warnanya dengan milik Elli.
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Hawaii, dan Julius telah merencanakan sesuatu untuk ditunjukkan pada Elli. Sementara itu mereka menghabiskan waktu bersama untuk menikmati sarapan mereka di restauran hotel.
"Selamat pagi," sebuah suara nyaring yang begitu familiar membuat tenggorokan Elli terasa aneh ketika ia hendak menelan makanannya. Ia mengambil segelas air minum dan menenggaknya sedikit.
"Boleh aku bergabung dengan kalian?"
Elli menoleh pada pemilik suara itu, ia melihat sosok tinggi langsing yang begitu menawan dengan gaun merahnya yang menampilkan seluruh bagian punggungnya berdiri disampingnya. Kening Elli berkerut, bagaimana bisa Caitlyn dan mereka berads di hotel yang sama. Apakah hanya ada satu hotel di Waikiki? Selain itu, di tempat lain masih banyak kursi kosong, apakah harus sekali Caitlyn duduk bersama mereka.
Melihat raut wajah Elli yang menyiratkan bahwa gadis itu tidak suka dengan gagasan bahwa Caitlyn bergabung dengan mereka, Julius segera bertindak.
"Masih banyak tempat kosong, kau bisa duduk disana." Kata Julius dengan suara yang sangat dingin.
Tapi seolah tuli, Caitlyn tidak mendengarkan kata-kata Julius. Dia duduk begitu saja diantara Elli dan Julius. Kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Wah Elli, ternyata kau makan begitu banyak. Apa tidak takut jika nanti tubuhmu akan semakin gemuk?"
Alis Elli terangkat mendengarnya, nafsu makannya telah hilang sama sekali. Dia ingin segera pergi, tapi tidak sopan jika tiba-tiba pergi setelah Caitlyn baru saja duduk ditempatnya. Alih-alih merasa kesal terus menerus, ia kemudian tersenyum kearah Caitlyn.
"Tidak masalah, dengan begini aku tidak akan kelaparan sepanjang hari." Jawab Elli enteng, di seberangnya Julius menahan senyumnya. Elli adalah Elli, ia cukup cerdas untuk meladeni ucapan Caitlyn.
"Itu baik untukmu," balas Caitlyn. Lalu ia berpaling pada Julius dan menatap pria itu.
"Apa rencanamu hari ini, Julius?" Pertanyaan itu mengusik Elli, dia segera melirik Caitlyn dan mendapati gadis itu sedang menatap suaminya. Sungguh, Elli merasa geram pada Caitlyn.
"Mengapa kau ingin tahu rencana kami?" Julius tak menghilangkan balok es pada setiap katanya. Ia bahkan tak melirik sedikit pun kearah Caitlyn, sebaliknya ia malah menatap lurus ke depan, ke arah isterinya yang tampaknya sedang kesal. Tapi disisi lain, Julius merasa ini sangat menyenangkan untuk melihat Elli kesal dan merasa cemburu pada Caitlyn.
"Mungkin aku bisa menyesuaikan jadwalku-" Ucapan Caitlyn terpotong saat Julius mengangkat tangan untuk menghentikan kata-kata Caitlyn, dan meletakkan ponsel ketelinganya. Ia tampak serius saat berbicara.
Setelah selesai berbicara, Julius langsung berdiri. Ia mengulurkan tangannya pada Elli yang menatapnya bingung.
"Helikopter sudah tiba, ayo kita harus segera pergi Elizabeth." Katanya menjawab pertanyaan tak terucap Elli.
Sementara itu, Caitlyn sangat kesal melihat adegan di hadapannya dan diabaikan oleh Julius sedemikian rupa.
"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Elli sembari meraih tangan Elli.
"Melanjutkan bulan madu," balas Julius sembari terkekeh, "Nikmati sarapanmu, Caitlyn." Kata Julius yang sangat puas sekali melihat wajah Caitlyn yang kesal.
'Siapa minta dia menggangguku dan Elizabeth.'
Dengan menggenggam tangan Elli berjalan menuju atap hotel. Sebuah helikopter sudah menunggu mereka dengan seseorang telah berada di samping pintu helikopter sedang menunggu Julius.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya Windsor." sapanya, Elli hanya membalas dengan senyuman.
"Selamat pagi, Tyron. Bagaimana cuaca hari ini?" Tanya Julius sembari membantu Elli masuk kedalam helikopter.
"Sangat bagus untuk bepergian, Tuan."
"Kerja bagus, baiklah ayo!" Julius segera menyusul Elli masuk kedalam helikopter.
"Apa yang sudah kau siapkan kali ini?" Tanya Elli, ia tahu bahwa Julius pasti sedang menyiapkan kejutan lain untuknya.
"Namanya kejutan Elizabeth," Kata Julius sembari memakaian penutup telinga di kepala Elli.
Mereka terbang cukup lama, melintasi daratan Waikiki, lalu melewati lautan luas. Selama perjalanan itu, Elli begitu takjub melihat pemandangan yang ada dibawahnya. Ini pengalaman pertamanya perjalanan menggunakan helikopter.
"Bagaimana?" Tanya Julius, "pemandangannya indah kan?"
Elli hanya mengangguk tapi senyuman di wajahnya tak juga hilang. Bahkan kekesalannya akibat Caitlyn yang merusak sarapan paginya pun hilang.
"Lihat itu," Julius menunjuk pada sebuah pulau kecil yang berada jauh di bawah mereka. Pulau itu berbentuk bundar, dengan banyak pepohonan di tengahnya, pantainya cukup luas, serta terdapat sebuah jembatan kecil dan sebuah perahu disana.
"Ada apa disana?"
"Aku membelinya," Mata Elli langsung membulat dengan lebar, ia melihat kearah pulau dan Julius secara bergantian.
"Kau beli perahu itu?" Tanya Elli dengan wajah polosnya, "untuk apa?" Julius terkekeh, mengapa ia punya isteri seperti Elli.
"Bukan, dasar bodoh!" Julius menyentil kening Elli, hingga gadis itu meringis kesakitan sambil mengusap dahinya.
"Aku membeli pulau ini," Kata Julius bangga.
"APAA!!" Pekik Elli, tanpa sadar hingga membuat Julius meringis karena suara Elli sangat keras di headphonenya. "Ah maaf!" Katanya setelah menyadari bahwa suaranya begitu keras.
"Apa kau menyukainya?" Tanya Julius.
"Tunggu, kau membelinya bukan untukku kan?"
Julius tersenyum dengan lembut, kemudian ia meraih kepala Elli lalu mendekatkan pada dirinya, ia mencium kening Elli dengan lembut.
"Aku membelinya untuk kita, rencananya aku akan membangun sebuah pondok di tengah pulau itu, dan sebuah danau buatan."
"Julius," Elli merasa takjub, ia memang menyukai sebuah rumah yang berads di pinggir danau. Dan bagaimana Julius mengetahuinya?
"Aku tahu kau menyukainya, jadi aku sengaja membeli pulau ini hanya untuk kita."
"Tapi, bagaimana kita bisa sering kemari nanti? Bukankah ini terlalu jauh dari Oxford?"
Tangan Julius menepuk puncak kepala Elli dengan lembut, "Bukankah ada Tyron?"
"Merupakan kehormatan bagi saya untuk melayani Tuan dan Nyonya Windsor." Sahut Tyron yang menjadi co-pilot.
"Terimakasih Julius, aku, aku sangat menyukainya." Kata Elli.
"Apapun itu, asal kau bisa tersenyum."
To be continued,
gimana caranya ya biar bisa nonton
Kereen......