NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Mata di Kegelapan

Pagi itu, Kota Qingyun bangun dengan suasana yang berbeda. Tidak ada teriakan panik, tidak ada kekacauan seperti hari-hari sebelumnya. Namun, keheningan yang menyelimuti kediaman Clan Lin terasa lebih berat, seolah-olah udara sendiri menahan napas.

Lin Fan sedang menyapu halaman depan ketika ia melihat perubahan itu. Para penjaga berdiri lebih tegak. Para pelayan berjalan dengan kepala tertunduk lebih rendah. Dan di tengah-tengah mereka, Elder Huo dari Clan Yan berdiri seperti patung batu, wajahnya datar namun matanya tajam mengawasi setiap gerakan.

Di sampingnya, berdiri Kepala Klan Lin Zhengtian, yang tampak gugup dan berkeringat dingin. Dan di antara mereka, berlutut dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat, adalah Lin Hu.

Lin Fan terus menyapu, gerakannya ritmis dan tenang, namun indranya yang tajam menangkap setiap detail.

"Elder Huo," suara Lin Zhengtian terdengar serak. "Ini... ini pasti ada kesalahpahaman. Lin Hu mungkin ceroboh, tapi dia tidak mungkin berkhianat pada klan..."

"Ceroboh?" potong Elder Huo, suaranya dingin seperti es. Dia melemparkan sebuah benda kecil ke kaki Lin Zhengtian. Benda itu bergulir dan berhenti di dekat sepatu Kepala Klan.

Itu adalah cincin perak dengan ukiran Naga Hitam.

"Kami menemukan ini di kamar Tuan Muda Lin Hu," kata Elder Huo. "Cincin milik sindikat judi ilegal 'Naga Hitam'. Sindikat yang diketahui memiliki koneksi dengan mata-mata dari Sekte Pedang Darah, rival abadi kami."

Lin Zhengtian memungut cincin itu, tangannya gemetar. "Ini... ini bisa saja dipalsukan! Atau dicuri!"

"Mungkin," kata Elder Huo acuh tak acuh. "Tapi bagaimana Anda menjelaskan surat ini?"

Dia mengeluarkan selembar kertas kusut dari jubahnya—surat palsu yang ditanam Lin Fan semalam. Dia membacakannya dengan lantang, suaranya menggema di halaman yang sunyi.

"...Ledakan di Lembah Hitam akan mengalihkan perhatian... Pembayaran tahap kedua..."

Wajah Lin Zhengtian berubah menjadi abu-abu. Dia menatap Lin Hu dengan tatapan yang bukan lagi kemarahan, melainkan ketakutan murni. Jika tuduhan ini benar, Clan Lin tidak hanya malu, tapi bisa dianggap sebagai sekutu pengkhianat oleh Clan Yan dan sekutu-sekutunya.

"Lin Hu!" bentak Lin Zhengtian, suaranya pecah. "Jelaskan ini! Apakah kau menjual rahasia klan? Apakah kau bekerja sama dengan musuh?"

Lin Hu tergagap, air mata keluar dari matanya. "Tidak! Paman! Aku sumpah! Aku tidak menulis surat itu! Aku tidak tahu apa-apa tentang cincin itu! Ini jebakan! Seseorang menjebakku!"

"Siapa yang akan menjebakmu?" tanya Elder Huo dengan nada meremehkan. "Kau punya utang judi. Kau butuh uang. Motifmu jelas. Bukti fisik ada di tanganmu. Jangan coba-coba menyalahkan orang lain tanpa nama."

Lin Hu menoleh ke arah kerumunan pelayan, matanya liar mencari sosok tertentu. Matanya bertemu dengan Lin Fan untuk sesaat.

Dalam detik itu, Lin Fan tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia tetap menunduk, terus menyapu, seolah-olah dia hanyalah bagian dari latar belakang yang tidak penting.

Tapi Lin Hu melihatnya. Dan dalam keputusasaannya, dia berteriak, "Lin Fan! Itu dia! Pelayan itu! Dia membenciku! Dia punya motif! Dia yang melakukannya!"

Semua mata tertuju pada Lin Fan.

Elder Huo menoleh, alisnya terangkat sedikit. "Lin Fan? Pelayan yang disebutkan dalam laporan penyelidikan awal?"

Lin Fan meletakkan sapunya, lalu melangkah maju dengan tenang. Dia membungkuk hormat kepada Elder Huo dan Kepala Klan.

"Hamba Lin Fan, Yang Mulia," katanya dengan suara jelas dan stabil.

"Apakah kau mengenal Tuan Muda Lin Hu?" tanya Elder Huo.

"Hamba mengenalnya sebagai tuan hamba," jawab Lin Fan. "Namun, hubungan kami tidak baik. Tuan Muda sering menghukum hamba tanpa alasan. Tapi hamba hanya seorang pelayan rendahan. Hamba tidak memiliki akses ke kamar pribadi Tuan Muda, apalagi kemampuan untuk memalsukan surat atau mencuri cincin berharga."

"Kau menyangkal?" desis Lin Hu. "Kau ada di sana malam tadi! Aku merasakannya!"

"Tuan Muda bermimpi," kata Lin Fan datar. "Hamba berada di gubuk hamba sepanjang malam, tidur karena kelelahan setelah bekerja seharian. Ada tiga pelayan lain yang bisa menjadi saksi bahwa hamba kembali ke gubuk sebelum jam sembilan malam."

Elder Huo menatap Lin Fan lama. Tatapannya menyelidik, mencoba mencari kebohongan di mata pemuda itu. Tapi yang dia lihat hanyalah ketenangan seorang pekerja lelah yang pasrah pada nasibnya.

Selain itu, secara logika, mengapa seorang pelayan miskin akan mengambil risiko besar untuk menjebak Tuan Muda dengan cara yang begitu rumit? Apa motivasinya? Uang? Lin Fan tidak terlihat memiliki koneksi dengan sindikat judi.

"Yang Mulia," kata Elder Huo akhirnya, menoleh ke Lin Zhengtian. "Bukti terhadap Lin Hu sangat kuat. Surat itu ditulis dengan tinta yang sama dengan yang digunakan di meja kerjanya. Cincin itu ditemukan di kamarnya. Tuduhan balik dari seorang tersangka yang putus asa terhadap pelayannya tidak memiliki dasar bukti. Saya sarankan Anda menangani masalah internal ini dengan cepat, atau Clan Yan akan menarik semua kerja sama dagang."

Lin Zhengtian menutup matanya, rasa sakit terlihat di wajahnya. Dia tahu dia harus memilih. Antara keponakannya yang mungkin bersalah (atau setidaknya terlihat bersalah), dan kelangsungan hidup klannya.

"Pengawal!" teriak Lin Zhengtian. "Bawa Lin Hu ke Ruang Hukuman! Cabut status disiplinnya! Sita semua aset pribadinya untuk membayar ganti rugi kepada Clan Yan! Dan... usir dia dari kediaman utama. Dia akan tinggal di penjara klan sampai penyelidikan lebih lanjut selesai!"

"TIDAK! PAMAN! JANGAN!" teriak Lin Hu saat dua penjaga menyeretnya pergi. Kakinya menyeret di tanah, matanya menatap Lin Fan dengan kebencian murni. "LIN FAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU! AKU SUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!"

Teriakan itu menghilang seiring dengan dibukanya gerbang besi Ruang Hukuman.

Keheningan kembali turun.

Elder Huo menatap Lin Fan sekali lagi, kali ini dengan sedikit rasa penasaran. "Kamu tenang untuk seseorang yang hampir dituduh oleh tuanmu."

"Hamba hanya melakukan tugas hamba, Yang Mulia," jawab Lin Fan rendah hati.

"Hmm." Elder Huo berbalik. "Lin Zhengtian, pastikan masalah ini selesai. Saya tidak ingin mendengar nama Lin Hu lagi."

Dengan itu, Elder Huo pergi, diikuti oleh pengawalnya. Ancaman langsung dari Clan Yan telah mereda, dialihkan sepenuhnya ke Lin Hu.

Lin Fan menghela napas lega dalam hati. Rencana berhasil. Lin Hu hancur. Namanya bersih.

Namun, saat ia kembali mengambil sapunya, ia merasakan tatapan itu lagi.

Dari atas atap paviliun tamu, di mana Elder Huo tadi berdiri, ada bayangan samar. Bukan Elder Huo, karena dia sudah pergi. Tapi seseorang... atau sesuatu... masih di sana.

Lin Fan menatap ke arah atap itu. Kosong.

Tapi di tepi genteng, terdapat sebuah benda kecil yang berkilau.

Saat istirahat siang, Lin Fan diam-diam mendekati paviliun itu. Tidak ada penjaga di sana sekarang. Ia memanjat tiang kayu dengan keahlian yang ia pelajari sebagai pelayan, dan mencapai atap.

Di tempat yang tadi ia lihat, terdapat sebuah jarum kecil berwarna hitam. Bukan jarum biasa. Jarum ini terbuat dari logam gelap, dengan ukiran rune halus di pangkalnya.

Lin Fan mengambilnya. Saat jari-jarinya menyentuh jarum itu, Manik Giok di Dantian-nya berdenyut hangat. Peringatan.

Jarum ini mengandung residu Qi yang asing. Bukan Qi elemen Api Clan Yan. Bukan Qi netral Clan Lin. Ini adalah Qi yang dingin, tajam, dan penuh niat membunuh.

Qi Pembunuh.

Dan yang lebih mengerikan, ada tanda kecil di pangkal jarum: gambar bulan sabit yang terbelah.

Sekte Bulan Terbelah.

Lin Fan membeku. Sekte Bulan Terbelah adalah organisasi pembunuh bayaran bawah tanah yang legendaris. Mereka tidak bekerja untuk klan lokal. Mereka bekerja untuk siapa saja yang mampu membayar harga tinggi.

Mengapa ada jarum dari pembunuh bayaran level tinggi di sini?

Apakah seseorang menyewa pembunuh untuk membunuh Lin Fan? Atau... apakah pembunuh itu sedang mengamati Lin Fan karena alasan lain?

Lin Fan menyembunyikan jarum itu di dalam bajunya. Tangannya dingin.

Dia pikir dia sudah aman dari Lin Hu dan Yan Lie. Tapi ternyata, ada hiu yang lebih besar di perairan ini. Dan hiu itu sudah mencium darahnya.

Siapa yang menyewa Sekte Bulan Terbelah?

Lin Fan menatap ke arah kota, matanya menyipit. Permainannya baru saja naik tingkat. Dari konflik klan lokal, menuju dunia bawah tanah yang gelap dan berdarah.

Dia harus menjadi lebih kuat. Lebih cepat.

Karena berikutnya, mereka tidak akan mengirim surat palsu. Mereka akan mengirim pisau.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!