NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Lantai penthouse ini terbuat dari kayu jati kualitas terbaik yang dipoles hingga memantul, namun bagi Bianca, setiap langkah di atasnya terasa seperti berjalan di atas lapisan es yang tipis. Di luar jendela besar, Jakarta adalah lautan lampu yang tak pernah tidur, namun di dalam kamar barunya, kesunyian justru terasa mencekik.

Kamar ini terlalu luas. Wangi linen yang segar dan aroma diffuser cendana yang elegan seharusnya menenangkan, tetapi keberadaan pintu penghubung yang hanya berjarak beberapa meter dari kamar Arlan membuat napas Bianca terasa pendek. Ia berbaring di atas ranjang king size yang empuk, namun tubuhnya kaku seperti kayu.

Pikirannya terus memutar ulang kalimat Arlan di ruang kerja tadi, seperti kaset rusak yang enggan berhenti.

"Aku ingin memperbaiki hidupmu yang sempat hancur itu, Gita."

Kata-kata itu terdengar seperti janji, namun di telinga Bianca, itu terdengar seperti ancaman. Ia merapatkan selimut ke dadanya, merasakan detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ada bagian dari dirinya yang meronta—sisi "Bianca Adytama" yang dulu terbiasa dipuja dan dipenuhi keinginannya—yang merasa tersentuh. Namun, "Gita Ivara" yang telah melewati dinginnya lantai penjara dan heningnya perkebunan teh di Jawa Barat, merasa ketakutan.

Kenapa? tanyanya pada kegelapan plafon kamar.

Kenapa pria sedingin Arlan Dirgantara, yang skeptis terhadap cinta dan telah dikhianati oleh kemewahannya sendiri, repot-repot ingin "memperbaiki" pelayannya? Bianca bukan wanita naif. Ia tahu sorot mata pria yang menginginkan sesuatu. Ia paham obsesi yang mulai terpancar dari cara Arlan mengurungnya dalam perlindungan yang posesif. Namun, ia tidak menginginkan ini. Kedamaian yang ia cari adalah kemandirian yang sunyi, bukan menjadi proyek renovasi bagi seorang pria yang terbiasa mengatur dunia.

Bagi Bianca, cinta adalah variabel yang sudah lama ia coret dari persamaan hidupnya sejak pintu jeruji besi itu berdentang menutup sepuluh tahun lalu. Ia tidak merasa pantas dicintai, dan ia tidak merasa perlu mencintai.

Pukul dua dini hari. Dahaga yang mencekik memaksa Bianca bangkit. Ia keluar kamar dengan langkah seringan mungkin, berharap tidak membangunkan sang pemilik kuasa. Namun, saat melewati ruang tengah yang luas, ia melihat bayangan seseorang di balkon yang terbuka.

Arlan berdiri di sana, membelakangi ruangan. Ia hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, dengan segelas wiski di tangan kanan. Angin malam mempermainkan rambutnya, namun pria itu bergeming seperti patung perunggu.

Bianca berniat berbalik, namun suara berat Arlan membelah hening sebelum ia sempat melangkah.

"Sangat sulit untuk tidur di sini, bukan? Tempat ini terlalu diam bagi seseorang yang terbiasa mendengar suara serangga malam di desa."

Bianca mematung. Ia terpaksa melangkah mendekat, namun tetap menjaga jarak aman.

"Saya hanya ingin mengambil air minum, Tuan."

Arlan berbalik perlahan. Matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini tampak sedikit lebih... manusiawi, meski tetap berbahaya. Ia menatap kemeja putih kebesaran yang dikenakan Bianca—kemeja miliknya. Pemandangan itu memicu sesuatu yang gelap namun intens di mata Arlan.

"Gita..." ucap Arlan, suaranya merendah seiring langkahnya yang mendekat. "Berhentilah menatapku seolah aku adalah monster yang akan memakanmu."

Arlan berhenti tepat di depan Bianca. Jarak mereka sangat dekat hingga Bianca bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari tubuh pria itu. Arlan meletakkan gelasnya di pembatas balkon, lalu tangannya terangkat—bukan untuk menyentuh, melainkan untuk mengurung Bianca di antara tubuhnya dan pintu kaca.

"Kamu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa kubeli dengan uang, dan satu-satunya hal yang tidak bisa kukendalikan dengan kontrak," bisik Arlan. Wajahnya menunduk, napasnya yang beraroma oak dan wiski menyapu pipi Bianca.

"Kamu membuatku gila, Gita."

“Tuan, tolong lepaskan.”

“Gita, apa aku bisa memilikimu? sepertinya aku mencintaimu.”

Netra gelap itu membulat sempurna mendengarkan ungkapan jujur Arlan.

“Anda mabuk, Tuan.” Bianca mencoba mendorong dada Arlan.

“Aku tidak mabuk,” sangkal Arlan.

"Yang Tuan rasakan itu bukan cinta. Itu obsesi. Anda hanya ingin menaklukkan saya," bantah Bianca, tangannya bertumpu di dada Arlan untuk menahan pria itu agar tidak semakin dekat. Ia bisa merasakan otot dada Arlan yang keras dan detak jantung yang sama cepatnya dengan miliknya.

"Mungkin," aku Arlan tanpa ragu. Jemarinya kini dengan berani menyentuh dagu Bianca, memaksanya untuk mendongak. "Tapi entah mengapa justru aku ingin menjadi tamengmu. Ingin memperbaiki setiap kepingan yang hancur itu, meski aku harus menghancurkan diriku sendiri dalam prosesnya."

Bianca merasakan benteng pertahanannya mulai retak. Ada kerinduan yang mendalam untuk bersandar, namun

ketakutan akan pengkhianatan jauh lebih besar. Saat bibir Arlan hanya berjarak beberapa senti dari miliknya, Bianca memalingkan wajah.

"Saya mohon tuan, jangan lakukan ini," lirih Bianca. Bianca langsung mendorong dada Arlan sekuat tenaga dan memilih kembali ke kamarnya.

Arlan mendesah pelan, menundukkan kepalanya. Ia merasa sudah gila, kehadiran Bianca disisinya terus mengusik ketenangannya.

**

Cahaya matahari pagi yang pucat menembus melalui celah gorden penthouse, menyapu lantai marmer dengan sapuan warna emas yang dingin. Di dapur yang didominasi aksen krom dan granit hitam, Bianca—telah bergerak dengan ketenangan yang terlatih.

Tidak ada lagi sisa-sisa Bianca Adytama yang sepuluh tahun lalu bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor. Kini, jemarinya yang lentik bergerak lincah memotong sayuran dan menyiapkan omelette dengan aroma mentega yang menggugah selera. Meski ia hanya mengenakan seragam asisten yang sederhana, cara ia berdiri, cara ia memegang pisau, hingga cara ia menata piring di atas meja makan, memancarkan aura "mahal" yang tidak bisa dibeli.

Suara langkah sepatu pantofel yang tegas di atas lantai kayu menandakan kedatangan sang pemilik kuasa. Bianca tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa Arlan sudah berdiri di sana.

Arlan turun dengan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya yang atletis. Wajahnya sedingin es pagi, namun matanya yang tajam langsung terpaku pada sosok wanita di depan kompor itu. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus mengusik egonya setiap kali melihat Gita di dapurnya.

"Sarapan sudah siap, Tuan," ucap Bianca tenang sambil meletakkan piring terakhir. Ia sedikit membungkuk, sebuah gestur formal yang sebenarnya ia benci, namun harus ia lakukan demi menjaga penyamarannya sebagai pelayan desa yang tahu tata krama.

Arlan menarik kursi, matanya masih tak lepas dari Bianca. "Duduklah. Kamu tidak perlu berdiri seperti itu setiap pagi. Kita sarapan bersama."

Bianca sempat ragu sejenak. "Tapi, Tuan—"

"Ini perintah, bukan tawaran, Gita," potong Arlan, suaranya rendah namun penuh otoritas.

Bianca akhirnya duduk di seberang Arlan. Keheningan yang elegan menyelimuti ruangan itu, hanya terdengar denting halus garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Bianca makan dengan sangat anggun—sikunya tidak menyentuh meja, suapannya kecil dan rapi—sebuah etiket kelas atas yang tanpa sadar ia tunjukkan. Arlan memperhatikannya dengan saksama. Pria itu menyipitkan mata, merasa ada yang tidak sinkron antara latar belakang "gadis desa" yang ada di dokumen pribadinya dengan wanita yang duduk di depannya ini.

"Hari ini jadwalmu akan padat," Arlan memecah kesunyian setelah meneguk kopi hitamnya. "Aku akan pergi bersama Doni untuk menyelesaikan aset yang dibekukan Stella. Kemungkinan besar urusan itu akan memakan waktu sampai sore."

Bianca mengangguk, menyimak dengan saksama. "Lalu bagaimana dengan agenda saya di kantor, Tuan?"

"Cukup periksa laporan keuangan kuartal terakhir yang diberikan Meta kemarin. Tandai jika ada kesalahan," Arlan berhenti sejenak, menatap Bianca lekat-lekat. "Dan satu hal lagi. Malam ini, aku ada pertemuan bisnis penting di Hotel Mulia. Aku ingin kamu menemaniku."

Bianca mendongak, matanya sedikit membelalak. "Menemani Anda? Bukankah biasanya itu tugas Mbak Meta?"

"Malam ini berbeda. Ini bukan sekadar tanda tangan kontrak, ini adalah perang pengaruh. Aku butuh asisten yang tidak hanya cerdas, tapi juga... tenang," Arlan menghentikan kalimatnya, ia hampir saja mengatakan asisten yang memiliki aura seperti bangsawan sepertimu. "Siapkan pakaian formal. Aku sudah meminta asisten pribadiku mengirimkan beberapa pilihan ke kamarmu nanti siang."

"Saya rasa saya bisa menggunakan pakaian saya sendiri, Tuan," tolak Bianca halus.

"Gita," suara Arlan memberat, ada nada posesif yang mulai merayap di sana. "Di dunia bisnis, pakaian adalah zirah. Jangan membantahku untuk hal ini."

Bianca menghela napas pasrah. "Baik, Tuan."

Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam diam yang tegang. Arlan sibuk dengan tabletnya, namun sesekali ia melirik Bianca yang sedang menatap ke luar jendela mobil. Bianca terlihat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia merasa takut, namun juga tertantang. Pertemuan bisnis malam ini adalah wilayah kekuasaannya dulu. Ia tahu cara menghadapi hiu-hiu korporat. Namun, ia juga sadar bahwa semakin ia menunjukkan kemampuannya, semakin besar risiko Arlan akan mencurigai siapa ia sebenarnya.

Sejauh mana aku bisa bertahan di bawah radar pria ini? batin Bianca cemas.

Arlan, di sisi lain, sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Ia sangat skeptis terhadap wanita karena mantan istrinya yang hanya memburu hartanya. Namun Gita... gadis ini berbeda. Ia tidak pernah meminta barang mewah, ia tidak pernah menggoda, bahkan ia cenderung menarik diri. Namun justru sikap tegarnya yang misterius itulah yang membuat Arlan merasa ingin "memilikinya" lebih dari sekadar asisten. Arlan ingin merobek topeng ketenangan itu dan melihat apa yang sebenarnya disembunyikan oleh mata indahnya.

Setibanya di lobi kantor Dirgantara Group, kehadiran mereka kembali mengundang bisik-bisik. Arlan berjalan dengan langkah panjang, namun ia sengaja sedikit melambat agar Bianca bisa berjalan sejajar di sampingnya—sebuah gestur yang tak pernah ia lakukan untuk pelayan mana pun sebelumnya.

"Fokus pada pekerjaanmu hari ini," ucap Arlan tepat di depan pintu lift pribadi. "Dan Gita... jangan berpikir untuk melarikan diri dari pertemuan malam ini. Aku akan menjemputmu tepat jam tujuh."

Bianca mengangguk pelan. "Saya mengerti, Tuan."

***

1
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!