Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Jet pribadi milik Dinasti Valerio membelah langit malam, membawa Mrs. Emmeline Stone jauh dari kepulan asap konflik Los Angeles menuju sebuah oasis tersembunyi di tengah Samudra Pasifik.
Sebuah pulau pribadi tropis yang dikelilingi oleh air laut sewarna kristal safir menjadi saksi bisu dari pelarian romantis mereka.
Di tempat ini, tidak ada raungan sirene ambulans, tidak ada ancaman dari sisa-sisa Kartel Sinaloa, dan yang paling penting—tidak ada gangguan dari kepalsuan nama Snowden.
Hanya ada mereka berdua, siap tenggelam dalam kegilaan cinta yang telah lama tertunda.
Malam pertama bulan madu mereka dimulai di sebuah vila mewah yang bertumpu di atas air laut, di mana dinding-dinding kaca besarnya langsung menghadap ke cakrawala yang tak berujung.
Angin laut yang hangat berembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja, menyatu dengan keharuman cedarwood dan mawar Prancis yang telah menjadi ciri khas penyatuan mereka.
Di dalam kamar tidur utama yang diterangi oleh cahaya temaram lilin aromaterapi, keheningan malam itu pecah oleh suara tawa renyah Emmeline. Suara tawa yang belum pernah terdengar begitu lepas selama empat bulan terakhir.
"Kyle! Hentikan, itu geli!" jerit Emmeline pelan, tubuh rampingnya menggeliat di atas sprei sutra putih yang halus.
Kingdom Kyle Stone sama sekali tidak memedulikan protes dari istrinya. Pria bertubuh masif setinggi 190 sentimeter itu sedang berlutut di tepi ranjang.
Dia telah menanggalkan kemejanya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi otot keras dan jaringan parut taktis yang legendaris. Namun, di balik penampilannya yang sangar bagai mesin pembunuh, tindakan Kyle malam ini benar-benar menunjukkan tingkat kegilaan dan kemanjaan seorang Alpha sejati yang sedang mabuk asmara.
Kyle menundukkan kepala anggunnya, menenggelamkan wajah tegasnya tepat di atas perut rata Emmeline yang terekspos di balik jubah tidur sutra yang terbuka.
Dengan sangat intens, lambat, dan penuh pemujaan, Kyle menciumi perut Emmeline berulang kali. Setiap kecupan yang dia berikan terasa begitu hangat, dalam, dan posesif, menyusuri setiap senti kulit lembut wanitanya tanpa ada yang terlewat.
Cup. Cup. Cup.
"Kyle, demi Tuhan, jahitanmu di paha bisa menegang lagi jika kau terus berlutut seperti itu," Emmeline mencoba menarik rambut hitam pendek Kyle untuk mengangkat wajah suaminya, namun jemari tangannya justru berakhir mengelus tengkuk kokoh sang Alpha.
Kyle mendongak sejenak, sepasang mata kelamnya menyala terang oleh gairah dan kebahagiaan yang murni. "Biarkan saja, Sayang. Luka di kakiku sudah sembuh total karena ramuan cintamu semalam. Sekarang, fokus utamaku adalah memberi salam kepada pasukan kecilku di dalam sini."
Kyle kembali menempelkan bibirnya di atas perut Emmeline, meniupnya perlahan hingga menciptakan suara lucu yang membuat Emmeline kembali tertawa terpingkal-pingkal. Pria yang biasanya ditakuti oleh militer hitam sedunia itu kini bertingkah konyol dan menggemaskan di atas ranjang mereka.
"Halo, anak-anak Daddy," bisik Kyle dengan suara baritonnya yang berat, bergetar langsung di atas kulit perut Emmeline, memberikan sensasi menggelitik yang luar biasa bagi sang dokter.
"Apa kalian bisa mendengar suara Daddy? Jangan nakal di dalam sana, ya. Biarkan Ibu kalian yang angkuh ini beristirahat dengan baik malam ini setelah Daddy mengklaimnya semalaman penuh."
Emmeline merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh rasa cinta yang meluap-luap. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menangkup wajah tampan Kyle dengan kedua tangannya, lalu memaksa pria raksasa itu untuk menatap matanya.
"K... kau benar-benar sudah gila," ucap Emmeline lembut, matanya berkaca-kaca oleh kebahagiaan yang begitu nyata. "Aku tidak pernah membayangkan seorang komandan tertinggi Unit Wraith bisa merajuk dan berbicara dengan lemak makan malamku seperti ini setiap hari."
Kyle tersenyum alpha, sebuah senyuman penuh kemenangan yang sangat seksi.
Dia merangkak naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh masifnya di atas tubuh ramping Emmeline tanpa memberikan tekanan berat pada janin mereka.
Lengannya yang kekar mengunci pinggang Emmeline dengan erat, menyatukan seluruh kehangatan tubuh mereka di bawah selimut.
"Aku memang gila, Emmeline. Aku gila karena mencintaimu, dan aku semakin gila karena tahu bahwa darah dagingku sedang bertumbuh di dalam rahim yang indah ini," bisik Kyle, tatapannya begitu dalam dan mengunci jiwa Emmeline.
"Selama enam tahun aku hidup di antara tumpukan mayat dan dinginnya malam medan perang. Baru sekarang, bersamamu di pulau ini, aku merasa benar-benar hidup sebagai seorang manusia."
Emmeline tersenyum manis, keangkuhan aristokratnya telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh kepatuhan murni seorang istri yang mencintai suaminya. Dia melingkarkan lengannya di leher kokoh Kyle, menarik wajah pria itu ke bawah.
"Maka tetaplah hidup untukku dan untuk anak-anakmu, Kyle Stone," bisik Emmeline tepat di depan bibir Kyle.
"Selalu, Ratu-ku," sahut Kyle posesif.
Dan malam itu, di bawah kesunyian pulau pribadi yang romantis, mereka kembali menyatukan bibir dalam ciuman yang lambat, manis, dan sarat akan kegilaan gairah yang membakar.
Kyle menjelajahi setiap jengkal keindahan tubuh Emmeline dengan kelembutan yang luar biasa, menjaga agar tidak mengusik janin mereka, namun tetap memberikan kepuasan yang membuat Emmeline mendesah pasrah dalam dekapannya hingga menjelang pagi.
Keesokan paginya, pulau itu menyambut mereka dengan cuaca yang luar biasa cerah. Air laut yang jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi. Emmeline terbangun dengan tubuh yang terasa hangat, masih berada di dalam pelukan protektif lengan raksasa Kyle.
Mereka menghabiskan waktu sepanjang hari dengan kebahagiaan yang meledak-ledak. Tanpa mengenakan seragam medis ataupun pakaian taktis, mereka hanya memakai pakaian pantai yang santai.
Kyle, dengan celana pendek dan kemeja linen yang terbuka, menuntun Emmeline berjalan-jalan di sepanjang garis pantai berpasir putih yang sepi.
Meskipun paha kanan Kyle masih menyisakan garis luka jahitan yang panjang dan kemerahan, pria itu sama sekali tidak mengeluh.
Dia bahkan dengan ringkas mengangkat tubuh ramping Emmeline ke dalam gendongannya ketika ombak laut yang agak besar datang menghampiri kaki mereka.
"Kyle! Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri!" teriak Emmeline sambil tertawa, lengannya berpegangan erat pada bahu lebar Kyle.
"Tidak akan," sahut Kyle dengan kekehan beratnya. "Daddy tidak akan membiarkan kaki Ibunya anak-anak basah oleh air laut yang dingin pagi ini. Berasandarlah yang nyaman, Sayang."
Kyle membawa Emmeline menuju sebuah pondok kayu di tepi pantai yang telah disiapkan dengan berbagai hidangan buah-buahan tropis segar dan makanan laut kelas atas. Mereka makan bersama dengan saling menyuapi, diselingi oleh candaan konyol dan obrolan hangat tentang masa depan mereka.
Sambil menikmati angin laut, Kyle kembali menggeser posisi duduknya menjadi di belakang Emmeline, membiarkan punggung istrinya bersandar pada dada bidangnya yang kokoh.
Dan seperti sebuah ritual wajib yang tidak boleh dilewatkan, tangan Kyle kembali mendarat di atas perut Emmeline, mengelusnya dengan penuh kasih sayang.
"Setelah satu minggu di pulau ini, kita akan langsung ke Chicago, bukan?" tanya Emmeline pelan, memutar wajahnya sedikit untuk menatap rahang tegas suaminya.
"Ya," Kyle mengangguk, mengecup pipi Emmeline yang kemerahan karena sinar matahari. "Aku sudah meminta Jaxx untuk menyiapkan jet dan memberi tahu Ibuku di Chicago. Dia sangat tidak sabar untuk memeluk menantu dokter-nya yang cantik ini. Dan ayahku... dia sudah menyiapkan sebotol wiski terbaik untuk merayakan pernikahan kita."
Emmeline tersenyum, merasa dadanya dipenuhi oleh rasa aman yang luar biasa.
Bersama Kyle, dia tidak hanya menemukan seorang kekasih yang penuh gairah dan pelindung yang mematikan, tetapi juga sebuah keluarga baru yang siap menerimanya dengan ketulusan yang murni, jauh dari intrik politik dan manipulasi bisnis masa lalunya.
"Aku mencintaimu, K," bisik Emmeline lirih, membiarkan dirinya tenggelam lebih dalam ke dalam dekapan hangat sang Alpha.
Kyle mempererat dekapannya, menaruh dagunya di atas pundak Emmeline, menatap lurus ke arah laut lepas dengan tatapan mata seorang pemenang yang telah berhasil mengklaim takdir terindahnya.
"Aku lebih mencintaimu, Mrs. Stone. Dan aku akan memastikan duniamu selalu dipenuhi oleh kebahagiaan mulai hari ini."