Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 14
Malam itu, hening yang mencekam tidak hanya merayap di bangsal rumah sakit tempat Nadhira meratapi nasibnya, tetapi juga di dalam kamar utama kediaman mewah keluarga Antanagara.
Andra berdiri di dekat jendela kaca yang menjulang tinggi, menatap pendar lampu kota tanpa benar-benar melihatnya. Di tangannya, segelas minuman yang sudah habis setengahnya dibiarkan begitu saja. Kepalanya berdenyut hebat. Bayangan wajah pucat Nadhira yang merosot ke lantai kantornya tadi siang terus berputar di benaknya seperti kaset rusak.
“Apa kamu benar-benar sudah gila, Andra? Kamu benar-benar jahat! Aku kira kamu membantuku karena benar-benar ikhlas!”
Kalimat Nadhira menghantam ulu hatinya, meninggalkan rasa bersalah yang teramat sangat. Andra memejamkan mata, meneguk habis sisa minum di gelasnya hingga tenggorokannya terasa terbakar.
"Aku tahu aku baji-ngan, Nad," bisik Andra pada kegelapan malam.
Dia tahu dia telah memanfaatkan titik terendah sahabatnya. Dia tahu dia sangat egois karena menukar nyawa seorang ibu dengan harga diri putrinya. Namun, setiap kali Andra mencoba mencari jalan keluar lain, logikanya selalu membentur dinding tebal yang bernama kenyataan.
Pernikahannya dengan Diana sudah di ujung tanduk. Ayahnya, sang patriark Antanagara, sudah memberi ultimatum. Berikan ahli waris dalam waktu tiga bulan, atau coret nama Andra dari silsilah keluarga dan paksa perceraian. Dan Diana? Wanita yang teramat dicintainya itu justru bergeming. Diana menolak merusak tubuhnya, menolak cuti dari dunia modelling internasional yang baru saja memuncaki kariernya, dan menolak opsi adopsi karena gengsi.
Andra bisa saja mencari wanita bayaran lain di luar sana, banyak rahim yang bisa dibeli dengan uang Antanagara. Tapi Andra tidak sudi. Dia tidak akan membiarkan darah dagingnya dikandung oleh sembarang wanita yang latar belakangnya tidak jelas, atau wanita oportunis yang kelak akan memeras keluarganya menggunakan anak itu sebagai sandera.
Hanya Nadhira. Hanya sahabat lamanya yang dia tahu berhati tulus, berasal dari keluarga baik-baik, pintar, dan memiliki gen yang bersih. Di balik motif liciknya, ada sebentuk rasa percaya yang gila di dalam kepala Andra: jika anak itu lahir dari Nadhira, dia tahu anak itu akan mewarisi kebaikan yang tidak dimiliki olehnya maupun Diana.
Suara pintu kamar yang terbuka memecah lamunan Andra. Diana melangkah masuk dengan gaun malam yang anggun, aroma parfum mahal langsung memenuhi ruangan. Wajahnya cantik, namun dingin tanpa ekspresi.
"Kamu belum tidur?" tanya Diana acuh tak acuh, sambil melepas anting-anting berliannya di depan meja rias.
"Kudengar dari Papa, besok supirnya akan menjemput kita untuk konsultasi ke dokter kandungan lagi. Aku tidak bisa ikut, Andra. Jadwal pemotretanku padat."
Andra berbalik, menatap punggung istrinya dengan tatapan lelah.
"Diana, ini kesempatan terakhir kita. Jika kita tidak datang bersama besok, Papa akan benar-benar memulai proses perceraian pernikahan kita."
Diana berbalik, menatap Andra dengan dahi berkerut.
"Lalu aku harus mengorbankan karier yang kubangun belasan tahun demi egomu dan orang tuamu? Aku tidak mau hamil, Andra! Berapa kali harus kukatakan? Jika kamu butuh anak, cari cara lain. Cari ibu pengganti (surrogate mother) atau apa pun, asal jangan libatkan tubuhku. Aku tidak peduli, yang penting statusku sebagai istri sah Antanagara tidak terganggu."
Mendengar ucapan dingin Diana, hati Andra mencelos. Istrinya sendiri yang menyuruhnya mencari rahim lain. Ironisnya, Diana tidak tahu bahwa saat ini Andra benar-benar sedang mewujudkan cara lain yang gila itu.
"Baik," jawab Andra dengan suara rendah yang bergetar.
"Aku akan urus semuanya. Kamu fokus saja pada kariermu."
Setelah Diana masuk ke dalam kamar mandi, Andra mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalahnya pada Nadhira mendadak bergeser menjadi sebuah tekad yang nekat. Dia harus menekan Nadhira besok pagi. Dia harus memastikan Nadhira menerima kesepakatan ini, karena jika tidak, hancurlah hidupnya.
Di saat yang sama, jam di bangsal rumah sakit menunjukkan pukul tiga dini hari. Nadhira masih belum bisa memejamkan mata. Kepalanya terasa mau pecah.
Tiba-tiba, monitor jantung di samping ibunya berbunyi dengan ritme yang sangat cepat dan tidak beraturan. Tubuh ibunya mendadak kejang kecil, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang tenggelam.
"Ibu! Ibu kenapa?!" Nadhira panik, dia langsung menekan tombol darurat di atas ranjang berulang kali.
"Suster! Dokter! Tolong Ibu saya!"
Dalam hitungan detik, tirai pembatas ditutup. Dokter dan beberapa perawat merangsek masuk, melakukan tindakan penyelamatan darurat. Nadhira didorong keluar dari area ranjang. Dari balik celah tirai, dia melihat dada ibunya ditekan, sementara dokter memberikan instruksi dengan nada mendesak.
"Kondisinya drop karena penyumbatan arteri utamanya semakin parah! Kita harus melakukan tindakan kateterisasi darurat sekarang, atau pasien tidak akan selamat sampai pagi!" seru dokter kepada perawat.
Seorang perawat administrasi langsung menghampiri Nadhira yang sudah menangis histeris di pojok ruangan.
"Mbak Nadhira, ini surat persetujuan tindakan darurat. Tapi maaf, biaya alat dan obat darurat ini harus dibayar tunai di muka sebesar lima puluh juta rupiah karena tidak dicover oleh jaminan darurat yang Mbak miliki saat ini. Tolong tanda tangan dan segera selesaikan di kasir agar obatnya bisa dikeluarkan dari apotek pusat."
Nadhira menatap kertas itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Lima puluh juta rupiah. Uang dari mana dalam waktu sepuluh menit? Sahabat-sahabatnya yang dulu sudah tidak bisa dihubungi, kerabatnya pun sudah angkat tangan.
Nadhira memandang ibunya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di balik tirai. Detik itu juga, harga dirinya runtuh berkeping-keping di lantai rumah sakit yang dingin. Kenyataan telah mencekiknya hingga habis.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Nadhira merogoh tasnya. Dia mengambil ponselnya, lalu mencari satu nama yang paling dia hindari.
Andra.
Telepon baru berdering sekali sebelum Andra langsung mengangkatnya di seberang sana, seolah-olah pria itu memang sedang menunggu panggilannya sepanjang malam.
"Dhira? Ada apa?" suara Andra terdengar cemas namun penuh harap.
Nadhira menggigit bibirnya kuat-kuat hingga berdarah, mencoba menahan isak tangis yang bisa menghancurkan sisa-sisa pertahanannya. Dengan suara yang bergetar hebat dan penuh keputusasaan, Nadhira akhirnya menyerah pada takdir.
"Kirim... Tolong kirim uangnya sekarang ke rekening rumah sakit, Andra. Lima puluh juta! Sekarang juga," bisik Nadhira, air matanya menetes ke layar ponsel.
Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang telepon, sebelum suara Andra terdengar berat, mengunci kesepakatan hitam mereka.
"Uangnya akan masuk dalam dua menit, Dhira. Dan sebagai gantinya besok jam sepuluh pagi, supirku akan menjemputmu untuk ke rumah sakit bersalin. Kamu tahu apa artinya ini, bukan?"
Nadhira memejamkan mata, merasakan dadanya yang begitu sesak hingga sulit bernapas. "Ya. Aku setuju. Aku akan mengandung anakmu."
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh