NovelToon NovelToon
Janji Darah Sang Vampir

Janji Darah Sang Vampir

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Cinta Terlarang / Cinta Beda Dunia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Kepahiang Martin

Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.

Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.

Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU TAHUN BERLALU

Satu tahun lamanya telah berlalu sejak kereta kuda itu membawa Seruni pergi menjauh dari desanya, dari orang tuanya, dan dari sosok diam yang berjanji menunggunya. Waktu yang terasa begitu panjang dan berat bagi keduanya, waktu yang penuh rindu, lelah, dan kesabaran tanpa henti.

Di kota besar yang jauh itu, di balik pagar tinggi dan gerbang megah kediaman keluarga Wijaya, Seruni telah melewati dua belas bulan penuh masa kerja yang berat namun penuh keteguhan hati. Gadis desa yang sederhana itu kini telah berubah. Wajahnya masih sama manis dan tulusnya, namun matanya tampak lebih dewasa, kulitnya sedikit lebih gelap dan kasar karena sering terkena matahari dan air cucian, dan tangannya kini penuh kapalan bekas memegang sapu, kain pel, dan peralatan dapur berat.

Selama satu tahun ini, Seruni bekerja lebih giat, lebih rajin, dan lebih teliti dibandingkan pembantu-pembantu lain. Ia bangun paling pagi sebelum ayam berkokok, tidur paling larut setelah semua pekerjaan selesai. Ia melakukan semua tugas berat tanpa mengeluh: menyapu halaman luas yang berhektar-hektar, mencuci tumpukan pakaian keluarga besar itu, mengangkat beban berat, dan melayani perintah apa pun dengan sopan dan patuh.

Banyak pembantu lain yang awalnya meremehkannya, menganggapnya gadis desa yang lugu dan lemah. Ada yang sengaja memberi pekerjaan lebih berat, ada yang menyembunyikan peralatan, ada yang mengadu domba. Namun Seruni diam saja, menelan semua perlakuan buruk itu, tetap tersenyum, dan tetap melakukan tugasnya dengan sempurna. Kebaikan hati dan ketulusannya perlahan-lahan meluluhkan hati mereka. Lama-kelamaan, mereka justru menjadi hormat dan sayang padanya, karena Seruni selalu mau menolong tanpa pamrih dan tak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan.

Bahkan Ibu Siti, kepala pembantu yang terkenal tegas dan keras itu, kini sering memuji Seruni di depan yang lain. "Lihat Seruni! Baru satu tahun, tapi dia sudah menguasai semua pekerjaan lebih baik dari kalian yang sudah bertahun-tahun di sini. Kuncinya cuma satu: hati yang ikhlas dan tekad yang kuat."

Setiap malam, saat suasana rumah besar itu sudah sepi dan semua orang sudah tidur, Seruni akan duduk diam di pinggir ranjang kayu sederhananya di ruang pembantu. Ia akan mengeluarkan selembar kain usang berwarna putih yang selalu ia simpan rapat di balik lipatan baju. Kain itu adalah potongan kecil dari baju Liam yang dulu pernah sobek dan ia jahit sendiri. Mencium aroma samar yang masih tersisa di kain itu, mengusap kain itu pelan-pelan, dan mengingat kembali wajah dingin namun tatapannya tulus itu.

Sudah satu tahun, Liam... batin Seruni berbisik pelan, air matanya menetes diam-diam membasahi pipi. Masihkah kau ingat aku? Masihkah kau berdiri menunggu di tempat biasa? Aku sudah lelah sekali, rindu sekali... tapi aku kuat. Masih empat tahun lagi. Aku akan bertahan. Demi Ayah Ibu, demi hutang yang harus lunas, dan demi janji kita.

Di desanya, ribuan kilometer jauhnya, waktu berjalan dengan tenang dan lambat, namun bagi Liam rasanya seolah baru kemarin Seruni pergi. Bagi makhluk malam yang usianya tak terhitung itu, satu tahun hanyalah sekejap mata, hanya satu detak jantung yang lambat. Namun rasa rindu yang dirasakannya jauh lebih berat dan lebih dalam dibandingkan manusia biasa.

Selama satu tahun ini, Liam tetap tinggal di gubuk kecil itu, tetap menjaga Ayah Suryo dan Ibu Lastri seperti anak kandung sendiri. Ia tetap diam, tetap dingin, tetap tak banyak bicara, namun keberadaannya membuat kedua orang tua itu merasa aman dan tenang. Liamlah yang bekerja di ladang, mencangkul, menanam, dan memanen hasil bumi dengan kekuatan luar biasa yang tak disadari orang tua itu. Liamlah yang menjaga keamanan desa di malam hari, diam-diam mengusir binatang buas atau orang jahat yang berniat buruk, sehingga desa itu menjadi sangat aman dan damai selama setahun terakhir.

Setiap pagi, siang, dan sore, ada satu pemandangan yang tak pernah berubah bagi warga desa yang lewat di depan gubuk itu. Di dekat jendela kayu di ruang tengah, jendela yang menghadap langsung ke jalan setapak dan ke arah bukit jauh di sana, sosok tinggi besar itu selalu berdiri diam.

Liam berdiri di sana, tegak, kaku, tak bergerak sedikit pun, persis seperti patung yang hidup. Tangannya bertumpu ringan di kusen jendela yang sudah mulai lapuk dimakan usia, wajahnya menatap lurus ke arah cakrawala jauh di timur, arah tempat Seruni pergi. Matanya yang hitam pekat dan dalam itu menatap tajam ke kejauhan, seolah pandangannya bisa menembus bukit, hutan, laut, dan kota besar itu, bisa melihat wajah gadis yang dicintainya sedang melakukan apa di sana.

Warga desa sering berbisik satu sama lain saat lewat.

"Lihat deh Liam... sudah setahun, tapi masih sama saja. Tiap hari berdiri di situ, menunggu. Padahal Seruni kan baru akan pulang empat tahun lagi."

"Dia itu setia sekali ya. Wajahnya memang dingin dan aneh, tapi hatinya sungguh mulia. Jarang ada pemuda yang mau menjaga orang tua kekasihnya begini saat si gadis jauh merantau."

"Semoga Seruni pulang dengan selamat ya. Kasihan Liam, seolah jiwanya ikut pergi bersama Seruni, hanya badannya saja yang ada di sini."

Mereka tak tahu, bahwa bagi Liam, berdiri di dekat jendela itu adalah satu-satunya cara baginya merasa dekat dengan Seruni. Di sana, di tempat terakhir mereka berbicara, di tempat janji suci itu diucapkan, Liam berdiri dan menyalurkan seluruh rasa rindunya lewat tatapan jauhnya.

Tubuhnya yang dingin itu, yang biasanya tak merasakan hawa panas atau dingin, kini merasakan ada kekosongan besar di dadanya saat Seruni tak ada. Tak ada lagi tangan kecil yang membersihkan debu di bajunya. Tak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya. Tak ada lagi jari-jari halus yang mengikat rambutnya atau membersihkan wajahnya. Semuanya hilang, digantikan oleh keheningan panjang yang hanya bisa ia isi dengan kesetiaan.

Setiap kali angin berhembus dari arah timur, Liam akan menutup matanya sejenak, menghirup udara itu dalam-dalam. Ia berharap, semoga angin itu membawa kabar, membawa aroma, atau membawa rasa dari Seruni yang jauh di sana. Panca inderanya yang tajam sering kali menangkap samar-samar rasa lelah, rasa sedih, dan rasa sakit yang dirasakan Seruni. Saat itu terjadi, genggaman tangannya di kusen jendela akan mengerat kuat sampai kayu itu hampir hancur diremasnya. Matanya yang dingin akan menyala merah samar sekejap, dan rasa marah akan dunia yang memisahkan mereka itu berkobar hebat di dalam dadanya.

Namun Liam ingat janjinya. Ia harus menunggu. Ia harus kuat. Ia harus menjaga apa yang dipercayakan Seruni padanya: orang tuanya, rumah ini, dan janji suci mereka.

Malam itu, tepat genap satu tahun kepergian Seruni, bulan purnama bersinar terang dan indah di langit desa. Cahaya peraknya masuk lewat celah jendela, menerangi sosok Liam yang masih berdiri diam di sana sejak sore tadi. Angin malam berhembus dingin, menggoyangkan ujung baju dan rambut hitam panjangnya.

Di dalam hatinya, Liam berbicara dalam bahasa batin yang tak terdengar, bahasa yang hanya dimengerti oleh darah bangsawannya:

Satu tahun sudah berlalu, Seruni. Tiga ratus enam puluh lima hari aku menghitung detik demi detiknya. Aku masih di sini. Di tempat kita berjanji. Di dekat jendela ini. Aku menjaga Ayah dan Ibu baik-baik, seolah mereka orang tuaku sendiri. Aku menjaga desa ini agar aman, agar kau tak khawatir saat pulang nanti.

Liam menundukkan pandangannya sedikit, menatap lantai tanah di bawah kakinya, tempat dulu mereka sering duduk berdua.

Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau menangis diam-diam. Aku bisa merasakannya. Maafkan aku karena tak bisa ada di sana untuk melindungimu, untuk mengusap keringat dan air matamu. Bertahanlah, Seruni. Masih ada empat tahun lagi. Waktu itu akan berlalu cepat. Dan saat kau melangkah masuk ke gerbang rumah ini nanti... aku akan berdiri di sini, di tempat ini, menyambutmu pulang. Dan aku akan menepati janjiku: menikahimu, menjagamu, dan mencintaimu selamanya.

Di kejauhan, di kamar tidur sederhana di kediaman Wijaya, Seruni terbangun dari tidurnya karena mimpi indah. Ia bermimpi Liam berdiri di dekat jendela itu, tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Seruni tersenyum dalam tidurnya, merasa tenang dan bahagia, seolah ia tahu persis, ribuan kilometer jauhnya, ada satu hati yang setia menunggunya tanpa pernah berubah, ada satu sosok dingin yang berdiri diam di dekat jendela, menjaga kenangan dan janji mereka seumur hidupnya.

Satu tahun berlalu, dan kesetiaan itu masih utuh, masih kokoh, masih berdiri tegak di bawah sinar matahari dan sinar bulan, menjadi jembatan tak terlihat yang menghubungkan dua hati yang terpisah jarak dan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!