Setelah mengetahui fakta tentang penghianatan orang yang paling di cintai, Florin Eldes memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, namun di akhir hayatnya, seseorang yang begitu ia benci dan selalu ia siksa dengan sadis malah menangisi kepergiannya dan berharap ia tidak mati. " Kenapa kamu ingin menolongku? padahal aku sudah menyiksamu selama ini. bukankah kematianku adalah hal yang paling kamu inginkan..." Florin menutup matanya untuk terakhir kali setelah mengucapkan kalimat itu. Tapi di saat ia mengira ia sudah mati, ia Malah kembali ke malam dimana ia bertunangan dengan pria yang ia cintai sekaligus pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flash back
Di New York, Florin baru saja tiba di rumahnya, rumah yang di masa lalu tak pernah ia datangi lagi setelah memutuskan untuk tinggal bersama Valir. Rumah yang menyimpan banyak kenangan untuknya. Ia masih ingat bagaimana ia pergi dari rumah ini tanpa memperdulikan ayahnya sama sekali, ia memilih hidup bersama Valir walaupun mereka belum menikah. Dan terakhir kali ia kemari bersama Valir di masa lalu untuk mengambil berkas perusahaan ayahnya. Tapi di kehidupan kedua ini, Florin tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
Florin memasuki kamarnya, kamar yang sangat ia rindukan. Nuansanya masih sama, kamar itu tetap seperti dulu. Florin memandang satu persatu foto yang terpajang di meja riasnya dan juga beberapa ada di atas nakas.
" Ibu..." Florin memeluk sebuah foto yang memperlihatkan wajah ibunya. Florin berharap di kesempatan kedua ini ia bisa melihat wajah ibunya, tapi sayang itu tidak akan terwujud karena ibunya telah meninggal sejak ia berusia sepuluh tahun.
Florin menghapus air matanya lalu kembali meletakkan bingkai foto itu di tempatnya dengan hati hati. Selanjutnya netra Florin beralih pada sebuah foto yang menunjukkan persahabatan indah. Ia meraih foto itu dan memandangnya dengan tatapan dingin. Api amarah mulai kembali menyala dalam matanya, saat itu juga ia langsung membanting foto itu ke lantai. Foto itu adalah fotonya dan juga Angel yang sedang tersenyum bahagia ke arah kamera.
" Aku tidak sudi lagi melihat wajahnya!." ucapnya dengan dingin.
Pintu kamarnya di ketuk dari luar, seseorang ada di luar dan memanggilnya. " Nona, apa yang terjadi, apa ada masalah?." tanya seseorang di balik sana.
Florin mengenal suara itu, suara seseorang yang begitu berarti untuknya. Bahkan di masa lalu, ia memakan racun yang diberikan Valir untuk membunuh nya.
" Karin." ucapnya dengan riang, ia langsung membuka pintu kamarnya dan memeluk sosok yang sudah sangat lama tidak ia lihat tersebut.
" Karin aku sangat merindukan mu, maafkan aku ya." ujarnya sambil menitikkan air mata.
Karin yang tidak tahu apa apa hanya bisa terdiam dan pasrah saat melihat Florin memeluknya dengan erat. Serta gadis itu juga meminta maaf padanya dan menangis.
" Karin, maafkan aku!." ujar Florin lagi.
" Nona, jangan seperti itu, kamu tidak salah apapun padaku. Lepaskan pelukannya kalau tuan besar lihat dia akan marah." ujar Karin yang ketakutan. Pasalnya ia hanya seorang pelayan dan pengasuh Florin.
" Tidak Karin, aku bersalah jadi aku tidak akan melepaskan pelukan ini sebelum kamu memaafkan ku." ujar Florin bersikeras.
Karin yang panik mencoba untuk melepaskan diri tapi tidak bisa. Hingga akhirnya ketakutan nya terjadi, Daniel datang dengan ekspresi marah.
" Florin, berhenti memeluk Karin. Apa yang sedang kamu lakukan ini ha?." teriak Daniel yang baru saja tiba.
Florin yang menyadari kedatangan ayahnya langsung melepaskan pelukannya. Ia menghapus air matanya dan merapikan rambutnya.
" Florin, kenapa kamu memeluk Karin. Itu tidak pantas bagi seorang putri seperti mu. Dia hanya pelayan." ujar Daniel.
Karin yang ketakutan hanya bisa menunduk, selama ia mengasuh Florin ia tak di izinkan untuk mencium dan memeluk Florin. Daniel sangat berhati-hati pada putrinya. Ia tidak mau sembarangan orang menyentuh putrinya karena ia sudah trauma saat kehilangan istrinya. Maka dari itu Karin tak pernah memeluk Florin, kecuali saat Florin meminta untuk di gendong saat masih kecil.
" Ayah, Karin sudah Florin anggap seperti ibu. Ayah jangan kasar begitu padanya. Jika ayah terus melarang ku untuk memeluk Karin, aku akan pergi dari rumah ini!." ucap Florin, hanya ancaman ini yang bisa ia lakukan karena ayahnya pasti akan langsung mengalah.
Benar saja, Daniel yang semula murka langsung meredam amarahnya. Ia berusaha untuk menunjukkan ekspresi biasa saja.
" Ayah tidak mengerti dengan dirimu Florin, tadi saat di bandara kamu memperlakukan Angel seperti musuhmu. Sementara saat di rumah kamu memperlakukan pelayan seperti ibumu. Ayah sangat pusing." Daniel memutuskan pergi dari sana.
Setelah kepergian ayahnya, Florin langsung menarik tangan Karin masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung mengunci pintu kamar. " Karin, pesan ku padamu hanya satu. Jangan pernah makan makanan yang diberikan Valir padamu, mengerti!." ucap Florin memperingatkan.
" Nona, ada apa? saya tidak pernah menerima makanan apapun dari tuan Valir. Karena saya tahu jika pria itu tidak baik." ucap Karin.
" Bagus, kamu harus ingat ucapanku ya." ucap Florin.
" Iya nona, jangan khawatir. Lain kali nona jangan melakukan itu lagi, memeluk ku seperti itu. Tuan besar akan marah." ujar Karin.
" Karin, kamu sudah ku anggap seperti ibuku sendiri, jadi aku bisa memelukmu kapanpun aku mau. Mengerti!."
Karin mengangguk pelan, ia sangat terharu dengan ucapan Florin. Selama ini Florin hanya menganggapnya tak lebih dari seorang pelayan, tapi hari ini ia bahkan memeluknya dan menganggapnya seperti ibunya sendiri. Tanpa sadar Karin menitikkan air matanya.
" Baik nona, saya permisi dulu ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." ujar Karin. Ia langsung meninggalkan kamar Florin dengan air mata yang masih menetes.
Florin kembali teringat kejadian di masa lalu, ia melihat bagaimana Karin memakan makanan yang diberikan Valir untuknya. Padahal Karin sudah memperingatkan jika makanan itu beracun sebab Karin menyaksikan sendiri Valir memasukkan cairan racun ke dalam makanan Florin. Tapi Florin yang tidak percaya malah bersikeras untuk memakan makanan itu. Dan pada saat ia akan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, Karin langsung mengambilnya dan memakannya sendiri. Dan akhirnya Karin langsung meninggal di tempat saking kuatnya racun yang diberikan oleh Valir. Pada saat itu juga Valir langsung kabur sambil membawa berkas berkas milik perusahaan Eldes tanpa menyisakan apapun. Florin yang mulai menyadari semuanya hanya bisa pasrah, ia memilih untuk tidak mengejar Valir dan memutuskan untuk mengurus Karin.
Pada saat yang bersamaan, Daniel datang dan langsung syok mendengar semuanya. Ia langsung mengusir Florin dari rumah dan tidak menganggapnya sebagai anak lagi.
Saat Florin kembali ke apartemennya, ia mengetahui jika Valir sudah tak ada di sana, Valir bahkan tidak meninggalkan bajunya satu helai pun. Valir pergi membawa semuanya, berkas usaha yang mereka bangun berdua juga sudah lenyap. Padahal usaha itu bisa dibilang kerja keras Florin.
Dengan penuh kekecewaan Florin tak sanggup lagi menahan semuanya. Orang yang begitu ia percaya bisa dengan tega melakukan penghianatan sekejam ini kepadanya. Hingga akhirnya semuanya terasa sangat menyakitkan saat Angel mengirimkan video mesumnya dengan Valir, dan wanita itu menunjukkan perut besarnya yang di elus lembut oleh Valir. Berarti selama ini Valir dan Angel telah melakukan perselingkuhan di belakangnya hingga wanita itu hamil.
Florin tak berdaya lagi, beberapa hari yang lalu ia mengatakan pada Valir bahwa ia sedang hamil, tapi respon pria itu biasa saja. Ia bahkan terlihat tak perduli. Florin menyentuh perutnya yang sudah sedikit menonjol, " Nak, bahkan ayahmu ingin meracuni kita berdua." ujarnya dengan hati yang pedih.
Florin merasa sangat putus asa, ia sudah tidak dianggap putri oleh ayahnya, dan Valir telah berkhianat padanya, bahkan sahabat yang begitu ia percaya juga ada di balik penghianatan itu. Florin tak punya harapan lagi untuk hidup.
Florin langsung meraih tasnya, ia ingat jika ia membawa botol racun yang di buang Valir ke dalam tong sampah di rumahnya. Tanpa pikir panjang, Florin langsung meneguknya hingga habis.