NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Pinggang

Seyila memperhatikan Riyani terus terlihat tidak nyaman.

"Ri, kamu kenapa?"

Riyani menggeleng.

"Gak apa-apa."

"Gak usah bohong deh. Dikira aku gak liat dari tadi kamu meringis terus. Sakit pinggang?"

Riyani mengangguk pada akhirnya.

"Haid? Biasanya suka barengan sama aku, gak jauh beda."

Riyani menggeleng.

"Gak tau kenapa."

"Coba sini, biar aku periksa," pinta Seyila.

Riyani sempat menolak, apalagi ia sebenarnya sudah tahu jika pinggangnya merasa sakit karena tersentak pada wastafel tadi pagi.

Tapi Seyila menarik tubuhnya agar Riyani dekat dan duduk pada tepian kasur. Riyani membuka pakaian bagian punggungnya.

Sontak mata seyila terbuka sepenuhnya.

"Astaghfirullah! Ri ini kenapa?"

Riyani langsung berbalik, menutup mulut temannya.

"Jangan berisik! Nanti abang kamu tau."

"Ya harus tau dong, Ri. Emangnya kenapa kalau abang aku tau?"

"Aku gak mau dia khawatir."

"Lagian ini kenapa bisa sampe memar begini?" tanya Seyila.

Riyani kembali menceritakan kejadian tadi pagi.

Seyila menggelengkan kepalanya.

"Ini kalau abang tau, dia pasti marah."

"Makanya jangan kasih tau dia. Kamu aja yang obati aku."

"Ya udah bentar, aku bawa dulu dari mobil kotak p3k nya ya!"

Riyani mengangguk dan menunggu sahabatnya di kamar.

...----------------...

Tidak lama, pintu kamar kembali dibuka. Tapi bukan Seyila, melainkan Hanif dengan kotak p3k di tangannya. Seyila berdiri di belakangnya, menunduk, merasa mengkhianati sahabatnya.

"Mana lukanya?" tanya Hanif.

Wajahnya datar, dingin, seperti kesal dan marah.

"Sama Yila aja," ucap Riyani.

"Sama saya aja. Saya juga dokter," jawab Hanif sembari duduk pada tepian kasur di dekat Riyani.

Riyani sempat menoleh pada Seyila. Gadis itu berbisik meminta maaf karena pada akhirnya Hanif mengetahui semuanya.

Dengan keraguannya, Riyani membuka sedikit pakaiannya. Terlihat punggung memar yang hampir menghitam itu.

Hanif dengan santai mengoleskan salep pada lukanya. Setelah itu, menutup kembali pakaian riyani.

Tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Lelaki itu bahkan dengan cepat berdiri sembari membawa kotak p3k nya.

Riyani dengan cepat meraih tangannya.

"Aa marah ya?"

Seyila memilih keluar, memberikan waktu abangnya bersama dengan Riyani untuk berbicara.

"Aa!?"

"Maaf!!"

Tidak ada balasan dari Hanif, sampai akhirnya lelaki itu mendengar suara tangisan dari wanitanya.

Hanif menoleh. Lelaki itu berjongkok—mensejajarkan tubuhnya dengan Riyani.

"Neng, kenapa tadi bilang baik-baik aja pas Aa tanya?" tanya Hanif, "Aa ini siapa kamu sih sebenernya?"

Riyani menunduk.

"Aa..... cowok yang neng suka."

Hanif sempat tersenyum tipis mendengarnya.

Tidak mendengar apapun kembali dari Hanif, Riyani kembali menjawab pertanyaan lelakinya.

"Tadi emang beneran gak apa-apa, A. Belum ada memar, sampe pas mandi baru kerasa."

"Terus barusan kenapa minta Seyila rahasiakan dari Aa?"

"Neng takut Aa khawatir."

Hanif menghela napasnya.

"Kamu pikir Aa sekarang gak khawatir? Aa panik, Neng. Aa takut kamu sedih, Aa takut kamu jauhin Aa lagi setelah ini."

Riyani menggeleng.

"Maaf!!"

"Neng gak bakal jauhin Aa lagi kok."

"Gak usah khawatir lagi ya, Neng udah gak apa-apa."

"Memarnya itu hampir hitam loh. Ke rumah sakit aja ya? Kita cek,"

Riyani menggeleng.

"Kan udah diobati sama Aa. Masa harus pergi ke rumah sakit juga."

"Kan cuman obat luar, Neng. Gimana kalau amit-amit nya ada luka dalem?"

"Harus banget? Menurut Neng, gak perlu deh. Ini kan cuman memar,"

"Sayang.... takutnya ada luka dalem. Ada darah di dalem yang gak keluar, nanti malah makin parah kalau dibiarkan."

"Mau ya?"

"Temenin tapi?"

Hanif tersenyum lalu mengangguk.

...----------------...

Siangnya sebelum kembali ke Sukabumi, Hanif membawa Riyani ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa.

Lelaki itu terus menggenggam tangan wanitanya dengan erat.

"Padahal periksanya di Sukabumi aja nanti. Kan kita mau pulang, kalau terlalu sore nanti Aa capek. Kan besok kerja lagi," ucap Riyani.

"Gak apa-apa. Mumpung masih di sini, biar Aa kasih paham orang yang buat kamu sakit begini," ucap Hanif.

"Gak usah. Kan Neng juga gak apa-apa."

Hanif menoleh dengan wajah kesalnya.

"Sayang, kalau kamu luka dan gak ada salah sebelumnya. Kamu harus meminta penjelasan, mendapatkan permintaan maaf. Jangan kayak gini, nanti orang-orang malah seenaknya sama kamu."

(Aa keliatan banget paniknya)

(Dia kesel banget kayaknya karena aku sampe begini)

Setelah menunggu, akhirnya nama riyani terpanggil untuk melakukan pemeriksaan. Dokter itu tersenyum pada Riyani dan Hanif. Lalu meminta Riyani untuk berbaring lebih dulu.

"Ini kapan lukanya, Teh?"

"Tadi pagi, Dok. Cuman tadi pagi belum memar begini."

"Aduh coba di cek dulu ya! Takutnya ada luka di dalem." Riyani hanya mengangguk pasrah.

Untungnya, tidak ada luka dalam yang parah. Hanya saja butuh waktu untuk mengembalikan kondisi pinggang riyani.

Sepulang dari rumah sakit, Hanif pergi ke rumah bibinya. Riyani terus membujuknya untuk tidak memperpanjang semuanya.

"Eh Hanif ada apa ke sini?" tanya bibinya. Pandangannya lalu beralih pada tangan riyani dan Hanif yang bergandengan.

"Bibi harus minta maaf sama Riyani,"

"Apa-apaan kamu ini. Emangnya bibi salah apa?"

"Bibi gak sadar, tadi pagi bibi dorong riyani sampai pinggangnya luka,"

"Ya itu salah dia, kenapa kurus banget badannya sampe kepentok padahal cuman didorong dikit,"

"Gak ada urusannya sama badan. Bibi harus minta maaf!"

"A udah!!" pinta Riyani.

"Tuh kan Riyani aja bilang udah. Lagian kan dia yang luka bukan kamu," timpal bibi.

"Dia itu dibawa sama Hanif buat dikenalin sama keluarga dari ayah. Tapi sekarang Hanif kecewa, nyesel udah bawa Riyani kenal sama bibi," ucap Hanif lalu membawa Riyani pergi ke rumah neneknya kembali.

"HEHH..... KURANG AJAR BANGET YA KAMU, HANIF!!"

Ayah dan ibunya keluar, menghampiri Hanif lalu bertanya, "kenapa?"

"Hanif cuman minta permintaan maaf buat neng, Yah."

"Loh emangnya Neng kenapa?" tanya Ayah yang tidak tahu permasalahannya.

Hanif kembali menjelaskannya.

Ayah menghela napas.

"Neng, ayah minta maaf ya sama kamu. Kamu dibawa ke sini bukannya bahagia malah jadi luka."

Riyani menggeleng tidak enak.

"Gak apa-apa kok, Pak. Lukanya juga cuman luka luar."

"Kamu pulangnya sama ayah aja di mobil ya?"

Riyani menggeleng.

"Mau sama Aa aja. Neng kuat kok."

"Neng nanti malah makin gak nyaman pinggang kamu kalau di motor. Sama Seyila aja di mobil ya!" bujuk Ayah.

Riyani menoleh pada Hanif lalu mengangguk pasrah.

...----------------...

Setibanya di Sukabumi, Hanif membantu Riyani untuk turun dari mobil. Sepertinya luka pinggangnya semakin terasa.

Hanif dengan cepat mengangkat tubuh mungilnya.

"Ih Aa ngapain?"

"Gak apa-apa. Aa cuman gak tega liat kamu jalan begitu, nanti makin sakit pinggangnya."

Nenek dan kakek yang melihatnya mulai panik.

"Ini Neng kenapa sampe digendong begini?"

Hanif mengantar Riyani lebih dulu ke kamarnya. Ia pergi menemui kakek dan nenek di ruang tengah.

"Kek, Nek, maaf Hanif gak bisa jaga Neng selama di Bandung."

"Hanif coba jelasin dulu kenapa?"

Hanif kembali menjelaskan kejadiannya.

"Sekali lagi Hanif minta maaf."

"Lebih baik kamu pulang dulu, istirahat!" ucap kakek.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!