NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: SERANGAN LAPAR

Fajar di Sektor Bawah tidak pernah benar-benar cerah. Langit hanya berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu kusam, seperti wajah orang yang kurang tidur. Tapi bagi anak-anak Panti Asuhan Mentari Baru, pagi ini terasa berbeda. Udara berbau harapan. Bau sisa sup semalam masih tersamar di dinding dapur, mengingatkan mereka bahwa keajaiban itu nyata.

Bimo sudah bangun sejak subuh. Dia tidak tidur nyenyak; tangannya terus meraba saku dadanya memastikan serbet sketsa "Bimo's Corner" masih ada di sana. Dengan semangat membara, dia sudah menyiapkan sarapan sederhana untuk anak-anak menggunakan sisa bahan Golden Grain yang belum dikirim.

"Tunggu antre ya! Jangan dorong-dorongan!" seru Bimo ceria, membagikan bubur hangat pada barisan anak-anak yang rapi. Wajahnya bersinar, jauh lebih bahagia daripada saat dia berhasil mengalahkan musuh di arena latihan.

Tiba-tiba, sirene meraung memecah kedamaian pagi itu.

BIIIIIRRRR!!!

"Serangan! Serangan di sektor logistik!" teriak Kai dari pos pengamatan darurat, wajahnya pucat menatap tablet. "Bukan Scavengers kemarin. Ini kelompok baru. Mereka menyebut diri mereka 'The Void'. Dan target mereka... gudang penyimpanan panen cadangan di belakang panti!"

Raka dan Elara langsung sigap, menyambar senjata mereka. "Bimo, bawa anak-anak masuk ke ruang aman! Cepat!" perintah Elara.

Tapi sebelum Bimo bergerak, sebuah ledakan keras mengguncang tanah. Dinding belakang gudang penyimpanan runtuh, debu beterbangan menutupi halaman. Dari balik debu itu, muncul lima sosok tinggi besar mengenakan baju zirah hitam legam dengan helm tertutup visor merah darah. Mereka membawa alat penyedot energi raksasa yang dirancang khusus untuk mencuri hasil panen hidroponik dalam skala besar.

"Bersihkan area ini! Ambil semua bijinya!" teriak pemimpin mereka, suaranya terdistorsi oleh modulator suara. "Jangan sisakan satu butir pun untuk sampah-sampah ini!"

Salah satu anggota The Void mengarahkan senjatanya ke arah tumpukan karung Golden Grain yang baru saja dipanen. Sinar biru menyala, siap menyedot nutrisi dari biji-bijian itu hingga menjadi abu tak berguna.

"TIDAK!"

Teriakan itu bukan berasal dari Raka atau Elara. Itu berasal dari Bimo.

Raksasa baik hati itu melempar sendok sayur besarnya, lalu berlari menerjang ke depan, menempatkan tubuhnya di antara senjata penyedot itu dan karung-karung makanan.

"Minggir, raksasa bodoh!" bentak musuh, mendorong Bimo dengan tenaga mesin hidrolik di lengan zirahnya. Bimo terpelanting beberapa meter, menghantam tanah dengan keras.

"Bim!" teriak Raka, hendak menolong.

Tapi Bimo sudah bangkit. Ada sesuatu yang berbeda dari posturnya. Biasanya, Bimo bertarung dengan gaya lucu, kadang ceroboh, lebih banyak mengandalkan kekuatan fisik murni. Tapi kali ini... matanya gelap. Bukan gelap karena marah biasa, tapi gelap karena ketakutan purba yang berubah menjadi amarah membara.

Dia melihat bayangan anak-anak kelaparan di gang kumuh sepuluh tahun lalu. Dia melihat wajah Pak Harun yang meninggal karena kelelahan. Dia melihat anak-anak panti yang tadi pagi tersenyum lega memakan buburnya.

Jika biji-bijian ini hilang, mimpi mereka hilang. Harapan mereka hilang. Dan Bimo tidak akan membiarkan sejarah berulang.

"Kalian..." geram Bimo, suaranya rendah, bergetar seperti gempa bumi kecil. "...berani... menyentuh... MAKANAN MEREKA?!"

Bimo menerjang lagi. Kali ini, gerakannya tidak kaku. Dia menghindari tembakan laser musuh dengan kelincahan yang mengejutkan untuk tubuh sebesarnya. Saat seorang musuh mencoba menendangnya, Bimo menangkap kaki besi itu, memutar tubuhnya, dan membanting musuh itu ke tanah hingga retak.

"Aku nggak peduli kalian punya teknologi canggih!" teriak Bimo sambil menghajar dada zirah musuh lain dengan tinju besarnya. "Aku nggak peduli kalian kuat! Tapi jangan pernah... JANGAN PERNAH membuat anak kecil KELAPARAN DI DEPAN MATAMU!"

Setiap pukulan Bimo disertai ledakan emosi yang dahsyat. Tinjunya bukan sekadar tenaga otot; itu adalah akumulasi dari rasa sakit masa lalu, rasa cinta pada Pak Harun, dan keinginan melindungi masa depan. Energi aneh berwarna keemasan samar—mirip dengan yang sering keluar dari tubuh Raka, tapi kali ini tampak bercampur dengan aura merah muda hangat—mulai menyelubungi kepalan tangan Bimo.

BUUM!

Satu pukulan telak mendarat di helm pemimpin The Void, menghancurkan visor merahnya dan membuatnya terpental hingga menabrak mesin penyedot. Mesin itu rusak, percikan api beterbangan.

"Mundur! Orang ini gila!" teriak musuh-musuh itu, panik melihat raksasa yang tiba-tiba menjadi mesin pembunuh demi sepiring nasi. Mereka tidak pernah menghadapi lawan yang bertarung bukan untuk negara atau uang, tapi murni karena lapar orang lain.

Mereka lari tunggang-langgang, meninggalkan senjata dan kendaraan mereka, menghilang ke dalam lorong-lorong gelap sektor bawah.

Debu perlahan mereda.

Bimo berdiri di tengah kehancuran, napasnya tersengal-sengal berat. Kepalan tangannya masih berasap. Seragamnya robek di beberapa tempat, darah mengalir dari pelipisnya. Tapi dia tidak peduli. Langkah pertama yang dia lakukan bukan memeriksa lukanya, melainkan berlari menuju tumpukan karung Golden Grain.

Dia meraba karung-karung itu dengan tangan gemetar. Masih utuh. Masih penuh. Masih ada harapan.

Bimo jatuh berlutut di samping karung itu, memeluknya erat-erat, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. "Aman... masih aman..."

Raka, Elara, dan Kai mendekat perlahan. Mereka tidak pernah melihat sisi Bimo seperti ini. Garang, mengerikan, tapi sekaligus begitu menyentuh hati.

"Bim..." panggil Raka pelan, berjongkok di samping sahabatnya.

Bimo mendongak, wajahnya kotor oleh debu dan air mata. "Rak... mereka hampir mengambilnya. Mereka hampir bikin anak-anak ini kelaperan lagi. Aku nggak bisa... aku nggak bisa biarin itu terjadi."

Elara ikut berjongkok, memeluk bahu lebar Bimo. "Kamu berhasil, Bim. Kamu menyelamatkan semuanya. Lihat, tidak ada yang hilang."

Kai memeriksa mesin musuh yang hancur. "Gila... kekuatan pukulanmu tadi melebihi batas normal sensor kita. Lo kayak punya tenaga super beneran, Bim."

Bimo menggeleng lemah. "Bukan tenaga super, Kai. Itu cuma... rasa takut. Takut kalau sejarah berulang. Takut kalau janji aku pada Pak Harun gagal."

Raka menatap Bimo dalam-dalam. Dia merasakan getaran di dadanya sendiri semakin kuat malam ini, partikel emas di tubuhnya seolah bereaksi terhadap emosi murni yang dikeluarkan Bimo. Tapi Raka mengabaikannya. Fokusnya hanya pada sahabatnya.

"Lo nggak gagal, Bim," kata Raka tegas, menggenggam tangan Bimo yang besar dan kasar. "Lo justru membuktikan bahwa janji itu kuat banget. Sampai-sampai lo bisa ngalahin musuh bersenjata lengkap cuma modal cinta sama anak-anak itu."

Anak-anak panti mulai keluar dari persembunyian, melihat pemandangan di depan mereka. Mereka melihat Bimo, pahlawan mereka, sedang menangis sambil memeluk karung makanan.

Perlahan, seorang gadis kecil mendekati Bimo, lalu memeluk leher besarnya dari samping. Kemudian anak lainnya, dan lainnya lagi. Dalam hitungan detik, Bimo dikerumuni oleh puluhan anak kecil yang memeluknya, mengucapkan terima kasih dengan suara lugu mereka.

"Terima kasih, Pak Raksasa!"

"Pak Bimo hebat!"

"Makanannya selamat!"

Bimo tertawa di tengah tangisnya, memeluk mereka semua kembali. Di tengah pelukan hangat itu, luka-lukanya seolah sembuh seketika. Matanya bertemu dengan mata Raka di atas kepala anak-anak itu. Raka tersenyum bangga, memberikan isyarat jempol.

Sumpah, Bim, batin Raka, merasakan sakit tajam di dadanya namun tetap tersenyum. Aku bakal pastiin nggak ada yang bisa ambil kebahagiaan ini dari lo. Walaupun aku harus jadi tameng terakhir buat lo.

Matahari buatan akhirnya menembus awan abu-abu, mengirimkan seberkas cahaya kuning ke halaman panti, menerangi Bimo dan anak-anak yang sedang bergembira. Cahaya itu jatuh tepat pada karung Golden Grain, membuatnya bersinar seperti emas murni.

Musuh telah kalah. Makanan selamat. Janji masih terjaga.

Tapi di langit yang jauh di atas kubah, awan hitam mulai berkumpul lebih cepat dari perkiraan. Badai sesungguhnya belum datang, tapi anginnya sudah mulai terasa dingin menusuk tulang.

Untuk saat ini, biarkan mereka merayakan kemenangan kecil ini. Biarkan Bimo merasa menjadi pahlawan terbesar di dunia. Karena besok, mungkin mereka akan butuh kekuatan itu lebih dari segalanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!