Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Langit malam menyelimuti Akademi Starfell dalam keheningan yang aneh.
Biasanya area asrama akademi masih cukup ramai bahkan sampai larut malam. Beberapa murid suka berkumpul diam-diam, mengobrol di koridor, atau belajar bersama di ruang santai.
Namun malam ini berbeda.
Setelah insiden monster tadi sore, seluruh akademi terasa jauh lebih sunyi.
Terlalu sunyi.
Dan sekarang… Freya Valencia Vane sedang berguling pelan di atas kasurnya sambil menatap langit-langit kamar dengan mata kosong.
"...Aku gak bisa tidur."
"Karena otakmu berisik."
Freya langsung melirik ke arah Crimson Valkyrie yang bersandar di dekat meja.
"Pedang tuh tidur gak sih?"
"Tidak."
"Enak banget hidupmu."
Perapian kecil di sudut kamar menyala redup. Bayangan cahaya jingga bergerak pelan di dinding kamar.
Aria sudah kembali ke kamarnya sekitar satu jam yang lalu setelah memastikan Freya baik-baik saja.
Dan sekarang setelah sendirian lagi, Freya mulai overthinking.
Tentang monster tadi. Tentang plot novel yang berubah. Tentang kalimat terakhir monster itu.
The Crimson Flame.
Freya memeluk bantalnya lebih erat. "...Crimson Flame itu apa sebenarnya?"
Hening beberapa detik.
Lalu Crimson Valkyrie bersinar redup. "Itu nama lama."
Freya langsung menoleh cepat. "Hah?"
"Nama yang pernah membuat seluruh benua gemetar."
Bulu kuduk Freya langsung berdiri.
"Tunggu... jangan ngomong kayak narator final boss dong."
"Karena memang berbahaya."
Freya duduk perlahan di kasurnya. Api kecil di sepanjang bilah Crimson Valkyrie bergerak pelan.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengar nama itu."
Freya menelan ludah.
"Dan sekarang monster corruption mengenalinya..."
Suasana kamar langsung terasa lebih dingin. Freya mulai merasa tidak nyaman.
"...Freya asli ada hubungannya dengan Crimson Flame?"
Crimson Valkyrie diam cukup lama. "Aku tidak tahu."
"Kamu kan artefaknya?"
"Aku bukan ingatan."
Jawaban itu membuat Freya terdiam. Lalu pelan, suara Crimson Valkyrie kembali terdengar.
"Namun darah keluarga Vane memang pernah membawa api yang ditakuti banyak orang."
Freya langsung makin stres. 'Kenapa aku reinkarnasi jadi keluarga yang kedengarannya problematic banget sih...'
Namun sebelum Freya sempat bertanya lagi...
KREEEK.
Suara pelan terdengar dari luar kamar.
Freya langsung menegang.
"...Kamu dengar?"
"Tentu saja."
Suara langkah kaki terdengar samar di koridor asrama.
Pelan.
Berat.
Dan anehnya… ritmenya tidak normal.
Tok.
...Tok.
Tok.
Seperti seseorang berjalan sambil menyeret sesuatu.
Freya langsung menarik selimutnya refleks. 'Please bilang itu cuma murid insomnia.'
Crimson Valkyrie tidak menjawab. Dan itu jauh lebih mengkhawatirkan.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Freya.
Hening.
Jantung Freya langsung berdetak keras. "...Halo?"
Tidak ada jawaban.
Freya mulai panik. 'JANGAN GITU WOI.'
TOK.
TOK.
TOK.
Ketukan pintu terdengar pelan.
Freya langsung membeku. "...Siapa?"
Hening beberapa detik.
Lalu... "Freya."
Freya hampir jatuh dari kasur. Karena suara itu familiar. Dan terlalu tenang.
Zevian.
Freya buru-buru berdiri lalu membuka pintu sedikit. Dan benar saja. Zevian Aldric Arkwright berdiri di depan kamarnya sambil mengenakan mantel hitam panjang. Rambut gelapnya sedikit berantakan tertiup angin malam.
Dan entah kenapa… pria itu terlihat lebih tampan dari biasanya dalam suasana malam begini.
Freya langsung panik sendiri. 'YA TUHAN MALE LEAD DATANG KE KAMAR MALAM-MALAM.'
"...Ada apa, Yang Mulia?"
Tatapan Zevian turun sedikit memperhatikan wajah Freya.
"Kau belum tidur?"
"...Aku insomnia karena trauma monster."
"..."
Untuk sepersekian detik… Zevian terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya menghela napas pelan.
"Ada peningkatan aktivitas mana di area asrama."
Freya langsung menegang. "Hah?"
"Aku sedang memeriksa seluruh koridor."
Dan saat itulah Freya sadar. Soulblade hitam milik Zevian memang sedang berada di tangannya.
Aura dingin artefaknya memenuhi koridor redup itu.
"Profesor Rowan meminta seluruh ketua divisi membantu patroli malam ini," lanjut Zevian.
Freya langsung kagum sedikit. 'Oh iya... dia memang anak sempurna.'
Namun sebelum Freya sempat menjawab...
"Kau mencurigakan."
Freya langsung membeku. "...Hah?"
Tatapan Zevian tajam sekarang. "Monster tadi mengenali apimu."
DEG.
Jantung Freya langsung jatuh. "...Aku juga gak tahu kenapa."
Dan itu bukan bohong.
Zevian memperhatikannya beberapa detik dalam diam.
Freya mulai berkeringat dingin. Namun anehnya… tatapan Zevian tidak terasa seperti sedang menghakimi. Lebih seperti... mencoba memahami.
"Aku tidak mengatakan kau pelakunya."
Freya sedikit lega. Sedikit.
"Tapi mulai sekarang..." Zevian melanjutkan pelan, "jangan pergi sendirian."
Freya membeku. Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa… jantungnya berdetak aneh lagi.
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar di kepalanya. "Wajahmu merah."
'DIAM.'
Dan tepat saat suasana mulai canggung...
BRAK.
Seseorang tiba-tiba muncul dari ujung koridor sambil membawa kantong makanan.
"Aku tahu kalian ada di sini."
Freya langsung memegang dahinya.
Ares.
Tentu saja. Pria itu berjalan santai mendekat sambil menggigit roti manis.
Lalu berhenti beberapa langkah dari mereka. "Wah." Senyumnya langsung melebar jahil. "Suasana malamnya menarik sekali."
Freya langsung refleks defensif. "INI BUKAN SEPERTI YANG KAMU PIKIRKAN."
"Aku belum bilang apa-apa."
"WAJAHMU UDAH BILANG."
Ares tertawa kecil. Sedangkan Zevian terlihat tidak terhibur sama sekali.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dingin.
Ares mengangkat kantong makanannya santai. "Lapar."
"Itu bukan jawaban."
"Aku sedang patroli juga."
Freya langsung menatapnya tidak percaya. "Kamu patroli sambil ngemil?"
"Aku multitalenta."
Freya ingin menyangkal. Tapi sayangnya pria itu memang terlihat santai melakukan segalanya.
Namun beberapa detik kemudian… ekspresi Ares perlahan berubah lebih serius.
Tatapannya mengarah ke ujung koridor yang gelap.
"...Kalian merasakannya?"
Suasana langsung berubah. Zevian otomatis menggenggam soulblade-nya lebih erat.
Freya ikut menegang. "...Apa?"
Dan saat itulah.
SREEEECH.
Suara aneh terdengar dari lantai bawah asrama. Seperti sesuatu sedang menggaruk dinding.
Freya langsung merinding. "Itu bukan suara manusia."
Crimson Valkyrie mulai memancarkan api merah tipis.
Ares langsung mengeluarkan Eclipse Howl.
DOR.
Salah satu pistol hitamnya muncul dalam kilatan mana.
Sedangkan Zevian sudah melangkah maju lebih dulu. "Di belakangku."
Freya refleks menurut. Dan mereka bertiga mulai berjalan perlahan menyusuri koridor asrama yang gelap.
Lampu mana di dinding berkedip-kedip redup. Udara terasa dingin. Terlalu dingin.
Langkah mereka bergema pelan di lorong yang sunyi. Dan semakin jauh mereka berjalan… mana hitam di udara semakin terasa jelas.
Freya memeluk dirinya sendiri pelan. "...Aku gak suka horror."
"Fokus."
"Yang Mulia, saya multitasking, takut dan fokus."
Ares sampai tertawa pelan. Namun tetap, pria itu sekarang terlihat waspada.
Mereka sampai di tangga menuju lantai bawah. Dan tepat saat Zevian melangkah turun...
DUAAAAAR.
Ledakan mana hitam tiba-tiba meledak dari bawah. Seluruh asrama bergetar. Freya refleks menutup wajah.
"Asrama diserang?" gumam Ares.
Dan dalam detik berikutnya… Sesosok bayangan hitam besar melompat dari kegelapan.
Monster corruption lain.
Namun kali ini ukurannya lebih besar. Dan matanya… Langsung tertuju pada Freya.
"...Kenapa dia lihat aku lagi?"
Monster itu meraung keras.
BOOOOM.
Mana hitam meledak liar. Zevian langsung bergerak.
SWOOOSH.
Soulblade hitamnya menebas cepat.
Sedangkan Ares menembak hampir bersamaan.
DOR. DOR. DOR.
Ledakan mana hitam keemasan memenuhi lorong. Namun monster itu tetap menerjang. Tepat ke arah Freya.
"Freya..." seru Zevian.
Freya refleks mengangkat Crimson Valkyrie.
BOOOOM.
Api merah langsung meledak besar. Panas memenuhi lorong sempit asrama. Monster itu meraung kesakitan saat api menyentuh tubuhnya.
"Api Crimson Flame..." gumam makhluk itu parau.
Freya langsung membeku lagi. 'KENAPA SEMUA MONSTER KENAL API INI?'
"Jangan goyah!" bentak Crimson Valkyrie.
Monster itu menyerang lagi. Dan kali ini Freya bergerak lebih cepat.
CLAAANG.
Crimson Valkyrie bertabrakan langsung dengan cakar monster. Tangan Freya gemetar keras. Namun dia tidak jatuh. Dan untuk pertama kalinya… Dia berhasil menahan serangan monster sendiri.
Mata Freya langsung membelalak. "...Aku berhasil?"
"Kau mulai belajar."
Freya hampir terharu.
Hampir.
Karena detik berikutnya monster itu meraung tepat di depan wajahnya.
"AAAAAH YA TUHAN."
DOR.
Peluru Ares menghantam kepala monster.
SWOOOSH.
Zevian langsung menebas dari belakang.
Kerja sama mereka jauh lebih rapi dibanding sebelumnya. Dan di tengah kekacauan itu… Freya tiba-tiba sadar sesuatu. Mereka bergerak seperti tim.
Padahal baru beberapa hari lalu mereka bahkan hampir tidak saling bicara normal.
Namun sekarang… Zevian melindungi garis depan. Ares memberi serangan jarak jauh. Dan Freya...
BOOOOM.
Api merahnya membelah mana corruption monster.
"Freya, inti dadanya!" seru Ares.
Freya langsung refleks maju. Meski lututnya masih gemetar.
Meski takut, namun kali ini… dia tidak membeku.
"AAAAH!"
SWOOOOSH.
Crimson Valkyrie menebas lurus. Api merah membelah dada monster. Dan tepat di saat yang sama...
DOR.
Peluru Ares menghancurkan inti hitam di dalam tubuh monster.
BOOOOOOM.
Ledakan besar mengguncang lorong asrama. Tubuh monster mulai hancur jadi abu hitam. Namun sebelum menghilang… Makhluk itu kembali menatap Freya. Lalu berbisik pelan...
"The Heir has awakened..."
Freya langsung membeku. "...Heir?"
Namun monster itu sudah hancur sepenuhnya.
Sunyi memenuhi lorong. Asap hitam perlahan menghilang.
Freya masih berdiri diam sambil mencoba memproses semuanya.
Crimson Flame? Heir? Monster corruption? Plot berubah?
Dan sekarang… semuanya mulai terasa terhubung pada dirinya. "...Aku benar-benar gak suka ini."
Untuk pertama kalinya, malam itu tidak ada yang bercanda. Karena Zevian dan Ares juga menyadari hal yang sama.
Monster tadi… datang untuk Freya.