NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 14: Lembah Kehancuran Bintang

Ritual Inisiasi

Lembah Kehancuran Bintang bukanlah sebuah lembah di atas tanah. Tempat itu adalah sebuah ruang hampa di pinggiran Wilayah Daulat, di mana sisa-sisa planet yang gagal dan bintang-bintang yang mati berkumpul menjadi satu pusaran gravitasi yang mengerikan.

Woooooommm...

Suara dengungan gravitasi di sini begitu berat hingga Raka merasa seolah-olah ada sepuluh gunung yang menekan pundaknya.

Setiap kali ia melangkah, tulang-tulangnya mengeluarkan suara berderit yang menyakitkan."

"Selamat datang di tempat pembuangan para dewa," sebuah suara feminin yang dingin namun menggoda terdengar dari balik pilar kristal yang retak.

Sesosok wanita muncul. Ia mengenakan jubah perak yang terbuat dari jalinan cahaya bintang.

Wajahnya sangat pucat, dengan bibir berwarna biru gelap dan mata yang memancarkan cahaya ungu. Ia adalah Vanya, Sang Pendeta Kehampaan, yang ditugaskan oleh para Leluhur."

"Kau terlihat sangat menderita, Raka," ucap Vanya sambil berjalan mendekat.

Gerakannya sangat lambat, namun setiap langkahnya meninggalkan riak energi di udara.

"Sembilan mataharimu adalah beban di sini. Di Lembah ini, cahaya hanyalah umpan bagi kegelapan yang lapar."

Raka mencoba mengangkat kepalanya. "Aku... tidak akan... menyerah."

Vanya tersenyum tipis. Ia bisa merasakan potensi besar di dalam diri Raka, namun ia juga tahu bahwa wadah manusia Raka tidak akan sanggup menahan tekanan Matahari Kesepuluh tanpa penguatan khusus.

"Tubuhmu terlalu kaku, Pendekar. Kau menahan kekuatanmu seperti seorang kikir menahan emasnya. Kau harus membiarkannya mengalir," bisik Vanya tepat di belakang telinga Raka.

Vanya melepaskan jubah peraknya, membiarkannya melayang di udara. Di balik jubah itu, ia hanya mengenakan lilitan kain sutra transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat indah, seperti pahatan dewi yang paling sempurna. Ia memeluk Raka dari belakang, menempelkan dada dinginnya ke punggung Raka yang membara.

Raka mengerang kecil saat merasakan sensasi dingin dan panas yang bertabrakan.

"Ikuti napasku," perintah Vanya.

Vanya memutar tubuh Raka hingga mereka berhadapan. Ia menarik tangan kekar Raka dan meletakkannya di pinggangnya yang ramping.

Dalam keheningan lembah yang mematikan itu, Vanya mencium bibir Raka, bukan ciuman nafsu biasa, melainkan sebuah transfer energi Genesis yang sangat intim.

Raka terkejut, hanya terdiam," ia merasakan sesuatu yang cair dan panas mengalir dari mulut Vanya ke dalam kerongkongannya, lalu turun ke pusat energinya.

Tak tahu kenapa Gairah Raka memuncak, bereaksi terhadap aroma tubuh Vanya yang seperti campuran antara salju dan bunga kosmik.

Tangan Raka dengan sedirinya meremas pinggul Vanya dengan kuat, menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang liar.

Hahhh... Napas mereka bersatu dalam ritme yang cepat.

Penyatuan fisik mereka di tengah Lembah Kehancuran Bintang menciptakan sebuah bola pelindung energi yang sangat kuat. Setiap gerakan Vanya di atas tubuh Raka seolah-olah sedang menata ulang susunan atom di dalam otot dan tulang Raka.

Raka merasakan nikmat yang luar biasa sekaligus rasa sakit yang menghancurkan, seolah-olah jiwanya sedang ditempa ulang di atas landasan dewa.

Di puncak penyatuan itu, tanda naga di dada Raka meledak dengan cahaya ungu keemasan.

Matahari Kesembilannya menghilang, dan sebuah benih kecil berwarna hitam legam mulai berdenyut di jantungnya. Itulah Matahari Kesepuluh: Matahari Asal." Dan Bangkitnya Sang Penelan Bintang."

Ketenangan itu hanya bertahan sejenak. Tiba-tiba Dari balik kegelapan lembah, muncul sebuah entitas raksasa yang terbuat dari gas sisa bintang yang mati.

Namanya adalah Astraios, Sang Penelan Bintang. Ia adalah penjaga ujian ini, makhluk yang ditugaskan untuk menghancurkan mereka yang gagal.

GRAAAAAARRRRRR!

Astraios membuka mulutnya, menciptakan lubang hitam kecil yang menghisap segala sesuatu di sekitarnya.

Raka berdiri tegak, auranya kini tidak lagi menyilaukan seperti dulu, melainkan tampak tenang namun sangat dalam, seperti samudra yang tak berdasar.

"Vanya, menjauhlah," perintah Raka dengan suara yang kini berlapis-lapis, seolah ada suara ribuan nenek moyang yang berbicara bersamanya.

Raka melesat. Tanpa sayap, tanpa kilatan petir. Ia seolah-olah "menghapus" jarak antara dirinya dan musuh.

Blar!

Raka hanya menyentuh dada raksasa Astraios dengan telapak tangannya. Seketika, raksasa itu membeku. Retakan cahaya putih mulai muncul dari titik sentuhan Raka.

"Matahari Asal... Tahap Pertama: Kehancuran Mutlak," gumam Raka.

BOOOMMMM!

Astraios meledak dengan sekejap, menjadi ribuan partikel cahaya yang indah. Raka tidak membiarkan partikel itu hilang, ia membuka mulutnya dan menghisap seluruh energi itu. Tubuhnya bercahaya terang untuk sesaat sebelum kembali normal.

Vanya menatap Raka dengan ngeri dari kejauhan. "Kau... kau benar-benar melakukannya. Kau menelan energi penjaga ujian."

Raka menatap tangannya. Ia merasa sangat kuat, namun hatinya terasa kosong.

"Siapa sebenarnya pria yang memberiku kekuatan ini, Vanya? Katakan padaku, atau aku akan menghancurkan tempat ini."

Vanya berlutut.

"Pria itu adalah Leluhur Ke-13. Dia adalah orang yang seharusnya memimpin Dua Belas Leluhur, namun dia dikhianati karena dia ingin membagikan kekuatan dewa kepada manusia.

Dia adalah kakekmu, Raka. Dan dia sedang menunggumu di pusat Wilayah Daulat, dipenjara di dalam Matahari Asal yang asli."

Mata Raka berkilat tajam, Tak percaya. "Kakek..."

Ia kini mengerti. Kekuatannya bukan hanya sebuah warisan, tapi sebuah tanggung jawab untuk membalaskan pengkhianatan yang telah merusak tatanan alam semesta selama jutaan tahun.

Dengan kekuatan Matahari Kesepuluh yang baru saja terbangun, Raka siap untuk menantang Dua Belas Leluhur Purba dan merebut kembali tahta kakeknya.

"Ayo pergi, Vanya," ucap Raka sambil menatap ke arah istana kristal di kejauhan. "Pesta para Leluhur itu akan segera berakhir." Ia pun langsung menuju ke Istana Kristal.

"Istana Dua Belas Leluhur berdiri megah di pusat Wilayah Daulat, melayang di atas awan nebula yang berwarna-warni.

Bangunannya terbuat dari kristal transparan yang memantulkan cahaya dari ribuan galaksi di bawahnya. Namun, keindahan itu hanyalah topeng, setiap sudut istana dijaga oleh prajurit mekanis yang ditenagai oleh jiwa-jiwa bintang.

Zinggg...

Sensor keamanan istana berbunyi pelan saat Raka dan Vanya menyusup melewati gerbang samping.

Raka mengenakan jubah putih perak pemberian Vanya yang mampu menyamarkan auranya. Meski begitu, denyut Matahari Kesepuluh di dadanya terus bergejolak, seolah mengenali energi yang sama di dalam istana ini.

"Ingat, Raka," bisik Vanya, tubuhnya merapat pada Raka di balik pilar kristal.

"Leluhur termuda, Erebus, adalah penjaga gerbang pertama. Jangan tertipu oleh wajahnya yang tampak seperti remaja. Dia adalah penguasa bayangan yang telah menghancurkan ratusan peradaban."

Raka menatap ke depan, memberikan senyuman tenang. Di ujung lorong panjang, seorang pemuda dengan rambut hitam legam dan pakaian yang seolah-olah terbuat dari asap duduk santai di atas takhta kecil. Matanya berwarna ungu tua, menatap kosong ke arah mereka.

"Vanya, kau membawa makanan baru untukku?" Erebus bersuara. Suaranya terdengar seperti bisikan ribuan orang yang sedang menangis.

Sebelum mereka melangkah maju, Erebus langsung melepaskan gelombang kegelapan yang menyelimuti seluruh lorong." Wuuush."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!