Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantaran
"Bisa-bisanya punya kakak ipar menyebalkan!" omel Alawiyah, lalu melangkah dengan kepayahan, karena perutnya yang sangat membuncit.
Setibanya di dapur, ia tak menemukan ibu mertuanya. Hanya saja, gemericik air dari pancuran, membuatnya menebak ke arah sana.
Ia melangkahkan kakinya menuju arah belakang—dan di kejutkan saat melihat Ratih sudah menjemur pakaian, bahkan pakaian dalamnya juga.
"Mbok, kenapa dicuci?" ia merasa tak enak, dan juga sungkan.
Dibalik sikap kasar Ratih, ad sesuatu yang tak dapat dijelaskan, sungguh sangat sulit di tebak.
"Masuk lah, si Mbok sudah selesai juga." titahnya.
Alawiyah terpaksa lagi-lagi menurut, dan tanpa sengaja, ia menatap Ginah yang berada di balkon belakang rumah, tepatnya rumahnya disebelah Juminten.
Kali ini, ia menatap Alawiyah dengan senyum ramah, tetapi hati kecilnya menyatakan tak nyaman.
"Mbok, mengapa tetangga di sini sangat aneh, dan seperti tak menyukaiku?" akhirnya Alawiyah mengeluarkan uneg-unegnya.
"Mereka sangat menyukaimu, bahkan lebih dari suka. Begitu juga dengan janinmu." Ratih meletakkan ember ditangannya diatas lantai semen kamar mandi.
Lalu berjalan masuk ke dalam dapur, sembari menarik tangan Alawiyah masuk.
Kali ini, jawabannya tidak seketus sebelumnya, tampaknya dengan perlahan mulai berubah
"Kalau menyukaiku, mengapa tatapannya seperti itu?"
"Karena kau sangat manis, wangi, dan mereka menyukai itu, dalam ranah yang lain,"
Kalimat Ratih semakin menggetarkan hati Alawiyah, membuatnya merasa jika apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya, teka-teki yang sulit ia pecahkan.
Ratih duduk di atas bangku kayu, tanpa sandaran, dan ia menatap menantunya dengan lembut.
Sangat berubah, seperti berbalik seratus persen.
"Si Mbok melihatmu memiliki pegangan agama yang cukup kuat. Dan ini sangat tak di temui di desa ini, maka si Mbok merasa, jika kamu sudah dapat menjaga dirimu sendiri, tanpa harus khawatir lagi,"
Alawiyah melongo. Ia menatap ibu mertunya, yang mana nada bicaranya juga semakin tenang.
"Memangnya, di desa ini tidak ada yang belajar agama?"
Ratih menghela nafasnya dengan berat, lalu menatap sang menantu dengan nanar, seolah hatinya dipenuhi dengan gelisah.
"Dulu, ayah mertuamu adalah seorang guru agama, dan ia pernah mendirikan sebuah mushola di desa ini, tetapi warga ramai-ramai merobohkannya,"
Ratih kembali mengungkit kisa kelam yang di hadapinya dua puluh tahun yang lau.
"Astaghfirullah, mengapa warga desa sekeji itu? Rumah ibadah sampai dirobohkan, apa gak takut kualat?" Alawiyah tak dapat membayangkan—prilaku keji para warga.
Ratih terkekeh. Tetapi dibalik tawanya, ada luka yang tak dapat sembuh.
"Tuhan saja mereka tidak takut, apalagi cuma kualat, itu hanya mitos bagi mereka,"
Lagi-lagi, Alawiyah tercengang dibuatnya.
"Mengapa mereka tidak percaya Tuhan?"
"Karena mereka lebih percaya iblis," Ratih cepat menjawab. "Ayah mertuamu, meninggal dimassa warga," suara Ratih terlihat bergetar, tak sanggup mengungkapnya.
"Astaghfirullah, apa salah Bapak?"
"Karena ia nekad menentang aturan yang dibuat. Ia nekad mengumandangkan adzan saat Maghrib—dengan menggunakan toa, dan itu membuat warga murka."
Wajah Ratih tampak bersedih. Matanya berkaca-kaca, dan bulir bening jatuh disudut matanya.
Alawiyah dapat merasakan kengerian yang terjadi, ia mengingat ucapan dari Juminten malam tadi, jika sampai terdengar suara lantunan Al-Qur'an, maka mereka akan membakar Ratih.
Ternyata, hal itu bukan hanya ucapan semata, tetapi mereka sudah membuktikannya.
"Apakah mereka disini memuja iblis Ba'al untuk di jadikan pesugihan?" akhirnya kalimat itu keluar dari mulutnya.
Ratih mengangguk. "Ya. Sebab itu, si Mbok sangat takut, jika kamu tinggal menetap disini," Ratih mengakui kegelisahannya.
Alawiyah mersakan sesak di dadanya. Ia sudah menemukan jawabannya, apa yang membuat kejanggalan ini terjadi "Tidak perlu takut, Mbok. Kita akan cari tau, siapa yang sudah membuat Mas Bayu seperti ini," Alawiyah semakin merasa kuat.
Dengan informasi yang didapatnya, maka menjadikan petunjuk untuk menyembuhkan Bayu.
"Tetapi jangan terburu-buru. Kamu masih mengandung, kalau bisa lahirkan dulu bayimu, baru kita lakukan pengobatan pada Bayu," Ratih mengingatkan.
Alawiyah hanya mengangguk, tetapi ia akan berusaha, mencari jalan penyembuhan bagi suaminya.
"Warga desa harus di sadarkan, mereka sudah tersesat terlalu jauh,"
"Saat iblis sudah mendarah daging dalam tubuh, maka sangat sulit untuk disadarkan, karena kekayaan dan kenikmatan dunia yang begitu menjanjikan, tidak akan dilepas begitu saja,"
Ratih sudah sangat pesimis, apalagi warga terebut sudah melakukan cara kaya dengan instan—dari turun-menurun, dan seolah menjadi warisan yang tidak dapat dielakkan.
"Sangat miris sekali," ucap Alawiyah dengan lirih.
"Untuk saat ini, jika kau sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an, jangan coba bersuara, baca saja dengan senyap, demi menghindari kekejian mereka," pesan Ratih.
Alawiyah menganggukkan kepalanya, dan obrolan mereka terhenti, saat suara Novita yang memanggil Ratih dari depan pintu.
Seperti biasanya, setiap pagi, gadis itu mengantarkan makanan, dan seolah seperti sebuah rutinitas.
Ratih menoleh ke arah pintu, dan menyudahi obrolan mereka.
Ia melangkah ke arah Novita, yang saat ini berpakaian sangat seksi.
"Mbok, ini ada soto pojok, dari ayam kampung betina yang masih muda. Jangan lupa diberi ke amas Bayu," suaranya sangat lembut, dan seolah orang yang paling perhatian pada Bayu.
"Terimakasih." Ratih meraihnya, dan mencoba tersenyum ramah, meski semuanya palsu.
Saat bersamaan, Juminten dan Ginah, datang bersamaan, mereka membawa rakit rantang, dan berisi makanan yang cukup enak.
"Mbak. Ini juga buat Bayu. Makan punya saya—ya. Dibagian rakit bawah, buat Bagas atau mbak Ratih," pesan Juminten, dengan senyum yang sangat palsu.
Mendengar hal itu, Gina sangat marah, soalnya ia juga mengantarkan ayam gulai‐-untuk Bayu.
"Mbak Ratih. Punya saya saja, soalnya punya saya lebih enak. Ini akan buat Bayu lahap makan," Gina tak mau kalah, dan memaksa Ratih mengambil rantang miliknya.
Ratih tampak geram, tetapi mencoba untuk menahan amarahnya. "Baik, terimakasih, tidak perlu repot-repot." Ratih mengambil rantang dari tangan Gina, dan membuat wanita itu bernafas lega.
"Mbak Ratih, jangan lupa diberi ke Bayu—ya," Juminten kembali mengingatkan.
"iya. Silahkan pulang dulu, saya ada kesibukan," usir Ratih.
"Jangan ngusir juga, Ra. Mending kita gak ngamuk sam kamu karena kejadian malam tadi," Gina mengingatkan.
Alawiyah yang mendengarnya dari arah dapur, merasa mendidih darahnya. Kalau sja tidak sedang mengandung, mungkin ia sudah melabrak mereka.
Sepertinya memng sifat mereka sudah mengalahkan iblis.
"Apakah diantara mereka bertiga, memang berniat menumbalkan mas Bayu? Atau jangan-jangan justru ketiganya?" Alawiyah berguman, dan melirik dari balik pintu dapur.
Ia sedang memantau sang ibu mertua—yang di serang hantaran makanan dari tetangga, berlomba siapa lebih dulu yang makanannya akan disantap. Karena hal itu menentukan siapa yang jadi pemenangnya.
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣