"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.
Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.
Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.
Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Sepi Yang Mematikan
Hari-hari setelah kepergian Kirana terasa seperti neraka bagi Arga. Rumah besar dan mewah itu kembali menjadi kubur yang dingin dan sunyi. Bahkan jauh lebih menyedihkan daripada sebelumnya. Dulu ia kesepian karena tidak punya siapa-siapa, sekarang ia kesepian karena ia tahu siapa yang membuatnya bahagia, namun orang itu pergi dan membawalah seluruh cahayanya.
Arga berubah drastis. Ia menjadi sangat pendiam, galak, dan emosional di kantor. Semua staf dan karyawannya gemetar ketakutan melihat bos mereka yang kembali menjadi monster dingin tanpa hati. Tidak ada senyum, tidak ada toleransi. Satu kesalahan sedikit saja, amarahnya bisa meledak hebat.
Setiap malam ia pulang ke rumah yang gelap gulita. Ia tidak mau menyalakan lampu banyak-banyak. Ia lebih suka duduk di ruang tengah yang gelap, menatap foto pernikahan mereka yang tergantung besar di dinding.
"Kirana..." bisiknya pelan, suaranya serak. "Kamu di sana apa kabar? Kamu kangen aku nggak? Atau kamu makin benci aku?"
Tangannya memegang gelas whiskey yang sudah habis berkali-kali isi. Ia mencoba membius pikirannya, tapi wajah istrinya yang menangis dan membenci dia terus menghantuinya di mana-mana.
Di rumah orang tua Kirana, suasana tidak jauh berbeda. Kirana mengurung diri di kamar sejak hari pertama pulang. Ia tidak mau keluar, tidak mau makan, dan tidak mau bicara dengan siapa pun, termasuk orang tuanya yang tentu saja bingung dan khawatir setengah mati melihat kondisi putri mereka yang hancur lebur begini.
"Ran, sayang... makan dulu ya. Ini Mama buatin bubur kesukaan kamu," bujuk ibunya di depan pintu kamar.
"Tidak mau, Ma. Aku tidak lapar," jawab Kirana dari dalam dengan suara lemah.
"Kasihan badanmu, Nak. Kamu kurusan banget. Apa Arga jahat sama kamu? Cerita sama Mama dong," tanya ibunya lembut penuh selidik.
Kirana hanya diam dan memeluk bantal. Ia tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. Rasanya malu dan sakit sekali menceritakan bahwa suaminya mencintainya karena ia mirip dengan wanita lain yang sudah meninggal.
Hingga pada hari ketiga, Kirana akhirnya membuka pintu. Ia keluar dengan wajah pucat, mata cekung, dan tubuh yang terlihat sangat rapuh.
"Mama..." panggilnya pelan.
"Iya, Nak. Mama di sini," ibunya langsung memeluk putrinya itu erat-erat. "Aduh, sayang... kenapa jadi begini? Apa yang sebenarnya terjadi sama kalian berdua?"
Dengan suara bergetar dan penuh isak tangis, Kirana menceritakan semuanya. Mulai dari kedatangan amplop misterius, foto-foto Alya, kemiripan wajah mereka, hingga pengakuan Arga yang membuat hatinya hancur.
Ibunya mendengarkan dengan seksama, wajahnya tampak berpikir dan menghela napas panjang berkali-kali.
"Jadi... Arga nikah sama Mama karena dia kangen sama mantannya?" tanya ibunya pelan memastikan.
"Awalnya iya begitu, Ma," jawab Kirana sedih. "Tapi dia bilang sekarang dia cinta sama aku. Tapi Mama tahu kan? Susah buat percaya lagi. Rasanya semua itu palsu."
Ibunya mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Nak, dengar nasihat Mama ya. Laki-laki itu memang kadang aneh dan susah dimengerti. Tapi Mama bisa merasakan, Arga itu sayang banget sama kamu. Cara dia memandang kamu, cara dia menjaga kamu... itu tulus."
"Tapi soal kemiripan ini gimana, Ma?"
"Mama tidak membenarkan sikap Arga yang menyembunyikan hal penting ini dari kamu. Itu salah besar dan memang menyakitkan," kata ibunya bijaksana. "Tapi coba kamu pikir lagi, Nak. Alya itu sudah meninggal lima tahun lalu. Dia sudah jadi kenangan. Sedangkan kamu? Kamu hidup, kamu nyata, dan kamu ada di sini. Wanita mana pun di dunia ini tidak akan bisa bertahan hidup dalam bayang-bayang orang mati selamanya. Pasti lama-kelamaan dia akan jatuh cinta sama kamu yang asli."
Kirana terdiam. Kata-kata ibunya masuk akal. Tapi rasa kecewa itu masih sangat besar.
"Lagi pula, siapa yang mengirim foto-foto itu ke rumah kalian? Itu kan bukan dari Arga. Itu pasti ulah orang lain yang sengaja mau menghancurkan rumah tangga kalian," tambah ibunya lagi.
Kirana tertegun. Benar juga! Siapa yang mengirimnya? Tiba-tiba ia teringat pada tatapan benci Natasha saat diusir. Apakah mungkin... Natasha yang melakukan ini semua untuk memisahkan mereka?
Pikiran itu membuat Kirana sadar bahwa mungkin ia terlalu cepat menyimpulkan dan terlalu emosional saat itu.
Sore harinya, saat Kirana sedang duduk termenung di teras belakang rumah orang tuanya, sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar.
Arga datang.
Pria itu turun dari mobil dengan penampilan yang sangat berantakan. Ia tidak memakai jas rapi seperti biasanya, hanya kemeja lengan panjang yang kancingnya tidak dikancing rapi, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat lelah, kusut, dan sangat menyedihkan.
Ia berdiri di depan pintu, menatap Kirana yang ada di dalam dengan tatapan penuh harap dan ketakutan.
"Kirana..." panggilnya pelan.
Kirana terkejut melihat kedatangan suaminya itu. Jantungnya berdegup kencang, campur aduk antara rasa kaget, marah, dan rindu yang ternyata sudah menggunung.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Kirana dingin, berusaha memasang topeng ketidakpedulian. "Aku kan sudah bilang aku mau sendiri."
"Aku tahu," jawab Arga pelan, ia tidak berani masuk meski pintu terbuka. "Aku cuma mau lihat kamu sebentar. Aku kangen... aku nggak bisa tidur nggak bisa makan kalau nggak lihat kamu."
Suara Arga terdengar sangat lemah dan memelas.
"Kamu datang buat jelasin lagi?" tanya Kirana ketus. "Aku masih belum mau dengar penjelasan apa pun."
"Bukan. Aku nggak mau jelasin apa-apa," Arga menggeleng pelan, matanya menatap nanar ke wajah istrinya. "Aku cuma mau minta maaf. Ribuan kali maaf. Dan aku mau bilang... aku siap nunggu. Aku siap nunggu sampai kamu siap dengerin aku, sampai kamu mau maafin aku. Sehari, seminggu, sebulan, atau setahun... aku bakal nunggu."
Arga menarik napas panjang, menahan tangis yang ingin meledak.
"Tapi tolong... tolong jaga kesehatan kamu ya. Makan yang teratur. Jangan sakit. Aku nggak bakal tenang kalau kamu sakit. Itu aja..."
Arga tersenyum tipis, senyuman yang sangat pahit dan menyedihkan. "Aku pulang dulu ya. Jangan lupa doain aku biar kuat nungguin kamu."
Pria itu berbalik perlahan, berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah berat. Ia tidak memaksa masuk, tidak memaksa diajak bicara. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa ia peduli dan ia menunggu.
Melihat punggung suaminya yang terlihat begitu rapuh dan kesepian itu, hati Kirana terasa diremas rasa bersalah yang besar. Air matanya jatuh lagi.
'Arga...'
Tepat saat Arga hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ia berhenti. Wajahnya memucat, tangannya memegang dadanya, lalu matanya berputar dan tubuh tegap itu ambruk ke tanah.
BRUKKK!!!
"ARGA!!!"
Jeritan kaget dan panik meledak dari mulut Kirana. Ia berlari sekencang-kencangnya keluar rumah, tidak peduli lagi pada rasa marah atau dendamnya.
"ARGA! BANGUN! KAMU KENAPA?!"
Kirana memeluk tubuh suaminya yang terbaring lemas di aspal panas itu. Wajah Arga pucat pasi, mata terpejam, dan napasnya terlihat sangat lemah.
"Arga... tolong bangun... jangan bikin aku takut..." isak Kirana histeris, mengguncang pelan bahu pria itu. "Maafin aku... maafin aku ya... bangun sayang..."
Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran hebat itu, Kirana kembali memanggilnya dengan sepenuh hati. Dan kenyataan bahwa Arga bisa saja sakit parah atau meninggalkannya membuat Kirana sadar betapa besar rasa cintanya pada pria itu, melebihi rasa sakit manapun.