Seri Cinta Tak Perna Salah dengan menceritakan dilema dari kisah cinta seorang dokter Riana Yang terhalang oleh perbedaan. kisah ini mengisahkan tentang perjodohan, perselingkuhan dan cinta beda usia yang menjadi permasalahan orangtua. Dan juga rahasia lama yang tersimpan. yang menjadi pengahalang Riana untuk bahagia bersama pilihannya.
Apakah dokter Riana akan bisa bertahan dalam masalah yang dia hadapi untuk mempertahankan cinta sejatinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Davin Gelisa
" Kok kak Riana tidak mampir??"
"Buru - buru di telepon maminya. Keluarga calon mertuanya ada di rumah."
Davin yang mendengar ada keluarga Matias dirumah dokter Riana langsung menghubungi Rian temannya hanya untuk mengetahui kondisi disana. Hati kecil Davin berkata bahwa dia tidak mau kehilangan Ria, orang yang sangat dia cintai.
"Dimana??"
"Baru sampai di rumah. Mau kesini??"
"Tidak bro. Katanya kakak ada tamu dirumahmu??"
"Sepertinya."
"Katanya keluarga Matias."
"Apa???!!!"
Rian sangat marah, waktu Davin menunjukan isi laptop Matias bagaimana dia merekam semua kejadian waktu dia menjebak kakaknya. Dia cepat- cepat turun dari mobilnya. Namun ketika mau masuk keluarga Matias, papa dan mamanya sudah bergerak pulang. Rian menebak pasti rencana mereka batal. Terlihat dari muka mamanya yang marah.
Dan benar setelah keluarga itu pulang mamanya langsung memarahi kakaknya. Rian yang tidak suka melihat kakaknya dimarahi masuk ke kamar kakaknya dan memeluk dan membela kakaknya.
"Mama suka, kaka hidup dengan laki - laki yang suka selingkuh??"
"Dia berjanji akan merubah kelakuannya. Katanya itu khilaf???"
"Khilaf??? Dia muslim. Mama itu tabiat kak Matias. Adek tidak setuju kakak di jodohkan atau menikah dengan dia."
"Kamu tahu apa. Urus saja diri kamu."
"Urusan kakak juga urusan adek."
Mama Tiwi yang kesal, niatnya mau memukul anaknya, namun terpeleset dan terjatuh. Akhirnya mereka membawa mamanya berobat ke rumah sakit. Hanya dislokasi sedikit pada tangan kiri mamanya. Namun itu berpengaruh pada aktivitas mama di rumah mau pun di butik.
"Ini semua terjadi karena kamu. Kalau kamu tidak menentang orangtua pasti hal seperti ini tidak terjadi."
Riana yang ditegur hanya berdiam. Dia tidak mau mamanya sampai sakit lagi. Selesai makan dan minum obat. Papanya langsung membawa mamanya tidur di kamarnya.
"Ma, jangan kita memaksa Ria lagi, kasihan dia sudah dewasa, biarlah dia memilih pasangan hidupnya."
Mama Tiwi hanya berdiam. Dia tidak mau merespon apa yang di katakan suaminya. Pukul sembilan malam. Rian menghampiri kamar kakaknya.
"Adek, kalau mama lagi marah kakak ngak usah bela kakak."
"Ngak mau kak, itu namanya mama menjual kakak. Lebih baik kita lakukan sekarang, dari pada kata sekeluarga menyesal."
Rian menunjukan kartu ucapan yang ada di bunga yang di kirim ke rumah sakit, oleh Matias. Dan Rian menceritakan apa yang dilakukan Davin dan dirinya kepada Matias.
"Laptopnya dirusak oleh Davin. Namun semua isi laptopnya di pindahkan ke memori eksternal Davin."
"Kenapa kalian berdua melakukan itu tidak sampaikan ke kakak."
"Rian gemas terhadap kelakukan pengecutnya."
Rian pun menceritakan apa yang ditemui oleh Davin pada hard disk laptopnya yang sekarang sudah hancur berkeping - keping.
"Kakak harus menjauh dari laki - laki itu. Bukan hanya kakak yang korban namun banyak cewek yang menjadi korban kak Matias. Adek lihat di dalam laptop itu. Dia itu hiperseks."
"Kenapa kamu tidak memberi tahu aku??"
"Kakak mau melihat foto bugil kakak sendiri bersama Matias itu???"
"Siapa saja yang sudah lihat??"
"Hanya aku dan Rian."
Riana bertemu dengan Davin di sebuah cafe, dia mau menanyakannya tentang apa yang Rian sampaikan. Dan kenyataannya memang itu benar. Riana sangat marah. Dia pun langsung mendatangi apartemen Matias. Bertepatan dengan dia yang baru pulang kerja.
Riana tidak memberi kesempatan kepada Matias. Dia memukulnya dengan tongkat stick golf yang ada di apartemen Matias. Akhirnya mereka semua dibawa ke kantor polisi.
Rian di telepon kakaknya untuk hadir di kantor polisi sebagai wali bagi kakaknya. Informasi Riana ada di kantor polisi disampaikan Rian kepada Davin. Dengan kecepatan penuh Davin mengendarai kendaraannya. Sampai di dalam kantor polisi Davin yang melihat Matias langsung mendaratkan bogemnya ke muka Matias. Hasilnya mereka di seret keluar.
"Kamu harus tenang Davin."
"Sori aku tidak bisa mengendalikan emosiku."
Rian dan Davin pun masuk ke ruangan itu lagi. Riana yang melihat Davin langsung memeluknya. Mamanya Matias datang marah - marah. Dia mengomeli Riana di depan Rian dan Davin.
"Kamu itu sial, belum menikah saja sudah jahat kepada anak saya."
"Permisi ibu. "
"Saya bukan ibu kamu."
"Yang korban disini itu dokter Riana Timothy kakak saya."
"Mama, dia menuding saya berselingkuh, tetapi dia sendiri juga berselingkuh dengan dia di rumah sakit."
"Dia.... Dia itu sahabatku. Kak Riana dan kakaknya sahabat. Jangan kamu banyak alasan. Jadi laki - laki itu sifatnya jangan seperti anak perempuan. Tunjukan jiwa laki - laki kamu. Jika salah katakan iya saya salah. Susah dimana???"
"Siapa kamu sampai mau menasehati aku???"
"Dia pacar saya."
Pernyataan ini, membuat Rian kaget dan binggung kenapa bisa, kakakku mencintai pria yang lebih muda darinya. Didalam mobil Rian hanya bisa bertanya - tanya di dalam hatinya apa benar kakaknya mencintai Davin. Namun dilihat dari gerak gerik Davin yang selalu memperhatikan kakaknya membuat dia curiga.
"Dari mana kenapa baru pulang."
"Kami sudah dewasa mama. Kenapa perlakukan kami seperti anak kecil. Aku dan kakak keluar berdua , boleh kan??"
"Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan."
Pukul sepuluh malam, ketika semua orang tertidur, Riana keluar rumah. Karena dia mendapat telepon dari Davin yang sudah menunggu dia dengan motor besarnya. Biasanya jika Riana keluar malam atau pagi tiba - tiba pasti ada telepon darurat dari rumah sakit. Jadi dia kekuar sudah membawa baju gantinya.
"Kenapa kamu nekat, bagaiman kalau ketahuan???"
"Ya aku hanya memberitahukan kepada om dan tante bahwa aku mencintai anak mereka. Aman."
"Tidak semuda itu Davin....." Davin hanya tersenyum. Sambil mengendarai motor gedenya. Mereka jelas menuju apartemen Davin.
"Aku bahagia kamu sudah terus terang kepada Rian."
"Kamu tahu sepanjang jalan di dalam mobil kami hanya berdiam diri. "
"Memang Rian orangnya tenang, namun pasti."
"Kamu memang bisa berhadapan dengan dia setelah dia tahu tentang kita berdua??"
"Ya pasti badan ku yang menjadi sasaran. Gerakan Pasrah yang akan aku lakukan."
Seperti biasa, Riana akan tertidur disamping dirinya sangat nyenyak setelah di manjakan oleh Davin. Setelah Riana tertidur, Davin yang penasaran apa isi tas pacarnya pun mulai melihat- lihat dan dia menemukan salah satu kantong kecil yang berisi obat - obatan. Davin yang curiga denga obat itu pun mencari di google dan ternyata itu obat mencegah hamil alias obat kontrasepsi.
Davin langsung mengambil dan membakarnya di teras balkon apartemennya. Pagi - pagi Riana selesai mandi mencari obat yang sudah di bakar oleh Davin.
"Cari apa sayang."
"Obat."
"Kamu sakit???"
"Tidak itu obat pencegah agar tidak hamil."
Muka Davin sudah berubah marah. Dia mengurung Riana di meja wastafel kamar mandi.
"Buat apa minum obat itu??"
"Davin... Kita ???"
"Aku serius mencintai mu dan aku mau kamu hamil agar kita menikah."
Davin sudah mengendong Riana dan mendudukinya di atas meja wastafel itu. Dengan gerakan cepat dia memasukan rudalnya kembali. Satu ronde pun terjadi. Davin meningkatkan volume penyatuan itu. Sehingga Riana mengeluarkan suara seksinya. Sampai mereka sampai pada puncak kenikmatan.