NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14.Dekat, Lalu Rindu

   ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Sejak kesalahpahaman itu terungkap, hubungan Aisyah dan Gus Aqlan berubah menjadi jauh lebih dekat dan hangat. Tidak ada lagi rasa canggung atau jarak. Mereka terasa seperti sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Setiap hari di kampus, Gus Aqlan selalu mencari cara untuk bisa berada di dekat Aisyah. Entah itu meminjam buku, bertanya soal tugas, atau sekadar duduk di sebelahnya saat istirahat. Aisyah pun merasa sangat nyaman. Sikap Gus Aqlan yang lembut, sopan, dan penuh perhatian membuat hatinya merasa tenang. Mereka sering tertawa bersama, berbagi cerita tentang keluarga, hingga berdiskusi tentang cita-cita masing-masing.

Bahkan Zea pun sering ikut nimbrung, membuat hubungan mereka semakin terasa seperti keluarga sendiri. Aisyah merasa, Gus Aqlan adalah tempat dia bisa menjadi diri sendiri, tempat dia bisa berbagi segala hal tanpa rasa takut dihakimi.

Namun, semua kebahagiaan itu harus terhenti sejenak saat hari keberangkatan tiba. Waktu Gus Aqlan untuk melanjutkan studi S2 di Kairo, Mesir, sudah datang.

Hari perpisahan di bandara terasa haru.

"Kak Aisyah... jagain diri kamu baik-baik ya di sini," ucap Gus Aqlan pelan, matanya menatap Aisyah dalam-dalam.

"Iya... Gus juga hati-hati di sana. Belajar yang rajin, jangan lupa makan, dan jangan lupa sholat," jawab Aisyah berusaha tegar, meski dadanya terasa sesak menahan rasa ingin menangis.

"Insya Allah. Aqlan bakal sering kabar. Tunggu Aqlan ya," bisik Gus Aqlan, lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sentuhan itu terasa hangat, meninggalkan kesan yang mendalam.

Setelah Gus Aqlan melewati pintu keberangkatan dan menghilang dari pandangan, Aisyah berdiri lama di sana. Dunia seakan kembali seperti semula, tapi ada bagian dari dirinya yang ikut terbawa pergi bersama pemuda itu.

Hari-hari Berikutnya...

Kehidupan Aisyah kembali berjalan seperti biasa, terasa datar dan monoton. Tidak ada lagi senyuman Gus Aqlan yang menyapa di kelas, tidak ada suara tawanya yang renyah, dan tidak ada lagi tangan yang siap membantunya saat ia kesusahan.

Setiap pagi, rutinitas Aisyah tetap sama.

"Shuka, ayo cepat! Nanti telat lho!" seru Aisyah dari garasi.

"Iyaaa Kakak! Shuka siap!" jawab Shuka kecil dengan semangat, berlari masuk ke dalam mobil.

Aisyah pun mengemudikan mobilnya, mengantar Shuka ke sekolah dasar seperti biasa. Setiap pagi, ia akan menurunkan adiknya di depan gerbang, melihat sosok kecil itu melambaikan tangan dan berlari masuk ke kelas.

"Belajar yang pinter ya . Nanti sore Kakak jemput lagi," ucap Aisyah lembut setiap harinya.

Setelah mengantar Shuka, Aisyah akan melanjutkan perjalanan ke kampus. Tapi kampus terasa sepi. Meski teman-teman tetap ramai, dan kuliah tetap berjalan lancar, Aisyah merasa ada yang hilang. Hatinya terasa kosong.

Ia sering kali melamun melihat kursi kosong di belakang tempat duduknya, tempat biasa Gus Aqlan duduk. Ia sering tersenyum sendiri saat teringat kejadian lucu di taman, atau saat ia malu-malu karena salah sangka soal Zea.

"pak Aqlan... apa kabar ya di sana? Pasti sibuk banget belajarnya," batin Aisyah setiap kali ia duduk sendirian, atau saat sedang mengantre menunggu Shuka pulang sekolah.

Rutinitas mengantar dan menjemput Shuka menjadi hiburan tersendiri bagi Aisyah. Melihat keceriaan adiknya sedikit banyak mengobati rasa rindunya pada sosok Gus Aqlan. Ia menjalani hari-harinya dengan tenang, menunggu, dan berdoa agar jarak yang memisahkan mereka tidak memutuskan ikatan hati yang sudah terjalin begitu kuat.

 BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!