Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Sumpah yang Terucap
28 Oktober 1930. Pukul 20.00 waktu Batavia.
Kamar Kos Gang Kenari, Batavia Centrum.
Malam bersejarah itu turun di Batavia dengan tenang, seolah alam semesta sedang menahan napas. Namun, di dalam kamar sempit berukuran 3x4 meter itu, udara terasa panas dan menyesakkan.
Raden Mas Arya terbaring di atas dipan bambu yang keras. Wajahnya pucat pasi, namun butiran keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya. Lengan kirinya yang dibalut kain perca (yang sudah direbus sesuai instruksi Alina) terasa berdenyut hebat, seirama dengan detak jantungnya yang lemah.
Demam.
Tubuhnya menggigil, tapi kulitnya membara. Arya merasa seperti sedang dipanggang di atas api unggun.
Di luar sana, di Jalan Kramat 106, Kongres Pemuda II baru saja berakhir. Sejarah baru saja ditulis. Dan dia? Dia hanya terbaring di sini, dikalahkan oleh luka sabetan golok preman pasar.
"Gagal..." racau Arya dalam demamnya. "Saya gagal..."
Dia membayangkan teman-temannya sedang berpelukan, menyanyikan Indonesia Raya dengan mata berkaca-kaca. Dia membayangkan Yamin membacakan rumusan sumpah itu dengan suara lantang.
Arya mencoba bangun. Dia ingin ke sana. Dia ingin menjadi bagian dari momen itu. Tapi kakinya lemas seperti jeli. Dia jatuh kembali ke kasur kapuk yang apek.
Arya menoleh ke meja di sudut kamar. Mesin tik Remington-nya duduk diam di sana, diterangi sisa cahaya lampu minyak yang mulai redup.
Apakah Alina ada di sana? Apakah dia kecewa karena Arya tidak muncul di foto sejarah hari ini?
Arya menyeret tubuhnya. Dengan sisa tenaga terakhir yang entah datang dari mana, dia merangkak turun dari dipan, menarik kursi kayu, dan duduk menghadap mesin tik.
Tangannya gemetar hebat. Tapi dia harus bicara.
> 28 Oktober 1930.
> Malam.
> Alina... maafkan saya.
> Saya tidak bisa pergi. Demam ini menahan kaki saya.
> Saya melewatkannya. Saya melewatkan kelahiran bangsa kita.
>
28 Oktober 2024. Pukul 20.00 WIB.
Rumah Tua Dago Pakar, Bandung.
Alina sedang duduk memeluk lutut di depan perapian yang tidak dinyalakan. Dia membaca pesan Arya dengan hati hancur.
Dia bisa merasakan kepedihan dan rasa tidak berguna yang dirasakan pria itu. Arya sudah berkorban darah demi listrik, tapi dia tidak bisa menikmati cahayanya.
Alina mengetik balasan dengan cepat.
> Kau tidak melewatkan apa pun, Arya.
> Kau ada di sana. Cahaya lampu yang menerangi wajah Yamin saat dia membaca teks itu... itu cahayamu.
> Tanpa kau, ruangan itu gelap gulita. Tanpa kau, rapat itu bubar.
> Kau pahlawan yang sebenarnya, meski tidak ada di panggung.
>
Di tahun 1930, Arya membaca kalimat itu dengan mata buram.
> Terima kasih, Nona Penghibur.
> Tapi rasanya tetap sakit. Saya ingin mendengarnya. Saya ingin mendengar sumpah itu.
>
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu yang keras di kamar kos Arya.
TOK! TOK! TOK!
"Arya! Buka pintu! Ini aku!"
Arya tersentak. Dia mengenali suara itu. Suara logat Minang yang kental dan berwibawa.
Arya tertatih-tatih membuka kunci pintu.
Di ambang pintu, berdiri dua sosok pemuda yang basah kuyup oleh keringat namun wajahnya bersinar terang.
Mohammad Yamin dan Amir Sjarifuddin.
"Yamin? Amir?" Arya ternganga. "Kenapa kalian ke sini? Bukannya pesta penutupan..."
"Pesta apa kalau Sekretaris II kita hilang?" seru Yamin sambil merangkul bahu Arya, lalu meringis melihat perban berdarah di lengan Arya. "Astaga, kau terluka parah, Bung."
Mereka memapah Arya kembali ke kursi. Amir menuangkan air dari kendi, memberikannya pada Arya.
"Kami dengar dari anak-anak Pandu. Kau menjaga gardu listrik sendirian melawan preman," kata Amir dengan nada kagum. "Kau gila, Arya. Benar-benar gila."
"Listriknya aman, kan?" tanya Arya lemah.
"Aman sentosa. Terang benderang sampai akhir," jawab Yamin. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan secarik kertas yang agak lecek. "Dan karena kau tidak bisa datang mendengarnya... kami membawanya untukmu."
Arya menatap kertas itu. Tulisan tangan Yamin yang tegak bersambung. Tinta hitam di atas kertas putih.
"Bacalah, Arya," kata Yamin lembut. "Ini hasil perdebatan kita selama dua hari. Ini Sumpah kita."
Arya menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya menyusuri baris demi baris kalimat sakral itu.
Pertama: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami Poetra dan Poetri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Air mata Arya jatuh membasahi kertas itu, tepat di kata "Indonesia".
"Indah sekali..." bisik Arya, suaranya pecah. "Bahasa Persatuan..."
"Ya. Bukan Melayu, bukan Jawa. Tapi Indonesia," tegas Yamin.
Mereka bertiga terdiam sejenak di kamar sempit itu. Tiga pemuda, di tengah ancaman kolonial, baru saja mengikatkan diri pada sebuah mimpi yang belum wujud.
"Istirahatlah, Arya. Besok kami kirim dokter Jawa ke sini," kata Amir menepuk bahu Arya. "Cepat sembuh. Perjuangan baru dimulai."
Kedua sahabat itu pamit, meninggalkan Arya sendirian lagi.
Tapi Arya tidak lagi merasa sepi. Hatinya penuh. Demamnya seolah kalah oleh api semangat yang baru disuntikkan Yamin.
Dia kembali ke mesin tik.
> Alina... mereka datang.
> Yamin datang. Dia memberikan teksnya padaku.
> Saya sudah membacanya.
> Saya sudah bersumpah.
>
Alina tersenyum lebar di Bandung.
> Aku tahu. Aku bangga padamu.
> Arya... maukah kita melakukannya bersama?
>
> Melakukan apa?
>
> Mengetiknya.
> Di masaku, setiap anak sekolah menghafal sumpah ini di luar kepala. Itu menjadi doa kami setiap hari Senin.
> Mari kita ketik ulang sumpah itu. Bersama-sama. Sebagai bukti bahwa sumpahmu abadi.
>
Arya tersenyum.
> Mari kita lakukan.
>
Dan di sinilah keajaiban itu terjadi.
Di tahun 1930, jari Arya yang kasar dan bernoda tinta bersiap di atas tombol.
Di tahun 2024, jari Alina yang lentik dan bersih bersiap di atas tombol mesin yang sama.
Tanpa aba-aba suara, hanya dengan koneksi batin yang kuat, mereka mulai menekan tuts.
TAK. TAK. TAK.
Suara mesin tik menggema di dua abad berbeda secara bersamaan.
> KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA
>
Arya mengetik dengan penuh penekanan. Alina mengetik dengan penuh penghormatan.
> MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.
>
Di tahun 1930, Arya membayangkan tanah-tanah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, yang dia cintai.
Di tahun 2024, Alina membayangkan peta Indonesia modern yang membentang dari Sabang sampai Merauke.
> MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.
>
Mereka mengetik irama yang sama. Sinkronisasi sempurna.
> MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.
>
Saat titik terakhir diketik, Arya merasa tubuhnya merinding hebat.
> Selesai, ketik Arya.
>
> Selesai, balas Alina.
> Sumpahmu sudah sampai ke masa depan, Arya. Utuh. Tak kurang satu huruf pun.
>
Arya menyandarkan punggungnya. Rasa sakit di lengannya mulai terasa lagi, tapi dia tidak peduli.
> Alina... ada satu sumpah lagi yang ingin saya ucapkan. Tapi Yamin tidak menuliskannya di kertas itu.
>
> Apa itu?
>
Arya mengetik perlahan, ragu namun pasti.
> Keempat: Kami, dua jiwa yang terpisah waktu, mengakoe berhati yang satoe.
> Mencintai melintasi zaman.
>
Alina menutup mulutnya. Wajahnya memerah padam. Jantungnya berdegup kencang sekali.
Ini gila. Ini tidak masuk akal. Ini melanggar hukum fisika dan sejarah. Tapi Alina tidak bisa menyangkal perasaannya.
Dia mengetik balasan.
> Kelima: Kami berjanji untuk saling menjaga, meski tak bisa saling menyentuh.
> Merdeka atau Mati.
>
> Merdeka atau Mati, Cintaku.
>
Malam itu, di tanggal 28 Oktober, dua sejarah tertulis. Satu adalah sejarah bangsa yang akan dibaca jutaan orang. Satu lagi adalah sejarah cinta rahasia yang hanya diketahui oleh dua orang dan satu mesin tik tua.
Arya mematikan lampu minyaknya. Dia tidur dengan senyum di wajahnya, memeluk kertas hasil ketikan mereka berdua. Demamnya mulai turun.
Di Bandung, Alina memandang langit subuh. Dia tahu perjuangan Arya masih panjang. 15 tahun menuju merdeka.
Dan perjuangan Alina juga baru dimulai. Dia harus melindungi Arya dari Profesor Hendrik de Vries yang kini sedang memburunya.
"Istirahatlah, Pahlawanku," bisik Alina. "Besok kita perang lagi."
Alina menutup mesin tiknya, menyimpannya di dalam lemari besi kakeknya, lalu menguncinya rapat-rapat. Dia butuh tidur. Dia butuh energi untuk menghadapi kenyataan bahwa dia baru saja bersumpah setia pada hantu masa lalu.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera