Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Mendung Malam itu kian menjadi gelap, menelan langit mendung ke dalam selimut gelapnya, kegelapan yang menunjukkan waktu malam telah tiba di kota Huangxi.
Ren duduk di sebuah restoran kecil yang aroma ayam gorengnya tercium hingga tiga blok jauhnya. Ini bukan tempat mewah. Kursinya terbuat dari kayu murah yang terkadang berderit saat diduduki.
Di meja-meja sekitar, para Mercenary. Mereka memakai pelindung dada yang lecet dan pedang-pedang tumpul. Huangxi memang bukan tempat bagi para elit. Di sini adalah tempat bagi mereka yang "tidak laku" di kota besar.
"Sial, status waspada lagi," gerutu seorang pria bertubuh tambun dengan kapak besar di samping kursinya. "Paling-paling cuma retakan kecil. AFC pusat terlalu berlebihan."
"Tapi dengar-dengar, sensor di perbatasan terus berbunyi," balas temannya, seorang wanita dengan rambut cepak. "Kalau sampai Rift terbuka di jalur utama, kita bisa terisolasi."
Ren menyuap potongan ayam ke mulutnya. Rasanya gurih, dengan rempah khas yang hanya ada di tanah ini. Ia mengabaikan obrolan mereka sampai sebuah getaran halus membuat air mineral di gelasnya beriak.
Getaran itu bukan dari mesin kapal terbang. Ini lebih dalam. Lebih murni.
Kring!
Lonceng di pintu restoran berdenting keras saat seorang tentara bayaran muda berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Napasnya tersengal-sengal.
"Seluruh warga, evakuasi! Sekarang!" teriak pemuda itu. Suaranya pecah karena ketakutan. "Efek lanjutan dari Tianshiv... Rift-nya pecah di perbatasan! Ini bukan Kategori 1!"
Suasana restoran yang tadinya bising langsung sunyi senyap.
"Maksudmu apa?" tanya si pria bertubuh tambun, berdiri dari kursinya.
"Gerbangnya ... intensitas energinya menigkat lebih besar," bisik pemuda itu. "Alat deteksi kita meledak. Ini kategori tinggi!"
Panik meledak seketika. Orang-orang mulai berlarian keluar, menjatuhkan kursi dan piring. Para Mercenary yang tadi membual kini terlihat gemetar saat mereka meraba senjata masing-masing.
Ren tidak ikut lari. Ia meletakkan sendoknya dengan tenang. Ia mengaktifkan tablet bawaannya.
Layar tablet itu menyala, menampilkan peta termal wilayah Huangxi. Sebuah titik merah besar muncul tepat di jalur penghubung antara Huangxi dan kota luar. Titik itu berdenyut, semakin besar setiap detiknya.
Satu pesan masuk dengan prioritas tertinggi. Itu dari pusat
{Satelit mendeteksi lonjakan energi yang tidak masuk akal. Kami sedang mengerahkan Spatial Stabilizer dari pusat, tapi butuh waktu 30 menit, Kepada kepala pusat Huangxi untuk ...}
Ren menatap pesan itu, lalu beralih melihat ke luar jendela restoran. Tekanan angin kali ini cukup besar, sebuah angin peringatan yang lebih kuat.
Langit malam yang gelap kini terbelah oleh cahaya ungu kemerahan. Udara terasa bermuatan listrik, membuat bulu kuduk berdiri. Di kejauhan, raungan yang bukan berasal dari binatang mana pun mulai terdengar.
"Tiga puluh menit?" gumam Ren, ia menggigit ujung bibirnya. "Ini gawat."
Ia berdiri, meninggalkan beberapa lembar uang kertas di atas meja. Tangannya merogoh saku, menggenggam lencana perunggu AFC-nya. Logam itu kini terasa hangat, seolah merespons energi yang ada di atmosfer.
Di luar, jalanan sudah kacau. Mobil-mobil berparkiran kacau di jalan. Tangisan anak-anak bersahutan dengan bunyi sirine kota yang melengking memilukan.
Ren berjalan melawan arus orang-orang yang melarikan diri. Ia melangkah menuju pusat getaran, ke arah gerbang perbatasan yang kini tampak seperti luka menganga di langit malam.
Ia melihat sekelompok Mercenary lokal dengan beberapa staff AFC mencoba membentuk barisan pertahanan di jalan. Tangan mereka gemetar hebat saat memegang senjata.
Ia paham itu, mereka ketakutan. Marabahaya setingkat ini akan membuat orang biasa ketakutan setengah mati. Seharusnya itu yang ia rasakan.
Tangannya gemetar, langkahnya tampak terhenti. Bukan karena ketakutan, namun sebuah keraguan.
Ia tahu harus melakukan ini, ini adalah tanggung jawabnya. Sebagai Admin AFC, juga sebagian seorang Awakened.
"Kalian," celetuk Ren saat melewati mereka. "Fokuslah bertahan, bertahan hingga bantuan datang."
"Kau? Tunggu dulu, itu Pak Ren ...!" Seru salah satu staff ia terlihat mengenal Ren. "Pak, area perbatasan di sana berbahaya!"
Ren tidak menoleh, mengacuhkan peringatan itu. Ia terus berjalan menuju kegelapan yang berpijar. Perlahan menuju perbatasan.
Tablet di tangannya menampilkan pembaruan data terbaru. Warna titik kuning itu berubah menjadi warna merah.
"Kategori 3," bisiknya, ia memegang erat Tabletnya.
Angin kencang tiba-tiba berhembus, membawa bau belerang dan kematian. Tanah di bawah kakinya retak. Dari balik cahaya ungu di ujung jalan, sebuah cakar raksasa yang tertutup sisik legam mulai merobek ruang dimensi, menampakkan diri ke dunia manusia.
Monster Kategori 3.
Ren menghembuskan napas panjang.
"Akhir pekan yang luar biasa," pungkasnya pelan.
Ia melangkah ke pusat kekacauan, menuju ke barisan depan—dengan tablet di tangannya. Memulai debutnya sebagai Awakened.
Tapi satu pertanyaan muncul dalam benaknya.
"Bagaimana caraku menghadang Rift itu?"