Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Keesokan paginya, suasana hati Jihan terasa sangat cerah dan dipenuhi kebahagiaan.
Sambil bersenandung kecil di dapur, ia dengan cekatan menyiapkan menu sarapan sekaligus menata kotak bekal isi sandwich tebal untuk anak-anak tirinya seperti biasa.
Tubuhnya terasa jauh lebih berenergi, dan senyuman tidak pernah lepas dari wajah suburnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu depan yang cukup keras terdengar menggema.
Jihan mengerutkan keningnya heran, sebab ini masih terlalu pagi untuk tamu bertamu.
Sembari mengelap tangannya dengan celemek, Jihan berjalan ke depan dan membuka pintu utama.
Begitu pintu terbuka, Jihan sempat terpaku sejenak.
Berdiri di ambang pintu seorang pria bule yang sangat tampan, bertubuh tinggi tegap, dengan setelan kasual yang modis dan membawa sebuah koper besar.
"Deacon...?"
Belum sempat Jihan mencerna situasi, langkah kaki tegap Darren terdengar mendekat dari arah tangga.
Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya, wajah matang sang CEO langsung cerah seketika.
"Deacon! Hahaha! Kapan kamu sampai di Indonesia?" sapa Darren dengan suara baritonnya yang renyah.
Darren langsung maju dan memeluk erat tubuh sahabatnya itu, menepuk-nepuk punggungnya dengan penuh kerinduan khas dua pria yang sudah lama tidak bertemu.
Deacon pun membalas pelukan itu dengan tawa yang tidak kalah lepas.
Setelah pelukan terlepas, Darren langsung merangkul pinggang subur Jihan dengan sangat mesra, mempertemukan pandangan kedua orang di depannya.
"Sayang, perkenalkan... ini Deacon, sahabat karibku sejak kami masih sama-sama menempuh bisnis di Kanada dulu. Tapi, ia memilih untuk masuk kepolisian."
Jihan langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Halo, Deacon. Saya Jihan. Mari, silakan masuk dulu," ucap Jihan mempersilakan tamu jauh itu untuk melangkah ke dalam ruang tamu yang mewah.
Deacon berjalan masuk, namun pandangan matanya tidak lepas dari tangan Darren yang masih merangkul pinggang Jihan dengan begitu protektif dan penuh kasih sayang.
Deacon menoleh ke arah Darren dengan kening berkerut heran.
"Darren, who is she? Siapa wanita ini?" tanya Deacon penasaran dengan aksen Indonesianya yang masih sedikit kaku.
Darren menegakkan tubuhnya, menatap Jihan dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga yang luar biasa.
"Dia Jihan, istriku."
Uhuk!
Deacon seketika tersedak air liurnya sendiri.
Matanya membelalak sempurna menatap Darren, lalu beralih menatap Jihan dengan tidak percaya.
"Apa?! Kamu sudah menikah lagi dan sama sekali tidak mengundangku?!" seru Deacon dengan suara meninggi, setengah protes karena merasa kecolongan oleh sahabatnya sendiri.
"Darren, kita bersahabat sudah puluhan tahun, tapi kenapa berita sebesar ini aku justru baru tahu sekarang setelah sampai di rumahmu?!"
Darren hanya terkekeh melihat ekspresi syok sahabatnya, sementara Jihan tersenyum geli melihat kedekatan dua pria matang tersebut.
Mereka tidak menyadari bahwa di balik pilar lantai dua, tiga pasang mata anak-anak tiri Jihan sedang mengintip dengan perasaan makin jengkel karena rencana mereka pagi ini harus sedikit tertunda akibat kedatangan tamu asing itu.
Jihan tersenyum ramah melihat ekspresi protes Deacon.
"Sudah, jangan bertengkar di depan pintu. Lebih baik kita langsung ke meja makan. Kebetulan saya baru saja selesai memasak sarapan," ajak Jihan dengan nada keibuan yang hangat.
Deacon yang memang lapar setelah menempuh perjalanan jauh langsung mengangguk setuju.
Begitu tiba di meja makan, aroma harum dari hidangan tradisional yang disiapkan Jihan langsung menggugah selera.
Di sana sudah duduk Andre, Riko, dan Angela yang memasang wajah masam, namun terpaksa bersikap sopan karena ada tamu papa mereka.
Deacon mengambil sesuap makanan, dan seketika itu juga matanya berbinar takjub.
"Wow! Darren, masakan istri kamu ini benar-benar luar biasa! Ini makanan Indonesia paling enak yang pernah aku makan. Kamu sangat beruntung punya istri yang tidak hanya baik, tapi juga pintar memasak seperti Jihan!" puji Deacon dengan tulus dan bersemangat.
Mendengar pujian bertubi-tubi dari pria bule tampan itu untuk Jihan, Andre, Riko, dan Angela yang sedang mengunyah makanan langsung merasa mual.
Dada mereka terasa makin panas dan terbakar cemburu melihat betapa Jihan begitu cepat mengambil hati sahabat dekat papa mereka.
Setelah selesai sarapan, jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi.
Darren berdiri dari kursinya, merapikan jas kerjanya, lalu menghampiri Jihan. Ia mengecup kening istrinya dengan mesra tanpa memedulikan tatapan sebal anak-anaknya.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya. Hari ini aku mengajak Deacon ke perusahaan untuk meninjau proyek baru kami," pamit Darren lembut.
Deacon pun ikut berpamitan dengan senyuman ramah kepada Jihan.
Begitu mobil Rolls-Royce Darren dan Deacon meluncur keluar dari halaman rumah, Jihan langsung berbalik menatap Angela yang masih duduk di meja makan sambil menyilangkan tangan.
"Angela, ayo kita berangkat ke kampus sekarang. Mama sudah siapkan motor," ucap Jihan tegas.
Angela langsung mengerucutkan bibirnya dalam-dalam.
"Iya, iya! Cerewet sekali!" gerutu Angela kesal sembari menyambar tasnya dan berjalan menghentakkan kaki keluar rumah menyusul Jihan.
Begitu memastikan Jihan dan Angela sudah benar-benar pergi menjauh dari area rumah, Andre dan Riko saling berpandangan.
Senyuman licik serempak terbit di wajah kedua pria muda itu.
Suasana rumah yang sepi menjadi kesempatan emas yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak semalam.
"Ayo, Dre! Ini waktunya," bisik Riko dengan tatapan mata penuh bisa.
Mereka berdua bergerak cepat menuju ruang tengah, menghampiri lemari kaca terkunci tempat menyimpan barang-barang peninggalan almarhumah ibu mereka.
Dengan keahlian Riko, kunci lemari itu berhasil dibuka tanpa merusaknya.
Riko merogoh ke dalam dan mengambil sebuah kotak beludru merah yang berisi kalung berlian peninggalan paling berharga milik mendiang ibu mereka—barang yang paling dikeramatkan oleh Darren.
Tanpa belas kasihan, Riko meletakkan kalung itu di lantai, lalu Andre mengambil sebuah benda tumpul dan menghantamkannya tepat di bagian tengah kalung tersebut hingga berlian-berliannya terlepas dan rantainya putus berantakan.
"Bagus. Sekarang, bawa ini ke kamar utama," perintah Riko dengan napas memburu karena adrenalin.
Dengan langkah mengendap-endap, Andre dan Riko menyelinap masuk ke dalam kamar tidur Jihan dan Darren.
Mereka membuka lemari pakaian khusus milik Jihan, lalu menyembunyikan kalung berlian yang sudah hancur berantakan itu di bagian paling dalam, di sela-sela lipatan kain baju milik Jihan.
Riko tersenyum puas setelah menutup kembali pintu lemari.
"Selesai. Kita lihat saja, saat Papa pulang nanti dan mendapati barang kesayangan almarhumah Mama hancur di dalam lemari perempuan gajah itu, Papa pasti akan langsung mengusirnya tanpa ampun!"
Setelah berhasil menyembunyikan kalung tiruan yang sudah hancur itu di dalam lemari pakaian Jihan, Andre dan Riko bergegas keluar dari kamar utama dengan langkah seringan mungkin.
Mereka memastikan tidak ada satu pun pelayan rumah yang melihat aksi nekat mereka.
Dengan senyuman penuh kemenangan yang tersungging di bibir masing-masing, kedua bersaudara itu langsung menyalakan motor matic mereka dan berkendara menuju kantor cabang Bramantyo Corporation.
Rasa malu dan gengsi karena harus mengendarai motor matic serta membawa kotak bekal hari ini mendadak hilang, tergantikan oleh rasa puas yang membuncah.
Di dalam benak mereka, hari ini adalah hari terakhir wanita bertubuh subur itu menginjakkan kaki di rumah mewah mereka.
Sesampainya di kantor, Andre dan Riko duduk di kubikel mereka masing-masing.
Alih-alih fokus pada tumpukan laporan pekerjaan yang diberikan oleh manajer, pikiran mereka berdua justru melayang jauh ke suasana rumah nanti sore.
Ting!
Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Andre dari Riko yang duduk hanya berjarak beberapa kubikel darinya.
Fokus saja pura-pura kerja, Dre. Jangan sampai ada yang curiga. Begitu jam pulang kantor tiba, kita langsung pastikan Papa pulang ke rumah bersam kita untuk melihat 'kejutan' itu.
Andre membalas pesan tersebut dengan emotikon senyum licik.
Sembari menunggu waktu berlalu, ia membuka kotak bekal sandwich yang disiapkan Jihan tadi pagi.
Sambil mengunyah makanan lezat itu dengan lahap, mata Andre menatap tajam ke arah layar komputer yang menampilkan jam digital.
Jarum jam terasa bergerak sangat lambat bagi mereka berdua.
Setiap detik yang berlalu diisi dengan fantasi liar tentang bagaimana marahnya Darren saat melihat peninggalan almarhumah istrinya dihancurkan, dan bagaimana Jihan akan menangis tersedu-sedu saat diseret keluar dari rumah oleh para satpam atas perintah Papa mereka.
"Nikmati waktu terakhirmu menjadi Nyonya Bramantyo, gajah sialan. Nanti sore, Papa sendiri yang akan mengusirmu dari kehidupan kami," gumam Riko dalam hati dengan tatapan mata sedingin es, siap menyambut skenario kelam yang sudah mereka rancang dengan sangat rapi.