Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANAHAN
Keesokan paginya, suasana istana kembali gempar.
Tok
Tok
Tok
Pintu paviliun digedor dengan kasar saat matahari baru saja terbit.
Elena yang sudah bangun sejak subuh, dan sedang mengasah belatinya, langsung berdiri waspada.
"Siapa?" tanya Elena dingin.
"Pesan dari Raja Alaric!" teriak seorang petugas istana dari balik pintu.
"Pangeran Arlon dan Nona Elena diperintahkan untuk menghadiri sesi latihan panahan di lapangan istana pagi ini, Yang Mulia Raja ingin melihat kemajuan kesehatan Pangeran."
Elena melirik Arlon yang masih berbaring, dan mencoba mengumpulkan energi.
"Latihan panahan?" ulang Elena mendengus.
"Itu bukan latihan, tapi itu jebakan terbuka. Mereka ingin menunjukkan di depan seluruh prajurit betapa lemahnya kamu, Arlon," ucap Elena, berjalan ke arah Arlon.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Arlon duduk perlahan, mengusap wajah nya kasar.
"Berarti mereka ingin pertunjukan, mari kita beri mereka pertunjukan yang tidak akan mereka lupakan," jawab Elena, menyeringai.
Di lapangan panahan istana, Raja Alaric duduk di kursi kebesarannya, didampingi Ratu Selena yang mengenakan gaun merah menyala, tampak siap melihat penghinaan lainnya.
Pangeran Arkan sudah berdiri di sana dengan busur emasnya, memamerkan keahliannya dengan menembak tepat di tengah sasaran berkali-kali, diikuti sorak sorai para prajurit.
"Ah, ini dia pengantin baru kita!" seru Pangeran Arkan saat melihat Elena memapah Arlon masuk ke lapangan.
"Ayo Kakak, tunjukkan pada Ayahanda kalau kamu masih bisa memegang busur, atau tanganmu sudah terlalu lemah bahkan untuk mengangkat sebatang lidi?" tanya Pangeran Arkan, tersenyum mengejek.
Ejekan itu disambut tawa oleh para prajurit di sana, Raja Alaric hanya menatap datar, seolah sedang menunggu sesuatu.
"Mari kita buat taruhan, Arkan," ucap Elena, tiba-tiba memotong tawa itu.
Seluruh lapangan mendadak sunyi, saat mendengar perkataan Elena.
"Taruhan apa yang bisa ditawarkan oleh seorang gadis miskin sepertimu?" tanya Ratu Selena menyipitkan matanya.
Elena melangkah maju, dengan tangan tetap memegang lengan Pangeran Arlon, menyalurkan energi nya.
"Jika Pangeran Arlon bisa mengenai sasaran terjauh dengan satu tembakan... Lady Clarissa harus memohon maaf secara terbuka dan mencuci kaki Pangeran Arlon di depan seluruh istana," jawab Elena, menatap berani pada Ratu
Pekikan kaget terdengar dari para bangsawan yang hadir, permintaan Elena, itu adalah penghinaan luar biasa bagi seorang Lady.
"Dan jika gagal?" tantang Arkan sambil menyeringai.
"Jika gagal, Pangeran Arlon akan melepaskan haknya atas tahta secara resmi hari ini juga," jawab Elena tenang.
Arlon tersentak sedikit, dia menatap Elena dengan tatapan kamu gila ya? Tapi Elena hanya memberikan kedipan kecil yang penuh rahasia.
"Deal!" teriak Ratu Selena cepat, sebelum Raja sempat bicara.
Ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu oleh Ratu Selena, untuk menyingkirkan Arlon selamanya.
"Baiklah, segera ambil posisi, pertandingan akan segera di mulai!" perintah Raja Alaric, tegas.
Elena menuntun Arlon menuju garis tembak panahan, sasaran itu sangat jauh, hampir mustahil terkena bahkan oleh pemanah terbaik sekalipun.
Tapi Elena yang merupakan anggota pembunuh bayaran dari klan bayangan, memiliki insting yang kuat, dia percaya Pangeran Arlon, bisa menaklukkan papan panahan itu.
Pangeran Arlon itu bukan Pangeran sampah seperti yang orang-orang bicarakan, tapi pria itu adalah monster yang sedang tertidur, dan tugas Elena hanya membangun kan monster itu untuk membungkam mulut hina orang-orang yang selalu merendah kan Pangeran Arlon.
"Elena, aku bahkan tidak bisa berdiri tegak tanpa gemetar," bisik Arlon pelan saat Elena memberikan busur kayu tua kepadanya.
"Kamu tidak perlu berdiri tegak," bisik Elena tepat di telinganya, tubuhnya merapat di belakang Arlon.
Elena melingkar kan lengan nya di bawah ketiak Arlon untuk membantu mengangkat busur, seolah dia sedang membantu pria itu agar tidak jatuh.
"Dengar kan aku Pangeran, kamu cukup fokus dan percaya, bahwa kamu bisa menaklukkan papan panahan itu," bisik Elena, di telinga Arlon.
"Tapi-"
"Syuttt...lihat titik merah itu, bayangkan dia adalah musuh mu yang ingin kamu bunuh saat ini juga, ini adalah kesempatan mu Pangeran," bisik Elena, meyakinkan Pangeran Arlon.
Pangeran Arlon mengikuti apa yang Elena ucapakan, matanya yang tadi nya ragu kini terlihat berkilat tajam.
Dari kejauhan, mereka tampak seperti suami istri yang malang. Namun di balik kain baju mereka, kulit Elena dan Arlon bersentuhan secara luas, siap untuk menaklukkan papan panahan di depan sana
"Aku pasti bisa," batin Pangeran Arlon, mengepalkan tangannya kuat.
Deg.
Tiba-tiba Pangeran Arlon merasakan ledakan energi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, pupil matanya membesar, warna hitam nya berkilat tajam, dan penglihatannya mendadak menjadi sangat jernih, sasaran yang jauh itu seolah berada tepat di depan matanya.
"Tarik napas... fokus," bisik Elena.
Tangan Arlon yang tadi gemetar, mendadak menjadi stabil, pria itu dengan gerakan pelan namun pasti menarik tali busur itu dengan satu gerakan mantap, siap melepaskan satu anak panah.
Sreeettt
Seluruh lapangan menahan napas, bahkan Raja Alaric berdiri dari duduknya, matanya membelalak.
"Lepaskan," perintah Elena.
Wusshhh!
Anak panah itu meluncur tajam, membelah udara, menciptakan tekanan angin yang membuat pasir di lapangan berterbangan.
TAK
BRAK
Anak panah itu tidak hanya mengenai tengah sasaran, tapi menembusnya hingga papan panahan di depan sana hancur berkeping-keping dan tertancap dalam di dinding di belakangnya.
Hening.
Semua yang tadi sibuk menghina Pangeran Arlon seketika kehilangan kata-kata nya, bahkan untuk sekedar bernafas sekali pun.
"Bagus Pangeran," bisik Elena, tersenyum puas.
Pangeran Arlon segera melemaskan tubuhnya, kembali bersandar lemas pada Elena agar tidak mencurigakan, sementara Elena memasang wajah kaget yang dibuat-buat.
"Oh tidak... Pangeran, Anda melakukannya!" teriak Elena dengan nada yang sangat nyaring.
Semua orang langsung tersadar saat mendengar teriakan dari Elena.
Brak
Sementara Pangeran Arkan, dia menjatuhkan busur emasnya ke tanah.
Ratu Selena berdiri dengan wajah pucat pasi, sementara Raja Alaric menatap Arlon dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa penasaran yang mendalam, dan mungkin, sedikit rasa bangga.
"Sepertinya, Lady Clarissa punya tugas baru untuk mencuci kaki siang ini," ucap Elena menoleh ke arah Ratu Selena dengan senyum miringnya yang paling menyebalkan.
Suasana di lapangan panahan mendadak sunyi, para bangsawan yang tadinya sibuk tertawa kini saling lirik dengan wajah tegang.
Pangeran Arkan mengepalkan tangannya kuat, sampai kuku jarinya memutih, sementara Ratu Selena tampak seperti baru saja menelan duri.
"Ini tidak mungkin! Pasti ada sihir hitam!" teriak Arkan sambil menunjuk ke arah sasaran yang hancur.
"Ayahanda, pria lemah seperti dia tidak mungkin punya kekuatan sebesar itu! Pasti dia menggunakan sihir hitam!" teriak Pangeran Arkan, dengan wajah memerah.
Raja Alaric tidak menjawab, dia berjalan perlahan menuju sasaran yang hancur, menyentuh kayu yang terbelah dan menatap anak panah yang tertancap dalam di dinding.
"Sempurna," batin Raja Alaric, tanpa sadar berdecak kagum.
Raja Alaric berbalik, menatap Pangeran Arlon yang masih tampak lemas di pelukan Elena.