NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Ancaman yang Mulai Mendekat

Dua hari setelah acara keluarga di villa, kehidupan di mansion Dimitri kembali berjalan seperti biasa.

Alexander kembali disibukkan oleh pekerjaannya.

Sementara Rubi menghabiskan waktunya dengan membaca, berjalan-jalan di taman, dan mengikuti pemeriksaan kehamilan rutin.

Meski semuanya terlihat normal, Rubi mulai menyadari satu hal.

Keamanan di sekitar mansion semakin ketat.

Awalnya ia mengira hanya perasaannya saja.

Namun setelah melihat jumlah pengawal yang bertambah hampir dua kali lipat, ia yakin ada sesuatu yang sedang terjadi.

Pagi itu Rubi sedang duduk di gazebo taman belakang sambil menikmati teh hangat.

Cuaca cukup cerah.

Bunga-bunga yang ditanam di taman sedang bermekaran dengan indah.

Namun fokus Rubi tidak berada di sana.

Tatapannya justru tertuju pada dua pengawal yang berdiri tidak jauh darinya.

Biasanya hanya satu orang.

Sekarang menjadi dua.

Bahkan saat ia berjalan ke perpustakaan atau ruang makan, selalu ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan.

"Aneh sekali."

gumamnya.

"Nyonya muda mengatakan sesuatu?"

tanya salah satu pelayan.

Rubi menggeleng.

"Tidak."

Meski begitu rasa penasaran di dalam dirinya semakin besar.

Siang harinya.

Alexander pulang lebih cepat dari biasanya.

Saat memasuki ruang makan, Rubi langsung menyadari sesuatu.

Wajah pria itu terlihat lelah.

Bukan lelah karena kurang tidur.

Melainkan seperti seseorang yang sedang menghadapi masalah besar.

"Kamu baik-baik saja?"

tanya Rubi saat mereka makan siang bersama.

Alexander mengangkat kepala.

"Aku baik."

"Kamu terlihat tidak baik."

Pria itu terdiam beberapa saat.

Lalu kembali memotong makanannya.

"Masalah pekerjaan."

jawabnya singkat.

Biasanya Rubi akan berhenti bertanya.

Namun kali ini tidak.

Karena beberapa hari terakhir instingnya terus mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan.

"Apakah ada hubungannya dengan keamanan yang diperketat?"

Pisau di tangan Alexander berhenti bergerak.

Hanya sesaat.

Tetapi Rubi melihatnya.

Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.

"Alexander."

panggilnya pelan.

Pria itu menatapnya.

Tatapan abu-abunya terlihat lebih serius dari biasanya.

"Ada beberapa masalah yang sedang kutangani."

"Masalah seperti apa?"

Alexander tidak langsung menjawab.

Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Kemudian akhirnya berkata,

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir."

Jawaban itu justru membuat Rubi semakin khawatir.

Karena kalau sampai Alexander Dimitri merasa perlu menyembunyikannya, berarti masalah tersebut tidak sederhana.

Malam harinya.

Rubi tidak bisa tidur.

Entah kenapa perasaannya tidak tenang.

Ia berdiri di balkon kamar sambil memandang taman yang diterangi lampu-lampu kecil.

Udara malam terasa sejuk.

Namun pikirannya tetap gelisah.

Saat itulah suara pintu balkon terbuka terdengar.

Alexander keluar sambil membawa dua cangkir minuman hangat.

"Kau belum tidur."

ucapnya.

"Kamu juga."

balas Rubi.

Alexander menyerahkan salah satu cangkir.

Rubi menerimanya sambil tersenyum.

"Terima kasih."

Mereka berdiri berdampingan.

Menikmati suasana malam yang tenang.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Sampai akhirnya Rubi memberanikan diri.

"Kalau ada masalah, kamu bisa cerita."

Alexander menoleh.

"Aku tidak ingin melibatkanmu."

"Aku istrimu."

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan membuat keduanya sama-sama terdiam.

Rubi sendiri langsung menyadari apa yang baru saja ia katakan.

Biasanya ia selalu menjaga jarak dengan status tersebut.

Namun sekarang...

Kalimat itu terasa begitu alami.

Sementara Alexander memandangnya cukup lama.

Lalu berkata pelan,

"Aku tahu."

Entah kenapa jawaban sederhana itu membuat wajah Rubi memanas.

Di tempat lain.

Jauh dari mansion Dimitri.

Sebuah ruangan gelap dipenuhi asap rokok.

Beberapa pria duduk mengelilingi meja besar.

Di ujung meja, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun sedang memperhatikan beberapa foto.

Salah satunya adalah foto Rubi.

Pria itu tersenyum tipis.

"Jadi ini wanita yang membuat Alexander berubah."

Salah satu bawahannya mengangguk.

"Informasi kita mengatakan begitu."

"Menarik."

Pria itu menyandarkan tubuhnya.

Namanya Viktor Romanov.

Salah satu musuh lama keluarga Dimitri.

Pria yang sudah bertahun-tahun berusaha menjatuhkan Alexander namun selalu gagal.

Karena Alexander hampir tidak memiliki kelemahan.

Hampir.

Sampai sekarang.

"Kalau begitu kita tidak perlu menyerangnya secara langsung."

Senyum dingin muncul di wajah Viktor.

"Cukup sentuh sesuatu yang berharga baginya."

Keesokan harinya.

Rubi memutuskan berjalan-jalan di taman depan mansion.

Dokter mengatakan ia perlu lebih sering bergerak agar tubuhnya tetap sehat selama kehamilan.

Awalnya semua berjalan biasa saja.

Ia ditemani dua pengawal dan seorang pelayan.

Namun saat sedang berjalan di dekat gerbang utama, sesuatu menarik perhatiannya.

Seorang anak kecil berdiri di luar pagar.

Usianya mungkin sekitar tujuh tahun.

Pakaiannya sederhana.

Dan wajahnya terlihat kebingungan.

Rubi langsung menghampiri.

"Ada apa?"

Anak itu tampak gugup.

Namun kemudian menyerahkan sebuah bunga kecil.

"Untuk Kakak."

Rubi terkejut.

"Untuk saya?"

Anak itu mengangguk cepat.

"Seseorang menyuruhku memberikannya."

"Seseorang?"

Anak itu menunjuk ke arah jalan.

Namun saat semua orang menoleh, tidak ada siapa pun di sana.

Rubi menerima bunga tersebut.

"Terima kasih."

Anak itu langsung berlari pergi.

Meninggalkan Rubi yang masih kebingungan.

Pengawal yang melihat kejadian itu segera mengambil bunga tersebut.

"Nyonya muda."

"Ada apa?"

"Kami akan memeriksanya."

Rubi semakin bingung.

"Itu hanya bunga."

Namun ekspresi pengawal berubah serius.

Dan untuk pertama kalinya Rubi merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Sore harinya.

Alexander baru saja pulang ketika salah satu pengawal menghampirinya.

Pria itu langsung memberikan laporan.

Wajah Alexander berubah dingin setelah mendengarnya.

"Sebuah bunga?"

"Iya, Tuan."

"Dari orang tak dikenal."

"Benar."

Rahang Alexander mengeras.

"Apa hasil pemeriksaannya?"

"Tidak ada benda berbahaya."

Meski begitu ekspresi Alexander tidak membaik.

Justru semakin buruk.

Karena ia tahu.

Ini bukan soal bunga.

Ini soal pesan.

Seseorang sedang mengawasi mereka.

Seseorang yang sengaja menunjukkan bahwa ia bisa mendekati Rubi kapan saja.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Malam itu.

Alexander masuk ke kamar lebih awal dari biasanya.

Rubi yang sedang membaca buku langsung menoleh.

"Kamu pulang cepat."

"Hm."

Alexander duduk di sampingnya.

Lalu tanpa peringatan mengambil tangan Rubi.

Membuat wanita itu terkejut.

"A-Alexander?"

Pria itu memeriksa tangannya.

Kemudian wajahnya.

Lalu perutnya.

Seolah memastikan semuanya baik-baik saja.

Rubi menatapnya bingung.

"Ada apa?"

Alexander terdiam beberapa saat.

Kemudian berkata pelan,

"Mulai besok, jangan keluar sendirian."

Rubi mengernyit.

"Kenapa?"

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Rubi melihat sesuatu yang jarang muncul di mata Alexander.

Ketakutan.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Melainkan untuk Rubi.

"Aku hanya ingin memastikan kau aman."

ucapnya pelan.

Dan entah kenapa, kalimat itu membuat jantung Rubi berdetak lebih cepat.

Karena untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal.

Alexander benar-benar takut kehilangan dirinya.

Sementara di luar mansion, seseorang sedang memperhatikan bangunan megah itu dari kejauhan.

Menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.

Dan tanpa disadari siapa pun, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!