Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: LANGKAH SENYAP DAN AIR MATA PENAWAR
Batas Desa Shrouded tampak seperti gerbang menuju wilayah mati. Rumah-rumah kayu beratap jerami berjejer sepi, dengan seluruh jendela dan pintu yang tertutup rapat serta dipasang pasak besi dari dalam. Penduduk desa masih terlalu takut untuk keluar, mengira kabut beracun semalam masih berkeliaran di jalanan tanah yang becek. Situasi sepi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Dion dan Mayang yang berjalan mengendap-endap di balik bayangan pepohonan pinus.
Dion menggenggam jemari tangan Mayang dengan sangat erat, menyalurkan kehangatan yang konstan. Mata abu-abu badainya terus bergerak waspada, membaca setiap sudut pergerakan angin. Sebagai seorang pemburu yang terbiasa hidup di alam liar, menyelinap ke wilayah musuh bukanlah hal yang sulit baginya. Namun kali ini berbeda; ada nyawa wanita yang dicintainya dan ibu wanita itu yang sedang dipertaruhkan.
"Rumahku ada di ujung jalan setapak itu, Dion. Yang atapnya sedikit miring," bisik Mayang dengan nada suara yang sangat rendah, hampir tenggelam oleh deru angin pagi.
Dion mengangguk pelan. "Tetap di dekatku. Jika ada patroli pengawal desa, langsung merunduk di balik semak."
Mereka bergerak bagai dua bayangan senyap menembus sisa-sisa kabut pagi yang melayang rendah. Beruntung, karena posisinya yang berada di pinggiran klan, rumah Mayang agak terisolasi dari pusat keramaian desa. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Dion berhasil mencongkel selot jendela belakang rumah Mayang menggunakan ujung belati kunonya. Ia melompat masuk terlebih dahulu dengan tangkas, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Mayang naik.
Begitu kaki Mayang menginjak lantai kayu rumahnya sendiri, hidungnya langsung disambut oleh bau apak dan hawa dingin yang ganjil. Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Ia segera berlari kecil menuju sebuah kamar kecil di sudut ruangan, tempat sebuah ranjang sederhana berada.
Di atas ranjang itu, seorang wanita paruh baya terbaring dengan tubuh yang sangat kurus. Wajahnya yang semula mirip dengan Mayang kini tampak pucat pasi, keabu-abuan di bagian pelipisnya akibat efek racun kabut. Napasnya terdengar sangat pendek, berat, dan berbunyi tersendat-sendat seolah dadanya sedang dihimpit oleh sebongkah batu es yang besar.
"Ibu..." Mayang berlutut di sisi ranjang, air matanya menetes tanpa bisa dibendung lagi melihat kondisi ibunya yang kian kritis dibandingkan saat ia tinggalkan semalam. Ia menggenggam tangan ibunya yang terasa sedingin es.
Dion menyusul masuk ke dalam kamar, lalu berdiri di samping Mayang. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu Mayang, memberikan kekuatan emosional. "Waktu kita tidak banyak, Mayang. Racun kabut hitam di dalam tubuhnya sudah hampir mencapai jantung. Cepat gerus bunga Lunaria itu."
Mayang dengan cekatan mengambil mangkuk batu kecil dan penumbuk dari dapur. Ia mengeluarkan tiga kuntum bunga Lunaria yang kelaparnya masih memancarkan pendaran cahaya keperakan redup di dalam kegelapan kamar. Dengan tangan yang gemetar namun penuh kehati-hatian, Mayang menumbuk bunga-bunga itu hingga hancur, mengeluarkan cairan kental berwarna perak murni yang beraroma sangat segar seperti embun pegunungan.
"Bagaimana cara meminumkannya? Ibu sudah tidak bisa menelan dalam kondisi pingsan seperti ini," tanya Mayang dengan kepanikan yang mulai merayap di suaranya.
Dion mendekat, lalu berlutut di samping Mayang. "Gunakan kekuatan cahayamu yang semalam, Mayang. Salurkan cairan herbal ini melalui energi murnimu secara langsung ke dalam aliran darahnya. Letakkan telapak tanganmu di atas dadanya."
Mayang menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jiwanya yang bergejolak. Ia menuangkan cairan perak Lunaria itu ke telapak tangannya sendiri. Kemudian, dengan mata yang terpejam penuh konsentrasi, ia menempelkan kedua telapak tangannya yang basah ke atas dada ibunya.
Mayang membayangkan kehangatan malam yang ia lalui bersama Dion, membayangkan rasa cinta dan hasrat hidup yang membara di dalam dirinya. Perlahan tapi pasti, dari sela-sela jarinya yang lentik, pendaran cahaya keemasan yang murni kembali muncul. Cahaya itu membungkus cairan Lunaria, lalu meresap masuk menembus kulit dan pakaian sang ibu.
Dion memperhatikan proses itu dengan takjub. Di bawah pengaruh cahaya keemasan Mayang, urat-urat hitam keabu-abuan yang semula menonjol di leher dan wajah ibunya perlahan-lahan mulai memudar. Warna kulit wanita paruh baya itu kembali memerah, memancarkan tanda-tanda kehidupan yang sehat. Hawa dingin ekstrem yang tadinya menyelimuti ranjang tersebut berangsur-angsur digantikan oleh kehangatan yang nyaman.
"Uhukk... Uhukk..."
Ibu Mayang mendadak terbatuk kecil, mengeluarkan sisa-sisa uap hitam beracun dari mulutnya yang langsung lenyap disapu cahaya Mayang. Sepasang mata wanita tua itu perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan bingung sebelum akhirnya beralih ke wajah putrinya.
"Mayang...?" suara ibunya terdengar sangat lemah, namun sudah jauh lebih bersih dari sebelumnya. "Ibu... di mana ini? Rasanya dada Ibu sangat lapang..."
"Ibu! Kau sudah sembuh!" Mayang langsung menghambur, memeluk tubuh ibunya dengan tangis bahagia yang pecah seketika. Segala kelelahan, ketakutan, dan rintangan maut yang ia hadapi di balik kabut semalam rasanya terbayar lunas dalam pelukan itu.
Dion yang berdiri di dekat pintu kamar mengulum senyum tipis yang hangat. Ada rasa lega dan bangga yang membuncah di dadanya melihat keberhasilan wanita yang kini telah menjadi bagian dari belahan jiwanya tersebut.
Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Insting tajam Dion mendadak menangkap suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah luar rumah, disusul oleh suara gemerincing senjata besi yang beradu.
Dion segera membalikkan tubuhnya ke arah jendela, matanya menyipit tajam menembus celah gorden. Di luar sana, beberapa obor tampak menyala terang meskipun hari sudah pagi, dibawa oleh sekelompok pengawal desa yang dipimpin langsung oleh seorang pria tua berjubah abu-abu dengan tongkat kayu berkepala tengkorak di tangannya. Itu adalah Tetua Gidion, pemimpin tertinggi desa yang licik.
"Sial, mereka tahu kita di sini," desis Dion dengan nada suara yang kembali berubah menjadi dingin dan berbahaya. Ia langsung mencengkeram hulu belati kunonya, bersiap menghadapi badai yang akan segera datang.