NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guncangan di Dewan Direksi

​Suasana di dalam ruang rapat utama lantai lima puluh Menara Neovault terasa sangat mencekam. Aroma kayu cendana dan pengharum ruangan mahal tidak mampu menutupi bau keringat dingin yang menguap dari para petinggi perusahaan. Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit hanya menambah kontras pada wajah-wajah tegang di sekitar meja oval.

​Arlan Valeska duduk di ujung meja dengan rahang yang mengeras, berusaha mempertahankan postur tubuhnya yang angkuh. Di hadapannya, beberapa pemegang saham mayoritas menatapnya dengan pandangan yang tidak lagi berisi pemujaan, melainkan kecurigaan. Tumpukan dokumen laporan keuangan terbaru yang menunjukkan grafik penurunan tajam tersebar di hadapan mereka semua.

​"Tuan Arlan, kami membutuhkan penjelasan yang logis mengenai penurunan nilai aset yang terjadi secara beruntun ini," ujar salah satu direktur tua.

​Pria tua itu mengetukkan jarinya ke atas meja kayu mahoni yang dipoles mengilap, menciptakan bunyi ketukan yang memekakkan telinga. "Sabotase logistik kemarin hanyalah satu hal, tapi hilangnya dana cadangan operasional secara misterius adalah masalah yang jauh lebih serius."

​Arlan berdehem, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu liar di balik kemeja sutranya yang licin. "Semua ini sedang dalam tahap investigasi internal yang sangat ketat, Tuan-Tuan sekalian. Saya pastikan ini hanyalah gangguan kecil."

​"Gangguan kecil tidak menyebabkan harga saham kita anjlok hingga lima belas persen dalam satu pekan, Arlan!" sahut pemegang saham lainnya.

​Pria itu berdiri, melemparkan sebuah tablet digital yang menampilkan grafik merah menyala ke arah tengah meja rapat yang sunyi. "Ada pergerakan spekulasi di pasar yang sangat terorganisir, dan kepemimpinan Anda mulai dipertanyakan oleh publik. Mereka menyebut Neovault sedang kehilangan kendali."

​Arlan mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan tekanan yang belum pernah ia alami sepanjang karier bisnisnya yang licin. Ia teringat pada Elena yang menghabiskan dana perusahaan untuk investasi properti bodoh yang sekarang tidak bisa dilacak keberadaannya. Namun, ia tidak mungkin mengakui kecerobohan istrinya di hadapan dewan direksi yang haus darah ini.

​"Saya memiliki strategi untuk memulihkan likuiditas dalam waktu singkat, berikan saya waktu hingga akhir bulan ini," tegas Arlan.

​Seorang wanita paruh baya di ujung meja yang selama ini menjadi sekutu Arlan kini hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi kecewa. "Investor butuh kepastian sekarang, bukan janji di akhir bulan, Arlan. Ketidakjelasan ini membuat pasar semakin panik dan liar."

​Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya dari monitor-monitor besar, V mengamati jalannya rapat tersebut melalui kamera tersembunyi. Ia duduk bersandar dengan sebuah senyum dingin yang tidak pernah luntur dari bibirnya yang kini tampak lebih simetris. Bau kopi pahit yang pekat mengisi ruangan persembunyiannya di pinggiran distrik Rust.

​"Lihat bagaimana sang raja mulai kehilangan takhtanya karena ulah permaisurinya sendiri, Paman," bisik V kepada nelayan tua di belakangnya.

​Nelayan tua itu hanya diam, memperhatikan bagaimana Arlan di layar tampak semakin terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan tajam para direksi. "Keserakahan memang senjata yang paling mudah untuk memicu kehancuran dari dalam, V. Arlan tidak punya pilihan selain berbohong."

​V menyesap kopinya, merasakan sensasi panas yang membakar lidahnya sebagai pengingat akan rencana besar yang harus terus berjalan. "Dan setiap kebohongan yang dia ucapkan di ruangan itu akan menjadi paku tambahan bagi peti mati reputasi bisnisnya sendiri."

​Kembali ke ruang rapat, ketegangan meningkat saat salah satu anggota dewan menyinggung soal transparansi penggunaan dana darurat perusahaan. "Ada penarikan dana besar-besaran yang tercatat sebagai biaya promosi luar negeri, tapi tidak ada satu pun kampanye yang berjalan."

​Arlan merasa tenggorokannya mendadak sangat kering, ia bisa merasakan tatapan tajam yang seolah menelanjangi semua kebusukan yang ia sembunyikan. "Itu adalah proyek rahasia untuk akuisisi lahan di pesisir utara, semua prosedur telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada."

​"Lalu di mana dokumen legalitasnya? Mengapa departemen hukum kita tidak menerima salinan kontrak apa pun?" cecar sang direktur tua tadi.

​Arlan menarik napas panjang, berusaha mencari alasan yang cukup kuat untuk membungkam kecurigaan yang semakin membesar di ruangan itu. "Dokumen-dokumen itu masih berada di tangan notaris pihak penjual. Saya akan menunjukkannya segera setelah proses administrasi selesai."

​"Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Arlan. Dewan akan melakukan audit independen mulai besok pagi untuk memeriksa segalanya," cetus wanita paruh baya itu.

​Mendengar kata audit independen, Arlan merasa seolah-olah lantai di bawah kakinya tiba-tiba runtuh dan menyeretnya ke dalam jurang. Audit itu akan membongkar bahwa uang jutaan dolar tersebut menguap begitu saja ke rekening-rekening anonim tanpa ada aset nyata yang didapat. Wajah Elena yang tersenyum saat meminta izin menggunakan dana itu kembali muncul dalam benak Arlan sebagai mimpi buruk.

​"Audit sekarang hanya akan membuat pasar semakin curiga bahwa ada sesuatu yang salah di dalam tubuh Neovault," bantah Arlan cepat.

​Ia berusaha berdiri tegak, mencoba memancarkan sisa-sisa wibawa yang masih ia miliki untuk menekan dewan direksi agar tidak bertindak gegabah. "Jika kita membiarkan pihak luar masuk sekarang, harga saham kita tidak akan pernah bisa kembali ke posisi semula."

​"Harga saham tidak akan kembali jika kepemimpinan Anda terbukti cacat karena adanya penyalahgunaan kekuasaan, Arlan!" teriak pemegang saham mayoritas.

​Ruangan itu mendadak menjadi gaduh oleh suara perdebatan yang saling tumpang tindih, menghancurkan protokol kesopanan yang biasanya dijaga. Arlan hanya bisa berdiri diam, sementara keringat mulai membasahi dahi dan punggungnya meskipun suhu ruangan sangat dingin. Ia menyadari bahwa kekuasaannya yang absolut selama ini mulai retak karena serangan-serangan yang tidak ia duga.

​V melihat keributan di layar monitornya dengan kepuasan yang nyaris murni, seolah-olah ia sedang menonton pertunjukan teater yang sempurna. "Kehancuran itu harus datang dari keraguan mereka sendiri, Paman. Aku hanya perlu memberikan dorongan kecil pada momentum yang tepat."

​"Apa langkahmu selanjutnya? Arlan pasti akan mencari kambing hitam untuk menyelamatkan posisinya," tanya nelayan tua itu sambil mendekat.

​V mematikan salah satu layar yang menampilkan wajah Arlan yang sedang frustrasi, lalu ia berdiri dengan gerakan yang anggun namun mengancam. "Biarkan dia mencari kambing hitam. Aku akan memastikan bahwa setiap jejak yang dia cari justru akan menuntunnya pada kehancuran yang lebih dalam."

​V melangkah menuju jendela kecil di tempat persembunyiannya, menatap ke arah Menara Neovault yang menjulang tinggi di kejauhan pusat kota. "Dewan direksi itu sudah mencium bau darah. Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan kepala seseorang untuk memenangkan hati pasar kembali."

​Di dalam ruang rapat, Arlan akhirnya berhasil menenangkan suasana meskipun wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari biasanya. "Saya mengerti kekhawatiran Anda semua. Saya akan membereskan masalah likuiditas ini secara pribadi dalam waktu empat puluh delapan jam."

​"Empat puluh delapan jam, Arlan. Jika tidak ada bukti nyata, kami akan mengajukan mosi tidak percaya pada rapat dewan selanjutnya," ujar direktur tua itu tegas.

​Satu per satu anggota dewan meninggalkan ruangan dengan langkah berat dan wajah yang sangat masam, meninggalkan Arlan sendirian di sana. Arlan melepaskan dasinya yang terasa mencekik lehernya, lalu ia meninju permukaan meja rapat yang keras hingga tangannya terasa nyeri. Bau kegagalan mulai tercium di sekelilingnya, menodai kemewahan yang selama ini ia puja sebagai simbol kesuksesannya.

​"Elena ... apa yang sebenarnya kau lakukan dengan uang itu?" geram Arlan dengan suara yang bergetar karena amarah yang tertahan.

​Ia segera merogoh ponselnya dan menghubungi Elena, namun tidak ada jawaban dari seberang sana, menambah tingkat frustrasi yang ia rasakan. Arlan tidak menyadari bahwa di balik cermin ruang rapat yang terlihat biasa saja, ada mata yang terus mengawasi setiap pergerakannya. Guncangan di dewan direksi ini hanyalah permulaan dari badai yang akan menyapu bersih seluruh warisan Valeska.

​"Paman, bersiaplah untuk skenario panggilan virtual. Arlan akan sangat membutuhkan penyelamat dalam kondisi mental seperti ini," perintah V.

​Nelayan tua itu mengangguk, ia segera menyiapkan peralatan komunikasi terenkripsi yang akan digunakan V untuk berbicara dengan Arlan nanti. "Suaramu sudah siap? Ingat, dia tidak boleh mengenali siapa kau di balik suara dingin itu."

​V tersenyum tipis, sebuah seringai yang memancarkan kedinginan yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. "Asha sudah mati, Paman. Yang akan dia dengar adalah suara kematiannya sendiri yang datang untuk menagih janji pengkhianatan."

​V melatih suaranya sejenak, menurunkan nadanya hingga mencapai frekuensi yang rendah dan sangat berwibawa, menghilangkan segala getaran ketakutan. Ia telah menjadi predator yang sempurna, yang tahu persis kapan harus menyerang mangsanya yang sedang terluka dan terpojok. Ruang rapat Neovault yang tadinya angkuh kini hanyalah panggung bagi sandiwara kehancuran yang telah V susun dengan rapi.

​"Arlan tidak akan pernah menyangka bahwa musuh terbesarnya adalah bayangan yang dia ciptakan sendiri di sungai Rust," gumam V pelan.

​Ia menutup semua sistem pemantauan dan bersiap untuk pergi, meninggalkan apartemen persembunyiannya demi langkah besar yang akan datang. Guncangan di dewan direksi hari ini telah memberikan celah yang sempurna bagi V untuk masuk sebagai sosok "penyelamat" misterius. Setiap langkah strategis yang ia ambil kini semakin dekat menuju jantung kekuasaan Arlan yang mulai goyah.

​"Nikmatilah empat puluh delapan jam terakhirmu sebagai penguasa yang tenang, Arlan," bisik V saat ia melangkah keluar menuju kegelapan.

​Malam kembali turun menyelimuti Neovault Metropolis, membawa serta ketidakpastian yang akan menghantui setiap anggota dewan direksi yang hadir tadi. Di puncak menara, lampu ruang rapat masih menyala, menunjukkan sosok Arlan yang masih terjebak dalam pusaran masalah yang ia ciptakan sendiri. Kehancuran itu nyata, dan ia mulai merasakannya merayap masuk melalui setiap celah pintu ruangannya yang tertutup rapat.

1
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!