NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Namun, tepat saat kain lurik itu tersingkap, suasana mendadak pecah oleh sebuah lengkingan yang mencuat dari jantung hutan. Suara itu begitu dahsyat, menggema dengan getaran yang sanggup menggetarkan tulang beluk, bagaikan deru ribuan gajah yang tengah mengamuk di bawah langit mendung.

​Ki Lurah Arjapati seketika jatuh terduduk; wajahnya memucat seputih kertas, dan seluruh bulu romanya berdiri tegak. Baginya, itu bukan sekadar suara binatang—itu adalah suara kematian yang memanggil.

​Bahkan Rangga Jayantaka pun tersentak. Meski ketahanan batinnya telah ditempa oleh ratusan medan laga dan berbagai ilmu hitam, ada setitik gentar yang merayap dingin di dalam dadanya. Suasana berubah menjadi sangat berat, seolah udara di kaki Bukit Wengker mendadak membeku.

​Namun, di tengah kengerian itu, Gandraka justru memberikan reaksi yang ganjil. Ia tidak takut; ia malah menyunggingkan senyum tipis yang penuh teka-teki.

​“Suara apa itu?!” tanya Jayantaka dengan nada yang tak lagi sepenuhnya stabil.

​Gandraka perlahan mengalihkan pandangannya ke arah kaki bukit yang rimbun oleh pepohonan raksasa, tempat suara itu berasal. “Mereka yang tak rela,” ucap Gandraka lirih.

​Jayantaka mengerutkan kening. Sedari tadi ia memperhatikan anak itu hanya diam merunduk, namun sekalinya ia bicara, kata-katanya terasa seperti belati yang menusuk kesadaran. Rasa penasaran sang Senopati memuncak.

​“Apa maksudmu, Bocah?”

​“Mereka yang tak rela disaingi,” balas Gandraka, kali ini menatap langsung ke bola mata Jayantaka sambil tersenyum lebar—senyum yang tampak terlalu tua untuk wajah sekecil itu.

​“Bocah... kau!”

​Jayantaka melangkah maju hendak menghampiri Gandraka, berniat menuntut penjelasan lebih jauh. Namun, baru saja satu langkah kakinya berpijak, dunianya mendadak berputar. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada bongkahan batu kali raksasa yang mendadak menekan ubun-ubunnya.

​Keringat dingin bercucuran deras dari pelipis sang Rangga. Jantungnya berdegup kencang, dan dalam sekejap mata, seluruh riwayat hidupnya—setiap dosa, setiap darah yang ia tumpahkan, hingga kenangan paling kelam yang ia simpan di sudut jiwa yang paling gelap—mendadak terputar kembali seperti bayangan yang nyata.

​Jayantaka terengah. Ia merasa lumpuh, seolah tatapan mata Gandraka telah menelanjangi seluruh keberadaannya, menguliti rahasia hidupnya hingga tak ada lagi yang tersisa. Di depan anak itu, sang Senopati agung Trowulan merasa tak lebih dari sebutir debu yang rapuh.

​Jayantaka segera memejamkan mata, mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh energi batinnya pada titik pusat kesadaran untuk menghalau serangan mental yang baru saja menghimpitnya. Perlahan, debar jantungnya melambat dan badai di dalam kepalanya mulai mereda. Ia berhasil merebut kembali kendali atas dirinya sendiri.

​Namun, pengalaman singkat yang mengerikan itu meninggalkan bekas yang nyata. Keringat dingin masih membasahi tengkuknya, dan sebuah kesadaran pahit kini menghunjam benaknya: tugas di Bukit Wengker ini jauh lebih berat—dan lebih gelap—daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

​Ia membuka mata, menatap Gandraka dengan pandangan yang kini penuh dengan rasa hormat sekaligus waspada yang amat dalam.

​"Hebat," desis Jayantaka pelan, sebuah pengakuan jujur yang jarang keluar dari mulutnya.

​Ia kemudian berbalik, menatap kedua prajuritnya yang masih terpaku menunggu perintah.

​"Prajurit, kurasa cukup untuk hari ini. Mari kita pergi," ucapnya dengan nada dingin yang kembali stabil.

​Jayantaka melangkah meninggalkan pendapa tanpa menoleh lagi. Ia tahu, pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia membutuhkan lebih dari sekadar pedang untuk menghadapi keluarga yang tinggal di kaki Bukit Wengker ini. Di belakangnya, keheningan hutan kembali turun, membawa serta rahasia-rahasia yang kini terasa semakin menyesakkan.

Ki Lurah Arjapati, yang sedari tadi hanya bisa mematung tanpa mengerti arus ketegangan batin yang baru saja terjadi, bergegas berdiri. Dengan langkah gontai dan sisa-sisa rasa ngeri yang masih membekas, ia mengikuti Rangga Jayantaka dari belakang, meninggalkan halaman rumah itu tanpa berani menoleh lagi.

​Setelah rombongan prajurit itu hilang ditelan rimbunnya hutan, Nyai Lodra menoleh ke arah anaknya dengan napas yang masih memburu.

​“Apa yang telah kau lakukan, Gandraka?” tanya Nyai Lodra. Suaranya bergetar, antara cemas dan tidak percaya melihat bagaimana seorang Senopati agung bisa dibuat bertekuk lutut hanya dalam satu tatapan.

​Gandraka tidak langsung menoleh. Ia menatap ujung jalan tempat Jayantaka menghilang, lalu menjawab dengan nada yang begitu tenang, seolah tidak baru saja melakukan sesuatu yang mengerikan.

​“Ibu jangan menyalahkanku. Aku justru ingin menyelamatkan Senopati itu,” balas Gandraka pendek.

​Nyai Lodra hanya terdiam, memandangi anaknya dengan tatapan kosong. Untuk sesaat, ia merasa tidak sedang bicara dengan anak kandungnya, melainkan dengan sebuah entitas purba yang meminjam raga bocah sepuluh tahun. Namun, rintihan pelan Bagaskara segera menyentakkannya kembali ke realitas. Ia tersadar, lalu dengan sigap memapah suaminya masuk ke dalam rumah untuk segera membersihkan luka yang menganga di bahu pria itu.

​Sementara itu, di pendapa yang kembali sunyi, Gandraka seolah tak terpengaruh oleh drama yang baru saja terjadi. Ia kembali berjongkok, jemarinya meraih ranting pohon yang sempat tergeletak, dan mulai asyik menggambar kembali pola-pola aneh di atas tanah.

​Matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan Gandraka di tanah, menutupi lambang-lambang mistis yang ia guratkan seolah sedang menyusun rencana yang jauh lebih besar dari sekadar persembunyian keluarganya.

1
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
saniscara patriawuha.
gasssss polllll
saniscara patriawuha.
🫰🫰🫰🫰🫰
saniscara patriawuha.
gasssdd...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!