Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Selena merasa tenggorokannya kering, jadi karena ia tumbuh besar di dunia manusia, jauh dari peperangan dan politik kaum serigala, ia tetap "murni" di mata artefak kuno tersebut.
Riven yang sedari tadi mendengarkan, tertunduk lesu. "Dia benar, Selena. Aku melihat sendiri saat salah satu tetua Dewan mencoba menyentuh kotak penyimpanannya. Dia bukan hanya kehilangan tangannya, tapi jiwanya seolah terhisap habis hanya garis keturunan yang belum terikat sumpah pada Dewan yang bisa selamat."
Selena menatap tangannya sendiri yang gemetar. Ia merasa seperti sebuah pion berharga dalam papan catur yang bahkan tidak ia pahami peraturannya.
"Lalu apa yang terjadi jika aku menolak?" tantang Selena.
Lucian mengangkat bahu dengan santai, namun matanya berkilat mengancam ke arah sel-sel di belakang mereka.
"Maka Riven dan teman-temannya di sini akan kembali menjadi eksperimen Dewan. Dan kamu? Kamu akan tetap menjadi tawanan tercantikku sampai kamu menyadari bahwa di dunia ini tidak ada tempat bagi mereka yang tidak memilih pihak. Sekarang katakan padaku, apakah bukti ini cukup untuk membuatmu berjalan bersamaku?"
"Berjalan bersamamu?" Selena mengulang kata-kata itu dengan nada getir. "Kamu bicara seolah-olah aku punya pilihan, Lucian. Kamu memberiku "pemandu" untuk mencari senjata yang hanya bisa disentuh olehku, lalu mengancam nyawa kaumku jika aku menolak. Itu bukan kesepakatan. Itu pemerasan."
Lucian melangkah maju dan memangkas jarak di antara mereka hingga Selena bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari pria itu.
"Dunia tidak memberikan pilihan cuma-cuma bagi orang seperti kita, Selena. Kamu bisa menyebutnya pemerasan, tapi aku menyebutnya perlindungan. Di luar sana, Dewan tidak akan bertanya siapa namamu sebelum mereka menghujamkan perak ke jantungmu."
Selena terdiam dan merasakan kebenaran pahit dalam ucapan itu. Ia melirik Riven yang berdiri di ambang pintu, menunggunya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baiklah," ucap Selena akhirnya, suaranya lebih tajam dari sebelumnya. "Aku akan pergi mencari senjata itu bukan untukmu, dan bukan untuk membangun tatanan baru gilamu. Aku melakukannya karena mereka ...." Ia menunjuk ke arah sel-sel yang masih terkunci, "Tidak pantas mati di tempat lembap ini hanya karena ambisi kalian."
Lucian menyeringai puas seolah jawaban itu sudah ia prediksi sejak awal. "Tujuan kita berbeda, tapi jalan yang kita tempuh sama. Itu sudah lebih dari cukup bagiku."
"Satu hal lagi," sela Selena sebelum ia melangkah pergi mengikuti Riven. "Jika aku menemukan senjata itu dan aku tahu kamu mengkhianati janji ini aku akan memastikan bahwa orang pertama yang merasakan kekuatan Breaker adalah kamu."
Lucian tidak tampak tersinggung, ia justru membungkuk hormat dengan gaya teatrikal yang memuakkan.
"Aku tidak sabar melihatmu memegang kekuatan itu, Selena. Pergilah! Takdirmu tidak akan menunggu lebih lama lagi."
Selena membalikkan badannya, enggan menatap senyum kemenangan Lucian lebih lama lagi. Ia melangkah mendekati Riven yang masih berdiri kaku di ambang pintu besar yang menuju lorong bawah tanah. Langkah Selena terasa berat seolah setiap inci lantai batu yang ia pijak mencoba menahannya untuk tetap tinggal dalam ketidakpastian yang aman. Namun, sorot mata penuh harap dari para tawanan di sel-sel tadi terus membayangi benaknya.
"Mari, Luna!" bisik Riven pelan. Suaranya masih serak, namun ada nada urgensi di dalamnya.
Selena mendengus pelan saat mendengar sebutan itu lagi. "Panggil aku Selena. Aku belum siap untuk gelar apa pun yang kalian sematkan padaku."6
Riven tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil dan mulai memimpin jalan menembus lorong-lorong sempit yang hanya diterangi oleh obor dinding yang berkedip ditiup angin malam. Hawa dingin mulai menusuk kulit Selena, mengingatkannya bahwa ia benar-benar telah meninggalkan dunia manusianya yang hangat dan membosankan.
Setelah beberapa saat berjalan dalam keheningan yang menyesakkan, Selena akhirnya tidak tahan lagi untuk bertanya.
"Riven," panggilnya, membuat pria di depannya sedikit memperlambat langkah. "Kenapa kamu mau membantunya? Maksudku Lucian. Dia bilang dia membebaskanmu, tapi aku tahu pria seperti dia tidak melakukan apa pun tanpa bayaran yang mahal."
Riven berhenti sejenak, bahunya yang lebar tampak tegang di bawah kain kusam yang menyelimutinya. Ia menoleh sedikit, memperlihatkan profil wajahnya yang keras dan mata peraknya yang menyimpan luka mendalam.
"Lucian memang monster dengan caranya sendiri, Selena, tapi Dewan adalah iblis yang mengenakan jubah keadilan. Bagi kami yang sudah kehilangan segalanya, keluarga, kawanan, dan harga diri, memilih monster yang menawarkan kesempatan untuk melawan jauh lebih baik daripada membusuk di tangan iblis yang ingin menghapus keberadaan kami," jawab Riven jujur.
Ia terdiam sejenak, lalu menatap Selena tepat di matanya.
"Lagipula, tujuanku bukan untuk membantu Lucian. Tujuanku adalah memastikan Breaker jatuh ke tangan yang tepat dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, darah itu muncul kembali dalam dirimu."
"Darah Bulan," gumam Selena. Ia menyentuh dadanya dan merasakan detak jantungnya yang sekarang terasa lebih kuat seolah ada sesuatu yang sedang bangkit jauh di dalam sanubarinya.
"Apa sebenarnya Breaker itu? Jika itu senjata, kenapa Lucian begitu terobsesi?"
Riven kembali berjalan, kali ini lebih cepat saat mereka mulai menaiki tangga menuju permukaan.
"Itu bukan sekadar pedang atau senjata fisik biasa. Breaker adalah pemutus kutukan. Legenda mengatakan bahwa ketika dunia serigala jatuh dalam kegelapan dan pemimpin mereka kehilangan arah, Darah Bulan akan membawa Breaker untuk menghancurkan belenggu yang mengikat mereka."
Begitu mereka keluar dari pintu rahasia yang tersembunyi di balik reruntuhan bangunan tua, cahaya bulan purnama langsung menyiram tubuh Selena. Rasanya seperti sengatan listrik yang lembut, kulitnya mulai berpendar samar dengan cahaya perak yang indah namun mengerikan.
"Indah sekali." Riven berbisik kagum untuk pertama kalinya ia tampak benar-benar terpesona.
Selena menatap tangannya yang bercahaya di bawah sinar rembulan. Ia merasa ngeri sekaligus takjub.
"Jadi ke mana kita harus pergi?" tanya Selena, mencoba mengalihkan perhatian dari perubahan tubuhnya yang mulai membuatnya takut.
Riven menunjuk ke arah utara, ke arah pegunungan yang puncaknya tertutup kabut tebal dan hutan hitam yang tampak tak tertembus.
"Ke tempat di mana matahari jarang menyentuh tanah dan di mana rahasia terakhir kaum kita dikuburkan. Kita harus sampai ke Lembah Pembuangan sebelum fajar ketiga, sebelum pasukan Dewan menyadari bahwa 'kunci' mereka telah bergerak."
Selena menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam yang tajam. Ia tahu mulai detik ini, hidupnya sebagai gadis biasa telah berakhir. Ia bukan lagi Selena sang manusia, ia adalah buronan, harapan, dan mungkin kehancuran bagi tatanan dunia yang ia kenal.