NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana ruang tamu mewah itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara isak tangis tertahan dari Ibu Lisa yang masih berusaha menguasai emosinya. Jenderal Heru menatap lekat-lekat wajah wanita di depannya, ada rasa lega sekaligus sesal yang membuncah di dadanya karena baru sekarang ia bisa menemukan keluarga orang yang paling berjasa dalam hidupnya.

Purnawirawan Jenderal itu mengalihkan pandangannya ke arah menantunya. "Laksana... di mana dia sekarang?" tanyanya dengan nada suara yang kembali berwibawa namun tetap tenang.

Mama Saskia sedikit tersentak, lalu menjawab dengan sopan, "Mas Laksana masih di kantor, Pah. Tadi sempat telepon, katanya ada rapat mendadak yang harus diselesaikan, jadi mungkin pulangnya agak telat sedikit."

Jenderal Heru mengangguk perlahan, jemarinya mengetuk sandaran sofa beludru itu pelan. "Begitu ya. Kalau begitu, tidak perlu menunggu dia. Lebih baik kita makan malam bersama duluan. Kasihan tamu-tamu kita, mereka pasti sudah lapar setelah perjalanan jauh." Beliau memberi isyarat dengan kepalanya. "Siapkan makan malam untuk kita semua yang ada di sini sekarang."

"Baik, Pah. Segera Desi siapkan," jawab Mama Saskia patuh. Ia segera beranjak menuju dapur untuk memberikan instruksi terakhir kepada para asisten rumah tangga agar segera menghidangkan menu spesial yang sudah disiapkan sejak siang.

Setelah menantunya pergi, Jenderal Heru menatap Saskia yang masih setia merangkul bahu Ibu Lisa. "Saskia, bawa temanmu dan Ibunya ke ruang makan. Kita lanjutkan obrolannya di sana sambil mengisi perut. Lisa, ayo... jangan menangis lagi. Hari ini adalah hari bahagia karena kita dipertemukan kembali."

Saskia mengangguk dengan sangat patuh, sebuah pemandangan langka bagi Sandi melihat "Si Oneng" bersikap selembut ini. "Iya, Kek. Ayo Tante Lisa, Sandi... kita ke ruang makan ya. Masakannya Mama enak-enak lho hari ini, spesial buat kalian," ajak Saskia dengan nada riang yang berusaha menghibur.

Sandi membantu ibunya berdiri, memastikan sang ibu sudah merasa lebih tenang sebelum melangkah. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan yang tak kalah megah, di mana sebuah meja jati besar sudah penuh dengan berbagai hidangan yang aromanya seketika membangkitkan selera.

Ruang makan yang megah itu seketika diliputi aroma sedap dari berbagai hidangan: ayam goreng kremes, gurami asam manis, hingga sayur lodeh kental yang menggugah selera. Di bawah pendar lampu kristal, satu per satu piring diletakkan oleh asisten rumah tangga dengan gerakan yang sangat rapi.

"Mari dimakan, Lisa dan..." Jenderal Heru menggantung kalimatnya, menatap pemuda di samping Lisa.

"Nama saya Sandi, Tuan," sahut Sandi sopan.

Jenderal Heru tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruangan. "Panggil saya Kakek saja, sama seperti Saskia memanggil saya. Saya sudah tua, tidak pantas dipanggil 'Tuan' di meja makan keluarga seperti ini."

Sandi mengangguk canggung namun tersenyum. "Iya, terima kasih, Kek."

Suasana makan malam itu berlangsung hangat, meski ada sedikit kecanggungan dari pihak Ibu Lisa. Di tengah suapan, Jenderal Heru menoleh ke arah menantunya. "Desi, Saskia sekarang kelas berapa?"

"Kelas tiga SMP, Pah," jawab Mama Saskia.

"Masih di SMP Bhayangkara?" tanya sang Jenderal lagi, mengingat tradisi sekolah keluarga mereka.

"Sudah tidak, Pah. Saat naik kelas tiga, dia bersikeras minta pindah ke sekolahnya Sandi di SMP Pejuang Bangsa," jelas Mama Saskia.

Jenderal Heru tampak terkejut, ia menghentikan suapannya. "Loh, kamu tidak masuk di Bhayangkara, San? Perasaan kakekmu dulu pernah bilang kamu sekolah SD di sana."

Sandi terdiam sejenak, lalu melirik ibunya. Ibu Lisa menghela napas pelan sebelum menjelaskan dengan suara yang stabil meski sedikit getir. "Maaf Pak, saat suami saya meninggal sewaktu Sandi kelas enam SD, kami tidak sanggup membiayai Sandi masuk ke SMP Bhayangkara. Uang pensiunan kakeknya Sandi (Sofian) juga tidak mencukupi, hanya sebatas untuk makan harian saja. Jadi Sandi sekolah di Pejuang Bangsa. Alhamdulillah, dia selalu berprestasi hingga dapat beasiswa penuh, jadi dia masih bisa bertahan sekolah sampai sekarang."

Raut wajah Jenderal Heru berubah drastis. "Jadi selama suamimu meninggal, kamu hanya bergantung dari gaji pensiunan Sofian?"

Ibu Lisa mengangguk pelan. "Setelah mertua saya meninggal, kami harus menjual rumah untuk biaya masuk sekolah Sandi dan kebutuhan mendesak lainnya. Kami pindah ke kontrakan kecil di Jatinegara, beda gang saja dari rumah lama. Saya bekerja apa saja, Pak. Mencuci pakaian tetangga, menjahit, yang penting halal. Sandi juga anak yang sangat berbakti, dia ikut bantu cari uang dengan jualan koran, jadi buruh angkut di pasar, sampai ngamen kalau libur sekolah."

Mendengar itu, Jenderal Heru mengepalkan tangannya di atas meja. Guratan penyesalan nampak jelas di wajah tuanya. "Maafkan saya, Lisa... kalau saja saya tahu kalian kesulitan dan pindah ke mana, kalian tidak akan pernah melewati masa sulit itu sendirian."

Ibu Lisa tersenyum tipis, mencoba menenangkan. "Tidak apa-apa, Pak. Kami tidak berharap bantuan yang membebani orang lain. Kami sudah cukup bahagia berdua, masih bisa makan dan Sandi bisa sekolah karena otaknya sendiri, bukan karena belas kasihan."

"Kalian benar-benar keras kepala seperti Sofian," gumam Jenderal Heru bangga sekaligus haru.

Mama Saskia kemudian menyambung obrolan, "Jeng Lisa, tahu tidak kenapa saya bersikeras ingin bertemu? Saya ingin menawarkan sesuatu. Kebetulan di rumah ini kami sedang butuh tenaga kerja baru. ART yang biasanya mengurus bersih-bersih dan cucian baru saja keluar dua minggu lalu karena harus menikah di kampung. Saya ingat cerita Saskia kalau Sandi sering bilang Jeng Lisa terbiasa menerima cucian. Bagaimana kalau Jeng Lisa bekerja di sini saja?"

Ibu Lisa tersentak, ia melirik Sandi dengan ragu. "Kalau saya kerja di sini, kasihan Sandinya, Pak, Bu. Jarak Jatinegara ke Pondok Indah itu jauh sekali kalau harus bolak-balik setiap hari."

Jenderal Heru tertawa melihat keraguan itu. "Lisa, kalau kamu terima pekerjaan dari Desi, kamu tidak perlu bolak-balik. Di bagian belakang rumah ini ada bangunan terpisah yang cukup luas untuk kalian berdua. Kamu dan Sandi bisa tinggal di sana."

"Iya, Jeng," tambah Mama Saskia antusias. "Sandi jadi bisa berangkat dan pulang sekolah bareng Saskia setiap hari, kan?"

Saskia yang sejak tadi menyimak langsung melonjak kegirangan. "Wah! Kalau Sandi tinggal di sini, aku bisa naik motor bareng Sandi dong, Mah, ke sekolah?"

Mama Saskia mengangguk setuju. Sandi yang tadinya hanya menyimak, kini tersedak dalam hati. Waduh, kalau Ibu terima, bisa berabe nih setiap hari harus menghadapi "Oneng" dari pagi sampai malam! pikirnya kocak.

"Jadi bagaimana, Jeng?" Mama Saskia melanjutkan penawarannya. "Kami akan menggaji Jeng sekitar satu koma delapan juta sebulan. Bagaimana?"

Sandi dan Ibunya saling berpandangan, mata mereka membelalak tak percaya. Di tahun 2002, angka Rp 2.000.000 adalah jumlah yang sangat fantastis—setara dengan gaji supervisor atau hampir dua kali lipat gaji buruh pabrik saat itu. Penawaran itu bukan sekadar pekerjaan, tapi sebuah lonjakan hidup yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Suasana di ruang makan yang mewah itu mendadak kehilangan suara denting sendok dan garpu. Udara seolah membeku, terhisap oleh pernyataan yang baru saja terlontar dari lisan sang Jenderal. Pertanyaan Mamanya Saskia yang masih menggantung tentang tawaran pekerjaan seolah tertutup oleh awan besar yang jauh lebih sakral dan mengejutkan.

"Bagaimana, Jeng Lisa?" ulang Mamanya Saskia, mencoba memecah keheningan yang janggal, namun Jenderal Heru mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat bahwa ia ingin mengambil alih kendali pembicaraan.

Sorot mata Jenderal Heru yang tadinya penuh nostalgia kini berubah menjadi tajam namun teduh, mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin yang telah menetapkan sebuah keputusan besar. "Sebenarnya, saya sudah bersumpah kepada diri saya sendiri untuk menjaga dan mengangkat derajat keluarga Sofian sebagai bentuk balas budi yang belum tuntas. Tapi, saya juga memiliki niatan lain yang jauh lebih panjang ke depannya. Niatan ini memang harus saya bicarakan dulu dengan Laksana sebagai ayahnya."

Mamanya Saskia, Desi, mengerutkan dahi. Rasa penasarannya memuncak. "Loh, memang apa hubungannya dengan Mas Laksana, Pah? Bukankah ini soal membantu keluarga Jeng Lisa?"

Jenderal Heru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan makna mendalam. Ia melirik Saskia, lalu beralih ke Sandi yang duduk kaku di samping ibunya. "Karena Saskia sudah kelas tiga dan seumuran dengan Sandi, saya melihat ada kecocokan yang unik di antara mereka. Saya ingin menjodohkan mereka berdua."

Deg!

Bak disambar petir di siang bolong, seluruh orang di ruangan itu tersentak. Desi dan Saskia serentak menutup mulut dengan telapak tangan, mata mereka membelalak tak percaya. Ibu Sandi, Lisa, mendadak pucat; ia menoleh ke arah putranya dengan tatapan cemas, sementara Sandi sendiri merasa dunianya seakan berputar terbalik.

Di dalam benaknya, Sandi sedang mengalami perang batin yang luar biasa hebat. Suara tawa Vino dan Andra di parkiran sekolah tadi siang seolah bergema kembali di telinganya. Sialan! umpat Sandi dalam hati. Ucapan asal kedua sahabatnya itu benar-benar menjadi kenyataan, seolah diaminkan oleh malaikat yang kebetulan lewat di atas gedung sekolah mereka. Sandi ingin sekali berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya, namun tenggorokannya terasa tersumbat.

Aduuuuuuuhh! Kenapa takdir gue harus sekencang ini terikat sama si Oneng pe'a ini sih? jerit Sandi dalam batin. Kenapa hidup gue seolah nggak diizinkan lepas dari dia? Ya Tuhan, drama macam apa lagi yang Engkau berikan padaku? Dari kuli panggul jadi calon menantu Jenderal dalam semalam? Ini gila!

Jenderal Heru, yang nampaknya menikmati keterkejutan di hadapannya, beralih menatap menantunya. "Kalau menurutmu bagaimana, Desi?"

Namun, sebelum Desi sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Saskia—dengan segala kepolosan dan sifat "oneng"-nya—justru menyela dengan antusiasme yang meledak-ledak. "Aku... aku mau, Kek! Selama calonnya itu Sandi, aku mau banget!"

Desi menoleh dengan ekspresi syok yang murni. "Kamu serius, Sas? Kamu mau dijodohkan di usia sejauh ini?"

Saskia mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun. Matanya berbinar menatap kakeknya, lalu melirik Sandi yang masih mematung. "Aku suka Sandi dari SD, Mah. Dia itu satu-satunya orang yang selalu bikin aku merasa nyaman dan aman. Sandi beda banget dari teman-teman Saskia yang lain. Kalau yang lain cuma bisa menertawakan saskia kalau aku jatuh, kejepit pintu, panik, atau menangis, Sandi nggak pernah begitu. Dia memang mulutnya pedas, tapi dia selalu membantu dan menenangkan aku tanpa pernah merendahkan."

Desi masih mencoba mencerna. "Tapi Sas, bukannya kamu masih berpacaran dengan Nanda, anaknya Om Tino?"

Saskia mendengus, raut wajahnya berubah sedikit kesal saat menyebut nama itu. "Nanda itu baik, Mah, tapi dia nggak peka kayak Sandi. Dia selalu menuntut aku harus berubah. Dia nggak suka kalau aku teledor, panikan, pelupa, atau cengeng. Dia mau aku jadi orang lain. Tapi kalau Sandi... walaupun dia kasih sebutan 'Oneng' ke aku, itu cuma di mulutnya doang, Mah. Perlakuannya selalu bertolak belakang dari ucapannya. Dia peduli dengan cara yang beda. Dan satu lagi..."

Saskia menatap Sandi dengan tatapan yang sangat dalam, membuat Sandi makin salah tingkah. "Sandi itu pintar, Mah. Dan yang paling aku kagumi, dia selalu menjaga harga dirinya walaupun hidupnya susah. Dia nggak pernah menyerah atau minta-minta. Beda sama Nanda yang kerjanya cuma bisa pamer harta kekayaan Om Tino."

Jenderal Heru tertawa renyah, tawa kemenangan seorang kakek yang melihat cucunya memiliki insting yang tajam. "Hahaha! Jadi menurutmu bagaimana, Desi? Papa juga sangat senang mendengar Saskia bisa melihat jati diri cucu sahabat Papa ini. Sandi ini memang jiplakan Sofian, harga dirinya setinggi gunung."

Desi terdiam sejenak, menatap putrinya yang nampak begitu tulus, lalu melirik Sandi dan Lisa. Ada rasa haru sekaligus setuju yang mulai merayap di hatinya. "Jika itu memang keinginan Papa, dan Saskia sendiri yang meminta dan menyetujuinya, Desi juga setuju, Pah. Sandi anak yang sangat baik."

Jenderal Heru mengangguk puas. "Bagus kalau begitu. Tinggal Papa yang bicara dengan Laksana nanti. Dia sudah berjanji untuk tidak akan pernah menolak keinginan Papa lagi setelah dulu Papa mengizinkannya tidak masuk Akpol dan memilih jadi pebisnis. Itu kesepakatan kami; Papa bebaskan cita-citanya, dan dia harus menuruti satu permintaan besar Papa suatu saat nanti. Inilah saatnya."

Di sisi meja yang lain, Ibu Sandi dan Sandi hanya bisa saling bertukar pandang dengan perasaan merinding. Ada kecemasan yang membuncah, namun juga ada rasa syukur yang tak terlukiskan. Bagi Sandi, malam ini bukan lagi sekadar makan malam, melainkan titik balik hidupnya yang akan menyeretnya masuk ke dalam labirin takdir keluarga besar Jenderal Heru Pramono.

"Jeng Lisa, Sandi... menurut kalian bagaimana?" tanya Mama Saskia lembut, matanya beralih dari satu wajah ke wajah lainnya.

Ibu Sandi nampak menarik napas pendek, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan. "Aduh, saya tidak tahu, Bu. Saya ke sini benar-benar hanya berniat berkenalan, tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Saya... saya belum menyiapkan mental untuk berita sebesar ini," jawabnya jujur dengan suara yang sedikit bergetar.

Jenderal Heru tertawa renyah, seolah reaksi itu adalah bumbu penyedap bagi keputusannya. "Hahaha! Wajar, Lisa, wajar. Lalu bagaimana denganmu, Sandi?"

Sandi terdiam. Ia menunduk, menatap pola taplak meja jati di depannya. Pikirannya berputar mencari jalan keluar. Ia menarik napas panjang, lalu memberanikan diri menatap sang Purnawirawan Jenderal. "Kek, Sandi masih harus sekolah. Sandi masih harus bekerja keras untuk membahagiakan Ibu. Kalau Sandi harus..."

Sandi melirik Saskia. Gadis itu menatapnya dengan binar mata yang begitu penuh harapan, seolah Sandi adalah pangeran berkuda hijau yang baru saja turun dari langit. Sandi menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada ragu, "Sandi nggak yakin bisa buat Saskia bahagia. Setidaknya Sandi harus menjadi orang sukses dulu dan punya pekerjaan yang layak untuk bisa menafkahi Saskia nanti."

Tawa Jenderal Heru kembali meledak, kali ini lebih keras dan penuh kebanggaan. Beliau berdiri dari kursinya dan menunjuk Sandi dengan penuh semangat. "Desi! Kamu lihat dia? Lihat bagaimana cara dia menanggapi masalah ini! Dia bicara bukan soal menolak, tapi soal tanggung jawab! Dia sudah berpikir jauh sebagai seorang laki-laki yang harus menafkahi keluarganya, mulai dari membahagiakan orang tuanya sampai istrinya nanti. Benar-benar bibit unggul!"

Mama Saskia tersenyum lebar dan mengangguk mantap. "Iya, Pah. Desi mengerti. Tidak ada keraguan lagi bagi Desi untuk setuju melepaskan Saskia di tangan Sandi suatu saat nanti."

Sandi tersentak. Di dalam kepalanya, ia menjerit frustrasi, Woi! Bukan gitu maksud gue, Woi! Gue itu lagi nyari alasan biar ini nggak jadi! Kenapa malah jadi salah sambung begini sih?! Aduh, makin kejeblos gue!

Ibu Sandi yang berada di sampingnya justru tersenyum haru, mengelus punggung Sandi dengan rasa bangga yang meluap-luap. Sandi menoleh ke ibunya, berharap mendapat pembelaan, namun sang ibu justru mengangguk seolah memberikan restu penuh. Mampus gue! Ibu juga ikutan salah tangkap! Fix, ini namanya jadi baby sitter si Oneng seumur hidup!

Jenderal Heru nampak sangat puas. "Oke, semua yang ada di sini sudah setuju, kan? Kalau begitu, saya duluan ke kamar. Desi, kalau Laksana pulang, suruh dia langsung menghadap Papa di kamar."

"Baik, Pah. Nanti Desi sampaikan," jawab Mama Saskia patuh. Jenderal Heru pun meninggalkan ruang makan dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.

Sandi menoleh lemas ke arah ibunya. "Bu..."

"Keputusan di tangan kamu, Nak. Dan kamu sudah menjawabnya tadi dengan sangat dewasa. Keputusan sudah dibuat, selamat ya, Sandi," bisik Ibunya lembut. Mampus... mampus lo, Sandi! batin Sandi meratapi nasibnya yang "tragis" tapi manis itu.

Saskia yang kegirangan langsung memeluk mamanya. "Mah... jadi Sandi hari ini resmi jadi tunanganku, kan?"

Mamanya tertawa, mengusap kepala putrinya. "Belum, Sas. Kamu itu baru dijodohkan. Nanti kalau Papamu sudah bicara sama Kakek, baru ditentukan tanggal tunangannya. Dan yang paling penting, kamu harus putusin Nanda anaknya Om Tino secepatnya. Mama nggak mau ada drama keluarga nanti."

"Iya, Mah! Aku memang sudah lama mau putusin dia, tapi masih ragu karena nggak enak sama Papa. Sekarang aku makin yakin! Terus... Sandi jadi tinggal di sini juga, kan?"

Mama Saskia beralih menatap Ibu Lisa. "Jadi, bagaimana Jeng Lisa? Soal tawaran saya untuk bekerja dan tinggal di sini?"

Ibu Lisa terdiam sejenak, menatap Sandi lalu menatap Mama Saskia. "Jika memang jalannya Sandi berjodoh dengan Saskia, saya terima, Bu. Saya mau bekerja dan tinggal di sini, supaya Sandi juga bisa menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Saskia."

Mama Saskia tersenyum puas. "Baiklah, keputusan sudah bulat. Sekarang sudah jam setengah delapan malam. Sebaiknya kita akhiri pertemuan malam ini supaya kalian tidak kemalaman di jalan. Kasihan Sandi besok harus sekolah dan harus istirahat yang cukup."

"Terima kasih banyak ya, Bu. Kami pamit dulu kalau begitu. Salam hormat buat Pak Heru," ujar Ibu Lisa seraya berdiri.

"Saskia, mana bingkisan buat Sandi?" tanya Mama Saskia.

"Siap, Bos! Saskia ambil dulu!" seru Saskia sembari berlari menuju ruang tengah.

Mama Saskia mendampingi tamu spesialnya itu menuju teras. Saat di teras, Sandi menyalami tangan Mama Saskia dengan hormat. Ibu Sandi hendak berjabat tangan, namun Mama Saskia justru memberikan pelukan hangat dan cipika-cipiki, membuat Ibu Sandi sedikit tersipu.

Tiba-tiba, Saskia berlari keluar membawa beberapa tas bingkisan besar. Namun, dasar "Si Oneng", saat ia menuruni anak tangga teras menuju carport dengan terburu-buru, kakinya terselip. "Aaah!"

Sandi yang memiliki refleks tajam langsung melompat dan meraih tubuh Saskia sebelum gadis itu mencium konblok. Saskia berakhir di pelukan Sandi dengan wajah yang sangat dekat.

"Lo bener-bener ya... hati-hati napa, Oneng!" gerutu Sandi sambil membantunya berdiri tegak.

Saskia justru tersenyum lebar tanpa rasa sakit. "Habisnya aku terlalu senang, San!"

Tawa renyah Mama Saskia dan Ibu Sandi pecah melihat kejadian itu. Akhirnya, Sandi dan ibunya berpamitan. Ninja 150RR hijau itu menderu garing, membelah malam Pondok Indah yang tenang. Dari spionnya, Sandi masih melihat Saskia dan mamanya melambaikan tangan hingga sosok mereka hilang di balik tikungan.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!