NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Pergi ke Korea

Setelah selesai sholat Maghrib, Nala memutuskan untuk membantu sang ibu memasak makan malam untuk keluarganya. Dia membantu memotong sayuran, sedangkan sang ibu sibuk dengan masakan di wajan, suara minyak yang mendesis mengiringi gerakan tangan mereka.

"Ma… minggu depan Nala akan ke Korea," kata Nala akhirnya membuka pembicaraan. Hal itu membuat sang ibu menoleh sebentar, alisnya terangkat sedikit.

"Lagi? Ada apa kali ini? Bukankah tahun lalu juga datang ke sana?" tanyanya bingung.

"Nala menang penghargaan menulis, Ma… aku gugup sekali," kata Nala, membuat mata sang ibu membesar karena terkejut.

"Sungguh?" tanyanya lagi, menunggu kepastian. Nala mengangguk pelan, menundukkan kepala sedikit.

"Ya Allah… Alhamdulillah. Tapi kamu berangkat dengan siapa?" tanyanya, masih dengan wajah sumringah yang tak bisa ia sembunyikan.

"Dengan Mas Davin. Aku tidak mungkin bisa pergi sendiri. Jujur saja, aku masih tidak percaya, Ma. Ini seperti mimpi bagiku," ujar Nala, bibirnya tersenyum tipis meski ada getar gugup di suaranya. Sang ibu mengangguk perlahan, menatap anaknya dengan campuran bangga dan haru.

"Kamu anak Mama yang paling beruntung, Nyi. Mama tidak pernah membayangkan anak Mama tampil di TV, tapi kamu… sekarang semua orang di kampung ini mengenalmu dan memuji kita," kata sang ibu, suaranya hangat dan penuh rasa bangga, membuat Nala tersenyum tipis.

"Itu berkat doa kalian juga. Aku tidak akan bisa berdiri sejauh ini jika bukan karena kalian," ujar Nala, matanya menatap lembut sang ibu yang mengangguk tipis, bangga pada pencapaian anak keduanya itu.

"Itu karena kerja kerasmu juga tentunya. Jadi, kamu akan berangkat dari rumah atau pulang ke Jakarta dulu?" tanyanya, sedikit ingin memastikan.

"Besok malam aku pulang, Ma, karena aku harus mengurus banyak hal dulu sebelum pergi," kata Nala, suaranya tenang, membuat sang ibu mengangguk mengiyakan ucapan itu.

Nala membantu sang ibu memasak dengan telaten, setiap gerakannya penuh perhatian—memotong, mengaduk, mencicipi. Akhirnya, mereka selesai memasak dan makan malam bersama secara lengkap: ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Malam ini terasa berbeda. Aroma masakan hangat bercampur suara tawa keluarga, tapi di hati Nala ada getar halus—malam ini adalah malam terakhirnya di rumah orang tuanya, karena mungkin setelah ini, dunianya akan berbeda.

— ❖❦ ❦ ❦❖ —

Hari-hari setelah pengumuman kemenangan itu berubah menjadi putaran waktu yang terasa lebih cepat dari biasanya. Hidup Nala mendadak penuh dengan daftar persiapan: email konfirmasi panitia, dokumen perjalanan, hingga undangan resmi dengan lambang megah agensi besar Korea yang menjadi penyelenggara lomba.

Meskipun bukan kali pertama ia menginjakkan kaki di Seoul, kali ini terasa berbeda. Ia bukan lagi sekadar panelis undangan—ia akan berdiri sebagai pemenang, membawakan kata-kata yang lahir dari hatinya sendiri di hadapan publik internasional.

Di meja kerjanya, sebuah map kulit berwarna hitam tergeletak rapi. Di dalamnya: Paspor berwarna hijau tua dengan cap-cap perjalanan sebelumnya. Visa khusus dari Kedutaan Korea yang prosesnya lancar berkat undangan resmi. Surat resmi undangan ke Seoul International Fiction Award, dicetak dengan tinta emas. Tiket penerbangan kelas bisnis—fasilitas yang bahkan sudah di siapkan oleh panitia penyelenggara acara.

Nala memandanginya satu per satu, seakan ingin memastikan semua ini nyata. Tangannya mengusap perlahan undangan itu, matanya sedikit berkaca.

"Aku masih tidak percaya semua ini…” bisiknya lirih.

Tak berhenti di situ, ia juga harus menyiapkan presentasi singkat untuk sesi awarding ceremony. Malam-malamnya kini dipenuhi suara laptop yang menyala, lembaran catatan berserakan, dan dirinya yang berulang kali berlatih.

“Good evening, ladies and gentlemen. My name is Nala Aleyra Lareina, and I am deeply honored to stand here today… (Selamat malam, hadirin sekalian. Nama saya Nala Aleyra Lareina, dan saya merasa sangat terhormat bisa berdiri di sini malam ini…)” Nala mengulanginya berpuluh kali, mengoreksi intonasi, menyesuaikan gestur tangan, bahkan memperhatikan bagaimana jemarinya bergerak saat menekankan kata tertentu.

Bahasa Inggrisnya fasih, namun ia tahu audiens internasional menuntut lebih dari sekadar kefasihan—mereka menginginkan ketulusan, keanggunan, dan daya tarik yang tak bisa dipalsukan.

Rani, sahabatnya, datang sesekali ke apartemen untuk melihat progres. Alih-alih membantu, ia justru menggodanya.

“Ya ampun, Nala. Kamu latihan seperti mau pidato PBB saja. Jangan lupa kalau itu hanya awarding, bukan deklarasi perang dunia,” katanya sambil menahan tawa. Nala hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada teks di tangannya.

"Kalau iya memang kenapa? Aku memang ingin pidato di gedung PBB. Kau mau apa?" ujar Nala, melirik sebal pada sahabatnya itu.

Hal itu membuat Rani tertawa tanpa bisa ia tahan. Semenjak Nala kembali ke Jakarta, Rani memang sering menemani sahabatnya di apartemennya.

Meskipun keduanya punya kesibukan masing-masing, saat malam tiba mereka tetap dua sahabat yang selalu saling meledek setiap ada kesempatan. Bukan karena tidak suka atau iri, tapi memang begitulah cara mereka berteman.

Rani melempar tubuhnya ke sofa dengan santai, tangannya mencomot keripik dari toples kaca yang sudah setengah kosong.

“Kalau begitu, aku jadi sekretaris pribadimu. Kau di podium PBB, aku duduk di belakangmu, sibuk mengetikkan press release untuk CNN. Tentu saja dengan kacamata bulat dan blazer krem yang membuatku tampak seperti wanita karier berkelas dunia,” ujarnya santai.

Nala berhenti sejenak dari latihannya, menatap Rani dari ujung kaki hingga kepala, lalu mendengus pelan.

“Sekretaris? Dengan cara makanmu yang barbar itu? Aku rasa CNN akan berpikir kau sedang menjadi bintang iklan snack murah, bukan sekretarisku,” ujarnya datar, membuat tawa Rani meledak sampai hampir tersedak keripik yang baru saja dikunyahnya.

Ia menepuk dadanya sendiri sambil berusaha bernapas, lalu menunjuk Nala dengan ekspresi pura-pura kesal.

“Hei, jangan meremehkan imajinasi! Halu juga butuh profesionalitas. Ingat, bahkan sekretaris PBB pun mungkin pernah makan keripik sebelum rapat penting,” ujarnya, masih setengah tertawa.

Nala tak kuasa menahan senyum. Ia meletakkan catatannya di meja, lalu berdiri dengan gaya dramatis, menegakkan tubuh seperti orator besar di atas panggung megah.

“Baiklah, dengarkan visi besar ini: suatu hari, aku akan menulis pidato yang mengubah dunia. Bukan hanya sekadar penghargaan sastra, tapi sesuatu yang akan tercatat dalam sejarah. Dan kau, Rani, akan tercatat sebagai—” ia berhenti sejenak, menatap sahabatnya dengan penuh keangkuhan pura-pura, “—pengganggu nomor satu di balik layar.”

Hal itu membuat Rani langsung melempar bantal sofa ke arahnya.

“Kurang ajar! Minimal aku disebut chief of staff, bukan pengganggu!” Wajahnya kesal, namun bibirnya tersenyum lebar.

Bantal itu melayang dan mengenai bahu Nala, membuatnya sedikit oleng, tapi ekspresinya tetap dipertahankan seanggun mungkin. Ia menunduk pelan, pura-pura kembali berpidato.

“Hadirin sekalian, mohon maklum jika staf pribadi saya terlalu emosional dan suka menyerang dengan bantal. Hal itu semata-mata karena dedikasi tinggi dalam pekerjaannya,” ujarnya dengan nada formal berlebihan.

Suasana apartemen pun pecah oleh tawa keduanya. Malam yang tadinya dipenuhi suara laptop dan latihan formal berubah menjadi arena komedi kecil, tempat dua sahabat itu melepaskan penat lewat halu tak berkesudahan.

Dan seperti kebiasaan lama mereka sejak masih mahasiswa, setiap kali tawa mereda, keduanya akan saling pandang, lalu hampir bersamaan berkata dengan nada serius namun mata berbinar.

“Bayangkan kalau semua ini benar-benar terjadi.”

Mereka tahu, di balik segala gurauan dan halu, ada doa yang diam-diam ikut melayang—bahwa suatu saat, salah satu atau bahkan keduanya, akan berdiri di panggung besar dunia.

"Nala, kau sudah pilih barang-barang yang ingin kau bawa? Dan berapa lama kamu di sana?" tanya Rani kali ini serius. Nala ikut duduk di sampingnya dan mengangguk.

"Semuanya sudah selesai. Dokumen dan semua kelengkapan sudah aku cek. Aku kemungkinan di sana hanya seminggu saja. Setelahnya harus kembali pulang karena bagaimanapun proyek film itu masih membutuhkan kehadiranku sebagai penulis novelnya," kata Nala, membuat Rani mengangguk.

"Tolong bawakan oleh-oleh dari Korea ya, Nala. Nanti jika aku luang, aku akan menyusulmu ke sana untuk bertemu dengan pujaan hatiku," katanya, membuat Nala tertawa kecil.

"Nanti aku bawakan napas Lee Min Ho, khusus untukmu," ujar Nala, membuat Rani menoleh cepat.

"Sungguh?" Wajahnya berbinar dramatis.

"Iya, nanti aku bungkus angin Korea untukmu," kata Nala sembari terkekeh geli.

"Yakk… itu bukan napas Lee Min Ho," katanya mendengus kesal. Rani memelototi Nala dengan ekspresi tersinggung pura-pura, lalu menepuk bantal di pangkuannya.

“Nala, kau itu kejam. Aku minta napas Lee Min Ho, tapi kau malah memberi angin jalanan Seoul. Jangan-jangan nanti isinya bau kimchi basi,” ujarnya, langsung membuat Nala terbahak. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang saking menahan tawa.

“Kalau begitu aku tambahkan bonus: sebutir debu dari jaket Lee Min Ho. Kau bisa menyimpannya di kotak kaca, lalu memuja setiap pagi,” ujar Nala, membuat Rani menepuk dahinya dramatis, seolah baru menerima wahyu.

“Luar biasa! Debu seorang oppa, siapa yang bisa menolak? Aku bahkan bisa menjualnya di online market dan jadi miliarder instan!” jawabnya santai.

Tawa mereka kembali pecah. Sesekali Nala menunduk, menutup wajahnya dengan telapak tangan karena tak kuasa menahan geli.

Obrolan itu terus bergulir. Dari Lee Min Ho, mereka melompat ke Kim Namjunho, lalu entah bagaimana bergeser ke imajinasi liar Rani yang tiba-tiba ingin jadi duta besar hanya karena ingin punya akses bebas ke acara red carpet.

Nala hanya bisa menertawakan semua khayalan itu, meladeninya dengan komentar sinis penuh keakraban.

Tanpa mereka sadari, jarum jam sudah bergerak cepat. Jarum pendek menunjuk angka sepuluh, jarum panjang hampir menyentuh angka enam. Setengah sebelas malam. Apartemen kecil itu kini hanya diterangi lampu temaram yang menggantung di ruang tengah, cahayanya hangat membalut dua sahabat yang masih tenggelam dalam obrolan tanpa ujung.

Hingga akhirnya, keheningan kecil tercipta di antara tawa yang mereda. Rani menguap lebar, lalu berjalan menuju kamarnya di apartemen tersebut.

“Besok pagi kau harus berangkat. Kalau kita teruskan halu sampai subuh, jangan salahkan aku kalau kau tertidur di pesawat,” ujarnya, membuat Nala mengangguk pelan.

Ia membereskan kertas-kertas presentasi di meja, menumpuknya rapi, seolah menutup babak latihan malam itu.

“Kau benar. Kita simpan sisa halu ini untuk nanti saja. Besok, aku harus membawa versi paling waras dari diriku ke Seoul,” ujarnya sembari tersenyum tipis. Hal itu membuat Rani tertawa singkat sambil menggelengkan kepalanya.

“Waras? Tidak ada kata itu dalam kamus kita,” jawabnya sebelum menghilang di balik pintu apartemen.

Nala menggeleng, tersenyum lebar, lalu berjalan menuju kamarnya sendiri. Malam itu, sebelum benar-benar terlelap, keduanya masih menyimpan senyum kecil—senyum yang lahir dari persahabatan panjang, dari gurauan yang terdengar mustahil, tapi entah kenapa selalu membuat hari-hari terasa lebih ringan.

Dan besok, sebuah hari baru menanti. Hari ketika Nala benar-benar akan terbang, membawa serta doa, tawa, dan sedikit halu yang tadi malam mereka rajut bersama.

“Bismillah,” bisiknya sembari naik ke atas tempat tidurnya dan mulai berbaring setelah mematikan lampunya.

Perjalanan ini bukan sekadar tentang sebuah kemenangan lomba. Bagi Nala, ini adalah tanda bahwa dirinya benar-benar telah menapaki jalan seorang penulis—seorang pengisah yang karyanya berhak berdiri sejajar di panggung dunia.

Dan di balik semua rasa letih, yang tersisa hanya satu rasa yang sulit ia sembunyikan: bahagia.

— ❖❦ ❦ ❦❖ —

Pagi keberangkatan tiba lebih cepat daripada yang Nala bayangkan. Fajar baru saja menyingsing ketika ia sudah tiba di bandara internasional bersama Davin yang sudah siap dengan koper nya juga, sementara Rani dengan berat hati tidak bisa ikut karena tiba-tiba demam.

Nala pun sedih karena harus meninggalkan sahabat nya itu sendiri, koper hitam bergulir mengikuti langkah keduanya. Aroma kopi dari gerai kecil di sudut terminal berpadu dengan suara roda koper lain, menciptakan suasana sibuk yang khas keberangkatan.

Nala berdiri sejenak di depan layar keberangkatan, mencari kode penerbangannya. Ada rasa gugup yang merayap, meski bibirnya tak henti menebarkan senyum. Setelah melewati pemeriksaan paspor dan bagasi, ia dan Davin pun melangkah ke ruang tunggu dengan hati yang semakin berdebar.

Di kursi deret tengah, ia membuka map transparan untuk memeriksa dokumen sekali lagi: paspor, visa, undangan resmi. Semuanya masih rapi di tempatnya.

“Aman,” gumamnya lega, hal itu membuat Davin tersenyum tipis seolah menenangkan Nala yang terlihat gugup sejak tadi.

Tak lama, panggilan boarding menggema. Nala dan Davin berjalan menyusuri lorong menuju pesawat, menatap jendela besar yang menampilkan langit pagi berwarna keemasan. Saat duduk di kursi dekat jendela, Nala menyandarkan kepala sambil menarik napas panjang.

Ketika pesawat mulai bergerak, rasa gugup kembali menyeruak. Sabuk pengaman terkunci, pengumuman keselamatan diperdengarkan dalam bahasa asing. Saat pesawat perlahan meninggalkan landasan, tubuhnya sedikit terdorong ke belakang, dan ia hanya bisa berbisik dalam hati: “Aku benar-benar melangkah.”

Perjalanan panjang di udara terasa campuran antara melelahkan dan menggetarkan. Ia mengisi waktu dengan membaca kembali naskah yang tersimpan di laptop, sesekali menatap layar hiburan di kursi depan, dan lebih sering lagi menatap awan yang berarak di luar jendela sedangkan Davin yang duduk di sampingnya terlihat pulas setelah menikmati makanan nya.

Ada rasa tenang sekaligus harap besar, seolah awan-awan itu menjadi saksi bisu perjalanannya menuju sebuah babak baru.

Beberapa jam kemudian, suara pramugari membangunkannya dari lamunan. Pesawat sebentar lagi mendarat. Jantungnya berdebar lebih cepat, seakan ikut menyambut negeri asing yang mulai terlihat samar dari kejauhan.

Ketika roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan ringan, dada Nala dipenuhi rasa syukur. Ia menoleh ke jendela, menyaksikan deretan gedung modern yang berbaris, bendera nasional Korea Selatan yang berkibar, dan tulisan asing di papan penunjuk arah yang terasa begitu jauh dari dunia yang ia kenal.

Begitu pesawat berhenti sempurna di landasan, suara klik sabuk pengaman terdengar nyaring di seluruh kabin. Nala menoleh pada sosok di sebelahnya—Davin Pratama, editor sekaligus manajer literasi yang sudah lama bekerja sama dengannya.

“Finally, kamu siap turun, pemenang lomba internasional?” ujar Davin sambil meregangkan badan. Nala terkekeh kecil, meski pipinya memerah.

“Jangan terus meledekku, Mas. Aku masih tidak percaya bisa sampai sejauh ini,” ujarnya, membuat Davin tersenyum tipis penuh bangga.

Mereka akhirnya keluar. Lorong pesawat dipenuhi penumpang yang bergegas. Nala dan Davin mengikuti arus, menuruni tangga pesawat yang terbuka ke udara asing. Angin sejuk langsung menyergap wajah mereka—berbeda dari lembap tropis yang biasa menyapa di tanah air.

“Aku selalu suka udara pertama kali di negeri orang,” gumam Nala lirih, matanya berbinar menatap langit pucat.

“Dan aku suka lihat ekspresi kamu yang seperti anak kecil baru pertama kali piknik,” balas Davin, sengaja meledek.

Di imigrasi, Davin sigap membantu. Ia memastikan map dokumen Nala tetap rapi, sesekali melirik jam tangan seakan memastikan mereka tidak melewatkan apa pun. Saat tiba giliran Nala, ia menyerahkan paspor dan undangan resmi dari panitia lomba. Petugas menatapnya sejenak sebelum menstempel halaman kosong.

“Welcome to Korea (Selamat datang di Korea),” ucap si petugas, suaranya datar namun formal.

“Thank you (Terima kasih),” jawab Nala, suaranya sedikit bergetar karena campuran gugup dan haru.

Setelah melewati pemeriksaan, mereka menuju area pengambilan bagasi. Nala menunggu koper hitamnya muncul di conveyor belt, sementara Davin sibuk mengetik di ponsel—mungkin mengabari keluarganya atau sekadar memastikan jadwal mereka hari itu. Begitu koper ditemukan, Davin segera meraihnya.

“Ayo, jangan melamun. Kamu terlihat sekali seperti turis,” ledeknya, membuat Nala tertawa kecil, tapi tidak menyangkal.

Matanya memang tak berhenti menatap sekeliling, kagum pada lampu-lampu bandara yang terang, papan petunjuk berhuruf asing, dan riuh rendah orang-orang yang melintas dengan bahasa yang belum akrab di telinganya.

Mereka tiba di pintu kedatangan. Dari balik kaca transparan, terlihat kerumunan orang menunggu, beberapa dengan papan nama, beberapa hanya berdiri sambil menatap layar ponsel.

“Seharusnya ada panitia yang menjemput... Ah, itu—lihat, ada yang pegang papan bertuliskan ‘International Literary Award Winner,’” ujar Davin sambil menyapu pandangan.

Nala menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, lebih cepat dari saat pesawat mendarat tadi. Semua ini terasa nyata: namanya benar-benar diperhitungkan sampai di negeri orang. Sosok pria paruh baya dengan jas rapi mendekat, menundukkan kepala sopan.

“Miss Nala, Mr. Davin? Welcome. We’ve been expecting you (Nona Nala, Tuan Davin? Selamat datang. Kami sudah menunggu Anda).” Davin tersenyum ramah, menjabat tangan pria itu.

“Yes, thank you (Ya, terima kasih),” balasnya, membuat Nala ikut menunduk sopan.

Dalam hati ia masih berusaha menenangkan diri. Koper hitam di tangannya seolah menjadi jangkar, menahannya agar tidak melayang terlalu tinggi oleh rasa bahagia yang memuncak.

“Let’s go. The car is ready (Mari, mobil sudah siap),” lanjut sang penjemput.

Mereka pun melangkah keluar, meninggalkan riuh bandara menuju udara malam yang dingin menusuk. Nala menarik napas panjang. Sejenak ia menatap langit asing di atas sana, lalu tersenyum samar.

“Aku sudah sampai. Perjalanan ini baru saja dimulai,” gumam Nala sembari masuk ke dalam mobil untuk menuju hotel yang memang sudah disiapkan oleh panitia penyelenggara.

Sepanjang jalan hanya ada keheningan di dalam mobil tersebut hingga akhirnya Nala membuka pembicaraan.

"Acaranya besok, kan?" tanyanya, membuat Davin mengangguk.

"Iya... Besok siang. Malam ini kita bisa beristirahat," katanya, membuat Nala mengangguk pelan.

Ia menoleh ke arah jendela, memperhatikan keindahan malam kota Seoul yang tampak penuh cahaya dari kendaraan dan gedung-gedung tinggi.

Mobil hitam dengan kaca gelap itu melaju mulus di tengah lalu lintas malam Seoul. Dari jendela, Nala menatap kota yang bercahaya—lampu-lampu jalan berkelip seolah bintang yang jatuh ke bumi, gedung-gedung tinggi berdiri angkuh dengan layar LED raksasa menampilkan wajah para idol terkenal. Semua terasa seperti adegan film, dan kali ini dirinya sendiri yang menjadi tokoh utama.

Davin duduk tenang di sampingnya, sesekali membuka ponsel untuk mengecek email dari panitia. Sementara Haecul, pria paruh baya yang menjemput mereka, duduk di kursi depan dengan sikap sopan, nyaris tanpa banyak bicara. Namun, ketika mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah, ia menoleh dengan senyum tipis.

“Here we are. This will be your accommodation during your stay. (Kita sudah sampai. Ini akan menjadi tempat tinggal Anda selama di sini.)” ujarnya sopan. Nala menelan ludah pelan saat melihat bangunan menjulang itu.

Lampu-lampu kristal menggantung di lobi, kaca jernih memantulkan cahaya gemerlap, dan pintu otomatis terbuka dengan keanggunan yang membuatnya merasa seakan memasuki dunia lain.

Mereka turun. Udara dingin malam langsung menusuk kulit, tapi rasa takjub mengalihkan segalanya. Petugas hotel dengan setelan rapi menyambut, membantu membawa koper mereka masuk. Di dalam, aroma bunga segar bercampur dengan wangi kayu manis menyambut, menciptakan suasana hangat sekaligus berkelas.

Haecul berhenti sejenak di depan meja resepsionis, lalu berbicara singkat dengan staf hotel. Setelah semuanya beres, ia menoleh pada Nala dan Davin.

“Miss Nala, Mr. Davin. Tomorrow at noon, a car will come to pick you up and take you directly to the award venue. Please be prepared by 11 a.m. (Nona Nala, Tuan Davin. Besok siang mobil akan datang menjemput dan membawa Anda langsung ke gedung acara penghargaan. Mohon sudah siap pukul 11 pagi.)” ujarnya, membuat Davin mengangguk sopan.

“Understood. Thank you, Mr. Haecul,” ujarnya. Hal itu membuat Nala ikut menunduk, meski wajahnya menyimpan ketegangan bercampur rasa haru.

“Yes, thank you very much,” jawabnya ikut menimpali. Haecul tersenyum ramah, lalu berpamitan sebelum meninggalkan mereka di lobi hotel.

Nala berdiri sejenak. Matanya berkeliling menatap interior megah itu: pilar marmer putih berkilau, kursi empuk berlapis kain beludru, hingga chandelier yang menggantung laksana hujan kristal. Semua terasa berlebihan bagi seseorang yang terbiasa dengan apartemen sederhana di Jakarta.

“Jangan melamun terus. Kita check-in dulu, ayo,” ujar Davin sembari menarik koper.

Nala tersadar, buru-buru mengikutinya.

Setelah melalui proses singkat, mereka akhirnya mendapat kunci kamar masing-masing. Lift membawa mereka naik. Pintu terbuka dengan suara lembut, dan lorong panjang berkarpet merah menyambut langkah mereka dengan sunyi yang terasa mewah.

"Selamat malam, Nala. Nikmati saja. Kau memang pantas mendapat semua ini. Sekarang istirahatlah, besok hari yang panjang menunggu," ujar Davin sembari masuk ke kamarnya sendiri.

Sedangkan Nala melangkah menuju kamarnya. Ia menempelkan kartu aksesnya dan, saat pintu kamar terbuka, Nala terpaku. Ruangan luas itu seperti ruang mimpi: ranjang besar dengan seprai putih berlapis satin yang tampak begitu halus, meja kerja elegan dengan lampu baca berwarna keemasan, serta balkon kecil dengan pemandangan kota Seoul yang berkilau di bawah langit malam. Ia berdiri di ambang pintu, nyaris tak percaya bahwa semua itu nyata.

“Ya Tuhan…” bisiknya lirih.

Ia menutup pintu perlahan, lalu bersandar di baliknya. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan detak jantungnya yang masih kacau. Untuk beberapa detik, ia hanya diam, mencoba menenangkan diri, mencoba mencerna bahwa dirinya—Nala yang dulu hanya menulis di sudut kamar kecilnya—kini berdiri di kamar hotel mewah di negeri orang.

Nala berjalan menuju balkon, membuka pintu kaca, dan membiarkan udara malam Seoul menyapa wajahnya. Angin dingin menyentuh pipinya, membuatnya sedikit menggigil. Dari kejauhan, ia bisa melihat Han River berkilau memantulkan cahaya lampu kota, seperti pita perak yang membelah kegelapan.

“Aku benar-benar di sini… Wah, Nala, kau luar biasa,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin.

Di hatinya, ada rasa syukur yang menghangatkan, ada rasa gugup yang membuat dadanya sesak, ada rasa tak sabar yang bergetar halus di ujung jemarinya. Dan di atas segalanya, ada keyakinan yang perlahan tumbuh—bahwa besok bukan sekadar seremoni.

Besok adalah awal.

Awal dari sebuah cerita baru yang entah ke mana akan membawanya.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!