Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"Argh... Mas udah becek nih...! Kamu sudah puas belum mas...?" ucap seorang wanita dengan suara desahan yang menggairahkan namun sedikit terengah, tubuhnya menggigil di kamar seorang pria yang sudah beristri.
" Bentar lagi sayang... Tanggung, sebentar lagi aku mau keluar..." pria itu mengerang, wajahnya penuh kesenangan karena menikmati momen itu, mempercepat irama tempo dengan tangan yang menggenggam erat bahu wanita itu.
Mereka bercinta, bercumbu mesra, berciuman dan melakukan hubungan yang tidak pantas di belakang istri sah.
" Akh... Mas, mas cepetan dong, aku sudah aku sudah mau-" Desahan wanita itu semakin keras, suara penuh hasrat menyertai napas yang pendek, sementara pria itu juga semakin terkontrol emosinya. " Argh... Ah... Akh..."
Sang pria mempercepat irama tempo dengan segala kekuatannya, matanya menutup erat sambil menggeram pelan. Membuat mereka berdua sampai ke puncak klimaks, kenikmatan tiada tara yang membuat mereka melupakan segalanya..
CR000T...!💦💦💦
Mereka terengah-engah di dalam kamar, tubuh mereka berdua hanya di tutupi dengan selimut. Di dalam kamar yang tenang dan sunyi di siang hari.
" Mas... Aku sangat puas dengan pesona mu..." mengelus-elus wajah pria itu, sambil bercumbu.
" Bagaimana apa kamu ingin main lagi...? " pria itu memeluk erat tubuh wanita itu di dalam kamar.
" Tidak mas... Aku heran mas, kenapa kamu belum menceraikan istri mu yang seperti gedebong pisang itu...?" ucap wanita itu, menghina fisik sang istri dari sang pria.
" Aku tidak perlu menceraikan nya... Lagi pula sebentar lagi dia akan mati... Aku heran kenapa dia tidak juga mati....?" ucap pria itu berharap istrinya segera mati.
" Aku heran kenapa dia gigih sekali bertahan melawan penyakitnya... Hanya membuang-buang uang saja...!" tambah sang suami, dengan kata-kata kejam dan penuh hinaan.
Sang istri saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Dia mengidap kanker perut stadium akhir.
" Mas-mas... Bagaimana jika aku bawa dia jalan-jalan lalu aku lempar dia, supaya dia cepat mati! " ucap sang wanita.
Dia mengusulkan cara agar istri pria itu lebih cepat mati. Karena saat itu hanya dirinya dan suaminya orang yang dia percayai.
" Jangan Regina sayang... kamu nanti terluka, lagi pula cepat atau lambat istriku akan mati. Setelah dia mati seluruh hartanya akan menjadi milik kita. Lalu kita akan membeli rumah, dan semua yang kamu mau..." Ucap sang pria.
Regina adalah sahabat dari istrinya, mereka sudah bersahabat sejak SMP. Mereka bersahabat dengan sangat baik bahkan persahabatan mereka sudah seperti saudara.
" Mas, sepertinya aku harus menemui istri mu. Semoga saja dia cepat mati, agar kita segera menikmati waktu bersama tanpa ada yang menggangu..." ucap Regina, beranjak dari dari ranjang.
Dia mengambil kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai. Lalu memakai kembali pakaiannya.
" kamu serius ingin menjenguk nya sekarang...? Kenapa buru-buru, lagi pula sekarang dia palingan lagi terbaring di ranjang rumah sakit menunggu kematiannya...!" Ucap sang pria, masih terbaring di ranjang, melihat Regina mengenakan pakaiannya.
" Sudah waktunya aku menjenguk nya hari ini, kondisinya tampak menjijikkan, walaupun seperti itu, kenapa di susah sekali untuk mati ya mas...! " ucap Reina sambil memakai pakaiannya.
" Sayang nanti kalau kamu sampai di rumah sakit, jangan lupa mengabari ku jika gedebong pisang itu sudah mati! " pekik sang suami, meminta agar Regina mengabari dirinya.
Dia kemudian beranjak dari tempat tidur, mengambil celana lalu memakainya. Dia kemudian berjalan dan memeluk Regina dari belakang lalu mencium dan membelai lehernya.
" Mas... Geli, ha-ha-ha...!" ucap Reina sambil tersenyum kemudian berbalik lalu mencium pipi suami sahabatnya.
" Muach... Sayang, aku masih ingin berduaan dengan mu, dari pada melihat wajah istri ku yang seperti gedebong pisang itu! " ucap sang pria.
" Sudah mas... Aku pergi sekarang!" Regina melepaskan pelukan lalu kembali mencium pipi suami sahabatnya.
Dia kemudian mengambil kunci mobilnya, lalu pergi menuju rumah sakit.
" Bye-bye Mas... Aku pergi sekarang... "
Regina keluar dari rumah, kemudian masuk kedalam mobil lalu pergi menuju rumah sakit.
...•••☘☘☘•••...
Di Rumah Sakit Jihan duduk di ranjang rumah sakit sambil melihat ke luar jendela dengan tatapan kosong dan hampa. Wajahnya pucat tubuhnya kurus kering akibat penyakit yang di deritanya. Dia hanya bisa meratapi nasibnya yang harus menderita kanker.
📳Tut...! Tut...! Tut...!
Ponselnya berbunyi, dia melihat ponselnya di sebelah ranjang. Saat itu Regina menelpon dirinya. Jihan kemudian mengangkat panggilan dari Regina.
" Hallo Gin... Ada apa...? " Jihan mengangkat teleponnya namun menatap jendela dengan tatapan kosong di matanya.
" Jihan... Maaf ya, aku telat menjenguk mu hari ini... Tadi tiba-tiba saja aku harus lembur kerja di perusahaan... Kamu tidak marah kan hari ini aku telat mendampingi mu di rumah sakit? " ucap Regina di telpon.
" Tidak apa-apa, jika kamu sedang sibuk, kamu tidak usah datang ke sini, selesaikan saja pekerjaan mu...! Aku tidak apa-apa "
Jihan menghela nafas, dia tidak ingin pekerjaan sahabatnya terganggu gara-gara dirinya yang sakit-sakitan di rumah sakit.
Setiap hari Regina selalu datang dan menyempatkan waktu untuk menemani dirinya di rumah sakit. Saat itu Jihan merasa bahwa hanya Regina yang dia punya saat itu.
Suaminya saja jarang menemani dirinya di rumah sakit, sedangkan Regina setiap hari datang dan merawat dirinya.
" Tidak-tidak, Jihan jangan berkata seperti itu, kamu adalah sahabat dan belahan jiwaku, tunggu sebentar lagi aku sebentar lagi sampai! " ucap Regina di telpon.
" Baiklah jika kamu mau kesini... Aku tunggu, hati-hati di jalan...!" Jihan kemudian menutup panggilan telepon.
Dia meratapi nasibnya, di saat dia membutuhkan kehadiran sang suami yang sangat dia cintai, namun suaminya sama sekali tidak peduli dengan dirinya.
" Regina, kamu sahabat ku satu-satunya dan selalu ada untuk ku, aku harap kamu bahagia dan tidak bernasib sama seperti diriku " ucap Jihan dalam batinnya.
" Suamiku saja tidak peduli dengan diriku, hanya kamu belahan jiwaku, Semoga kamu bahagia ".
Tatapan kosong Jihan melihat dirinya yang sebentar lagi akan meninggal, namun dia tetap berjuang untuk bisa bertahan hidup.
...•••☘☘☘•••...
" Mungkin inilah nasib ku... Diriku harus mati karena penyakit ini... Diriku bahkan belum sempat merasakan kebahagiaan seperti yang orang-orang yang hidup bahagia bersama dengan suami dan keluarganya...
Ayah ku meninggal setelah aku bertunangan dengan suamiku... Sedangkan ibuku dia sudah meninggal sejak aku masih kecil...
Suamiku yang sangat aku cintai yang seharusnya ada di sampingku menemani diriku dan mengharapkan agar aku sehat, justru malah sebaliknya....
Dia tidak ada di sampingku... Bahkan setelah kami menikah, suami ku berubah... Dirinya yang sebelumnya tampak sangat mencintai diriku tiba-tiba saja tidak perduli dengan diriku...
Sedangkan sahabat ku dia yang selalu ada untukku, dia seperti belahan jiwa untuk ku... Dan hanya dia yang mengerti diriku...
Hanya dia yang selalu ada untukku aku harap dia menemukan kebahagiaannya... Walaupun terkadang dia sangat sulit untuk di pahami namun hanya dia yang aku miliki di dunia ini..."
Tatapan kosong Jihan dan hati yang berbicara, kesedihan dan duka yang mendalam yang dia rasakan. Dia hanya bisa meratapi nasibnya.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ