Violet Evania, ia merupakan seorang gadis yang mempunyai pandangan berbeda tentang pernikahan. Baginya, menikah berarti neraka.
Bukan tanpa alasan dia berpikir demikian. Karena semua itu, di pelajari, dari pernikahann orang tuanya. Sang ayah yang ringan tangan, dan mulut setajam silet, mampu merubah pandangannya.
Disisi lain, Ryhs Sinclair, seorang CEO di perusahaan Developer Perumahan ternama, ia malah beranggapan jika menikah artinya mengikat. Sedangkan ia butuh kebebasan seperti burung-burung yang berterbangan liar di langit sana.
Bagaimana jika dua orang dengan tujuan yang sama, malah disatukan dalam ikatan pernikahan?
Yuk, ikuti kisahnya di novel ini ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-gara Mertua
Tak di sangka, setelah kena air dingin, bukan sadar, Violet malah semakin menjadi. Dia bahkan berhasil menarik tubuh Rysh.
"Aku panas Rysh ..."
"Vio, dengar ... Aku dan kamu," Rysh gak bisa konsentrasi. Apalagi, lekuk tubuh Violet semakin terlihat jelas.
"Rysh ..." tatapan Violet berubah sendu. Napasnya mulai terasa berat.
Dan, di luar kamar mandi, Dania berharap-harap cemas. Dan dia baru pergi, ketika suara desahan terdengar samar.
"Rencana kita berhasil," satu pesan dia kirimkan, dan langsung dihapus, ketika Ghea sudah membacanya.
🍇🍇🍇
Pagi mulai menampakan cahayanya. Untuk pertama kalinya, sejak mereka menikah. Violet, melihat Rysh masih tertidur di sampingnya.
Wajah Violet bersemu merah, kala mengingat kejadian semalam. Karena pada akhirnya, dia dan Rysh melakukan itu.
Padahal berulang kali Rysh menolak, tapi berulang kali juga dia memancing lelaki itu.
"Apa aku menyakitimu?" tanya Rysh masih dengan mata terpejam.
"Hah?"
"Apa semalam aku terlalu kasar?"
"Jangan diungkit lagi Rysh," balas Violet menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Tapi aku heran ... Kenapa semalam lancar ya?" tanya Violet, masih dalam keadaan menyembunyikan wajahnya.
"Maksudnya?"
"Bukannya kita sudah pernah mencoba?" tanya Violet lagi.
"Mungkin karena semalam kamu terlalu bernapsu," balas Rysh, sembari menarik selimut untuk menatap wajah istrinya.
"Heh ..."
Violet merasa wajahnya memanas.
"Tapi memang benar kan?" Rysh kembali menindih tubuh Violet.
"Ng-nggak ..." Violet memalingkan wajahnya.
"Perlu aku ingatkan? Bagaimana kamu memohon, agar aku memuaskan mu?" tanya Rysh, sembari menghembuskan napasnya, tepat di telinga Violet.
Tubuh Violet menegang. Apalagi, satu kecupan mendarat, di bahu polosnya.
"Tiba-tiba, aku seperti menginginkannya lagi," tutur Rysh, menaik-turunkan alisnya.
"Nggak ya Rysh ... Kita udah telat, ke kantor," tolak Violet, mendorong tubuh Rysh sekuat tenaga.
Namun, tubuh Rysh tak bergeming, dia malah semakin mendekatkan wajahnya pada Violet.
Dan pada akhirnya, ciuman di pagi hari itu, terjadi lagi. Atau mungkin, bukan hanya sekedar ciuman, tapi lehih dari itu.
Di luar kamar, sarapan yang telah di hidangkan mulai terlihat dingin. Dania, malah sibuk bercengkrama dengan sahabatnya.
Iya, Ghea memutuskan untuk mendatangi rumah Dania. Karena ingin melihat langsung apa rencananya itu berhasil atau enggak.
"Lihat lah, bahkan mereka belum keluar kamar, kan?" kekeh Dania.
"Iya, sepertinya rencana ini beneran berhasil," sambung Ghea.
"Aku gak sabar, untuk menggendong cucu," tambah Dania, cekikikan.
Karena gak mau kepergok oleh Rysh ataupun Violet. Akhirnya, Ghea memilih untuk pulang. Dia belum siap, jika rahasia tentang ia dan Dania sahabatan terbongkar.
Setelah kepulangan Ghea, Rysh keluar dari kamar. Dia menatap heran, sama mertuanya yang membawa masuk nampan, dengan gelas bekas.
"Ada tamu bu?"
"Iya, tadi tetangga pada mampir," sahut Dania, jelas berbohong.
"Ada hal, yang mau aku tanyakan bu ... Mumpung Violet masih di kamar,"
"Ada apa?"
Sebenarnya Dania sudah tahu, Rysh akan menanyakan apa. Tapi, dia gak menyangka, akan secepat ini.
"Apa ibu?"
"Ibu apa?" tanya Dania pura-pura gak ngerti.
"Yang memberikan kami obat?" tanya Rysh, mengatur nada bicaranya, supaya sang mertua gak merasa tersudutkan.
"I-iya ... Karena selama ini, ibu lihat, hubungan kalian gak ada perkembangan. Lagipula, ibu takut jika nanti mamamu, meminta kamu untuk menceraikan Violet. Apalagi, mama mu hanya memberi waktu dua tahun kan?" ujar Dania, memberi alasan.
Rysh menyugar rambutnya. Karena alasan yang diberikan oleh mertuanya cukup masuk akal.
"Bu ... Aku dan Violet suami istri, dan gak akan ada yang bisa pisahkan kami, kecuali itu kehendak yang di atas," papar Rysh, menenangkan kegelisahan mertuanya.
"Tapi, makasih ya bu ... Karena ibu aku dan Violet beneran jadi suami istri," sambung Rysh.
Iya kan? Karena Dania, dia bisa mencicipi tubuh istrinya, walaupun di bawah pengaruh obat.
Tapi, setidaknya dengan obat pula Violet lupa apa itu tegang di tengah-tengah kenikmatan.
Di kamar, Violet menggerutu kala melihat jejak kemerahan di seluruh tubuhnya.
Sesekali wajahnya bersemu, kala mengingat betapa memalukannya dia semalam.
Harga dirinya jatuh sejatuhnya. Dia tanpa malu, malah menyeret Rysh untuk masuk bathtub bersamanya.
"Lupakan Vio ... Rysh suami mu, sudah seharusnya dia mambantu mu," ujarnya pada diri sendiri.
"Semoga consiler ini, bisa menutupi jejak-jejak ini ... Kalo nggak, bisa hancur citra dingin, yang selama ini aku bangun,"
"Sudah siap?" Rysh membuka pintu, melihat istrinya.
"Kamu berangkat aja dulu ... Aku lagi menutupi ini," Violet menunjukkan lehernya.
"Kenapa di tutupi? Biarkan aja ... Itu jejak yang bahkan semua orang kantor memimpikannya,"
Violet memutar mata malas. "Sebagian wanita di kantor, udah berumah tangga Rysh ... Dan tak semua wanita di kantor itu, menyukaimu," cibir Violet.
Rysh yang tak terima, langsung masuk kamar dan berdiri di samping Violet.
"Tapi mereka semua menatap ku dengan tatapan kagum ... Mereka pasti mengidolakan aku untuk jadi suami mereka. Bahkan— mungkin mereka mengkhayal menjadikan aku suaminya," ujar Rysh jumawa.
"Itu hanya pikiran mu aja ... Mereka memang kagum sama kamu. Tapi hanya kagum karena kamu atasan mereka. Coba aja kamu jadi satpam. Jangankan kagum, melirik mu aja nggak," balas Violet.
...🍇🍇🍇...
Kini, baik Rysh dan Violet sama-sama sudah berada di kantor. Walaupun serumah, mereka gak pergi bersama. Karena keduanya memilih untuk pergi dengan kendaraan yang berbeda.
Itu semua, agar mengurangi kecurigaan awak kantor.
"Vio ..." Sapta menyapa, kala Violet baru keluar dari ruangan Rysh.
"Ya, pak Sapta ... Ada yang bisa aku bantu?"
"Vio ada waktu? Aku ingin mengajak Vio untuk makan siang," ajak Sapta tersenyum manis.
"Maaf pak, aku gak bisa
Apalagi, di kantor begini," tolak Violet halus.
Alih-alih kecewa, Sapta malah semakin gencar mengejar Violet. Karena baginya, Violet bukan cewek gampangan, yang mau menerima ajakan lawan jenis, dengan mudah.
Dan itu, sudah sangat amat jarang di temukan di jaman sekarang.
"Kalo di luar kantor? Bolehkan, aku mengajak anda?" tanya Sapta lagi.
Violet menghela napas berat.
"Maaf pak, aku gak suka membangun hubungan. Apalagi, dengan teman kantor,"
"Berikan aku satu kesempatan untuk kita saling mengenal Vio," mohon Sapta penuh harap.
"Maaf ..." lagi-lagi Violet menolak.
Violet kembali ke mejanya. Dia mulai menghubungi klien, untuk meninjau atau menanyakan kapan mereka punya waktu untuk saling membahas proyek.
Sedangkan Sapta, juga kembali ke mejanya. Wajah yang tadi penuh binar, sekarang redup bak mendung di tengah terik mata hari.
"Sudah aku bilang kan? Vio itu gak normal," bisik teman wanita Sapta.
"Apa dia mengincar atasan kita ya?" tanya Sapta menduga-duga.
"Gak mungkin ... Dia bahkan gak ada di grup pengagum pak Rysh," balas wanita itu yang bernama Rachel.
"Menurut kabar yang beredar, Vio itu lesbian," bisik Rachel lagi.
"Kalo begitu, tolong kamu cari bukti! Aku akan mempermalukannya, karena berani-beraninya menolak ajakan ku," perintah Sapta menatap nyalang ke arah Violet.
tpi kenapa vio gk hamil2...