Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan
Hubungan mereka tetap berjalan seperti biasa. Di depan keluarga, mereka seperti anak dan ayah tiri yang tidak terlalu dekat. Tapi saat berduaan... mereka sudah pasti seperti pasangan kekasih yang tidak mau dipisahkan. Saat ada kesempatan, Angkasa pasti masuk ke kamar kekasihnya. Bukan untuk melakukan hal yang lebih jauh, mereka belum sampai ke sana. Tapi mereka hanya sekedar ngobrol, bercanda, makan, atau nonton bersama. Dan tentu saja diselingi dengan ciuman yang panas.
Semuanya berjalan lancar. Tanpa ada yang curiga sama sakali. Karena mereka terlalu pintar saat menyembunyikannya. Bahkan, Sukma sama sekali tidak peduli dengan apa yang sang suami lakukan.
Sejak obrolan mereka dimalam pertama. Sukma dan Angkasa tak lebih dari dua orang asing yang dipaksa tinggal dalam satu atap. Meski awalnya Sukma sempat ingin membuka hati dan mencoba menjalin pernikahan yang sesungguhnya dengan Angkasa. Namun, karena pria itu sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai... Sukma langsung mengubur keinginannya. Karena bagaimanapun, ia dulu janda dari korban pengkhianatan. Dan ia, tidak mau jadi pengkhianat yang menyakiti hati wanita lain.
Angkasa sangat menghargai itu. Ia berterima kasih pada Sukma yang mau mengerti. Untuk membalas kebaikannya, Angkasa siap membantu wanita itu kapanpun dibutuhkan. Asalkan ia mampu dan tidak menyakiti kekasihnya.
Mereka hidup berdampingan. Di depan mata kolega, mereka seperti pasangan yang harmonis dan hebat. Karena keduanya, mampu mengelola dan mempertahankan kejayaan perusahaan masing-masing.
Siang ini, Angkasa baru saja selesai meeting dengan client di sebuah restoran. Tadinya mereka akan makan siang bersama. Tetapi, karena ada halangan, client tersebut pamit lebih dulu sebab ada urusan yang mendesak.
Angkasa akhirnya makan hanya bersama Asistennya, Rudi. Pria muda berusia 30 tahun, tetapi kemampuannya sangat mumpuni dan bisa Angkasa andalkan dalam segala hal.
Mereka makan sambil ngobrol berdua. Tetapi suara seseorang menginterupsi mereka.
"Angkasa, kamu Angkasa kan? Apa kabar?" seorang wanita seksi dengan rambut blonde nya tiba-tiba datang dan duduk dihadapannya.
"Kamu siapa?" Angkasa mengerutkan kening. Ia merasa familiar dengan wajah itu, tapi juga lupa nama dan pernah lihat dimana.
Wanita itu tersenyum. Mencondongkan tubuhnya, hingga bongkahan bulat buah dadanya terlihat. "Aku Rose, Angkasa! mantan pacarmu waktu SMA dulu!"
Angkasa mengangguk. Ia baru ingat sekarang. Rose, gadis populer dan tercantik di SMA nya dulu. Angkasa, dulu sempat tergila-gila padanya. Tetapi, karena Rose kepincut pria lain yang lebih kaya darinya... Ia ditinggalkan. Dan gara-gara hal itu, ia kecewa dengan yang namanya wanita. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Leya yang mengubah pandangannya.
"Angkasa, kamu kok diam saja? kamu masih cinta ya sama aku?" kata Rose penuh dengan rasa percaya diri. Karena saat di SMA dulu, siapa yang tidak tahu... jika setelah mereka putus, Angkasa langsung pindah sekolah.
"Jangan mengada-ada!" Angkasa lanjut makan. Ia tidak tertarik bicara dengan wanita itu.
Rose masih betah disana. Ia lanjut bicara. "Aku udah cerai dari Robby!" ucap Rose memberitahu.
"Lalu?"
"Bisa kita balikan? aku dengar kamu masih sendiri? pasti nungguin jandaku kan? sekarang aku udah jadi janda, mari kita bersama? aku dengar kamu juga sudah jadi pengusaha hebat yang punya cabang dimana-mana!"
Angkasa ingin pingsan. Seumur hidupnya, ia sudah berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara. Tapi, belum pernah sekalipun ia bertemu dengan manusia yang memiliki kadar kepercayaan diri setinggi ini.
"Kamu sehat?" komentar Angkasa, menggelengkan kepala.
"Sehat banget dong! Ayo kita balikan? tapi kamu harus belikan aku rumah minimal 10M, mobil harus keluaran terbaru, dan jangan lupa, uang bulanan serta kartu unlimited ya?"
Rudi sampai lupa bernapas mendengarnya. Ia belum pernah bertemu dengan wanita sepede dan setidak tahu malu ini.
"Sepertinya kamu harus periksa kejiwaan!"
Angkasa tidak berkomentar banyak. Ia menganggap Rose wanita gila, hingga tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan kata-kata.
"Ayo kita pergi!"
Angkasa meninggalkan sejumlah uang diatas meja. Lalu mengajak Rudi pergi dari tempat itu.
"Angkasa kamu mau kemana? kamu jangan malu-malu gitu dong?" Rose terus memanggil, tapi Angkasa tidak mau mendengar.
"Bos dimana kenal sama wanita gila itu?" komentar Rudi, tak habis pikir.
Angkasa tak bisa menjawab. Ia bertanya pada dirinya sendiri, mengapa dulu dia sebodoh dan segila itu. Kok bisa-bisanya jatuh cinta dengan wanita seperti dia. Bahkan memutuskan untuk tidak menjalin cinta ataupun menikah dengan wanita manapun hanya gara-gara ditinggalkan olehnya.
Angkasa menggeleng, ia tidak ingin mengingat momen yang paling memalukan dalam sejarah panjang hidupnya.
---
Setelah dari restoran, mereka langsung kembali ke kantor. Sesampainya di depan ruangan, Angkasa dihampiri oleh sekretarisnya.
"Pak, di dalam ada Mbak Leya," bisik Mona, salah satu dari dua orang kepercayaannya yang mengetahui hubungannya dengan Harleya.
"Sudah dari tadi?" senyum Angkasa merekah, karena sudah lama Leya tidak datang ke kantornya.
"Hampir setengah jam Pak!" jelas Mona.
Angkasa langsung masuk ke ruangannya. Tapi ia langsung disambut oleh wajah cemberut kekasihnya. Yang duduk di kursi kebesarannya dengan bibir yang mengerucut, tangan yang melipat di depan dada dan wajah yang tak mau menoleh ke arahnya.
"Maaf ya Sayang Mas telat?" Angkasa menghampiri kekasihnya dengan rasa bersalah.
"Hmm!" Leya hanya berdehem. Bukti jika saat ini gadis itu masih marah padanya.
"Jangan marah dong sayang? Kamu mau datang ke kantor kok nggak ngasih kabar dulu? Mas tadi habis meeting di luar?" Angkasa menggeser kursi, lalu berjongkok di hadapan kekasihnya.
"Lihat aja ponsel Mas!" sahutnya, masih kesal.
Angkasa mengambil ponselnya dari dalam saku. Lalu ia melihat riwayat panggilan dan puluhan pesan yang berasal dari Leya.
"Maaf sayang, tadi ponselnya Mas silent. Jadi gak tahu kalau kamu menghubungi?" Angkasa membujuk, merayu kekasihnya agar tak lagi marah.
"Tadinya aku mau buat kejutan tapi malah aku yang terkejut!"
Angkasa gemas. Ia berdiri, meriah tubuh kekasihnya agar duduk diatas pangkuannya. "Mas minta maaf? jangan marah lagi dong? kamu mau apa sebagai gantinya?"
Wajah cemberut Leya mendadak hilang. "Aku mau ruangan Mas diisi penuh sama makanan. Supaya saat aku datang dan Mas gak ada, aku jadi gak mati kelaparan!"
Leya gak bohong, saat ini ia memang sedang kelaparan. Tadinya ia datang dengan tujuan ingin mengajak Angkasa makan siang di kantor. Tapi kekasihnya itu malah sedang meeting diluar.
"Boleh! nanti akan Mas sediakan banyak makanan kesukaan kamu. Tapi kamu harus sering-sering sayang kesini, oke!" Angkasa mencolek hidung mancung kekasihnya.
Leya kembali bahagia, ia mencium pipi Angkasa sekilas.
"Cuma cium pipi aja nih?" sekarang giliran Angkasa yang ngambek.
Leya tersenyum. Ia tahu apa yang kekasihnya inginkan. Tetapi perutnya yang berbunyi keras, menghentikannya.
Kruuuk!
Padahal sedikit lagi bibir mereka bertemu. Tapi gara-gara suara perut, mereka tertawa.
"Sebaiknya kita isi perut dulu!" ucap Angkasa.
Leya malu, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Angkasa.
"Tidak apa-apa. Gak usah malu!"
Angkasa mengambil ponselnya. Ia meminta Rudi untuk memesankan banyak makanan kesukaan kekasihnya. Leya makin senang, ia makan dengan lahap... bersama Angkasa disebelahnya.
"Tetap begini Leya. Tetap bersamaku dan tetap jadi kekasihku!"