Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Harga Dari Sebuah Langkah
"Bejo?" lirih Darmi dengan suara bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Begitu juga dengan Mela dan yang lainnya. Mereka terdiam, tidak menyangka jika pelaku adalah orang yang mereka kenal.
"I-ini benar-benar kamu?" suara Darmi masih bergetar. Namun, bukan karena takut melainkan karena marah.
Bejo menatap mereka satu per satu. Dia tidak lagi bersembunyi.
"Ya, ini memang aku," jawabnya kasar.
"Kenapa kamu lakukan ini?" teriak Surti.
Bejo tertawa sinis. "Kenapa?" ulangnya. Tatapannya langsung tertuju pada Mela. "Tanya saja dia."
Semua menoleh ke arah Mela yang masih berdiri di tempatnya.
"Sejak dia datang, desa ini jadi ribut!" lanjut Bejo, suaranya mulai meninggi. "Orang-orang jadi berani melawan!"
Tatapan Bejo beralih ke Darmi. "Termasuk kamu!"
Darmi maju satu langkah. Tatapannya tajam, tidak lagi gentar seperti sebelumnya.
"Kalau kamu nggak melakukan kekerasan, aku juga nggak akan melawan!"
"Diam!" bentak Bejo.
Mela akhirnya melangkah maju, berdiri di sisi Darmi. "Jadi, kamu hancurkan lahan ini karena dendam pada ku?" tanyanya. Nada suaranya tidak tinggi namun, cukup membuat suasana kembali hening.
Bejo mendengus kasar. "Kamu pikir, kamu siapa, hah?" sentak Bejo. "Datang ke sini, sok jadi pahlawan, sok jadi pemimpin!"
Ia menunjuk lahan itu. "Ini semua bukan tempatmu! Kau itu janda pembawa sial!"
Mela menatapnya lurus, sama sekali tidak goyah. Meski hatinya sakit karena di hina, tetapi itu tidak seberapa dibandingkan dengan pengkhianatan dari orang yang pernah ia cintai.
"Kalau ini bukan tempatku, lalu kenapa aku masih berdiri di sini?"seru Mela, seolah menantang. "Kalau ini bukan tempat ku, apa ini tempat mu? Lalu, kenapa kamu harus datang diam-diam di malam hari seperti pencuri?"
Kalimat itu menusuk, membuat Bejo terdiam dengan wajahnya menegang.
Mela melangkah lebih dekat. "Kalau kamu merasa benar, harusnya kamu tidak perlu bersembunyi."
Tidak ada yang menjawab.
"Asal kamu tahu, aku menyelamatkan mbak Darmi, itu sama saja aku menyelamatkan diri ku sendiri. Harusnya, kamu bersyukur, mbak Darmi menarik tuntutannya. Tapi sekarang, kamu justru mengulanginya lagi. Dan, kali ini bukan mbak Darmi, tapi aku yang akan mengambil tindakan tegas."
Warga mulai berbisik. Mereka mendukung Mela.
Bejo menatap sekeliling. Satu per satu warga tidak ada yang membelanya. Ia menggeram, lalu mendorong salah satu warga dan berlari pergi.
"Eh... Dia lari!" seru Yati
Warga bergerak, siap mengejar. Namun, Mela menahan mereka.
"Sudah, pak. Tidak usah di kejar," ucap Mela. "Cepat atau lambat, dia akan tertangkap juga."
Darmi berdiri diam. Ia menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Maaf!" ucapnya pelan pada Mela.
Mela menggeleng. "Kamu nggak salah, mbak." Ia menatap lahannya lalu, beralih ke warga di sekitarnya. "Saya ucapkan terima kasih banyak karena bapak-bapak sudah membantu saya menangkap orang yang merusak lahan saya."
"Sama-sama neng Mela. Neng Mela juga bagian dari desa ini. Sudah seharusnya kami membantu. Apalagi, neng Mela kerap membagikan hasil panenan pada kami," ujar salah satu warga.
"Iya, benar."
Mela tersenyum dan mengangguk.
Malam itu, ia merasa tidak sendiri lagi. Selain keempat sahabatnya, masih ada warga yang membelanya. Namun, apa semua ini sudah selesai?
...****************...
Pagi di desa Morana tidak lagi sama. Bukan karena ladang Mela, tapi karena suasana yang terasa berbeda.
Bejo memang berhasil kabur malam itu. Namun kali ini, Mela tidak tinggal diam. Dengan didampingi Darmi, Yati, dan beberapa warga lain, ia datang ke kantor polisi di kecamatan.
Laporan dibuat, kesaksian diberikan dan untuk kedua kalinya nama Bejo resmi tercatat sebagai pelaku.
"Kalau dia tertangkap, akan langsung diproses," kata petugas saat itu.
Mela mengangguk, merasa tenang. Namun dalam hatinya, ia tahu ini tidak akan mudah.
Dan benar saja. Bejo menghilang, seolah lenyap ditelan bumi. Keluarganya di mintai keterangan, namun tidak ada satupun yang tahu, dimana pria itu berada.
Namun justru itu, membuat bayangannya terasa lebih besar.
"Katanya sekarang jadi buron."
"Ya jelas lah, orang sudah dilaporkan."
"Kalau dia balik, gimana?"
Bisikan-bisikan itu mulai terdengar lagi dan semakin melebar.
Setelah membuat laporan, Mela dan yang lain mulai bekerja di lahan pertanian. Mereka memperbaiki bedengan dan tanaman yang semalam sempat di rusak oleh Bejo.
Mereka terus bekerja, hingga sore hari dan setelahnya, mereka mulai pulang ke rumah masing-masing.
Pagi harinya, di pasar tempat Mela biasa menjual hasil panennya, suasana mulai terasa berbeda.
Beberapa pedagang yang dulu ramah, kini hanya sekedar melirik, tanpa menyapa dan apalagi tersenyum.
Mela mencoba mengabaikannya dan memilih fokus pada dagangannya. Hingga, seseorang datang dan langsung berkata, "Sayurnya sekarang langsung ke kota, ya?" Suara itu terdengar ringan namun, nadanya tidak sepenuhnya ramah.
Mela menoleh, menatap seorang pedagang wanita berdiri dengan tangan terlipat. Mela tersenyum sopan.
"Iya, mbak sebagian."
"Oh, pantas saja," sahutnya singkat tanpa ada lanjutan. Namun, tatapannya cukup menjelaskan semuanya.
Di sudut lain, dua orang berbisik sambil menatap kearah Mela.
"Baru juga datang, sudah sok besar."
"Dengar-dengar dia janda, ya?"
"Iya. Katanya ninggalin suaminya."
"Ah, masa? Bukannya dia yang ditinggal karena bermasalah?"
Tawa kecil mereka terdengar pelan namun, tajam.
Mela berdiri tidak jauh dari sana. Tangannya menggenggam erat keranjangnya. Ia mendengar dengan jelas tanpa satu kata pun terlewat.
Namun, ia tidak menoleh, tidak juga menegur mereka. Tapi, ia hanya diam.
Setelah sayurannya habis, Mela memilih langsung pulang. Langkahnya lebih pelan dari biasanya. Sesampainya di rumah, Ia membuka pintu, lalu bersandar sejenak di baliknya.
Ia menghela napas panjang. "Ternyata, bukan hanya masalah lahan dan tanaman yang harus aku hadapi. Tapi juga... mereka," gumamnya.
Ia mulai melangkah, namun suara Darmi terdengar dari luar.
"Mel!"
Mela segera berbalik, lalu membuka pintu. "Mbak Darmi? Ada apa?" tanyanya.
Darmi masuk dengan wajah khawatir. "Aku dengar di pasar tadi... "
Mela tersenyum kecil. "Gosip?" potongnya.
Darmi terdiam, lalu mengangguk pelan.
"Biar saja, mbak," lanjut Mela, mencoba terdengar tenang.
"Tapi, Mel, kalau kamu diam saja, mereka bakal terus—"
"Aku tahu, mbak. Tapi, kalau aku jelaskan, mereka akan semakin menjadi."
Darmi menghela napas. "Terus, kita harus gimana?"
Mela berpikir sejenak. Lalu, menatap ke arah lahannya di luar.
"Biarkan saja dulu. Lagipula , mereka seperti itu pasti karena iri pada kita. Yang penting sekarang, kita fokus kerja saja."
"Baiklah. Aku ngikut saja. Tapi, kalau sudah keterlaluan, kita harus bertindak."
Mela tersenyum dan mengangguk setuju.
Malam harinya, Mela kembali duduk di teras.
Angin berhembus pelan. Langit gelap tanpa banyak bintang.
Ia memejamkan mata sejenak, mengingat semuanya dari awal, dari titik terendahnya hingga bisa sampai sekarang.
"Kalau dulu aku bisa bertahan, yang ini juga pasti bisa," gumamnya.
Ia membuka mata. Tatapannya tidak lagi goyah karena kini ia tahu, setiap langkah ke depan, selalu ada harga yang harus dibayar. Dan ia, sudah siap membayarnya.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??