Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Kedatangan tamu tak Terduga
Waktu terus berlalu, proyek pagar batu Wei Ying akhirnya rampung. Kini rumah kediaman Wei tertutup dinding tembok kokoh, Wei Ying juga memasang pintu gerbang besar dan memberi tanda 'kediaman Wei' di depan pintu gerbang.
Tapi, pekerjaannya belum usai. Setelah membayar sisa upah untuk kelima pekerja, Wei Ying langsung melanjutkan pekerjaan lainnya. Yakni, mengubah halaman belakang menjadi kebun mini untuk di tanami beberapa sayur dan tumbuhan lainnya.
Wei Ying juga memasang sebuah lembaran kawat besi berbentuk kotak memanjang sepanjang halaman belakang, ia lalu memasukan ayam-ayamnya ke dalam. Sebuah inovasi baru di dunia asalnya, membuat kandang ayam yang sederhana dan tak memakan tempat juga membuat ayam aman agar tidak terlepas jauh.
"Shu!" panggil Wei Ying pada anak sulungnya.
"Iya, ibu Wei.."
"Kemari, nanti jika kamu memberi makan ayam.. kami tinggal memberinya seperti ini saja ya, tak usah mengeluarkan ayamnya.." ujar Wei Ying sambil memberikan contoh, ia menaburkan pakan ayam dari atas kandang yang terbuat dari lembaran kawat besi itu.
Lu Shu mengangguk-angguk, ia terlihat begitu terkesan dengan kandang ayam yang di buatkan Wei Ying.
Tak jauh dari sana, Lu Xue tengah menyiram bibit cabai dan tomat di tempat penyemaian benih.
Lu Bao tengah menanam benih terong yang di ladang mini setelah menata beberapa pot yang di tanami daun bawang.
Wei Ying tersenyum bangga, melihat keluarga kecil itu kompak dan harmonis.
Namun, suasana hangat dan damai itu harus di potong oleh ketukan tak sabaran dari balik pintu gerbang kediaman Wei. Lama tak ada tanggapan suara ketukan berubah menjadi gedoran keras di sertai dengan teriakan.
"Kak Wei! Kak Wei!" teriak suara di balik pintu gerbang.
Wei Ying mengernyitkan alisnya, suara familiar tapi ia tak tau siapa itu. Lalu dengan langkah kaki cepat ia segera membuka pintu gerbang, saat terbuka sebuah wajah tak asing menyapa indra penglihatannya.
Itu Wei Xang!
"Oh, ada apa?" tanya Wei Ying datar tanpa raut suka cita menyambut kedatangan adiknya.
Wei Xang balik mengernyitkan alisnya, sikap kakaknya sangat berbeda dengan biasanya. Kali ini sangat dingin dan seolah mereka adalah orang asing.
"Kak Wei, kau tau.. kabar tentang mu menyebar di seluruh desa, sampai-sampai aku yang tinggal di desa sebelah saja tau!" seru Wei Xang.
"Kabar apa?"
Wei Xang melirik kesana kemari, ia juga memperhatikan dinding tinggi yang memagari kediaman Wei yang kokoh. "Itu, katanya kakak membangun dinding tinggi. Kakak juga jarang keluar rumah katanya, jadi aku buru-buru kesini karena khawatir apakah kakak punya makanan atau tidak jika mengurung diri terus di rumah."
"Ah, kamu tak perlu khawatir. Aku tak kekurangan apapun di sini." ujar Wei Ying. "Kalau begitu, aku akan kembali masuk."
Wei Ying hendak menutup pintu gerbang, saat sebelah kaki Wei Xang menahan pintu dan berteriak, "Eh, tunggu-tunggu!"
Wei Ying menghela nafas berat, dengan sorot mata yang jengah dan menahan kesal ia berusaha tersenyum.
"Ya? Ada apa lagi?"
"Itu.. kakak tidak menyuruhku untuk masuk dulu? Aku buru-buru lari kesini, karena mencemaskan mu loh.." sahutnya.
Wei Ying mendecakkan lidahnya jengkel, "Ck!"
Wei Xang yang mendengar itu menatap bingung ke arah Wei Ying. Baru saja Wei Xang hendak berbicara, suaranya terpotong oleh seruan Lu Bao dari dalam.
"Ibu Wei! Aku sudah menanam semua bibit timunnya!"
Wei Xang menatap Wei Ying, "Oh, itu Lu Bao? Hei kak, kenapa anak itu memanggil mu Ibu Wei lagi? Bukankah waktu itu dia sudah merubah panggilannya jadi nyonya?"
"Ya, begitulah.." jawab Wei Ying seadanya tak tertarik untuk menjelaskan apapun.
"Aku mendengar rumor tentang kakak di jalan, ku pikir itu hanya rumor tak berdasar.. tapi sepertinya memang benar!" seru Wei Xang.
"Lalu?" timpal Wei Ying.
Wei Xang semakin bingung melihat reaksi kakaknya. Ia lalu semakin mendesak Wei Ying untuk membuka pintu gerbang, "Kak biarkan aku masuk dulu!" serunya.
Wei Ying berusaha menahan agar Wei Xang tak masuk, Lu Bao yang melihat Wei Ying berusaha mendorong pintu gerbang padahal ada kaki yang menyanggahnya merasa heran.
"Bu, siapa yang berkunjung?" tanya Lu Bao.
Wei Ying menoleh sejenak untuk menjawab, "Bukan siapa-siapa! Kamu bisa kembali ke dalam.." Ujarnya.
Namun, Wei Ying kalah tenaga. Pintu gerbang berhasil di dorong oleh Wei Xang.
Lu Bao yang melihat siapa yang datang, langsung tersentak kaget. Kakinya otomatis melangkah mundur dengan tatapan mata takut.
"Yo! Bao!" seru Wei Xang.
Lu Bao yang mendengar suara pria itu langsung terdiam. Wei Ying yang menyadari trauma anak itu segera menyela, ia menghampiri Lu Bao dan menyuruhnya untuk kembali masuk.
Lalu dengan langkah kaki yang kaku dan bibir yang bergetar siap untuk menangis, anak itu kembali masuk.
Kini menyisakan Wei Ying dan Wei Xang di halaman depan kediaman Wei.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭