INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di serambi utama sebuah pesantren yang sudah puluhan tahun berdiri megah---sederhana.
Dua sosok ulama sepuh tengah duduk berhadapan di atas permadani khas Persia, angin sore berhembus lembut menggoyangkan tirai putih.
Pilar kayu jati nampak berdiri kokoh meski sudah puluhan tahun.
Pesantren itu di kenal luas sebagai pusat kajian fiqih dan tasawuf yang melahirkan banyak dai muda.
Di serambi utama, Kiyai Hussen Sutmaja duduk bersila mengenakan sorban yang melilit di kepalanya, baju koko putih, wajahnya nampak teduh dan tenang.
Di hadapannya duduk sahabat lamanya, keduanya kenal saat berkuliah di Baghdad Irak.
Kiyai Ridwan Mahendra dengan peci hitam dan baju koko coklat dan sarung coklat tua, adalah pengasuh pesantren sekaligus ayah dari Gus Ali Mahendra.
Di antara mereka terhidang teh, juga ada tumpukan buku disana.
"Ridwan, waktu berjalan cepat tak terasa rasanya baru kemarin kita kenal," ucap Kiyai Hussen pelan.
Tangannya masih memutar butiran tasbih di tangannya, dan Kiyai Ridwan hanya tersenyum membalas.
“Dan sekarang kita sudah memikirkan jodoh anak-anak kita.”
Angin sore membawa suara lantunan hafalan Al-Qur'an dari kejauhan---suara Santri yang sedang mengaji.
Suasana terasa Khidmat, dan damai.
"Saya sudah lama memikirkan soal pernikahan Ning Syifa Maulida dan Gus Ali," kata Kiyai Hussen.
Nama itu membuat Kiyai Ridwan terdiam sesaat, dan berpikir sejenak mengenai perjodohan putranya.
Ning Syifa Maulida, putri tunggal Kiyai Hussen dan putri bungsunya.
Ning Syifa adalah santriwati yang cerdas, lembut tutur katanya dan kuat akan hafalannya termasuk hadist.
Sedangkan Gus Ali Mahendra adalah putra Kiyai Ridwan, yang kini mulai sering diundang ceramah ke berbagai kota.
“Ali putra saya sudah cukup matang,”ujar Kiyai Ridwan pelan.
“Akhlaknya insyaAllah terjaga. Tapi… saya tak ingin memaksakan kehendak pada Syifa,” lanjutnya.
Kiyai Hussen mengangguk setuju, seolah sangat merestui jika putrinya menikahi sang Gus dari pesantren Darul Mahendra.
“Begitu pula saya. Syifa anak perempuan satu-satunya. Saya ingin ia bahagia, bukan sekadar menjalankan tradisi.”
Hening sesaat, hanya suara hafalan santri terdengar dari kelas-kelas.
"Kita sebagai orangtua kadang ingin yang terbaik, tapi hati anak kita pasti ada jalannya sendiri," ucap Kiyai Hussen.
"Saya tak mau memaksa keinginan anak kita dan biarkan mereka bebas memilih dengan pasangan hidup mereka," lanjutnya kepada sahabat lamanya.
“Syifa tidak pernah membantah. Namun saya tahu, hatinya lembut. Ia tidak mudah membuka diri.”
Kiyai Hussen mengatakan dengan bijaksana.
"Kalo Ali di depan umum, putra saya fasih berbicara. Tapi soal urusan hati cenderung pendiam."
"Entahlah semenjak kematian ibunya dia menjadi lebih pendiam," lanjutnya.
Kiyai Hussen terenyuh mendengar masa lalu Ali yang kelam.
“Saya tidak ingin perjodohan ini hanya karena hubungan pesantren kita semakin kuat," kata Kiyai Ridwan.
Kiyai Hussen mengernyitkan keningnya heran.
“Lalu karena apa?” tanya Kiai Hussen.
“Karena saya melihat kesamaan visi,” jawab Kiyai Ridwan mantap.
“Ali ingin membangun lembaga dakwah yang lebih luas, memperluas pendidikan berbasis fiqih dan akhlak. Saya dengar Syifa juga bercita-cita mendirikan madrasah khusus perempuan?” lanjutnya.
"Benar, Syifa sering berbicara tentang pendidikan perempuan yang kuat secara ilmu dan martabat.”
Kiyai Hussen tersenyum dengan bangga, saat mendengar pujian yang di lontarkan untuk putrinya.
"Jika dua visi itu bersatu, mungkin akan sangat baik bagi kepentingan umat," ujar Kiyai Ridwan tersenyum bangga.
Tiba-tiba, wajah Kiyai Hussen berubah sedikit serius.
"Tapi Ridwan, Ali kini semakin dikenal publik. Banyak mata memandang. Banyak godaan di luar sana."
Kiyai Hussen menarik napas panjang, seolah mempertimbangkan untuk menjadikan Ali sebagai menantunya ini.
"Saya tahu, banyak media sosial yang memberitakannya," ucap Ridwan.
Ridwan menjadi teringat saat putranya terjebak dalam situasi yang berbahaya di jalan raya, dan mendengar jika Gus Ali menolong seorang pria.
"Kerusuhan itu terjadi karena sisa geng kriminal yang belum bersih," ujar Kiyai Hussen.
"Saya berdoa kepada Allah, untuk selalu melindungi aparat dan presiden yang baru terpilih," lanjut Kiyai Hussen.
Pembicaraan mereka tanpa sadar di dengar oleh Ning Syifa yang baru selesai mengajar.
"Jadi bagaimana apa kamu setuju menjodohkan Ning Syifa dengan Gus Ali?" tanya Kiyai Ridwan.
"Ya saya setuju, tapi saya harus bicara dengan Syifa soal ini," sahut Kiyai Hussen.
"Saya tak mau memaksa anak perempuan saya, dan kamu tanyakan pada Ali."
Keduanya berbicara tanpa sadar Syifa mendengarnya dari balik pintu.
Senyum manis terukir di bibir gadis muslimah itu, dirinya bahagia lantaran akan di nikahkan dengan Gus Ali.
Ning Syifa segera pergi dari sana, karena jika ayahnya sampai tahu dirinya mendengar pembicaraan orangtua pasti akan marah.
"Alhamdulilah ya allah terimakasih," ujar Ning Syifa yang tersenyum bahagia.
Gadis ini sebenarnya sudah mencintai Gus Ali sejak usia delapan tahun, namun di pendam karena saat itu menatap pria yang bukan mahram hukumnya dosa.
Ning Syifa tersenyum di lorong menuju kamarnya, para Santri melihatnya heran kenapa hari ini bahagia dan tersenyum sendiri.
Di kamarnya dengan pilar kayu jati, kasur terbuat dengan ukiran khas Jepara.
Ning Syifa duduk di kasur sambil memeluk buku kitab kuningnya, sungguh hatinya amat berbunga-bunga mengetahui Allah mengabulkan doanya.
Di lain sisi, di Pesantren Gus Ali sedang mengaji sambil menunggu para santri setoran hafalan.
Pikirannya bukan tertuju pada Ning Syifa, melainkan kepada gadis Mafia berwajah Arab yang di tolongnya beberapa hari lalu.
Baru kali ini ada seorang wanita yang menggetarkan hatinya.
Gus Ali juga pernah menolong perempuan dengan memegang, seperti membawanya ke rumah sakit---salah satu santriwatinya atau orang di jalan yang kena tabrak lari.
Tapi, diantara gadis muda yang di tolongnya---tak ada yang dapat menggetarkan hatinya seperti gadis yang belum di ketahui namanya itu.
"Ya allah pertemukan hamba dengan gadis ini," ucap Ali.
"Gus," panggil Santri dengan nada sopan yang membuyarkan lamunan Gus Ali.
"Eh iya, Paras yaa," ujar Gus Ali.
"Afwan Ana mau setoran," jawab salah satu santri.
"Oh ya silahkan."
Gus Ali mendengar setoran santrinya seketika pikirannya kepada gadis Mafia itu hilang begitu saja.
*
*
*