NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelataran 404 dan Sambutan "Hangat"

​Udara di Puncak Luar Sekte Pedang Langit terasa jauh lebih segar. Berbeda dengan pelataran pelayan yang dipenuhi bau belerang dan tanah basah, area ini dikelilingi oleh pepohonan pinus spiritual yang memancarkan Qi alam setidaknya dua kali lipat lebih padat.

​Lin Chen berjalan di samping Lin Tian sambil memeluk dua set jubah luar berwarna putih abu-abu dan sebuah kantong kecil berisi jatah bulanan mereka: lima Batu Roh tingkat rendah dan tiga botol Pil Pengumpul Qi. Wajah remaja itu terus menyunggingkan senyum tak percaya.

​"Kakak Tian, ini pertama kalinya aku menyentuh Batu Roh," bisik Lin Chen, matanya berbinar menatap kantong kain tersebut. "Dengan ini, aku pasti bisa segera menembus tingkat dua."

​Lin Tian hanya mengangguk pelan. Pandangannya menyapu deretan bangunan berhalaman luas yang tertata rapi di lereng gunung. Namun, semakin jauh mereka berjalan menelusuri nomor pelataran, kondisi bangunan di sekitar mereka menjadi semakin sepi dan tak terawat.

​Mereka tiba di ujung lereng yang berbatasan langsung dengan Tebing Angin Puyuh. Di sana, berdiri sebuah pelataran dengan gerbang kayu yang catnya sudah mengelupas. Sebuah plakat kayu kusam tergantung miring bertuliskan angka '404'.

​"Sepertinya faksi Zhao tidak tinggal diam. Penatua pengurus pembagian pelataran pasti sudah disuap," gumam Lin Tian. Pelataran ini bukan hanya terisolasi dari pusat sumber daya sekte luar, tetapi angin kencang dari tebing membuat Qi di area ini sangat tidak stabil untuk kultivasi biasa.

​"Tidak apa-apa, Kakak. Ini jauh lebih istana dibandingkan pondok kayu kita yang hancur," ucap Lin Chen optimis.

​Ia melangkah maju dan mendorong gerbang kayu tersebut. Bunyi derit engsel berkarat terdengar nyaring. Namun, senyum di wajah Lin Chen langsung membeku begitu pintu terbuka.

​Di tengah halaman pelataran yang dipenuhi rumput liar, terdapat sebuah meja batu. Tiga orang pemuda berpakaian jubah murid luar sedang duduk santai di sana sambil menikmati kendi anggur. Mendengar suara gerbang terbuka, ketiganya menoleh secara bersamaan.

​Orang yang duduk di tengah memutar cawan anggurnya dengan malas. Dari fluktuasi energinya, ia adalah seorang kultivator ranah Mortal tingkat empat.

​"Oh, lihat siapa yang datang. Tuan muda yang baru saja lolos dari lubang jarum ujian," ucap pemuda itu dengan nada mencemooh. Ia bangkit berdiri, diikuti oleh dua rekannya yang berada di tingkat tiga. "Kami sudah menunggumu, Sampah. Namaku Wang Li. Kakak Kuang mengirim kami untuk memberimu 'sambutan' di sekte luar."

​Lin Tian menyipitkan matanya. Zhao Kuang benar-benar bekerja cepat. Belum ada setengah hari sejak ujian selesai, anjing peliharaannya sudah menunggu di depan pintu.

​"Sambutan apa yang kau maksud?" tanya Lin Tian datar, mengisyaratkan Lin Chen untuk mundur selangkah ke belakangnya.

​Wang Li tertawa sinis, berjalan mendekat sambil menengadahkan telapak tangannya. "Aturan tak tertulis sekte luar. Setiap pendatang baru harus membayar uang perlindungan. Serahkan kantong Batu Roh dan pil milikmu itu. Sebagai gantinya, kami akan membiarkanmu tidur di pelataran ini tanpa patah tulang malam ini."

​"Dan jika aku menolak?"

​Wajah Wang Li berubah bengis. "Maka kami akan mematahkan kakimu, merampas kantong itu, dan melemparkan kalian berdua ke dasar Tebing Angin Puyuh. Di balai ujian kau mungkin bisa beruntung meminjam tenaga Boneka Perunggu untuk bertahan, tapi di sini, tidak ada Penatua yang akan menyelamatkanmu!"

​Mendengar ancaman itu, alih-alih terlihat ketakutan, sebuah senyum tipis yang sangat dingin justru terkembang di sudut bibir Lin Tian. Di balai ujian yang disaksikan ribuan mata, ia memang harus menyembunyikan kekuatannya agar tidak dicurigai memiliki pusaka atau warisan tingkat tinggi.

​Namun di pelataran terisolasi ini, tanpa saksi selain musuhnya sendiri, ia tidak perlu lagi memakai topeng pecundang.

​"Chen'er," panggil Lin Tian tanpa menoleh.

​"Y-ya, Kakak?"

​"Tutup gerbangnya, dan kunci dari dalam."

​Mendengar perintah yang tidak biasa itu, Wang Li dan dua rekannya mengerutkan kening. Mengunci gerbang? Bukankah itu sama saja menutup jalan kabur mereka sendiri?

​KLAK.

​Bunyi palang kayu yang mengunci gerbang bergema di halaman yang sepi.

​"Kau benar-benar bosan hidup!" raung Wang Li, merasa diremehkan. Ia mengalirkan Qi tingkat empat ke kaki kanannya dan melesat maju bagaikan elang yang menukik. Telapak tangannya mengincar dada Lin Tian, membawa energi angin yang cukup kuat untuk menghancurkan batu koral.

​Lin Tian berdiri diam di tempatnya. Tepat saat telapak tangan Wang Li tinggal beberapa inci dari dadanya, Qi ungu keemasan meledak di dalam meridian Lin Tian, mengalir sepenuhnya ke tangan kanannya.

​BAM!

​Bukan dada Lin Tian yang hancur. Wang Li membelalakkan matanya ngeri saat melihat pergelangan tangannya telah ditangkap di udara oleh cengkeraman tangan besi. Energi angin tingkat empat miliknya lenyap seketika, tertelan oleh tekanan aura purba yang sangat buas dan berat yang memancar dari tubuh pemuda di depannya.

​Ini bukan kekuatan tingkat tiga yang rapuh seperti di balai ujian! Ini adalah monster!

​"K-kau... apa yang—"

​Sebelum Wang Li sempat menyelesaikan kalimatnya, Lin Tian menyentak lengan pemuda itu ke bawah, bersamaan dengan lutut kanannya yang melesat naik menghantam dada Wang Li dengan telak.

​KRAK!

​Tiga tulang rusuk patah seketika. Wang Li memuntahkan darah segar dan terhempas ke tanah bagaikan karung gandum yang sobek, merintih dalam penderitaan yang melumpuhkan.

​Dua rekan Wang Li yang baru saja hendak menyusul menyerang mendadak menghentikan langkah mereka seolah baru saja menabrak dinding tak kasatmata. Kaki mereka bergetar hebat. Wang Li, seorang tingkat empat, dilumpuhkan hanya dalam satu detik tanpa perlawanan?

​Lin Tian menepis debu di lutut jubahnya, lalu menatap kedua pemuda yang kini pucat pasi dengan tatapan tanpa emosi seorang predator.

​"Sambutan yang sangat menarik," ucap Lin Tian, suaranya pelan namun bergema mematikan di telinga mereka. "Sekarang, giliran kalian yang menyerahkan semua kantong Batu Roh kalian kepadaku, dan bersihkan semua rumput liar di halaman ini sampai bersih. Jika ada satu helai rumput tersisa sebelum matahari terbenam..."

​Mata Lin Tian berkilat keemasan sesaat.

​"...aku akan memastikan kalian berdua yang menjadi pupuknya."

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!