NovelToon NovelToon
BAYANG BAYANG MASA LALU

BAYANG BAYANG MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dinarta Firdaus

Enam tahun membina rumah tangga, Kirana merasa pernikahannya dengan Aris adalah definisi kebahagiaan yang sempurna. Namun, semua hancur saat Kirana menemukan kenyataan bahwa Aris kembali menjalin hubungan rahasia dengan Sarah, mantan kekasihnya yang dulu gagal dinikahi karena terganjal restu. Alih-alih menangis dan meminta cerai begitu saja, Kirana memilih jalan yang lebih gelap: menghancurkan Aris dari dalam dengan mendekati Bimo, sahabat karib sekaligus rekan bisnis Aris. Sebuah permainan ego, pengkhianatan, dan cinta yang keliru pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinarta Firdaus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI HARI YANG BERUBAH

Sejak dibukanya pintu hati Kirana kini bimo memilih menetap di Perancis meninggalkan hiruk pikuk Jakarta dan pekerjaannya.

​Sebuah rutinitas baru terbentuk tanpa pernah disepakati. Setiap hari Selasa dan Jumat, tepat pukul empat sore, Bimo akan datang.

​Ia tidak pernah melanggar batas. Jam kedatangannya seolah telah dihitung secara matematis agar tidak mengganggu jam-jam sibuk toko bunga Kirana

Kehadiran Bimo yang konstan namun pasif ini perlahan-lahan mulai mengubah atmosfer di sekitar Kirana. Awalnya, Kirana merasa diawasi dan terancam. Namun, lama-kelamaan, ketakutan itu berubah menjadi rasa bingung yang luar biasa.

​Bimo tidak lagi mengenakan setelan jas mewah buatan penjahit ternama yang mencerminkan kekuasaan dan dominasi. Pria itu kini lebih sering mengenakan kemeja linen longgar dengan warna-warna bumi yang pudar, atau sweter rajut rajutan tangan yang tampak nyaman namun sederhana. Rambutnya yang dulu selalu klimis dengan gel mahal, kini dibiarkan jatuh alami menyentuh dahinya.

​Suatu sore, hujan turun sangat deras disertai angin kencang. Tirai bambu di teras depan tidak mampu membendung tampias air yang mulai membasahi lantai kayu dan bangku tempat Bimo duduk. Kirana memperhatikan dari dalam toko. Bahu Bimo mulai basah, tetapi pria itu tetap bergeming, memeluk buket krisannya erat-erat agar tidak rusak terkena air hujan.

​Kirana menghela napas panjang. Ada pergulatan batin yang hebat di dalam dadanya. Rasa kemanusiaannya bertarung melawan trauma masa lalu.

​Jika aku membiarkannya masuk, apakah itu berarti aku membuka pintu yang salah? Tapi jika aku membiarkannya membeku di luar, apakah aku tidak memiliki hati nurani?

​Dengan langkah ragu, Kirana berjalan ke arah pintu. Ia membukanya, membuat suara gemericik hujan terdengar jauh lebih keras.

​"Masuklah. Di luar dingin," kata Kirana tanpa nada emosi.

​Bimo mendongak. Rambut depannya basah, menempel di dahi. Ada kilatan rasa terkejut yang luar biasa di matanya, diikuti oleh sebersit binar kebahagiaan yang langsung ia tekan dalam-dalam agar tidak terlihat agresif.

​"Aku tidak ingin mengotori lantaimu, Kirana. Sepatuku basah," jawab Bimo, menunjuk ke arah ujung sepatunya yang tergenang air.

​"Ada keset di depan pintu. Masuk atau aku kunci pintu ini sekarang juga," ancam Kirana tegas.

​Bimo segera berdiri. Ia melepas sepatunya di luar sesuatu yang sama sekali tidak diduga Kirana dan melangkah masuk hanya dengan kaus kaki yang setengah basah. Ia berdiri di dekat area pajangan tanaman kaktus, tidak berani mendekati meja kasir atau area pribadi Kirana.

​Secangkir Teh dan Kebenaran yang Terbuka

​Kirana berjalan ke bagian belakang toko, tempat ia biasa menyeduh teh untuk dirinya sendiri. Ia kembali dengan membawa sebuah cangkir keramik berisi teh relaksasi chamomile hangat. Ia meletakkannya di atas sebuah meja kecil di dekat Bimo.

​"Minum itu. Aku tidak mau ada orang yang pingsan di depan tokoku dan merusak reputasiku bisnisku," ujar Kirana ketus, mencoba menyembunyikan perhatian kecilnya di balik kata-kata yang tajam.

​Bimo tersenyum, kali ini senyumannya terlihat sedikit lebih lepas. "Terima kasih." Ia memegang cangkir itu dengan kedua tangannya, mencari kehangatan dari keramik yang mengepulkan uap.

​"Kenapa kamu melakukan ini, Bimo?" Kirana akhirnya melayangkan pertanyaan yang selama berminggu-minggu ini menyumbat tenggorokannya. Ia berdiri di balik meja konter, menggunakan struktur kayu jati itu sebagai perisai pelindung diri.

​Bimo menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab. "Melakukan apa?"

​"Datang ke sini. Membeli bunga yang sama. Duduk di luar seperti orang bodoh selama berjam-jam. Kamu punya perusahaan besar untuk diurus di ibu kota. Apa yang kamu cari di kota kecil pinggiran seperti ini?"

​Bimo meletakkan cangkirnya dengan sangat pelan, memastikan tidak ada bunyi benturan yang keras. Ia menatap Kirana, matanya memancarkan ketulusan yang telanjang, tanpa manipulasi.​"Aku sudah menyerahkan operasional perusahaan kepada adikku, Kirana. Aku tidak lagi memburu angka atau kekuasaan. Dua tahun terakhir ini, aku menghabiskan waktu di sebuah pusat rehabilitasi mental dan terapi psikologis di Bali."

​Kirana tersentak. Gunting dahan yang dipegangnya hampir saja terlepas dari tangan. "Terapi?"

​Bimo mengangguk. "Aku baru menyadari bahwa aku sakit setelah kamu pergi. Aku didiagnosis memiliki gangguan kecemasan akut yang berakar dari trauma masa kecilku—saat ibuku pergi meninggalkan rumah tanpa pamit dan tidak pernah kembali. Setiap kali aku merasa seseorang yang kucintai mulai menjauh, otakku mengirimkan sinyal bahaya yang salah. Aku menjadi monster karena aku takut ditinggalkan.

1
Ara putri
mampir ya kak. Jika berkenan mampir juga keceritaku TUAN AYAZ, TOLONG BERHENTI!
Dinarta Firdaus: baik kakak terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!