Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Suasana di dalam kabin mobil sedan mewah itu mendadak menjadi sangat hening, hanya menyisakan suara deru mesin yang halus dan rintik hujan yang menghantam kaca jendela. Kevin fokus menatap jalanan ibu kota yang mulai padat merayap, sementara Tristan sesekali melirik diam-diam melalui sudut matanya ke arah Ananda yang duduk kaku di sampingnya, yang sibuk memandangi layar ponsel.
Tak lama kemudian, keheningan itu terpecah oleh bunyi dering telepon dari ponsel Ananda. Wanita itu bergegas menggeser layar dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. Begitu sambungan terhubung, suara cempreng khas anak kecil yang sedang merengek terdengar cukup jelas di dalam mobil yang sunyi itu.
"Mamaaa, kapan pulang? Kenapa lama sekali? El sudah lapar mau makan malam sama Mamah..." keluh Elvano dari seberang telepon.
Raut wajah Ananda yang semula sedingin es seketika melunak, digantikan oleh gurat keibuan yang teramat lembut. "Maafkan Mamah ya, Sayang. Di luar hujan deras sekali dan jalanan macet total. Mamah pulangnya agak telat, tapi ini Mamah sudah di jalan kok. El makan cemilan dulu ya sama Nenek."
Mendengar Ananda berbicara dengan nada selembut itu kepada seorang anak, Kevin yang menyetir di depan sempat melirik lewat kaca spion tengah. Ia masih agak tidak menyangka jika wanita secantik dan semuda Ananda ternyata sudah memiliki seorang putra. Sementara Tristan, entah mengapa dadanya tiba-tiba berdesir aneh. Ada rasa penasaran dan ketertarikan yang begitu besar merayapi benaknya saat mendengar suara anak kecil dari ponsel tersebut.
"Kevin, kau antar Nanda pulang lebih dulu. Setelah itu, baru kau antar aku ke apartemen," perintah Tristan tiba-tiba, memecah kecanggungan.
"Baik, Tuan!" sahut Kevin patuh. Padahal dalam hati, Kevin berharap bisa mengantar Tristan terlebih dahulu agar ia memiliki waktu lebih lama berdua dengan Ananda. Namun, melihat raut wajah sang bos, sepertinya Tristan sengaja mengalah agar Ananda bisa cepat sampai rumah karena anaknya sudah menunggu.
Ananda kemudian menyebutkan alamat lengkap tujuannya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada keduanya. Namun, demi keamanan, Ananda sengaja hanya menyebutkan titik jemput di depan sebuah gang sempit yang berjarak sekitar seratus meter dari rumah sewanya. Ia melakukan hal itu agar mobil mewah Tristan tidak bisa menjangkau dan melacak letak pasti rumah kontrakannya, berjaga-jaga jika sewaktu-waktu pria itu mengetahui identitas aslinya.
Begitu mobil berhenti di depan gang sempit yang agak gelap, Ananda segera turun setelah berpamitan formal. Mobil sedan hitam itu pun langsung melesat pergi membelah sisa-sisa hujan.
Tristan menghela napas, bermaksud membetulkan posisi duduknya. Namun, saat ia meletakkan telapak tangannya di atas jok kulit bekas tempat duduk Ananda tadi, jemarinya menyentuh sebuah benda persegi yang keras. Tristan menunduk dan mengambil benda itu. Rupanya, sebuah ponsel dengan casing berwarna pastel milik Ananda tertinggal di sana.
Seketika, sebuah seringai tipis dan rencana licik melintas di benaknya. Ini adalah kesempatan emas untuk mencari tahu lebih dalam tentang sekretaris misteriusnya.
"Kevin, pinggirkan mobilnya sekarang," perintah Tristan mutlak.
"Eh? Ada apa, Tuan?" Kevin bingung namun tetap meminggirkan mobil ke tepi jalan yang agak sepi.
"Sebaiknya kau turun di sini dan pulang dengan taksi. Aku ada urusan mendadak dan penting sebentar," ucap Tristan tanpa ekspresi.
Kevin melongo, matanya membelalak mendengar keputusan sepihak yang teramat mendadak dari tuannya itu. "T...tapi Tuan, ini kan mobil Anda, dan tugas saya..."
"Turun, Kevin. Jangan membuatku mengulang perintah," potong Tristan dengan nada dingin yang mengancam.
Mau tidak mau, dengan wajah yang ditekuk sedalam lautan, Kevin terpaksa membuka pintu dan turun dari mobil sambil memegangi tasnya. Begitu kaki Kevin menginjak trotoar, Tristan langsung berpindah takhta ke kursi kemudi, menutup pintu rapat-rapat, dan langsung menginjak gas dalam-dalam dan melesat pergi memutar balik arah menuju gang tempat Ananda turun tadi, meninggalkan asisten pribadinya seorang diri di pinggir jalan yang basah.
'Hadeuh, dasar nasib... Kenapa malah jadi begini sih?' dengus Kevin dalam hati sambil merapatkan jaketnya, menatap nanar lampu belakang mobil Tristan yang kian menjauh.
"Mana jam segini susah sekali mendapatkan taksi karena banjir di mana-mana. Masa iya seorang asisten CEO keren harus pulang naik ojek online? Ya sudahlah, terima nasib saja kau, Kevin!" keluhnya meratapi nasibnya malam itu.
*
*
Begitu Ananda melangkah masuk ke dalam rumah sewaannya, pintu baru saja tertutup ketika Elvano langsung berlari menghambur ke arahnya. Bocah kecil itu segera memeluk erat kaki ibunya dengan wajah berbinar.
"Mamah, aku kangen!" ucap El sambil mendongak, lalu mengendus bau tubuh ibunya yang khas, aroma yang selalu membuatnya merasa aman.
Ananda tersenyum hangat, rasa lelahnya menguap seketika. Ia berlutut untuk menyamakan tinggi badan mereka, lalu mengusap dengan lembut kepala putranya. "Maafkan Mamah ya, Sayang, tadi di luar macet sekali. Ya sudah, setelah ini kita makan sama-sama. Memangnya malam ini kita makan apa, El?"
"Tadi Nenek masak sop buntut kesukaan ku!" seru El bersemangat.
"Wah, sepertinya enak sekali! Mamah jadi sudah tidak sabar untuk segera mencicipinya" ucap Ananda sambil mencium kening putranya gemas.
Ananda pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian kerjanya, sedangkan Bu Mila dan El mulai sibuk di dapur menyiapkan piring serta mangkuk untuk makan malam bersama. Namun, baru saja mangkuk pertama diletakkan di atas meja, terdengar suara ketukan pintu yang cukup keras dari arah depan.
Tok! Tok! Tok!
"Nek, siapa yang mengetuk pintu malam-malam begini?" tanya El bingung, menghentikan aktivitasnya.
"Mungkin tetangga sebelah, El. Mau mengantar sesuatu atau ada perlu," sahut Bu Mila dari dapur.
"Ya sudah, biar El saja yang buka pintu!" Dengan langkah kecilnya yang terburu-buru, El berlari ke ruang tamu. Ia meraih gagang pintu, memutar kunci, dan menariknya terbuka.
Begitu pintu terbuka, El tersentak kecil. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dewasa bertubuh tinggi tegap, mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi dan mewah, serta memiliki paras yang sangat tampan. Pria itu tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitar kontrakan mereka.
"Om Tampan cari siapa ya?" tanya El polos dengan mata bulatnya yang berkedip-kedip.
Di sisi lain, Tristan yang baru saja hendak bersuara mendadak terpaku. Jantungnya berdegup aneh saat netranya menatap lurus ke arah bocah laki-laki di hadapannya. Wajah anak itu, sorot matanya, bahkan struktur rahangnya... entah mengapa terasa begitu familiar di ingatan Tristan. Ada getaran aneh yang mendadak menyergap dadanya.
Tristan berlutut sejenak agar sejajar dengan El, mencoba menurunkan ego kerasnya. "Apakah Mamamu ada di rumah?" tanya Tristan, berusaha berbicara selembut mungkin yang ia bisa.
"Ada Om, Mamah lagi mandi... Ya sudah, Om masuk saja dulu!" jawab El ramah sambil membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan tamunya masuk.
Mendengar suara percakapan di depan, Bu Mila melangkah keluar dari arah dapur menuju ruang tamu. "Siapa yang datang, El?" tanyanya. Langkah Bu Mila seketika terhenti saat mendapati sosok pria asing yang sangat berwibawa kini melangkah masuk ke dalam rumah sederhananya.
"Maaf, Tuan mencari siapa ya?" tanya Bu Mila sopan, menatap heran pada setelan jas mewah pria itu.
"Om Tampan cari Mamahku, Nek!" sahut El mendahului, membuat Bu Mila tersenyum maklum.
Bu Mila yang memiliki pembawaan ramah pun langsung mempersilakan tamunya. "Oh, silakan duduk dulu, Tuan. Maaf rumahnya kecil. Mari, silakan duduk."
Bu Mila mempersilakan Tristan duduk di atas sofa sederhana mereka tanpa mengetahui siapa nama sebenarnya dari pria tampan tersebut. Andaikan Bu Mila tahu bahwa pria di hadapannya ini adalah Tristan Bratadikara, pria yang telah menghancurkan masa muda putrinya, ia pasti akan syok setengah mati dan langsung mengusirnya saat itu juga.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Ananda keluar dengan penampilan yang sudah berubah total. Ia kini hanya mengenakan daster rumahan longgar, wajahnya polos bersih tanpa riasan apa pun, dan rambutnya yang basah tampak dililit oleh handuk putih di atas kepala. Ia menoleh ke arah meja makan yang sepi.
"El... Ibu... Kalian di mana? Katanya mau makan malam?" tanya Ananda sambil melangkah santai menuju ruang tamu.
Namun, begitu kakinya melewati sekat ruangan dan matanya menangkap siapa sosok yang kini sedang duduk tenang di atas sofa sederhananya, langkah Ananda langsung terkunci total. Seluruh darahnya seolah berdesir dingin.
Betapa terkejutnya Ananda saat melihat Tristan sang CEO sekaligus monster masa lalunya kini berada di dalam rumah teramannya, ia duduk tepat di samping ibu dan anak kandungnya sendiri.
Mendengar langkah kaki, Tristan pun menoleh ke arah sumber suara. Detik itu juga, napas Tristan tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya menatap wanita berdaster dengan rambut dililit handuk itu.
Tanpa riasan tebal make up kantoran, tanpa pakaian formal yang elegan, wajah polos Ananda yang bersih di bawah lampu temaram ruang tamu itu mendadak menghidupkan kembali memori masa kuliahnya. Garis wajah itu, bentuk bibir itu... semuanya adalah milik satu-satunya wanita yang ia cari selama enam tahun ini.
‘Itik... Kau... kau mirip sekali dengannya!’ batin Tristan menjerit tak percaya, tangannya yang memegang ponsel milik Ananda di dalam saku jasnya mendadak bergetar hebat.
Bersambung...