NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, seperti terbakar di ujung cakrawala. Namun bagi Rangga, warna itu hanya mengingatkannya pada amarah yang membara di dadanya.

Ia berjalan tanpa tujuan, kakinya membawanya ke mana pun tanpa arah. Jaket hitamnya masih ia kenakan, kemeja putihnya mulai kusut karena terkena angin...

Setelah hampir satu jam berjalan, Rangga berhenti di sebuah jembatan penyebrangan orang yang menghubungkan dua sisi kota. Jembatan itu tidak terlalu ramai. Hanya sesekali ada pejalan kaki yang lewat, menatapnya sekilas lalu pergi.

Rangga bersandar ke pagar besi jembatan. Angin sore bertiup lumayan kencang, menerbangkan rambutnya yang acak-acakan. Ia menunduk, melihat lalu lintas di bawah yang sangat ramai..

"Mungkin lebih baik gue mati aja, loncat dari sini." pikirnya dengan absurd.

Ia menggeleng, berusaha mengusir pikiran gila itu. Tapi bebannya terlalu berat.

"Kenapa harus begini?" gumamnya pada angin. "Gue gak bersalah, dan sampai kapanpun gue gak bersalah..."

Rasa kesal terhadap Emily semakin menjadi-jadi. Bahkan Rangga tidak tahu dimana Emily tinggal.

"Sial," umpatnya. Tangannya mengepal erat pagar besi di depannya.

Rangga menarik napas panjang. Lalu tanpa sadar, tubuhnya mulai sedikit condong ke depan. Matanya menatap ke bawah..

Ia mengangkat satu kakinya, hendak menaiki pagar besi itu.

Tapi tiba-tiba—

"JANGAN, HEII!"

Sebuah tarikan kuat yang menahan lengannya Rangga...

Rangga tersentak, ketika ia hampir loncat, tiba-tiba ditarik paksa ke belakang hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh..

"Kamu gila, ya?! Ngapain loncat dari jembatan?!" bentak seorang gadis

Rangga terduduk di trotoar. Ia mengangkat wajahnya, bersiap membentak balik orang yang telah menariknya dari pagar besi itu.

Namun niatnya ia urungkan, saat melihat siapa yang menariknya.

Gadis itu tengah memunguti sesuatu yang berserakan.

"Aduh, bunganya kebuang," gumam Meysa, tangannya sibuk mengumpulkan bunga yang berserakan. Beberapa helai sudah terinjak dan layu

Rangga hanya menatapnya..

"Yah, gak jadi ke makam ibu, kalo bunganya kotor," lanjut Meysa, suararnya terdengar kesal pada diri sendiri. Ia mengumpulkan sisa bunga yang masih layak, lalu memasukkannya perlahan ke dalam kantong.

Setelah selesai, ia berdiri dan menepuk-nepuk lututnya yang kotor.

"Mas, lain kali jangan melakukan hal yang bodoh seperti tadi," ucap Meysa tanpa menoleh. "Kamu bisa merugikan diri sendiri dan orang lain. Kalau kamu sampai jatuh bisa menyebabkan kecelakaan."

Ia akhirnya menoleh, dan betapa terkejutnya Myesa saat melihat pria didepannya, seketika kantong kresek di tangannya jatuh kembali..

"Rangga?!"

Rangga mendecak keras. Lidahnya menyentuh langit-langit mulut, menciptakan suara ketidaksabaran yang biasa ia lontarkan pada Meysa di apartemen. Ia bangkit, tangan kirinya mengibaskan debu dari celana panjangnya.

"Kenapa kamu narik aku?" desis Rangga, matanya menatap Meysa. "Bukankah jika aku mati semua orang akan senang? Ayahku bisa bebas dari rasa malunya. Kamu juga bisa bebas dari pernikahan paksa yang tidak pernah kamu inginkan. Semua orang di kampus yang membenciku bisa bersorak atas kematianku."

"Tidak, Mas," jawab Meysa. "Tidak semua orang akan senang kehilangan kamu, termasuk ayahmu dan, aku sendiri!" ucap Meysa

Rangga tersenyum kecut. "Kamu gak akan senang? Kenapa? Karena kamu mau kehilangan tempat tinggal gratis?"

Tajam. Kata-katanya seperti sengaja dirancang untuk menyakiti Meysa. Rangga tahu itu. Tapi ia tidak peduli. Ia sudah terlalu sakit untuk peduli pada perasaan orang lain terutama perasaan Meysa, perempuan yang ia anggap sebagai simbol dari semua kemalangan dalam hidupnya.

Meysa menarik napas panjang. Jari-jarinya menggenggam ujung kerudungnya, mencoba menenangkan diri.

"Kamu gak ngerti apa-apa!" bentak Rangga tiba-tiba, membuat beberapa pejalan kaki menoleh sekilas. "Kamu juga gak akan pernah bisa jadi aku, kehilangan segalanya dalam semalam!"

"Kamu benar, Mas. Aku tidak pernah menjadi kamu," kata Meysa perlahan. "Tapi aku juga tidak akan pernah menjadi orang yang berdiam diri, saat melihat seseorang yang harus kehilangan nyawanya karena ulah sendiri."

Rangga terdiam sejenak.

"Sudahlah," Rangga mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan menatap mata itu lebih lama. "Urus saja kehidupanmu, jangan mengurusi kehidupan orang lain, terlebih orang itu tidak mencintaimu Meysa!"

Ia berbalik, melangkah meninggalkan Meysa tanpa menoleh. Langkahnya cepat, seperti ingin menjauh sejauh mungkin dari gadis

"Mas!" panggil Meysa dari belakang.

Namun Rangga tidak peduli dengan Meysa, ia terus berjalan sampai bayangannya hilang...

Angin masih bertiup kencang, menerpa helaian rambut Meysa..

"Jangan pernah ngurusi kehidupan orang lain, terlebih orang itu tidak mencintaimu."

*

Makam itu terletak di perbukitan kecil di pinggiran kota, tempat yang sunyi dan jauh dari kebisingan. Meysa harus naik angkutan kota dua kali, lalu berjalan kaki hampir setengah jam melewati jalan setapak yang berbatu.

Dua pusara tua berdiri berdampingan di bawah pohon mangga yang rindang. Batu nisannya sudah mulai ditumbuhi lumut, tapi Meysa selalu membersihkannya setiap kali ia datang.

"Ibu... Ayah..." lirih Meysa sambil berlutut di depan pusara itu. Ia meletakkan bunga melati yang sudah ia bersihkan satu per satu di atas batu nisan.

"Maafkan Meysa, Meysa baru kesini lagi. Bagaimana ibu dan ayah disana? Semoga kalian tetap bahagia!" ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.

"Meysa sudah menikah, Bu. Dengan laki-laki yang bukan pilihan Meysa. Meysa tidak tahu harus bahagia atau tidak."

Meysa terdiam sejenak..

"Dia tidak mencintai Meysa. Meysa tahu itu dari awal. Pernikahan ini hanya akad di atas kertas, kata dia. Tapi kenapa Meysa tetap sakit setiap kali dia berkata kasar? Kenapa Meysa tetap peduli setiap kali dia dalam masalah?"

Angin sore berdesir di antara dedaunan pohon mangga, seolah mendengarkan curhat perempuan muda itu.

"Meysa bingung, Bu. Meysa ingin kuat seperti Ibu dulu. Ibu bisa bertahan menghadapi segala cobaan meskipun Ayah sering pergi berbulan-bulan. Tapi Meysa... Meysa rasanya ingin lari. Tapi ke mana? Meysa tidak punya siapa-siapa lagi selain dia dan Ayahnya, Mbah Tin juga tinggal dikampung, ia sudah pindah sejak Meysa menikah."

Ia menunduk, dahinya menyentuh tanah di depan pusara.

"Bimbing Meysa, Bu. Bimbing Meysa, Yah. Meysa tidak ingin salah langkah. Meysa tidak ingin menyesal di kemudian hari."

Matahari semakin rendah di ufuk barat. Warna jingga perlahan berubah menjadi ungu keabu-abuan, pertanda maghrib akan segera tiba.

Meysa memeluk batu nisan itu, matanya terpejam rasa rindu yang kian berkobar membuatnya ingin sekali bertemu dengan ayah dan ibunya, walau hanya lewat mimpi...

"Meysa pamit, Bu, Yah. Doakan Meysa semoga kuat menghadapi semuanya!"

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!