Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sulis Mulai Merasa Rumah Tangganya Berubah
Suara azan Subuh baru saja selesai berkumandang ketika sebuah mobil pikap berhenti di depan rumah.Pintu kendaraan terbuka perlahan,Irwan turun dengan wajah lelah dan mata yang tampak kurang tidur.
Ia berdiri beberapa detik di depan pagar sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan.
Malam itu ia tidak pulang,untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Sulis, ia menghabiskan malam di tempat perempuan lain.
Begitu membuka pintu rumah, suasana masih sepi,Dito dan Rara masih tertidur,Sulis ternyata sudah bangun.Wanita itu sedang duduk di meja makan sambil menyiapkan sarapan sederhana untuk anak-anak,saat melihat Irwan masuk, tangannya langsung berhenti bergerak.Matanya menoleh pada jarum jam dinding, jam lima lewat tiga puluh menit, tepat irwan menginjakkan kaki dirumahnya.
"Kamu baru pulang?" tanyanya datar.
Irwan berusaha terlihat santai.
"Iya."
"Dari semalam?"
"Iya."
Sulis menatap wajah suaminya beberapa detik,entah kenapa ada sesuatu yang berbeda,bukan hanya karena Irwan pulang pagi,melainkan karena pria itu terlihat terlalu tenang,seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu nginep di mana?" tanya Sulis lagi.
Irwan sudah menyiapkan jawaban sejak semalam.
"Nganter Lastri."
Sulis terdiam.
"Terus?"
"Rumah keluarganya jauh."
"Bukannya cuma nganter?"
Irwan membuka kulkas lalu mengambil air minum.
"Kemalaman di jalan."
Jawabannya terdengar ringan,membuat Sulis semakin curiga.
"Sejauh apa memang?"
"Di luar kota."
Irwan berbohong tanpa ragu.Padahal kenyataannya Lastri hanya tinggal sekitar empat puluh menit dari rumah mereka.
Sulis menunduk pelan,hatinya tidak sepenuhnya percaya.....Tapi ia juga tidak memiliki bukti apa pun.
Pagi itu Irwan mendadak berubah sangat perhatian,Ia mengajak Dito sarapan bersama,menggendong Rara yang baru bangun tidur,bahkan membantu Sulis membereskan meja makan,hal-hal yang beberapa hari terakhir jarang ia lakukan.
"Kamu sehat?" tanya Irwan tiba-tiba.
Sulis sedikit terkejut.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Kelihatan capek."
Nada suaranya lembut,persis seperti Irwan yang dulu.Tapi anehnya, Sulis justru merasa semakin tidak nyaman,perhatian itu seolah seperti dipaksakan,bak seseorang sedang berusaha menutupi kesalahan.
"Aku baik-baik aja."
Irwan mengangguk lalu tersenyum kecil.
"Nanti malam aku pulang cepat."
Sulis hanya membalas dengan anggukan singkat,dulu ia pasti senang mendengar janji seperti itu,sekarang tidak lagi,seperti mati rasa.
Setelah berangkat ke ruko, Irwan justru tidak bisa fokus bekerja,pikirannya terus kembali ke kost Lastri.Ia teringat senyum wanita itu,tatapan matanya,serta suasana hangat yang ia rasakan semalam.
Ponselnya bergetar......
Nama Lastri muncul di layar,tanpa sadar bibir Irwan langsung tersenyum.
Lastri
Mas udah sampai?
Irwan
Udah.
Tak lama kemudian balasan datang.
Hati-hati ya kerjaannya. Jangan lupa makan.
Pesan sederhana itu membuat perasaan Irwan menghangat,perasaan yang seharusnya diberikan untuk keluarganya,bukan untuk perempuan lain,tapi semakin hari, Irwan justru semakin tenggelam.
Sementara itu di rumah, Sulis sedang menjemur pakaian di halaman belakang,saat memasukkan pakaian Irwan ke lemari, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti,baju yang dipakai suaminya semalam,masih tercium aroma parfum perempuan,bukan parfum miliknya.....
Sulis berdiri diam cukup lama,jemarinya menggenggam kain itu perlahan,dadanya mulai terasa sesak.
Mungkin ia terlalu curiga,atau ia hanya berprasangka buruk.Namun sejak Lastri muncul dalam hidup mereka, naluri seorang istri terus berteriak bahwa ada sesuatu yang tidak beres,dan semakin Irwan berusaha terlihat normal, semakin Sulis merasa rumah tangganya sedang berubah.
Malam itu, ketika Dito dan Rara tertawa bermain di ruang tamu, Sulis hanya memandangi mereka dari kejauhan.Sementara di dalam hatinya tumbuh ketakutan yang semakin besar,ketakutan bahwa perempuan bernama Lastri belum benar-benar pergi dari kehidupan suaminya.Bahkan mungkin...baru saja mendapatkan tempat yang lebih aman untuk tetap berada di sana.
Malam itu Irwan benar-benar pulang lebih cepat,saat azan Magrib berkumandang, mobil pikapnya sudah terparkir di depan rumah. Dito dan Rara yang sedang bermain di ruang tamu langsung berlari menyambut ayah mereka.
"Papa pulang!"
Irwan tersenyum lalu mengangkat Rara ke dalam gendongannya.
"Iya, putri Papa."
Sulis yang sedang menyiapkan makan malam hanya melirik sekilas dari dapur sebelum kembali sibuk mengaduk sayur di atas kompor.
Hubungan mereka masih terasa canggung.
Dingin.......seperti ada tembok yang berdiri di antara keduanya.
Setelah makan malam selesai dan anak-anak masuk kamar untuk menonton televisi, Irwan memberanikan diri mendekati Sulis yang sedang mencuci piring.
"Lis."
Sulis tidak langsung menjawab.
"Hm?"
"Aku mau ngomong."
Wanita itu menghentikan aktivitasnya lalu menoleh pelan.
"Apa?"
Irwan tampak ragu beberapa saat.
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran besar itu, wajahnya terlihat serius.
"Aku nggak suka kita jadi kayak gini."
Sulis terdiam.
Tangannya perlahan meletakkan piring ke rak.
"Maksudnya?"
Irwan menghela napas panjang.
"Rumah ini rasanya beda."
Sulis menatap suaminya tanpa ekspresi,dalam hati ia ingin tertawa pahit.
Tentu saja rumah itu berbeda,semuanya berubah sejak Lastri masuk ke kehidupan mereka.
"Aku pengen kita baik-baik lagi," lanjut Irwan pelan.
Kalimat itu membuat Sulis terdiam beberapa detik,dulu, mendengar hal seperti itu pasti membuat hatinya luluh.sekarang perasaannya bercampur menjadi satu.
Perasaannya campur aduk,ada rindu,marah dan merasa dikhianati, semua bercampur menjadi satu.
"Baik-baik lagi?" ulang Sulis lirih.
Irwan mengangguk.
"Iya."
Sulis menatap wajah pria yang telah menemaninya bertahun-tahun itu,wajah yang dulu selalu menjadi tempat ternyamannya pulang, kini terasa asing.
"Mas tahu kenapa kita jadi kayak gini?"
Irwan terdiam.
"Kamu bawa perempuan lain ke rumah kita."
Nada suara Sulis tidak tinggi,justru terdengar tenang,ketenangan itu jauh lebih menyakitkan daripada amarah.
"Aku udah jelasin soal itu."
"Belum cukup."
Irwan mengusap wajahnya pelan.
"Aku cuma pengen semuanya kembali normal."
Sulis tersenyum tipis.
"Normal yang mana?"
Irwan tidak bisa menjawab,karena bahkan dirinya sendiri tahu keadaan sudah tidak normal lagi.
Sulis melanjutkan,
"Aku masih berusaha percaya sama kamu, Mas."
Kalimat itu membuat Irwan sedikit tersentak.
"Masih?"
"Iya."
Air mata mulai menggenang di mata Sulis.
"Tapi setiap kali aku mau percaya, aku ingat malam waktu aku pulang."
Suara wanita itu mulai bergetar.
"Aku ingat ada perempuan lain di rumah kita."
Irwan menunduk,beberapa detik rasa bersalah menyelinap di dadanya,rasa bersalah itu tidak cukup kuat untuk membuatnya menghentikan hubungannya dengan Lastri,jauh di dalam hatinya, ia masih ingin menemui wanita itu lagi.
"Aku minta maaf."
Sulis tertawa kecil,bukan karena lucu,melainkan karena sudah terlalu lelah.
"Mas tahu nggak?"
"Apa?"
"Aku nggak butuh kata maaf."
Irwan mengangkat kepala.
"Lalu?"
"Aku butuh alasan buat percaya lagi."
Suasana kembali hening.
Dari kamar terdengar suara tawa Dito dan Rara yang sedang bermain bersama,tawa yang dulu selalu membuat rumah terasa hangat,kini justru terdengar jauh.
Irwan mendekat sedikit..... mencoba meyakinkan
"Aku bakal berubah."
Sulis menatapnya lama.
Ada bagian dalam dirinya yang ingin mempercayai ucapan itu.Namun ada juga bagian lain yang terus mengingatkan bahwa suaminya baru saja pulang setelah menghabiskan malam di tempat perempuan lain.
"Aku sih berharap begitu."
Hanya itu yang bisa ia katakan.
Malam itu mereka duduk bersama di ruang tamu setelah anak-anak tidur,terlihat seperti pasangan yang sedang berusaha memperbaiki rumah tangga.Namun Sulis tidak tahu bahwa di handphone Irwan ada sebuah pesan yang baru masuk.
Dari Lastri.
Mas, besok kalau sempat datang ya. Anak saya nyariin.
Irwan membaca pesan itu diam-diam saat Sulis pergi mengambil minum,lalu tanpa ragu ia mengetik balasan singkat.
Aku datang.
Sekali lagi...... kebohongan baru mulai tumbuh di tengah upaya palsu Irwan untuk memperbaiki pernikahannya.
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .