NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Atas Lapangan Bubat

Langit di atas Lapangan Bubat tidak lagi memancarkan warna biru sutra yang ramah. Sejak fajar menyingsing, gumpalan awan kelabu berkumpul lambat laun, seolah-olah alam sedang menahan napas, ikut merasakan ketegangan yang mendadak merayap di atas tanah lapang di utara ibu kota Majapahit tersebut. Di tempat itu, sebuah perhelatan yang seharusnya dicatat oleh sejarah sebagai puncak keagungan dua kerajaan besar di Nusantara, kini justru menjelma menjadi panggung sebuah tragedi yang sunyi sebelum badai.

Hanya beberapa hari yang lalu, Lapangan Bubat adalah lambang kemegahan. Pasanggrahan-pasanggrahan megah didirikan dari kayu-kayu pilihan, dihiasi kain-kain beledu merah bata dan kuning keemasan yang melambangkan kehormatan rombongan dari Kerajaan Sunda. Umbul-umbul berkain sutra halus berkibar ditiup angin buritan, menari-nari di antara jajaran tenda-tenda agung yang dipersiapkan untuk menyambut pernikahan suci antara Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, mutiara jelita dari tatar Sunda, dengan Maharaja Hayam Wuruk, penguasa tertinggi Wilwatikta. Harum dupa, minyak cendana, dan tumpukan sesaji buah-buahan segar sempat memenuhi udara, menciptakan ilusi perdamaian yang begitu indah, begitu sempurna, hingga mampu melupakan persaingan politik selama berabad-abad.

Namun, dalam hitungan jam, keindahan itu menguap bagai embun yang tersengat matahari terik. Kehangatan pesta berganti menjadi keheningan yang mencekam, sebelum akhirnya pecah oleh gemuruh yang mengerikan dari kejauhan.

Derap kaki kuda yang bergemuruh ritmis mendadak menggetarkan permukaan tanah Bubat. Suaranya bukan lagi ketukan santai dari kereta kuda utusan istana yang membawa hadiah pernikahan, melainkan hentakan berat dari ribuan kavaleri yang bergerak dalam formasi tempur. Dari balik kepulan debu yang membubung di cakrawala barat, muncul jajaran prajurit Bhayangkara dan pasukan reguler Majapahit yang berbaris rapat, membentuk lengkungan tapal kuda yang siap mengunci seluruh kompleks pasanggrahan Sunda.

Warna emas dan merah menyala dari umbul-umbul Sunda kini tampak kontras dengan kilatan logam dari ribuan ujung tombak, keris, dan bade-bade yang terhunus di bawah siraman cahaya matahari yang temaram. Pasukan Majapahit tidak datang dengan senyuman ramah para pengiring pengantin. Di bawah komando langsung Panglima, Gajah Enggon, yang konon mendapat perintah dari Mahapatih Gajah Mada, wajah-wajah para prajurit itu mengeras bagai batu karang. Tatapan mata mereka dingin, tanpa kompromi, membawa maklumat yang memotong habis seluruh harga diri orang Sunda: kedatangan Putri Dyah Pitaloka ke tanah Wilwatikta bukan lagi sebagai calon ratu yang sejajar dan dihormati dalam upacara perkawinan agung (mapag sang penganten), melainkan sebagai penyerahan upeti, tanda takluk sebuah wilayah jajahan kepada penguasa Nusantara.

Kepanikan seketika meledak di ring luar pasanggrahan. Para pelayan wanita berteriak histeris, menjatuhkan nampan-nampan perak berisi bunga-bunga sesaji yang langsung terinjak-injak di atas tanah. Para bangsawan Sunda yang mengenakan pakaian kebesaran sutra putih bersih saling pandang dengan wajah pucat pasi, tak percaya bahwa niat tulus untuk menjalin persaudaraan darah justru dijawab dengan pengkhianatan politik yang begitu keji. Bendera-bendera hiasan yang semula berkibar anggun mulai robek terkoyak oleh desakan angin dan ketakutan yang menjalar cepat. Ketegangan diplomasi yang selama ini dijaga ketat di atas meja perundingan, kini pecah berantakan di atas lapangan terbuka, menyisakan keputusasaan yang merayap masuk ke dalam dada setiap orang Sunda yang terperangkap di sana.

Di tengah kepungan histeria yang kian memuncak, di depan pintu masuk pasanggrahan utama, berdiri tegak sesosok wanita dengan keanggunan yang membekukan. Nyai Kencana Ungu. Nama itu tidak asing di lingkungan dalam istana Kawali. Sebagai pemimpin barisan pengawal perempuan pilihan, sebuah unit elite internal yang bersumpah dengan darah untuk menjaga keselamatan fisik Putri Dyah Pitaloka, Kencana adalah perisai hidup bagi sang putri.

Sore itu, pakaian kain sutra kuning tipis yang biasa ia kenakan saat berada di dalam keputren telah digantikan oleh pakaian zirah ringannya. Korset kulit menjepit pinggangnya dengan erat, melindungi dada dan organ dalamnya, sementara sehelai kain sinjang bermotif megamendung yang telah dimodifikasi terlilit rapi di bagian bawah, memberikan ruang gerak yang bebas bagi kedua kakinya. Sepasang gelang logam melingkari pergelangan tangannya, berfungsi ganda sebagai perhiasan sekaligus penangkis sabetan senjata tajam. Di pinggang kirinya, bertengger sebuah selut keris bertatahkan permata hitam, sementara tangan kanannya menggenggam erat sebilah pedang sabet dengan bilah lurus yang berkilau kelabu, tanda besi pilihan yang ditempa dengan ribuan lipatan.

Sorot mata Kencana tajam, berkilat laksana elang yang mengintai dari puncak tebing. Wajahnya yang cantik dengan rahang yang tegas tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Sementara dunia di sekelilingnya runtuh dalam ketakutan, napas Kencana tetap teratur, mengalir dalam ritme yang tenang hasil dari latihan kanuragan tingkat tinggi yang dijalaninya sejak belia.

"Rapatkan barisan! Jangan biarkan seekor lalat pun menembus garis ini tanpa menumpahkan darah mereka terlebih dahulu!" suara Kencana menggelegar, jernih namun penuh wibawa, memecah kebisingan di depan pasanggrahan utama.

Mendengar perintah tersebut, dua puluh prajurit wanita yang berada di bawah komandonya langsung bergerak serentak. Mereka bukan wanita biasa; mereka adalah anak-anak perempuan para kesatria Sunda yang dididik keras untuk tidak mengenal kata mundur. Dengan gerakan yang terlatih dan sinkron, mereka menarik selendang sutra pengikat yang menyembunyikan belati-belati panjang di balik pakaian mereka, lalu membentuk blokade pertahanan berlapis, berdiri rapat seperti dinding karang di sekeliling tenda sutra tempat Putri Dyah Pitaloka berada.

Di dalam dadanya, Kencana sebenarnya merasakan kecamuk badai yang tak kalah hebat. Jauh sebelum rombongan ini bertolak dari dermaga parahu Sunda, firasat buruk telah lama mengetuk dinding batinnya. Diplomasi ini terlalu terburu-buru, terlalu manis untuk menjadi kenyataan. Mengapa sebuah kerajaan sebesar Majapahit bersedia menurunkan egonya demi mempersunting putri dari kerajaan yang selama ini menolak tunduk pada sumpah penyatuan Nusantara? Namun, Kencana dengan cepat mengubur semua analisis politik itu dalam-dalam. Baginya, kebenaran sejati tidak terletak pada surat-surat perjanjian atau lidah manis para utusan, melainkan pada sumpah mati yang telah diucapkannya di hadapan altar leluhur: menjaga keselamatan sang putri hingga tetes darah terakhir.

Harga diri sebagai kesatria Sunda bergejolak di dalam nadinya. Dituntut untuk menyerah dan merangkak di kaki Gajah Mada sebagai pembawa upeti adalah sebuah penghinaan yang lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Kencana memandang jajaran pasukan Bhayangkara yang mulai melangkah maju dengan tameng-tameng besar mereka. Bibirnya mengatup rapat, membentuk garis lurus yang dingin. Ia tidak akan mundur selangkah pun. Jika Lapangan Bubat ini ditakdirkan menjadi kuburan massal bagi kehormatan Sunda, maka ia memastikan tempat ini juga akan menjadi saksi bagaimana para pengawal wanita Sunda menjemput maut dengan kepala tegak.

"Serbuuu!"

Sebuah teriakan komando dari pihak Majapahit memecah kesunyian yang mencekam. Bagaikan bendungan yang jebol, ribuan prajurit dengan pakaian perang berbahan kulit dan perunggu merangsek maju. Pertempuran asimetris yang tidak seimbang dari segi jumlah maupun persenjataan akhirnya pecah tak terkendali di Lapangan Bubat.

Pasukan Sunda, yang sebagian besar terdiri dari para bangsawan, menteri, dan pengawal upacara dengan persenjataan seadanya, langsung terdesak hebat. Namun, darah kesatria Sunda terbukti bukan cairan yang mudah dingin. Dengan teriakan perang "Pajajaran!", mereka menyambut terjangan musuh dengan keberanian yang membakar, bertarung habis-habisan demi membela kehormatan raja dan putri mereka. Suara dentingan logam yang beradu, pecahan perisai kayu, dan ringkik kuda yang terluka langsung memenuhi udara, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.

Gelombang pertama serangan musuh segera mencapai lini pertahanan yang dipimpin oleh Nyai Kencana. Tiga orang prajurit Majapahit bertubuh kekar, dengan tombak panjang di tangan mereka, mencoba menerobos blokade pengawal wanita dengan keyakinan penuh bahwa mereka bisa menundukkan barisan perempuan itu dengan mudah. Itu adalah kesalahan terbesar mereka.

Sebelum ujung tombak pertama sempat menyentuh udara di dekatnya, Kencana sudah bergerak. Tubuhnya melesat maju bagai kilat, memanfaatkan ringannya bobot tubuh untuk melompati tusukan tombak. Dengan gerakan kanuragan yang mengalir anggun namun mematikan, Gerak Langkah Siliwangi, ia memutar tubuhnya di udara, menghindari sabetan kedua, lalu mendarat tepat di samping prajurit pertama.

Sret!

Bilah pedang sabet milik Kencana berkelebat dalam satu garis horizontal yang sempurna. Logam tajam itu merobek pelindung kulit di leher sang prajurit tanpa tertahan, memuncratkan darah segar ke atas rumput hijau Lapangan Bubat. Belum sempat tubuh pertama ambruk, Kencana memanfaatkan momentum putaran tubuhnya untuk melayangkan tendangan tumit yang telak ke arah rahang prajurit kedua, membuat pria itu terjerembab ke belakang dengan tulang wajah yang retak. Prajurit ketiga mencoba menusukkan kerisnya secara membabi buta, namun Kencana dengan dingin menangkis tikaman itu menggunakan gelang logam di pergelangan tangan kirinya hingga memunculkan percikan api, lalu membalas dengan satu tusukan cepat yang menembus hulu hati musuhnya.

Gerakan Kencana di medan laga tampak seperti sebuah tarian kematian yang sinematik. Ia bergerak di antara desingan anak panah dan tebasan pedang dengan ketepatan yang menakjubkan. Setiap ayunan senjatanya selalu memakan korban, setiap langkah kakinya adalah perhitungan matang untuk menutup celah pertahanan. Di sekelilingnya, para pengawal wanita di bawah komandonya juga bertarung dengan kegigihan yang luar biasa, memanfaatkan belati dan kelincahan tubuh mereka untuk menjatuhkan musuh-musuh yang berukuran dua kali lipat dari mereka.

Namun, keberanian dan ilmu kanuragan tingkat tinggi tidak mampu membalikkan takdir dari perbedaan jumlah pasukan yang terlalu timpang.

Dari arah ring luar, jeritan kekalahan pasukan Sunda kian mendekat. Barisan pertahanan luar yang dijaga oleh para prajurit pria Sunda mulai hancur berkeping-keping di bawah gempuran bertubi-tubi dari pasukan gajah dan kavaleri berat Majapahit. Bau anyir darah yang menyengat kini benar-benar telah menggantikan harum dupa cendana. Tanah Lapangan Bubat yang semula bersih kini berubah menjadi merah merona, becek oleh genangan darah dan air hujan yang mulai turun rintik-rintik dari langit kelabu.

"Kencana! Mereka terlalu banyak!" teriak salah seorang pengawal setianya, yang wajahnya kini telah tercoreng jelaga dan darah, sesaat sebelum sebuah anak panah menembus dadanya dari samping. Gadis itu ambruk di depan kaki Kencana, menyisakan tatapan mata yang meredup dengan sisa kesetiaan yang tak sempat terucap.

"Pertahankan posisi!" Kencana berteriak, mencoba menulikan telinganya dari rasa kehilangan. Namun, saat ia memutar tubuh untuk menghadapi gelombang musuh yang baru, sebuah sabetan pedang dari seorang perwira Majapahit berhasil melewati pertahanannya yang mulai melambat karena kelelahan.

Zasss!

Ujung pedang itu merobek kulit di lengan kanan Kencana. Rasa perih yang membakar seketika menjalar ke seluruh sistem sarafnya, disusul oleh aliran darah hangat yang mulai membasahi lengan baju zirahnya. Itu adalah luka sabetan pertama yang dideritanya sepanjang pertempuran ini. Kencana meringis kecil, menahan erangan di tenggorokan, lalu dengan cepat membalas dengan satu tebasan yang memenggal lengan penyerangnya.

Kencana mundur dua langkah, berdiri tepat di depan kain penutup pintu pasanggrahan utama. Dada Kencana naik-turun dengan cepat, napasnya mulai terengah-engah, terasa berat dan panas di dalam tenggorokannya. Dari dua puluh pengawal wanita pilihan yang dipimpinnya, kini hanya tersisa kurang dari lima orang yang masih mampu berdiri, itu pun dengan tubuh yang dipenuhi luka-luka parah. Sementara di hadapan mereka, jajaran prajurit Majapahit seolah tidak ada habisnya, terus merangsek maju seperti air bah yang hitam dan dingin.

Kencana memutar kepalanya sedikit, menatap cemas ke arah lipatan kain pintu tenda di belakangnya. Di dalam sana, ia tahu sang putri sedang mendengarkan setiap jeritan kematian dan dentingan senjata dengan hati yang hancur. Kencana mencengkeram gagang pedangnya lebih erat, meskipun jemarinya kini mulai terasa licin oleh darahnya sendiri. Kesadaran pahit itu akhirnya menghantam lubuk hatinya yang paling dalam: pertempuran ini sudah tidak mungkin dimenangkan. Lini pertahanan luar telah robek sepenuhnya, dan maut kini sedang mengetuk pintu pasanggrahan sang putri dengan jari-jarinya yang berdarah.

*mohon masukan dan bimbingannya kakak ini karya pertama

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!