Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 12
Pagi hari di kediaman utama keluarga Dirgantara selalu diawali dengan tradisi sarapan bersama di meja makan panjang jati yang megah. Pukul tujuh pagi, aroma kopi arabika dan roti panggang mentega memenuhi ruangan. Ayah Mahesa, Pak Rahardjo Dirgantara, sudah duduk di ujung meja sambil membaca tablet bisnisnya, sementara Mama Karina sibuk menata buah-buahan segar.
Saat langkah kaki terdengar dari arah tangga, Mama Karina mendongak. Senyumnya langsung merekah lebar.
Mahesa berjalan dengan langkah tegap, namun jemarinya bertautan erat dengan jemari Inara. Ibu jari Mahesa bahkan bergerak lembut, mengusap punggung tangan Inara dengan penuh kasih. Sebuah gestur yang sangat natural, seolah mereka adalah pasangan yang baru saja menghabiskan malam yang penuh gairah.
Namun di bawah meja, di balik lipatan gaun kasual katun milik Inara, cengkeraman Mahesa sebenarnya begitu kuat hingga membuat buku-buku jari Inara memutih. Itu adalah perintah bisu agar Inara tidak membuat kesalahan satu milimeter pun.
"Selamat pagi, Papa, Mama," sapa Mahesa dengan suara baritonnya yang terdengar sangat segar dan renyah.
"Pagi, Pa, Ma," sambung Inara. Suaranya terdengar manis, senyumnya melengkung sempurna, menyembunyikan fakta bahwa semalaman dia tidak berani memejamkan mata dan terus menahan tangis hingga tenggorokannya kering.
"Wah, lihat ini, Pa. Pengantin baru kita wajahnya cerah sekali ya," goda Mama Karina, matanya berkedip jail ke arah putranya.
"Gimana tidur kalian semalam? Kamar lama Mahesa nyaman, kan?"
Mahesa menarikkan kursi untuk Inara dengan sangat jeli, membiarkan istrinya duduk terlebih dahulu sebelum dia mengambil tempat tepat di sampingnya.
"Sangat nyaman, Ma. Malah kami hampir kesiangan tadi kalau Inara tidak membangunkan saya, iya kan sayang?" jawab Mahesa sambil terkekeh pelan. Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Inara dengan lembut.
Inara merasakan seluruh bulu kuduknya meremang. Sentuhan tangan Mahesa di kepalanya terasa seperti jilatan api yang membakar kewarasannya. Bagaimana bisa seorang pria bertindak seolah-olah dia sangat memuja istrinya, padahal baru beberapa jam yang lalu dia mengancam akan mencabut nyawa ibunya lewat penghentian biaya rumah sakit jika dia berani menyentuhnya di ranjang?
"Baguslah kalau begitu," sahut Pak Rahardjo, menurunkan tabletnya dan menatap Mahesa dengan pandangan tegas khas seorang patriark korporasi.
"Mahesa, Papa dengar dari Pak Hadi, proyek baru kita sudah clear. Analisis risiko yang dikirim timmu sangat tajam. Papa bangga. Kamu memang pantas memegang kendali penuh atas anak perusahaan bulan depan. Dan papa juga sangat bangga padamu, Inara! Papa mendengar banyak dari Pak Hadi. Papa akan menaikkan jabatan kamu secepatnya,"
Tangan kiri Mahesa bergerak di bawah meja, mendarat di atas paha Inara, meremasnya sedikit di balik kain gaun. Di atas meja, wajah Mahesa menatap ayahnya dengan bangga. Inara hanya mencoba menahan rasa sakit dari tekanan tangan Mahesa. bukan remasan lembut namun remasan yang sangat menyakitkan.
"Inara memang sudah layak mendapatkan kenaikan jabatan, Pah!" jawab Mahesa.
"Apa anda tidak terburu-buru, Pah?" tanya Inara.
"Tidak, sayang. Kamu memang sudah saatnya mendapatkan jabatan yang jauh lebih layak dengan kemampuan yang kami miliki saat ini!" puji Mahesa.
Mama Karina langsung menangkup kedua tangannya di dada, matanya berkaca-kaca haru.
"Ya ampun, Mahesa! Mama senang sekali dengarnya. Inara sayang, kamu benar-benar berkah buat keluarga ini. Saling mendukung, saling melengkapi. Memang pilihan Mama tidak pernah salah."
Inara merasakan dadanya bergemuruh hebat, sesak hingga dia harus menarik napas perlahan agar tidak tersedak salivanya sendiri. Pujian dari mertuanya yang begitu tulus justru menjadi racun yang paling mematikan bagi jiwanya. Dia tahu, Mahesa menyebut namanya di depan sang ayah hanya untuk memuluskan jalannya mengambil alih aset dan jabatan Direktur Utama sepenuhnya. Dia hanyalah tangga peniti bagi ambisi Mahesa dan Clarissa.
"Terima kasih, Papa, Mama. Inara hanya melakukan apa yang sudah seharusya dilakukan oleh seorang istri," lirih Inara, suaranya bergetar tipis, namun di telinga kedua orang tua itu, getaran itu dikira sebagai rasa malu-malu yang manis.
"Oh ya, Inara," Mama Karina tiba-tiba menyodorkan semangkuk sup sarang burung walet ke depan piring Inara.
"Ini dihabiskan ya. Mama sengaja minta pelayan buatkan subuh-subuh. Ini bagus sekali untuk kesuburan rahim. Mama mau, bulan depan saat serah terima jabatan Mahesa, kamu juga bawa kabar gembira tentang cucu pertama Papa dan Mama."
Deg.
Wajah Inara yang tadinya mulai merona langsung memucat seketika. Sup sarang burung walet itu mendadak terlihat seperti genangan darah di matanya. Cucu? Bagaimana dia bisa hamil jika suaminya bahkan merasa jijik hanya untuk menghirup udara yang sama dengannya di dalam kamar?
Mahesa, menyadari perubahan drastis pada raut wajah Inara, segera bertindak. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Inara, di depan kedua orang tuanya, dia berbisik dengan nada yang sangat mesra, seolah sedang menggoda istrinya secara intim.
"Dimakan, Sayang. Jangan malu-malu di depan Mama. Kita kan memang harus berusaha keras mulai malam ini, hm?" bisik Mahesa, disusul sebuah kecupan basah dan hangat di pipi pucat Inara.
Bagi Mama Karina dan Pak Rahardjo, itu adalah pemandangan romantis yang membuat mereka tersenyum puas. Namun bagi Inara, bisikan itu adalah ancaman murni. Di balik suara lembut Mahesa, ada gertakan tak kasat mata yang berbunyi. Makan itu, tersenyumlah, dan jangan berani-berani menghancurkan sandiwaraku.
Inara menggenggam sendoknya dengan tangan yang gemetar hebat. Dia menyendok sup itu ke dalam mulutnya. Rasanya hambar, sepadan dengan hatinya yang telah mati rasa. Di bawah meja, tangan Mahesa masih bertengger di pahanya, mencengkeramnya sebagai pengingat statusnya. Seorang budak korporat, jaminan utang, dan aktris terbaik dalam panggung sandiwara keluarga Dirgantara.
Sarapan pagi yang penuh kepalsuan itu akhirnya selesai. Pak Rahardjo langsung bersiap menuju lapangan golf bersama beberapa kolega penting, sementara Mama Karina pamit ke ruang belakang untuk menemui perancang busana yang akan mengurus gaun pesta perayaan serah terima jabatan Mahesa bulan depan.
Begitu deru mobil Pak Rahardjo menjauh dan langkah Mama Karina menghilang di koridor rumah, kehangatan di ruang makan itu mati total dalam hitungan detik.
Mahesa langsung menarik tangannya dari paha Inara dengan gerakan menghentak, seolah-olah kulit istrinya baru saja membakarnya. Dia berdiri, mengambil selembar tisu kain, dan menyeka pipinya sendiri dengan wajah yang kembali mengeras dan dingin.
"Akting yang cukup lumayan," cibir Mahesa, suaranya kembali ketus dan penuh nada merendahkan.
"Tapi tadi kamu sempat ragu saat Mama membahas soal anak. Jaga ekspresimu, Inara. Jangan sampai kegugupan bodohmu itu membuat Papa membatalkan pelantikan saya bulan depan."
Inara masih duduk di kursinya, menatap mangkuk sup sarang burung walet yang tersisa setengah. Kepalanya terasa kosong.
"Sampai kapan, Mas?"
Mahesa yang sedang merapikan jam tangan Rolex-nya menghentikan gerakannya.
"Apa?"
"Sampah ini. sampai kapan aku harus menelannya?" Inara mendongak, menatap langsung ke manik mata suaminya dengan pandangan yang benar-benar kering dari air mata.
"Kamu menggunakan aku untuk mendapatkan proyek Pak Hadi. Kamu menggunakan aku untuk meyakinkan Papamu agar jabatan itu jatuh ke tanganmu. Lalu sekarang, kamu membiarkan Mamamu berharap tentang cucu yang tidak akan pernah ada."
Mahesa terkekeh sinis. Dia melangkah mendekat, bertumpu pada sandaran kursi Inara hingga wajah mereka kembali terkikis jarak. Aroma maskulinnya yang dingin langsung mengurung Inara.
"Sampai semua aset itu aman di tangan saya, Inara. Begitu akta pelantikan saya ditandatangani Papa bulan depan, kontrak tebusan keluargamu selesai. Saya akan melemparkan surat cerai ke wajahmu, dan kamu bisa pergi membawa ibumu yang sekarat itu ke mana pun kamu suka," bisik Mahesa dengan intonasi yang begitu tenang namun mematikan.
"Jadi sebelum hari itu tiba, telan saja semua sampah ini seperti yang kamu katakan. Karena setiap sendok sup yang kamu telan tadi, adalah perpanjangan nyawa untuk ibumu di rumah sakit."
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭