Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sosok besar itu tidak berhenti menghentakkan kakinya sampai ia melihat jejak darah yang nampak masih segar di tanah.
“Ah, kalian masih di sekitar sini rupanya … jangan harap kalian bisa keluar dari sini dengan selamat. Kalian akan membayar atas semua kebodohan kalian!!”
Sosok itu meraung keras membuat beberapa burung yang bertengger di ranting pohon, terbang tak menentu arah nya.
Dari dalam batang pohon perlahan bunga dan Alfin bisa dengan jelas mendengar langkah sosok itu melewati mereka, dan ternyata bau amis gosong itu berasal dari sosok besar itu sendiri.
Hening ….
Perlahan bau amis itu mulai hilang tertipu angin, dengan tangan yang gemetar bunga mencoba menyingkirkan semak belukar yang melindungi mereka.
Namun aksi nya itu langsung dihentikan Alfin dengan wajah yang tidak kalah pucat nya. “Jangan dulu, gua takut sosok itu masih di sekitar kita. Lebih baik kita disini dulu aja”
Mendengar itu bunga langsung mengurungkan niatnya, dan hanya bisa memeluk lututnya dengan perasaan ketakutan.
Ada perasaan menyesal karena tidak menolak ucapan Alfin waktu mengajak nya keluar malam waktu itu, seandainya dia tidak pergi.
Mungkin sekarang ia masih aman di villa bersama yang lain nya. Namun semua sudah terjadi.
__________________________________
Jauh dari ketegangan, ketakutan yang menyerang bunga' dan bunga di sisi lain. Tepat nya di villa yang kini ramai sekali.
“Kan kita semua sudah melihat nya, ada tanda cakaran di belakang badan almarhum Bu Sinta. Itu sosok pamali yang menjaga kampung ini pak” cecar pak Bayu yang sedari tadi tidak berhenti bicara.
Pak yahman, pak Yanto dan pak Rusdi jadi semakin khawatir setelah mendengar penjelasan pak Bayu dan Bu mekar.
“Baik, sebentar yah pak. Bu Windy dan Bu nana mereka sedang mengintrogasi para murid. Karena mereka lebih jujur ke guru perempuan biasanya” ujar pak yahman berharap pak Bayu bisa lebih sabar sedikit tidak seperti Bu Yanti waktu kemarin nya.
Mendengar itu pak Bayu mengangguk kecil. “Iya, gpp saya paham pasti masalah kayak gini emang bukan hal mudah untuk kalian para pendatang. Kamu orang asli sini juga kalo ada masalah kayak gini yah pusing juga”
Mendengar pengertian pak Bayu yang masih sabar, membuat hati pak yahman dan yang lainnya sedikit lebih lega.
Sampai sebulan teriakan nyaring membuat suasana langsung heboh, “dari lantai atas kayak nya pak” ujar Bu mekar yang kaget.
“Ayo kita naik aja, takut ada apa-apa di atas”.
Pak yahman, pak Yanto, pak Rusdi, pak Bayu dan Bu mekar langsung bergegas melangkahkan kaki mereka menaiki tangga menuju lantai dua.
Dan saat sampai di lantai dua pandangan mata mereka tertuju kepada dua murid cewek yang tidak lain Risma dan Dinda yang sedang kesurupan rupanya.
“Eh, kesurupan itu dia pak” panjang Bu Yanti menyuruh para murid cewek lain agar memegangi kedua tangan Risma dan Dinda.
Melihat kesurupan yang sangat jarang terjadi pak Bayu langsung paham dengan apa yang terjadi. “Nak Bagas tolong ambilkan bapak segelas air putih yah”
“Baik pak” Bagas langsung berlari menuruni tangga ke dapur untuk mengambil segala air yang diminta.
Dan tidak lama kemudian Bagas langsung menyerah segala air itu ke pak Bayu. Namun saat Bagas mau duduk pak Bayu melarang nya.
“Kamu sebelah saya sini nak” Bagas terdiam sejenak, ia bingung dengan maksud pak Bayu.
Namun bagas tetap mengikuti perkataan tersebut.
Pak Bayu mulai membaca surah surah pendek dan ayat kursi ke segelas air yang ia genggam.
Dengan lembut tangan kanan pak Bayu menekan jempol kaki Dinda. “Siapa ini? Kenapa kamu merasuki anak ini?”
Tidak ada jawaban … hening sampai Dinda tertawa keras, suara nya seperti seorang pria dewasa.
“Kamu bertanya saya siapa? … Dasar manusia!! … Kalian hanya bisa merusak apa yang sudah ada. Dan teman tubuh ini sedang dalam bahaya”
Dinda kembali tertawa terbahak-bahak sampai hidungnya nya mengeluarkan darah, semua orang yang melihat itu langsung panik bukan main.
“Astaga, sudah saya duga Alfin dan bunga dalam dunia jin. Dan Bagas saya tahu kamu sudah tahu ini bukan?” Ujar pak Bayu menolehkan kepalanya ke samping.
Mendengar itu para guru dan murid yang lain sontak ikut menaruh perhatian mereka tertuju pada Bagas.
Bagas langsung menundukan kepalanya, ia jujur takut mengatakan hal itu. “Iya pak saya sudah memang sudah curiga dan ada firasat Alfin dan bunga terjebak di dunia jin”
Pak yahman yang melihat itu ia ingin langsung memarahi Bagas, namun tatapan tajam pak Bayu langsung membuat pak yahman menghentikan niatnya.
Dengan lembut pak Bayu menepuk pundak Bagas. “Gpp, semua yang terjadi bukan salah kamu, bukan salah kamu karena tidak bicara. Jadi jangan salahkan dirimu sendiri. Seperti ayahmu dulu hendrik”
Mendengar itu Bagas kebingungan, kenapa pak Bayu bisa tahu nama ayah nya?.
Melihat Bagas yang kebingungan pak Bayu hanya tersenyum tipis. Tepat saat pak Bayu ingin mengatakan sesuatu Dinda kembali memberontak.
Kali ini tenaga nya seperti sepuluh orang pria dewasa, membuat yang lain kewalahan menghadapi nya.
Dan Dinda langsung melompat mencekik leher pak Bayu, sampai membuat paku kesulitan bernapas.
“Astagfirullah bapak” kaget Bu mekar mencoba melepaskan cekikikan Dinda di leher sang suami, sambil di bantu oleh yang lainnya.
“Karena kalian lah … rumah kami rusak, makanan kami jadi tidak lagi enak. Dan kami harus mencari makanan yang lain”
Murka Dinda yang masih kerasukan berbeda dengan Risma yang tampak diam, namun bola matanya berputar hingga hanya menyisakan putih nya saja.
“Nak Bagas … tolong bantu Risma minum air doa ini … dia hampir mau diambil raganya” mendengar ucapan itu bagas langsung mengambil segelas air yang sudah didoakan.
Dan langsung menghampiri Risma, dengan hati hati ia membantu Risma meminum nya.
Dan benar saja setelah meminum air doa Risma jatuh pingsan. “Tunggu, kalian jagain Risma aja. biar ibu yang ambil minyak kayu putih yah”
Bu nana bergegas masuk kedalam kamar cewek dan mengambil minyak kayu putih di meja.
Mereka langsung mengoleskan minyak kayu putih ke perut, serta bawah hidung Risma.
Suasana siang itu terasa begitu kacau, ditambah Dinda masih belum sadar dan tidak mau melepaskan cekikikan nya dari leher pak Bayu.
“Lebih baik kita bacakan ayat kursi dan surah Al Qur'an lainya, mari semua yang laki laki” usul pak Yanto.
Perlahan suara dari ayat ayat suci yang dibacakan murid cowok serta para guru mulai membuat Dinda mengendurkan cekikikan nya.
Tanpa lama Farhan yang melihat celah itu langsung membekap Dinda dari belakang, sambil tetap membacakan ayat kursi.
Pak Bayu akhirnya bisa bernafas lega, dengan cepat pak Bayu menjepit jempol kaki Dinda dan ikut membaca ayat kursi.
Namun sosok yang merasuki Dinda seolah enggan keluar dari dalam tubuh, sampai setengah jam kemudian akhirnya sosok itu keluar dari tubuh Dinda.
Dan Dinda jatuh pingsan di dekapan Farhan.