Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Sangkar di Balik Kaca Transparan
BAB 12: Sangkar di Balik Kaca Transparan
Pagi yang merayap di lantai tiga puluh gedung Devano Group seolah kehilangan kehangatannya. Di dalam ruangan kerja yang teramat luas itu, waktu terasa berhenti berputar bagi Luna Maharani. Dia berdiri mematung di atas lantai marmer yang dingin, terkurung di antara dinding beton dan sekat kaca transparan raksasa yang sengaja dibuka lebar oleh sang CEO hari ini.
Visual Luna saat ini tampak begitu kontras dengan kemegahan modern di sekelilingnya. Tubuh ringkihnya dibalut oleh blus sutra berwarna dusty rose yang lembut, dengan rok midi abu-abu gelap berpotongan A-line yang jatuh dengan sangat sopan di bawah lututnya. Kulit kuning langsatnya yang mulus tampak sedikit pucat, menyiratkan kelelahan batin yang teramat dalam. Rambut hitamnya yang panjang dan tebal disanggul rendah dengan rapi di tengkuknya, kini dihiasi oleh jepit rambut perak berbentuk bunga kecil—benda yang baru saja dipasangkan secara paksa oleh jemari kokoh Devano. Sepasang matanya yang bulat dan bening hari ini kembali berkabut, menyimpan duka melankolis yang layu, memancarkan aura kepasrahan seorang wanita anggun yang sedang bertahan di tengah hantaman badai harga diri. Bibirnya yang tipis, dipoles warna nude alami, tampak sedikit bergetar menahan gejolak rasa takut yang mendera.
Tepat di hadapannya, menjulang sosok Devano yang dominan dan intimidatif. Pria berusia dua puluh sembilan tahun dengan tinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu tampak bagaikan sang penguasa mutlak. Tubuh atletisnya yang tegap terbungkus sempurna oleh kemeja hitam formal yang menyetak dada bidang serta pundak kokohnya dengan begitu pas. Rahangnya yang persegi mengeras, dihiasi bayangan jenggot tipis yang dicukur rapi, memberikan kesan jantan yang matang sekaligus kejam. Manik mata elangnya yang kelam dan tajam menatap lurus ke dalam manik mata Luna, memancarkan perpaduan antara kabut dendam masa lalu dan gairah posesif teritorial yang pekat.
Setiap embusan napas hangat Devano yang menerpa kening Luna terasa begitu mencekik. Dari luar dinding kaca transparan, Luna bisa merasakan puluhan pasang mata karyawan—termasuk Rania yang menatap dengan tangan mengepal geram—sedang mengawasi mereka. Di mata orang-orang di luar sana, kedekatan fisik yang intim ini terlihat seperti sebuah adegan romantis di mana sang CEO sedang memanjakan asisten pribadinya. Mereka tidak tahu, bahwa di balik kaca itu, Luna sedang berada di ujung belati kehancuran.
"Tuan Devano... saya mohon, lepaskan saya," bisik Luna dengan suara yang teramat lirih, nyaris tercekik di tenggorokan. Matanya yang melankolis menatap memelas, memohon belas kasihan dari pria yang pernah dipujanya dalam diam itu. "Semua orang di luar sedang melihat kita. Jangan merendahkan saya lebih jauh lagi di tempat kerja ini, terutama setelah fitnah yang dilontarkan Rania tadi pagi."
Bukannya luluh, sudut bibir Devano justru melengkung, membentuk senyuman sinis yang teramat dingin. Ingatan tentang bagaimana Luna memberikan senyuman manis dan tatapan lembut kepada Dika, sang manajer keuangan muda di koridor tadi pagi, mendadak berputar di kepalanya. Ego dan rasa cemburu terselubung yang belum disadari oleh Devano sendiri seketika membakar akal sehatnya. Pria itu menganggap sikap ramah Luna kepada Dika adalah bukti bahwa wanita di depannya ini sedang mencoba mencari "mangsa baru" yang kaya di kantornya—persis seperti kelakuan serakah Siska dulu.
"Merendahkanmu?" desis Devano dengan suara bariton yang sangat rendah, bergaung intim di antara jarak wajah mereka yang hanya tersisa beberapa sentimeter. Jemari tangannya yang besar dan kasar perlahan bergerak naik, memainkan ujung kerah blus sutra milik Luna, sengaja menciptakan ilusi kemesraan yang semakin memanaskan suasana di luar kaca. "Bukannya kamu sendiri yang suka memamerkan tubuh dan wajah melankolis sok sucimu ini di depan pria lain, Asisten Luna? Tadi pagi kamu tersenyum begitu manis pada Dika. Apa sekarang kamu sedang berencana melompat ke ranjang manajer keuangan saya setelah bosan menjadi mainan di ruangan saya?"
Hantaman kata-kata kejam itu membuat dada Luna terasa begitu sesak, bagai dihantam batu besar. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini mengambang di pelupuk matanya, siap luruh kapan saja. Namun, di tengah rasa hina yang luar biasa, sepercik harga diri yang tersisa di dalam batin Luna mendadak bangkit. Dia tidak boleh runtuh di sini. Dia harus mempertahankan martabatnya yang terakhir.
Dengan gerakan yang teramat lembut, anggun, namun penuh ketegasan, Luna mengangkat kedua tangan dinginnya. Dia memegang pergelangan tangan kekar Devano, lalu menurunkan jemari pria itu dari kerah blus sutranya secara perlahan. Gerakan tangan Luna dibuat seprofesional mungkin, hingga dari luar kaca, tindakan itu hanya terlihat seperti seorang asisten yang sedang menyesuaikan posisi berkas atau merapikan dasi atasannya.
Luna mundur satu langkah kecil, memberikan jarak di antara tubuh mereka, lalu menatap lurus ke dalam mata elang Devano tanpa ada lagi binar ketakutan yang lumpuh.
"Jika Tuan ingin menghancurkan saya karena dendam Anda pada Kak Siska, lakukanlah di tempat di mana Ibu dan Kakak saya tidak bisa melihat hasilnya," ucap Luna dengan suara yang bergetar namun terdengar begitu tegap dan berkelas. "Tetapi di kantor ini, di hadapan seluruh karyawan Anda, saya adalah asisten pribadi Anda yang sah secara hukum perusahaan. Jika Anda terus memperlakukan saya seperti seorang jalang murahan di depan publik, Anda tidak sedang merendahkan saya, Tuan Devano... Anda justru sedang merendahkan selera dan harga diri Anda sendiri karena telah memilih wanita seperti saya untuk berada di sisi Anda."
Deg.
Kalimat yang diucapkan dengan keanggunan alami dan ketegasan batin itu telak memukul logika Devano. Sang CEO tertegun sesaat. Rahang perseginya mengetat sempurna, dan kilatan amarah di matanya sempat meredup, tergantikan oleh rasa terkejut yang samar. Devano tidak menyangka, di balik pembawaannya yang rapuh dan melankolis, Luna memiliki duri tersembunyi yang sanggup menyentil harga dirinya sebagai seorang pria terhormat.
Pria itu menurunkan kedua tangannya ke samping tubuh, menatap Luna dalam keheningan yang panjang selama beberapa detik, seolah sedang menilai kembali sosok wanita di hadapannya. Perlahan, Devano melangkah mundur, kembali ke balik meja kerja kaca tebalnya yang megah. Dia duduk di kursi kulit kebesarannya dengan keangkuhan yang kembali terpasang rapi, seolah konfrontasi intim tadi tidak pernah terjadi.
"Kamu pandai berbicara, Asisten Luna," ucap Devano dingin sembari meraih sebatang pulpen emas di atas mejanya. "Namun, permainan kita baru saja dimulai."
Devano mengulurkan tangannya, menekan tombol interkom yang terhubung langsung ke meja sekretariat luar dengan ketukan jari yang tegas.
"Hubungi Manajer Keuangan, Dika. Suruh dia menghadap ke ruangan saya sekarang juga. Tanpa tapi," perintah Devano melalui interkom dengan nada suara yang mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.
Luna tersentak panik. Jantungnya kembali bertalu-talu dengan kencang di dalam rongga dadanya. Dia menatap Devano dengan pandangan tidak percaya. Kenapa pria ini harus melibatkan Pak Dika yang tidak tahu apa-apa?
Devano bersandaran di kursinya, menatap wajah panik Luna dengan senyuman kemenangan yang teramat kejam dan manipulatif. "Mari kita lihat, seberapa anggun kamu mempertahankan topeng profesionalmu ini di depan pahlawanmu, Asisten Luna. Karena mulai detik ini, aku mengubah aturan mainnya. Kemas seluruh barangmu di meja luar. Mulai hari ini, mejamu akan dipindahkan ke dalam ruanganku, tepat di samping kursiku. Biarkan seluruh perusahaan ini, termasuk Dika, melihat dengan jelas siapa pemilikmu yang sebenarnya di gedung ini."
Klek.
Pintu jati besar ruang kerja terbuka dari luar sebelum Luna sempat membalas ucapan kejam itu. Dika, dengan kemeja biru mudanya yang rapi, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan wajah formal, tanpa tahu bahwa kehadirannya justru akan menyeret Luna ke dalam jeruji sangkar terlarang sang CEO yang semakin mengikat erat batinnya.