Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Di Balik Layar
Kekalahan telak di ruang rapat itu tidak membuat hati Jung Soo-ah damai. Justru, api kebencian di dalam dadanya semakin berkobar hebat. Duduk di ruang kerjanya yang mewah namun dingin, ia meremas berita koran yang memuat foto Heesung dan Hyeri tersenyum bahagia bersama Nenek Chou. Judul besarnya tertulis: "Cinta dan Kejujuran Kembalikan Kejayaan Grup Chou".
"Belum selesai... sama sekali belum selesai," geramnya pelan. Matanya menatap tajam ke luar jendela gedung tinggi. "Kalian pikir menang sekali sudah cukup? Aku akan buat kalian merasakan kehancuran yang sesungguhnya."
Jung Soo-ah tahu serangan terbuka gagal. Maka kali ini ia berubah strategi. Ia akan menyerang dari tempat yang paling lemah: pandangan masyarakat dan hati Hyeri sendiri.
Beberapa hari berlalu, suasana di kediaman Chou kembali tenang. Heesung semakin mencintai dan menghargai Hyeri. Ia bahkan mulai mengajarkan Hyeri sedikit demi sedikit tentang urusan perusahaan, ingin mempersiapkan gadis itu agar kelak siap mendampinginya memimpin.
"Kau tahu," kata Heesung sambil membelai rambut panjang Hyeri saat mereka duduk di taman sore itu. "Dulu aku berpikir menjadi pemimpin hanyalah soal kekuatan dan strategi. Tapi sejak ada kau, aku sadar... ketulusan hatimulah yang menjadi kekuatan terbesarku."
Hyeri tersenyum malu-malu, bersandar nyaman di bahu Heesung. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Lagipula, aku janji kan akan selalu ada di sampingmu?"
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Pagi harinya, suasana berubah drastis. Saat Hyeri sedang menyiapkan sarapan, ia mendengar para pelayan berbisik-bisik dengan wajah cemas.
"Lihatlah berita ini... kasihan sekali Tuan Muda Heesung."
"Ya, mana ada wanita sebaik itu mau menerima dia kalau bukan karena harta?"
Hyeri mengerutkan kening, perasaannya tidak enak. Ia segera mengambil koran yang tergeletak di meja. Darah seketika berdesir hebat di tubuhnya.
Di halaman utama, terpampang berita dengan judul sensasional:
"DI BALIK CINTA HEESUNG CHOU: GADIS MISKIN YANG MENGGUNAKAN PELET UNTUK KUASAI KEKAYAAN?"
Isi beritanya sangat jahat. Mereka menulis bahwa Hyeri bukanlah wanita baik-baik. Dikatakan ia berasal dari keluarga miskin, mendekati Nenek Chou dengan licik, dan memanfaatkan perasaan Heesung hanya demi menguasai harta kekayaan keluarga Chou. Ada pula foto-foto lama yang diedit sedemikian rupa, seolah-olah Hyeri bertransaksi uang dengan orang tak dikenal.
"Ini... ini tidak benar..." tangan Hyeri gemetar hebat, air matanya mulai menetes.
Belum sempat ia tenang, teleponnya berdering lagi. Pesan masuk bertubi-tubi dari nomor tak dikenal, semuanya berisi makian, ancaman, dan kata-kata yang sangat menyakitkan.
"Pemburu harta!"
"Minggir dari sisi Heesung!"
"Kau tidak pantas ada di sana!"
Hyeri merasa dunianya runtuh. Ia tahu persis siapa dalang di balik semua ini. Jung Soo-ah. Wanita itu tahu bahwa menyerang harga diri Hyeri jauh lebih sakit daripada menyerang perusahaan.
"Heesung pasti malu punya aku di sisinya..." batin Hyeri sedih. Ia merasa menjadi noda bagi nama baik keluarga Chou yang sudah dijaga begitu baik.
Saat Heesung datang terburu-buru dari kantor, ia langsung menemukan Hyeri yang duduk memeluk lutut di sudut kamar, wajahnya pucat dan matanya bengkak.
"Hyeri!" Heesung langsung berlari mendekat, memeluk gadis itu erat. "Maafkan aku... maafkan aku karena kau harus menanggung ini semua."
"Apakah... apakah aku sebaiknya pergi saja, Heesung?" tanya Hyeri dengan suara parau. "Semua masalah ini datang karena aku. Orang-orang membenciku. Nenek... apakah Nenek juga kecewa?"
Heesung mengangkat wajah Hyeri, menatap mata itu dalam-dalam dengan tatapan paling serius dan lembut yang pernah ada.
"Dengar aku baik-baik. Jangan pernah berpikir untuk pergi. Tidak peduli apa kata koran, apa kata orang, atau apa kata dunia. Bagiku, kau adalah wanita paling mulia, paling jujur, dan paling berharga."
"Mereka memfitnahmu hanya karena mereka takut akan kebaikanmu. Jung Soo-ah tahu dia tidak bisa mengalahkan kita dengan kemampuan, jadi dia main kotor. Tapi dia salah besar jika berpikir gosip murahan bisa memisahkan kita."
Tiba-tiba pintu terbuka perlahan. Nenek Chou berdiri di ambang pintu. Hyeri menunduk takut, siap dimarahi atau disuruh pergi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Nenek Chou berjalan mendekat, lalu tangan keriput itu mengusap lembut pipi Hyeri.
"Apakah kau percaya tulisan sampah itu, Cucuku?" tanya Nenek lembut.
Hyeri menggeleng pelan. "Tidak Nenek... tapi orang lain percaya."
"Biarkan mereka percaya," jawab Nenek Chou tegas. "Hati nurani kita yang bersih adalah bukti terkuat. Dulu aku memilihmu bukan karena latar belakangmu, tapi karena hatimu. Dan sampai detik ini, kau tidak pernah mengecewakanku. Justru sekarang aku semakin yakin, kau adalah wanita kuat yang pantas menjadi Nyonya Besar Grup Chou kelak."
"Jangan khawatir," tambah Nenek sambil menatap Heesung. "Kita tidak akan diam saja. Kalian berdua bersiaplah. Besok malam ada Gala Bisnis Tahunan, semua orang penting, media, dan pesaing kita akan ada di sana. Di situlah kita akan menjawab semua fitnah ini. Di situlah kita akan menutup mulut semua pemfitnah selamanya."
🌙 Malam Gala
Malam itu gedung pertemuan termegah di kota dihiasi lampu berkilauan. Semua orang penting berkumpul. Jung Soo-ah hadir dengan gaun paling mewah, berjalan angkuh, yakin malam ini ia akan menang karena reputasi Hyeri sudah rusak di mata publik.
"Lihat nanti," bisik Jung Soo-ah pada rekannya. "Heesung pasti datang sendirian. Dia tidak berani bawa gadis miskin itu lagi."
Namun tepat saat pintu utama terbuka, seluruh ruangan hening seketika.
Heesung masuk, gagah dan berwibawa. Namun yang membuat semua terpana adalah wanita di sisinya.
Hyeri mengenakan gaun sederhana berwarna putih bersih yang dirancang khusus, membuatnya terlihat anggun, suci, dan sangat cantik. Tidak ada perhiasan berlebihan, hanya senyum ketulusan dan keberanian yang bersinar dari wajahnya. Ia berjalan tegak, bergandengan tangan erat dengan Heesung.
Saat melewati Jung Soo-ah, Heesung berhenti sebentar. Ia menatap wanita itu dingin.
"Kau bisa menulis apa saja, menyebarkan gosip apa saja, Nona Jung. Tapi ingatlah satu hal," ujar Heesung lantang agar banyak orang mendengar. "Semakin kau rendahkan wanita di sampingku, semakin tinggi aku angkat dia. Karena dia adalah kehormatanku, masa depanku, dan hidupku sendiri."
Heesung lalu mengecup punggung tangan Hyeri di depan semua orang, tanda penghormatan tertinggi.
"Dan ketahuilah... tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa memisahkan kami."
Jung Soo-ah berdiri kaku, wajahnya merah padam menahan malu dan marah. Semua rencananya justru berbalik menyakiti dirinya sendiri. Publik mulai berbisik, mengagumi ketegasan Heesung dan keanggunan Hyeri.
Di tengah acara, Heesung naik ke panggung kecil untuk memberikan sambutan. Ia menatap kamera dan semua tamu.
"Banyak orang bertanya, siapa wanita di samping saya ini. Mereka menebar cerita buruk tentangnya. Tapi saya ingin katakan satu hal: Kekayaan bisa hilang, jabatan bisa jatuh, tapi kejujuran dan kesetiaan adalah harta yang tak ternilai. Wanita ini... Hyeri... dia yang menyelamatkan perusahaan ini, dia yang menyelamatkan saya. Dan dia lah satu-satunya yang akan mendampingi saya sampai akhir."
Tepuk tangan gemuruh memenuhi ruangan. Hyeri meneteskan air mata bahagia. Ia sadar, badai belum selesai sepenuhnya, tapi selama mereka saling percaya, langit akan selalu cerah di atas kepala mereka.
Di sudut ruangan, Nenek Chou tersenyum puas. Pertempuran melawan kejahatan belum berakhir, tapi kemenangan pertama sudah ada di genggaman mereka.
✨