NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

BAB 12: CIUMAN PALSU

"Kebohongan yang paling menyakitkan bukanlah kata-kata manis yang diucapkan, melainkan sentuhan dan ciuman yang terasa begitu nyata, padahal tak ada sedikit pun perasaan di dalamnya."

Kereta api Argo Parahyangan melaju membelah perbukitan yang mulai diselimuti kabut tipis. Di luar jendela, hamparan hijau dan perkebunan teh bergulir perlahan, seolah waktu pun ikut melambat seiring dengan detak jantung Arka yang tak karuan. Di dalam gerbong yang agak sepi itu, Arka duduk di kursi dekat jendela, mengenakan topi dan kacamata hitam—penyamaran sederhana yang ia harap cukup untuk tidak menarik perhatian.

Sudah dua jam sejak ia meninggalkan apartemen. Dua jam sejak Mira membuka matanya tentang segala hal. Dan sepanjang perjalanan ini, bayangan terakhir keberangkatan Elena pagi tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Bayangan saat wanita itu berhenti di ambang pintu, berbalik badan sebentar, lalu mendekat untuk mencium keningnya sebelum pergi.

Ciuman itu.

Dulu, ciuman dari Elena adalah segalanya. Itu adalah penenang, tanda sayang, dan bukti bahwa ia pulang ke rumah yang tepat. Setiap kali bibir halus itu menyentuh kulitnya, Arka merasa dunia aman. Arka merasa ia adalah pria paling beruntung di dunia.

Tapi pagi tadi... saat bibir itu mendarat di keningnya, saat Elena menempelkan pipinya sebentar di pipi Arka, berbisik "Tunggu aku pulang ya, Mas"... rasanya berbeda.

Bukan karena dingin. Bukan karena kasar. Justru sebaliknya. Rasanya terlalu sempurna. Terlalu terlatih. Gerakan kepala yang miring dengan sudut yang pas, tekanan bibir yang lembut namun terukur, napas yang dikendalikan agar tetap wangi dan berirama tenang. Semuanya terasa seperti tarian yang sudah dipraktikkan ribuan kali. Sebuah pertunjukan seni yang indah, namun kosong.

Dan saat itu, di detik terakhir sebelum Elena menarik wajahnya menjauh, mata mereka bertemu.

Arka masih ingat jelas. Tatapan itu.

Di permukaan, matanya berbinar basah, seolah berat hati meninggalkan suami tercinta. Tapi di kedalaman pupil itu, di balik lapisan air mata buatan itu... Arka tidak menemukan apa-apa. Tidak ada rasa sayang, tidak ada rasa sedih, tidak ada rasa khawatir. Yang ada hanyalah pantulan bayangan dirinya sendiri—seorang pria bodoh yang sedang terpana menikmati sandiwara terakhir.

Itulah ciuman palsu.

Ciuman yang diberikan bukan karena ingin, bukan karena cinta, melainkan sebagai prosedur penutup. Sebagai langkah terakhir untuk meyakinkan bahwa peran Elena Wijaya telah selesai dimainkan untuk sementara waktu, sebelum ia berubah total menjadi Claire Nathania begitu mobil yang membawanya menjauh dari pandangan.

Arka menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin. Ia teringat kembali momen-momen lain, merobek ingatannya sendiri untuk mencari jejak kepalsuan yang selama ini ia tolak untuk lihat.

Ada ciuman selamat pagi, yang selalu dilakukan dengan posisi tubuh Elena memutar menjauh, seolah ingin segera menyelesaikannya. Ada ciuman selamat malam, yang selalu diberikan saat Arka sudah setengah tertidur, sehingga ia tak pernah melihat ekspresi wajah istrinya saat itu. Ada ciuman selamat ulang tahun, ciuman selamat kenaikan jabatan, ciuman saat sakit, ciuman saat sedih... ribuan kali bibir mereka bersentuhan, ribuan momen yang ia kira sakral, ternyata semuanya sama persis. Polanya sama. Gayanya sama. Tekanannya sama.

Seperti robot yang diprogram untuk melakukan tugas fisik, tapi hati dan jiwanya ada di tempat lain, atau bahkan tidak ada sama sekali.

Arka teringat pesan di ponsel hitam itu: "Aku rasa aku jatuh cinta sama boneka yang kita buat sendiri."

Jadi memang begitu adanya. Elena Wijaya adalah boneka. Boneka cantik, cerdas, menyenangkan, dan sangat pandai berakting. Dan Adrian adalah dalangnya. Arka hanyalah penonton yang terlalu terpesona hingga lupa bahwa apa yang dilihatnya hanyalah ilusi.

"Mas... maaf, boleh saya lewat?"

Suara lembut pramugara kereta menyadarkan Arka dari lamunan pahitnya. Ia mengangguk pelan, membiarkan petugas itu lewat, namun pikirannya masih terjebak di ruang tamu apartemen tadi pagi.

Ia teringat satu hal lagi. Hal kecil yang dulu ia puja, tapi sekarang membuat perutnya mual.

Setiap kali mereka berciuman, Elena tidak pernah memejamkan mata.

Dulu Arka pikir itu tanda wanita itu sangat mencintainya, ingin menatap wajah suaminya selagi bisa. Tapi sekarang, mengingat-ingat kembali setiap kejadian itu... Elena menatapnya bukan karena cinta. Elena menatapnya untuk mengawasi. Mengawasi reaksi Arka. Memastikan apakah suaminya cukup terbuai, cukup percaya, cukup tertipu oleh sandiwaranya.

Mata itu selalu terbuka. Mengintai, menilai, dan mengontrol.

Sama seperti saat ciuman perpisahan tadi pagi. Matanya terbuka lebar. Mengawasi apakah Arka curiga. Mengawasi apakah Arka akan menahannya. Mengawasi setiap gerak-gerik kecil, siap mengubah skenario jika ada yang salah sedikit saja.

Dan Arka? Arka memejamkan matanya menikmati momen itu, menyerahkan dirinya sepenuhnya pada penipuan itu.

Arka mengusap bibirnya sendiri dengan kasar, seolah ingin menghapus sisa rasa yang tertinggal. Rasa yang selama dua tahun ia anggap sebagai rasa cinta, ternyata hanyalah rasa obat bius yang diberikan agar ia tetap tenang dan diam di tempat.

Kereta mulai melambat. Suara pengumuman terdengar samar, memberitahukan bahwa mereka akan segera sampai di Stasiun Bandung.

Jantung Arka berdegup makin kencang, kali ini bukan lagi karena sedih atau kecewa, tapi karena rasa dingin yang tajam. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan terakhir dari Mira yang masuk sepuluh menit yang lalu:

"Alamat yang ada di kartu nama itu adalah kantor resmi Adrian. Tapi Elena pasti langsung ke rumahnya di daerah Dago Atas, vila terpencil. Daniel sudah di sana, mengawasi dari jauh. Hati-hati, Mas. Begitu dia menginjak tanah Bandung, dia bukan Elena lagi. Jangan percaya satu pun kata-katanya, apalagi sentuhannya."

Arka menyimpan kembali ponselnya. Ia mengingat-ingat lagi wajah Elena saat ciuman terakhir itu. Senyumnya yang terlalu manis, matanya yang terlalu jernih, dan bibirnya yang terlalu dingin.

Ia ingat kalimat yang sempat terucap pelan, hampir tak terdengar, tepat saat bibir Elena menjauh: "Semoga Mas tetap bahagia menunggu di rumah."

Dulu ia pikir itu ucapan kasih sayang. Sekarang ia tahu itu peringatan. Atau lebih tepatnya... doa agar ia tetap diam di tempat, agar ia tidak datang mengganggu pesta topeng yang akan dimulai di kota ini.

Kereta berhenti sepenuhnya. Pintu terbuka, udara sejuk khas Bandung langsung menyergap masuk, membawa bau hujan dan kenangan masa lalu yang kelam.

Arka turun perlahan berbaur dengan penumpang lain. Ia melihat punggung-punggung orang yang berlalu-lalang, dan di antara ribuan orang itu, ia tahu ada satu wanita yang baru saja melepaskan jati dirinya yang palsu dan mengenakan wajah aslinya yang mengerikan.

Wanita yang menciumnya dengan begitu indah, padahal hatinya sudah berada jauh di sisi musuhnya.

Wanita yang bernama Elena Wijaya, tapi hidup sebagai Claire Nathania.

Arka meremas tangannya di dalam saku jaket. Ia berjalan keluar stasiun, menaiki taksi yang sudah dipesannya. Tujuannya jelas: Dago Atas. Vila Adrian Mahesa.

"Ke sana, Pak. Cepat tapi jangan mencolok," perintah Arka pada sopir.

Di dalam mobil yang mulai melaju mendaki bukit, Arka bersandar, menatap jalanan kota Bandung yang ramai namun asing baginya. Di sana, di balik pagar tinggi dan pohon-pohon rimbun, Elena sedang tiba. Elena sedang disambut. Elena sedang tertawa, berbicara, dan mungkin sedang berciuman lagi—kali ini dengan pria bernama Adrian. Dan ciuman itu... mungkin satu-satunya ciuman yang sejati, karena itu dilakukan oleh Claire, bukan oleh boneka buatan.

Arka mengertakkan gigi. Rasa sakit di dadanya telah berubah menjadi api yang dingin.

Aku datang, Le.

Aku datang untuk melihat seberapa hebat aktingmu.

Aku datang untuk membuktikan... apakah semua ciuman yang pernah kau berikan padaku selama dua tahun ini memang sepenuhnya palsu, atau masih ada sedikit saja sisa kebenaran yang terselip di balik bibirmu yang penuh rahasia itu.

Dan kalau semuanya memang palsu... aku akan pastikan, ini adalah sandiwara terakhirmu.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!