Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Realita dunia Kultivasi
Tepat sebelum jari Xiao Chen menarik segel terlarang dari celah ruang, sebuah garis cahaya keperakan membelah kegelapan kabut dari atas langit.
BOOM!!!
Han Gu mendarat dengan hantaman keras tepat di hadapan Raja Serigala. Saat kakinya menyentuh tanah, sebuah riak energi spiritual yang luar biasa dahsyat meledak ke segala arah.
Gelombang kejut itu tidak hanya menghempaskan tubuh raksasa Raja Serigala Kabut hingga berguling belasan meter, tetapi juga menciptakan angin kencang yang menyapu bersih seluruh kabut tebal di area tersebut dalam sekejap.
Sinar matahari kembali menembus sela-sela pepohonan, menerangi tempat yang semula mencekam itu.
Han Gu berdiri tegak, jubah birunya berkibar anggun tanpa noda sedikit pun. Dengan tatapan sedingin es, ia menatap sang raja monster. "Enyahlah!" Ancam Han Gu, suaranya mengandung tekanan spiritual yang menekan dada.
Semua murid yang masih hidup terpaku, mematung di tempat mereka berdiri. Xiao Chen perlahan menurunkan tangan kanannya, menarik kembali hawa membara dari pergelangan tangannya. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Syukurlah... ada yang datang," Bao Hu terduduk di tanah, menghela napas lega yang amat panjang sembari menghapus keringat dingin di dahinya.
Namun, walau sudah diberi peringatan keras oleh seorang pendekar tangguh, Raja Serigala Kabut Bermata Darah tampaknya tidak terima wilayahnya diusik. Rasa lapar dan harga diri sebagai penguasa hutan membuatnya menggeram rendah.
GRRRR...
Dengan kecepatan yang menimbulkan suara desingan angin, monster raksasa itu melompat maju, membuka rahangnya yang siap menghancurkan Han Gu.
Han Gu sama sekali tidak berkedip. Matanya menatap tajam pergerakan makhluk itu. Tangannya bergerak ke hulu pedang di punggungnya. Bersamaan dengan suara denting logam yang halus, ia melakukan satu tebasan tunggal yang teramat cepat.
"Bodoh."
SREK.
Semua murid mematung. Mereka bahkan tidak bisa melihat kapan Han Gu mencabut pedangnya, apalagi melihat jalannya tebasan tersebut. Yang mereka tangkap hanyalah kilatan cahaya putih yang lewat dalam sekejap mata.
"A-apa yang barusan terjadi?"
"Kenapa... monster itu tiba-tiba diam?"
Raja Serigala itu mendadak berhenti di udara, lalu mendarat dengan posisi berdiri yang kaku. Sesaat kemudian, kepala raksasa itu perlahan bergeser dari lehernya, runtuh ke tanah disusul oleh semburan darah hitam yang deras. Han Gu telah memenggalnya dengan sangat mudah, seolah-olah hanya memotong selembar kertas.
Xiao Chen yang menyaksikan hal itu dari jarak dekat benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihat jiwanya. "Kuat sekali... inilah kekuatan seorang pendekar sungguhan," batinnya dengan mata berbinar penuh ambisi.
Han Gu menyeka sisa darah di pedangnya dengan ujung jari sebelum memasukkannya kembali ke dalam sarung pedang. Ia berbalik, menatap para murid yang tersisa dengan senyum tipis yang kembali menghiasi wajah tampannya.
"Sekarang kalian tidak perlu khawatir. Ayo, aku akan menunjukkan jalan keluar kepada kalian," ucapnya ramah.
Sebelum melangkah, Han Gu menyempatkan diri menoleh ke arah Xiao Chen. Sebenarnya, sejak tadi ia memperhatikan dari atas pohon.
Ia sempat penasaran dengan apa yang ingin dilakukan bocah itu saat memegang pedang berkarat tadi.
Namun, karena situasi sudah terlalu berbahaya dan banyak murid yang terancam mati, ia memilih untuk langsung turun tangan.
"Kau benar-benar menarik. Namamu Xiao Chen, kan?" Han Gu menepuk bahu Xiao Chen pelan. "Kau dan dua temanmu akan mendapatkan sumber daya lebih dari sekte bulan ini karena telah berani melawan dan membimbing anak-anak ini."
Sambil berjalan mengekor di belakang Han Gu, Xiao Chen memperhatikan murid-murid luar yang lain. Banyak di antara mereka yang berjalan pincang, menangis histeris, bahkan ada yang gemetaran karena trauma berat.
"Tuan... bisakah kami pulang saja ke desa? Aku benar-benar takut..." ratap salah satu murid sambil memegangi lengannya yang terluka. "Iya, Tuan... makhluk yang dengan mudahnya Anda bunuh saja sudah semenakutkan itu bagi kami..."
Mendengar keluhan itu, senyum ramah di wajah Han Gu memudar dalam sekejap. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan menusuk.
"Jika takut mati, jangan pernah melangkahkan kaki di jalan kultivasi. Pulanglah, dan jadilah manusia biasa yang akan menua dan mati ditindas oleh orang lain."
Kalimat itu bagai tamparan keras bagi mereka semua.
Xiao Chen yang merasa iba melihat para korban akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Tuan, apakah makhluk tadi sengaja dibiarkan di sana? Tapi kenapa? Bukannya dari awal sama sekali tidak ada penjelasan dari instruktur bahwa tugas mencari rumput ini memiliki risiko bahaya sebesar ini?"
Han Gu terdiam sejenak. Ia melirik Xiao Chen dengan sudut matanya. "Anak ini cukup teliti dan berani mempertanyakan keputusan sekte," batin Han Gu, sedikit terkesan.
"Sepertinya pengawas hutan ini lupa memberitahu kalian untuk berhati-hati," jawab Han Gu dengan nada acuh tak acuh. "Yah, lagi pula sejak dulu, kematian murid luar adalah hal yang biasa di sekte ini. Hanya yang kuat dan beruntung yang layak bertahan."
Xiao Chen terdiam seribu bahasa. Sisi gelap dunia kultivasi kembali terpampang nyata di depan matanya. Tempat ini benar-benar kejam; tidak ada ruang untuk kelemahan, dan nyawa manusia jelata tidak lebih berharga daripada rumput liar di pinggir jalan.
Setelah seluruh murid berhasil kembali ke area asrama, suasana duka langsung menyelimuti tempat itu. Beberapa waktu kemudian, jenazah murid-murid yang menjadi korban dikumpulkan seadanya di halaman belakang.
Tidak ada upacara besar, tidak ada tangisan dari para petinggi sekte. Mereka dimakamkan di sebuah pemakaman massal yang sangat sederhana di kaki gunung.
Bahkan nama-nama mereka pun tidak disebutkan atau diukir di batu nisan. Mereka hilang begitu saja dari sejarah sekte, seolah-olah tidak pernah ada.
Beberapa murid senior yang membantu proses pemakaman berkata dengan santai, "Tidak perlu terlalu sedih. Tetua pasti akan memberikan sejumlah koin emas sebagai ganti rugi kepada keluarga mereka di desa."
Xiao Chen menunduk dalam-dalam. Wajahnya dipenuhi rasa sedih yang amat dalam, bercampur dengan kemarahan yang tertahan. "Harta tidak akan pernah bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati," batinnya pahit.
Ia membayangkan bagaimana perasaan orang tua mereka di desa saat menerima sekantung koin emas, hanya untuk mengetahui bahwa anak yang mereka rawat dan banggakan dari kecil telah berakhir menjadi jasad tanpa nama di tanah sekte yang dingin.
Sejak hari itu, keceriaan di wajah Bao Hu lenyap; ia terlihat sangat terguncang dan sering melamun. Sementara Qian'er menjadi jauh lebih diam dan murung, mengurung diri dari interaksi sosial.
Walaupun insiden ini bukanlah salah Xiao Chen, ia tetap dihantui oleh rasa bersalah yang besar. Ia terus berpikir tentang ketidakberdayaannya saat itu. "Kalau saja aku lebih kuat... kalau saja gerakanku lebih cepat... mungkin beberapa dari mereka bisa selamat."
Setelah kejadian berdarah di Hutan Kabut, pelatihan kultivasi massal tingkat lanjut segera diadakan secara ketat.
Xiao Chen dan murid-murid lainnya diajarkan teknik pernapasan dasar Sekte Pedang Langit dan dipaksa mati-matian untuk bisa mencapai Ranah Pemula Tahap Awal dalam waktu satu pekan.
Xiao Chen berhasil mencapainya tepat waktu. Namun, demi menjaga rahasia di dalam dirinya, ia memilih untuk tidak menonjol dan sengaja menyembunyikan kecepatan kultivasinya agar tidak menarik perhatian para tetua.
Tiga bulan pun berlalu dengan cepat.
Perubahan fisik dan mental terlihat jelas pada diri Xiao Chen. Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, otot-ototnya terlatih akibat kerja fisik murid luar yang berat.
Gerakan pedangnya menjadi sangat stabil, tatapan matanya jauh lebih tenang, namun jika diperhatikan lebih dekat, sorot matanya terasa jauh lebih berat dan dewasa dibandingkan anak seusianya.
Selama tiga bulan ini, Xiao Chen membangun rutinitas yang sangat ketat:
Kultivasi di malam hari saat asrama sepi.
Latihan teknik pedang secara diam-diam di hutan belakang.
Menyelesaikan misi-misi dasar sekte demi mengumpulkan sumber daya.
Melakukan kerja fisik berat tanpa mengeluh.
Perkembangan Bao Hu juga cukup mengejutkan. Meskipun tubuhnya masih terlihat gemuk, daya tahan tubuh dan kekuatan fisiknya meningkat luar biasa akibat latihan keras.
Sementara itu, Qian'er mulai menunjukkan bakat tersembunyi yang sangat langka dalam teknik jarum spiritual dan racun herbal.
Bakatnya ini mulai dilirik oleh salah satu instruktur, dan ada rumor bahwa ia memiliki potensi besar untuk langsung dipromosikan menjadi Murid Dalam dalam ujian mendatang.
Namun, meski waktu telah berjalan jauh, bayang-bayang insiden Hutan Kabut tidak pernah benar-benar pergi dari benak Xiao Chen. Di dalam tidurnya, ia sering kali terbangun dengan napas terengah-engah akibat mimpi buruk yang sama secara berulang-ulang.
Dalam mimpinya, ia kembali melihat murid-murid luar dicabik-cabik oleh serigala. Darah mengalir di mana-mana, dan suara teriakan melengking bergema di kepalanya.
"TOLOOONG!"
"XIAO CHEN! KENAPA KAU DIAM SAJA?!"
"KAU JUGA HARUSNYA IKUT MATI BERSAMA KAMI!"
GASPP!