Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Aku Membutuhkanmu
Aku pernah berpikir…
selama dia masih ada di hidupku,
semuanya akan baik-baik saja.
Meskipun tidak selalu jelas,
meskipun tidak selalu mudah,
aku tetap percaya…
dia adalah seseorang yang akan datang saat aku benar-benar membutuhkan.
Tapi malam itu,
aku mulai mengerti
tidak semua yang kita harapkan,
akan benar-benar terjadi.
Waktu itu sudah cukup larut.
Aku pulang kerja sendirian seperti biasanya.
Jalanan tidak terlalu ramai.
Lampu-lampu jalan menyala redup,
memberi sedikit cahaya di antara gelap yang terasa lebih dominan.
Aku berjalan pelan,
mencoba mempercepat langkah tanpa terlihat panik.
Entah kenapa,
malam itu terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Lebih sepi.
Dan entah bagaimana…
membuatku merasa tidak nyaman.
Dari belakang, aku mulai merasa seperti ada yang mengikuti.
Awalnya aku mencoba mengabaikan.
Mungkin hanya perasaanku saja.
Tapi langkah itu semakin terdengar jelas.
Lebih cepat.
Lebih dekat.
Jantungku mulai berdetak lebih kencang.
Aku tidak berani menoleh.
Hanya mempercepat langkahku, berharap semua itu hanya kebetulan.
Tapi tiba-tiba, suara itu datang lebih dekat.
Terlalu dekat.
“Mau ke mana?”
Suara itu membuatku membeku sesaat.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya berjalan lebih cepat,
berusaha menjauh dari situasi yang mulai terasa tidak aman.
Tapi dia tidak berhenti.
“Sendiri aja?”
Tanganku mulai gemetar.
Nafasku tidak lagi teratur.
Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Semua yang ada di kepalaku hanya satu
aku ingin segera pergi dari situ.
Aku hampir berlari.
Tanpa peduli bagaimana terlihat.
Sampai akhirnya aku berhasil menjauh.
Tidak tahu bagaimana caranya,
tapi aku berhasil keluar dari situasi itu.
Begitu sampai di tempat yang lebih aman,
aku langsung berhenti.
Nafasku masih tidak teratur.
Tanganku masih gemetar.
Dan tanpa sadar…
air mataku mulai jatuh.
Hal pertama yang aku lakukan saat itu adalah mengambil ponselku.
Tanpa berpikir panjang,
aku langsung menghubunginya.
Raka
Satu-satunya orang yang saat itu terlintas di pikiranku.
Telepon pertama… tidak diangkat.
Aku mencoba lagi.
Kali kedua.
Masih tidak ada jawaban.
Jantungku semakin tidak tenang.
Aku mencoba untuk ketiga kalinya.
Dan akhirnya… dia mengangkat.
“Halo?”
Suaranya terdengar biasa saja.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Aku tidak langsung bisa bicara.
Tangisku lebih dulu keluar.
“Aku…” suaraku terputus.
“Kenapa?” tanyanya singkat.
“Aku hampir…”
Aku tidak bisa melanjutkan kalimat itu.
Tapi aku yakin dia mengerti maksudku.
Seharusnya dia mengerti.
“Aku di jalan tadi… ada orang…”
Aku mencoba menjelaskan di antara tangis yang tidak bisa aku tahan.
Di ujung sana, dia diam beberapa detik.
Aku menunggu.
Menunggu sesuatu
mungkin kekhawatiran,
mungkin pertanyaan,
atau sekadar… perhatian.
Tapi yang datang justru berbeda.
“Aku lagi di luar.”
Aku terdiam.
“Lagi jenguk teman,” lanjutnya.
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang jatuh tepat di hatiku.
Pelan…
tapi menghancurkan.
“Aku takut…” kataku pelan.
Kali ini, suaraku lebih kecil.
Lebih lelah.
“Ya udah, kamu hati-hati aja ya.”
Hanya itu.
Tidak ada pertanyaan lebih lanjut.
Tidak ada “kamu sekarang di mana?”
Tidak ada “aku ke sana ya.”
Hanya kalimat sederhana…
yang terasa sangat jauh dari apa yang aku butuhkan saat itu.
Aku menggenggam ponselku lebih erat.
Tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Iya,” jawabku akhirnya.
Suaraku hampir tidak terdengar.
Telepon itu berakhir begitu saja.
Dan di situlah aku benar-benar mengerti sesuatu yang selama ini aku hindari
bukan karena dia tidak tahu aku butuh dia…
tapi karena dia memilih untuk tidak ada.
Aku berdiri sendiri malam itu.
Dengan sisa rasa takut yang belum hilang.
Dengan hati yang terasa lebih kosong dari sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya,
aku tidak hanya merasa kehilangan dia…
tapi juga kehilangan rasa aman
yang selama ini aku kira bisa aku temukan darinya.