Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GRAND DUCHES
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku, yang perlu kalian tahu adalah, kalian memilih target yang salah hari ini," ucap Anastasia, dingin.
Sebelum kedua orang itu sempat melarikan diri, Anastasia memberikan sayatan bersih di tenggorokan mengakhiri pertempuran malam itu.
SRETTT
SRETTT
BHUK
Kedua tubuh terakhir itu ambruk ke tanah dengan mata melotot.
"Heh, kalian pikir kalian bisa menghirup udara dengan bebas, setelah menganggu perjalan ku," gumam Anastasia, mendengus sinis.
Suasana hutan mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara nafas terengah-engah dari para prajurit Magnus yang tersisa.
Mereka semua, termasuk Nero, menatap Anastasia dengan tubuh kaku dan mulut setengah terbuka, serta keringat dingin yang membanjiri pelipis mereka, melihat kekejaman sang Duches, dalam menghadapi musuh.
Tenang, santai dan mematikan!
Rasa tidak percaya, ngeri, dan kekaguman yang luar biasa bercampur aduk di dalam benak mereka, wanita ini sama sekali bukan gadis yang lemah seperti yang dirumorkan selama ini.
"Aku tidak tahu ini anugrah apa musibah untuk wilayah Magnus, Duke mendapatkan Duches yang tidak kalah kejam nya dengan dirinya," batin Nero dan semua prajurit, gemeteran.
Mereka tidak biasa membayang kan, kalau kedua nya bertemu dan berselisih, entah siapa yang akan mati lebih dulu, entah sang Duke, yang di juluki malaikat maut berdarah dingin, atau justru sang Duches, iblis yang bersembunyi di balik wajah cantik nya.
Anastasia mengelap darah yang menempel di belatinya menggunakan kain robekan gaunnya, lalu dengan gerakan gaib yang tidak disadari siapapun, belati itu menghilang kembali ke dalam ruang dimensinya.
"Nero, bersihkan tempat ini, perjalanan kita masih jauh, dan aku tidak suka mencium bau darah yang terlalu lama di sekitarku," perintah Anastasia, berbalik menatap Nero yang masih terduduk di tanah dengan tatapan syok.
Glek
Nero menelan ludahnya dengan susah payah, lalu dengan cepat berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Anastasia.
"Baik, Grand Duchess! Perintah Anda akan segera saya laksanakan," jawab Nero dengan suara lantang dan penuh rasa hormat yang tulus dari lubuk hatinya.
Mulai detik ini, tidak akan ada satu pun prajurit Magnus yang berani meremehkan sang Grand Duchess baru.
Nero langsung memberi instruksi tegas kepada para prajurit yang tersisa untuk menyingkirkan mayat-mayat pria bertopeng itu dari jalanan.
Sementara itu, Anastasia berjalan santai kembali ke arah kereta, gaun penganti nya yang kini robek hingga sebatas lutut bergoyang seiring langkah kakinya, dan bercak darah yang menciprat di kain putih itu justru membuatnya terlihat seperti dewi kematian yang baru saja menyelesaikan ritual.
"N-Nona Anastasia!"
Nina melompat keluar dari kereta dengan wajah yang masih pucat pasi, namun matanya membelalak lebar menatap Nona nya.
Tadi Nina mengintip dari balik tirai dan melihat seluruh kejadian luar biasa itu.
"Kenapa? Kamu takut melihatku?" tanya Anastasia, menghentikan langkahnya tepat di depan Nina sambil mengangkat sebelah alisnya.
"T-tidak, Nona! Maksud saya, saya takut, tapi Saya lebih takjub!" jawab Nina dengan terbata-bata, tangannya bergerak heboh di depan dada.
"Nona hebat sekali! Sejak kapan Nona bisa bertarung seperti itu? Dan belati tadi dari mana Nona mengambilnya?" tanya Nina, teringat dengan senjata tajam yang digunakan Anastasia bertarung tadi.
Syutt
Anastasia menaruh telunjuknya di depan bibir, memberikan tatapan penuh rahasia yang membuat Nina langsung membungkam mulutnya sendiri.
"Simpan pertanyaanmu, Nina, yang perlu kamu tahu sekarang, aku bukan lagi Anastasia yang bisa ditindas oleh siapa pun. Paham?" ucap Anastasia dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"P-paham, Nona! Nina berjanji akan menjaga rahasia Nona seumur hidup Nina!" jawab Nina dengan sungguh-sungguh, mengangguk cepat seperti ayam yang sedang mematuk beras.
Anastasia tersenyum tipis, merasa puas dengan kesetiaan pelayan kecilnya ini, kemudian dia melangkah masuk kembali ke dalam kereta yang pintunya sudah hancur setengah akibat tendangannya tadi.
Tidak lama kemudian, Nero berjalan mendekati kereta.
Pria itu berdiri di dekat pintu yang rusak, menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Grand Duchess, jalanan sudah dibersihkan. Namun, karena pintu kereta Anda rusak, angin malam di perjalanan akan terasa sangat dingin. Apakah Anda ingin bertukar tempat dengan kereta barang di belakang?" tanya Nero dengan nada yang kini sepenuhnya sopan, tanpa ada lagi sisa-sisa keangkuhan.
"Tidak perlu repot-repot, Nero, kereta barang terlalu lambat, dan aku ingin cepat sampai. Angin malam bukan masalah besar bagiku," jawab Anastasia melirik Nero dari balik sisa pintu kereta.
"Baik, Grand Duchess, jika Anda butuh sesuatu, tolong langsung panggil saya," ucap Nero, membungkuk sekali lagi sebelum berbalik untuk memimpin kembali barisan di depan.
"Hem."
Kereta kuda pun kembali bergerak membelah keheningan hutan yang mulai gelap.
Angin malam yang dingin mulai berembus masuk melalui celah pintu yang hancur, membuat Nina menggigil kecil.
Melihat hal itu, Anastasia memejamkan matanya sejenak, dia berkomunikasi dengan ruang dimensinya, mencari sesuatu yang berguna, di dalam gudang persenjataan modernnya, di sudut tempat penyimpanan barang, terdapat sebuah selimut.
Wush
Dengan gerakan tangan yang sangat cepat di balik lipatan gaunnya, Anastasia mengeluarkan selimut hitam tebal dari dimensinya dan melemparkannya ke pangkuan Nina.
"Pakai itu kalau kamu kedinginan," ucap Anastasia datar, kembali bersandar dan memejamkan mata.
"Eh? Nona, ini selimut dari mana? Bahannya aneh sekali, tapi... hangat sekali!" seru Nina dengan mata berbinar-binar saat menyelimuti tubuhnya.
"Terima kasih, Nona!" ucap Nina menatap Anastasia dengan pandangan penuh kekaguman yang semakin menjadi-jadi.
Anastasia tidak menjawab, dia hanya bergumam pelan di dalam hatinya, tubuhnya sendiri saat ini sudah terasa jauh lebih segar dan kuat berkat cairan nutrisi super yang diserapnya tadi, bahkan rasa lelah akibat bertarung sama sekali tidak terasa.
Perjalanan berlanjut selama beberapa jam, hingga akhirnya mereka mulai memasuki wilayah Magnus.
"Kita sudah memasuki wilayah Magnus, Grand Duchess," ucap Nero terdengar dari luar, memberikan laporan.
Anastasia membuka matanya dan menengok ke luar, di hadapannya berdiri sebuah kastil megah yang terlihat kokoh.
Suasananya begitu sunyi, gelap, dan memancarkan aura intimidasi yang kuat, sangat cocok dengan reputasi pemiliknya.
"Tidak buruk," batin Anastasia, tersenyum miring.
Kereta kuda akhirnya berhenti dengan sempurna di halaman depan kastil. Pintu kereta dibuka sepenuhnya oleh Nero dari luar.
"Silakan, Grand Duchess. Grand Duke sudah menunggu Anda di dalam," ucap Nero, mengulurkan tangannya untuk membantu Anastasia turun.
Anastasia mengabaikan uluran tangan Nero, dia melompat turun dari kereta dengan ringan, membuat kain gaun pengantinnya yang robek melambai tertiup angin malam yang menusuk tulang.
Nero langsung memalingkan wajahnya, tidak berani memandang sang Duches terlalu lama, karena dia masih sayang dengan nyawa nya.
Berani memandang milik sang Duke, sama saja dengan menantang maut.
"Ayo masuk, Nina, mari kita temui si Malaikat Maut itu," ucap Anastasia dengan senyuman miring yang penuh tantangan, mulai melangkah masuk ke dalam takdir barunya.